Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Zelene yang polos


__ADS_3

Zelene berada di depan cermin kamarnya. Kamar yang sudah resmi ditempati bersama suaminya, Vigor. Kenapa bisa demikian? Beberapa hari yang lalu, sepulang dari apartemen kakaknya dan merupakan hari pernikahan mereka, Vigor meminta haknya sebagai seorang suami. Zelene memang tidak menolak dan tidak mengiyakan juga untuk memberikan malam pertamanya dengan suaminya.


Malam itu, Vigor memulai aksinya hingga Zelene pasrah menerima perlakuan pria yang sudah menjadi suaminya itu. Selama proses pemanasan, Zelene tidak menolak semua sentuhan suaminya. Bahkan, malam itu keduanya sudah sama-sama polos. Ketika Vigor hendak memulai penyatuannya, Zelene kabur dengan kepolosannya ke kamar sebelah. Dia belum siap untuk melakukan hal yang katanya menyakitkan namun mengasyikkan itu.


Vigor terpaksa harus menuntaskan hasr*tnya seorang diri di malam pertamanya. Sejak saat itu, Vigor belum berani memaksa Zelene untuk melakukan malam pertamanya daripada berakhir menyedihkan untuk Vigor.


Selama berhari-hari, Vigor menahan untuk tidak menyentuh istrinya itu. Dia pria normal, sehingga terbesit ide gila untuk membuat istrinya itu menyerahkan diri secara sukarela. Dia sengaja mencari beberapa film tidak senonoh yang ditunjukkan pada istrinya, sehingga malam itu dengan mudah Vigor menjalankan malam pertamanya. Dia sangat kecewa pada Zelene di malam pertamanya yang pernah gagal, sehingga pada malam dimana dia berhasil mendapatkannya, Vigor tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Digempurnya Zelene sampai berulang kali, hingga keesokan harinya Zelene bangun terlalu siang. Bahkan, dia melewatkan sarapan paginya dan makan siangnya. Balas dendam yang luar biasa untuk Vigor.


"Rasanya seperti ini ya, Kak? Pantas saja Kakak ipar selalu bangun kesiangan," ucap Zelene memandangi cermin.


Suaminya sudah berangkat bekerja, hari ini dia ingin pergi ke apartemen Kakaknya, Sean. Dia ingin meminta pendapat sebagai sesama wanita pada kakak iparnya itu.


Sebelum berangkat ke sana, Zelene mengirim pesan kepada kakaknya.


[Kak, pagi ini aku mau ke apartemen untuk menemui kakak ipar. Boleh ya?] pesan terkirim.


Semoga Kak Sean mengizinkannya.


Tring....


Sebuah balasan pesan masuk dari kakaknya.


[Jam tujuh tepat, aku di rumah sakit AB mengantarkan kakak iparmu untuk kontrol kehamilan] jawab Sean.


"Pagi sekali! Baiklah, sekarang masih jam setengah tujuh. Sebaiknya aku ke sana," ucap Zelene.


Zelene menggunakan taksi untuk sampai ke rumah sakit AB. Dia ingin melihat bagaimana kakak iparnya periksa kehamilan.


Apa aku juga akan hamil seperti kakak ipar? Bagaimana rasanya, yah? Wanita hamil sepertinya terlihat sangat bahagia.


Taksi yang mengantarkannya telah sampai di rumah sakit. Tak lupa Zelene membayarnya kemudian mencari keberadaan kakak iparnya.


Di mana kakak ipar?


Zelene berhenti di depan resepsionis, dia ingin menanyakan tempat kontrol kehamilan untuk kakaknya.


"Maaf, Bu. Tempat kontrol kehamilan di mana, ya?" tanya Zelene.


"Di klinik tujuh. Ada di sana," petugas menunjukkan arah klinik yang masih terlihat sepi.


"Terima kasih," bergegas Zelene mencari kakaknya.


Padahal sudah jam tujuh tepat. Kenapa masih sepi sekali?

__ADS_1


Zelene menemukan kakaknya sedang memijat kaki kakak iparnya. Keduanya berada di bangku tak jauh dari klinik tujuh.


"So sweet sekali," goda Zelene.


"Kenapa ke sini?" tanya Sean.


"Ingin ikut menemani kakak ipar periksa kehamilan. Nggak boleh, Kak?"


"Enggak! Mereka bisa mengira kakak beristri dua," protes Sean.


"Hemm, kakak mengusirku? Tapi aku tetap tidak mau pergi. Aku ingin tau juga seputar kehamilan," ucap Zelene.


"Biarkan saja Ze ikut. Lagipula apa salahnya dia tau banyak tentang kehamilan. Mungkin saja asisten kurir itu telah berhasil," ledek Callista.


Wajah Zelene bersemu merah karena malu. Kakak iparnya seolah bisa melihat dirinya yang sudah di unboxing oleh suaminya. Zelene juga tidak marah karena menyebut suaminya asisten kurir. Vigor pernah bercerita padanya tentang kesalahan pahaman antara Callista dengan dirinya.


"Setuju, Kakak ipar!" ucap Zelene.


Sean tidak bisa melarang istrinya untuk tidak ikut masuk ke ruang pemeriksaan. Perawat memanggilnya untuk melakukan serangkaian pemeriksaan.


"Nyonya Sean Armstrong... Silakan masuk ke klinik tujuh," panggil perawat.


Di sana, Callista melakukan pengecekan tekanan darah, lingkar lengan, dan timbang berat badan. Setelah itu, dokter melakukan tindakan USG.


Perawat membantu menyingkap sedikit baju Callista dan menampakkan perutnya yang masih rata. Kemudian perawat itu mengoleskan gell pada perut pasien, kemudian dokter menggunakan transducer untuk mengeceknya.


Dokter Adelard Zeroun mulai mengarahkan tranducer tersebut.


"Lihat, itu janinnya. Masih kecil, baru berusia sekitar lima minggu," ucap dokter Adelard.


Setelah selesai melakukan USG, dokter Adelard mengambil hasil print USG nya untuk diserahkan kepada pasien.


Callista sekarang sudah berada di samping suaminya bersama Zelene.


"Bagaimana kondisinya, dok?" tanya Sean.


"Kehamilan Nyonya Sean sangat sehat. Tetap konsumsi makanan sehat dan bergizi agar perkembangannya sesuai usianya," dokter Adelard menjelaskan.


"Apa ada pantangannya, dokter. Misalnya tidak boleh ehem, misalnya," Sean sebagai pria normal tidak tahan untuk menanyakan itu. Mengingat usia Callista yang masih sangat muda dan berbeda dengan mantan istrinya terdahulu.


Callista yang tau arah pembicaraan suaminya dengan dokter merasa malu. Ucapannya tidak jauh dari kata mesum.


"Selama trimester awal dan kondisi kehamilan baik-baik saja, tidak masalah untuk melakukannya. Asal dengan pelan dan sangat lembut. Dikhawatirkan terjadinya keguguran karena terlalu antusias," ucap dokter Adelard dengan tegas.

__ADS_1


"Dokter, apakah ada kemungkinan bisa hamil jika baru pertama kali melakukan itu," tanya Zelene dengan wajah menahan malu.


Sean melihat pertanyaan adiknya membuatnya menyadari satu hal, jika adiknya telah sangat dewasa.


Vigor sepertinya sudah berhasil menjebol gawang Zelene. Lihat saja wajahnya itu! Batin Sean.


"Tentu! Apalagi jika dilakukan ketika masa subur. Pembuahan bisa cepat terjadi di masa itu," jawab dokter.


Apa aku bisa hamil? Atau harus melakukannya berulang kali sampai benar-benar bisa hamil? Oh astaga, ini sangat melelahkan!


"Baiklah. Ada pertanyaan lagi?"


"Tidak ada, dokter!" ucap Sean sebelum adiknya bertanya aneh-aneh.


"Ehm, dokter... Kapan harus kembali untuk memeriksakan kehamilan lagi?" tanya Callista.


Dokter Adelard sedang menuliskan resep kemudian menjawab pertanyaan itu.


"Sebulan lagi jika kondisi kehamilan berjalan normal. Jika sewaktu-waktu mengalami flek atau pendarahan ringan, secepatnya harus ke rumah sakit. Oh ya, resep ini bisa ditebus di apotek," ucap dokter sembari menyerahkan selembar kertas.


"Terima kasih, dokter," ucap Sean menerima resep tersebut.


Setelah keluar dari klinik tujuh dan menebus beberapa vitamin di apotek, Sean mengantarkan istri dan adiknya kembali ke apartemen.


"Kak, bagaimana rasanya orang hamil?" tanya Zelene dengan kepolosannya.


Sean menertawakan pertanyaan konyol adiknya itu.


"Tentu saja orang hamil itu enak, Ze. Apalagi ketika mengidam. Semuanya harus dituruti. Kalau kamu ingin tau rasanya bagaimana, buat Vigor secepatnya menghamilimu," jawab Sean dengan tawa renyahnya.


"Ish, tidak begitu, Ze! Jangan dengarkan ucapan kakakmu!" protes Callista. "Intinya wanita hamil itu macam-macam, Ze. Nyaman di aku belum tentu nyaman di kamu. Dinikmati saja," jawab Callista.


"Ah, iya baiklah!" jawab Zelene.


Apa iya aku dan Kak Vigor harus melakukannya lebih intens lagi?


😍😍😍😍TBC😍😍😍😍


Semoga akak readers yang sudah menikah dan yang sedang menunggu kehamilan atau kehadiran buah hati, semoga diberikan kelancaran. Aamiin...


Terkadang apa yang kita harapkan tidak bisa datang dengan cepat, tetapi akan datang di saat yang tepat. Yakinlah bahwa semua akan indah pada waktunya. Yang sedang berjuang, semoga diberikan kemudahan. Aamiin... 🤲🏻🤲🏻🤲🏻


Jangan lupa like, vote, dan komentarnya.

__ADS_1


Terima kasih... Luv yu All 😍😍😍😍


__ADS_2