
Sean turun ke basement untuk mengambil mobilnya, sementara Zelene dan istrinya diminta untuk menunggu didekat pintu keluar apartemen.
"Ayo masuk!" ajak Sean ketika mobilnya sudah sampai tepat di hadapan mereka.
Callista duduk di bangku depan, sementara Zelene di bangku penumpang.
"Tidak ada lagi yang ketinggalan, Ze? Semua belanjaanmu sudah?" tanya Sean memastikan.
"Iya, Kak. Semuanya sudah," jawab Zelene.
Sepanjang perjalanan, Sean lebih banyak diam. Sebenarnya dia tidak hanya memikirkan rencana untuk membawa dokter Olivia dan Dizon, tetapi juga pria yang sudah sok berbaik hati pada istrinya itu.
Lihat saja, aku bisa membuatmu menjadi remahan rengginang di dalam toples. Atau, ayam geprek versi pedas. Menyedihkan! Beraninya menggoda istri orang.
"Sayang, kok diam? Ada apa?" tanya Callista.
Sean tidak menyahut. Dia terus fokus pada pikiran dan kemudi kendaraannya. Callista akhirnya memilih diam. Wanita itu yakin jika dipikiran suaminya tidak hanya tentang rencana akhir tahun, tetapi tentang pria misterius itu.
Apartemen K&Q, mobil Sean telah memasuki area parkir apartemen. Ketika hendak memarkir mobilnya, ternyata ada mobil lain yang baru masuk.
Penumpang mobil lain itu lebih dulu turun. Ternyata Felix dan Kayana. Sean turun kemudian menghampirinya.
"Hai, Felix. Kupikir kamu tidak akan datang," ucap Sean.
"Sebenarnya aku tidak bisa datang, Kak. Mengingat ini sangat penting untukku," ucapnya.
Kayana, Zelene, dan Callista berpelukan. Mereka seolah baru bertemu lagi setelah sekian purnama.
"Ehem, ayo lekas naik ke unit Vigor! Banyak yang harus kita kerjakan," ajak Sean.
Ketiga wanita itu melepaskan pelukannya. Zelene membawa beberapa kantong belanjaan dibantu Callista dan Kayana. Sementara Felix dan Sean berjalan dibelakang mereka.
Sebenarnya Zelene bisa saja membuka pintu apartemennya. Dia juga sudah tau kode aksesnya. Cuma Zelene enggan, biar suaminya ada kerjaan.
"Kenapa nggak dibuka langsung, Ze?" protes Sean karena melihat Zelene menekan bel apartemen suaminya.
"Biar dia ada kerjaan aja, Kak," ucap Zelene.
Sean langsung tepuk jidat melihat tingkah konyol adiknya.
Ceklek!
Vigor membuka pintu. "Honey, kenapa tidak langsung masuk aja?" protes Vigor.
"Sudahlah, honey. Biar kita pernah merasakan ada tamu yang datang," ucapnya dengan senyum mengembang.
Selama menjadi istri Vigor, apartemen suaminya memang hampir tidak pernah ada tamu yang datang. Ini untuk pertama kalinya.
__ADS_1
Vigor hanya geleng kepala melihat tingkah istrinya.
"Silakan masuk!" ucap Vigor.
Zelene sudah lebih dulu masuk ke dapur untuk meletakkan beberapa belanjaannya.
Vigor meminta tamunya untuk duduk di ruang tamu. Pria itu lantas masuk ke dapur untuk menemui istrinya.
"Honey, masaklah sesuatu yang istimewa. Aku akan menemui mereka. Ada pembicaraan penting. Kalau kau perlu kakak ipar atau Kayana bisa kupanggilkan," ucapnya.
"Apa ini urusan sesama pria? Jika iya, minta saja keduanya untuk membantuku."
"Iya, honey," Vigor kembali ke ruang tamu.
Di sana, empat orang tamunya sedang mengobrol. Entah apa yang mereka bicarakan, Vigor tidak paham.
"Maaf, kakak ipar dan Kayana. Pergilah ke dapur. Bantu istriku memasak! Aku ada obrolan penting sesama pria," ucapnya.
"Oke," jawab Callista. Dia dan Kayana langsung menuju ke dapur sesuai permintaan Vigor.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Sean.
"Apa ini mengenai rencana akhir tahun?" tanya Felix. "Kak Dizon dengan tegas menolak permintaan Mama, itu yang membuatku pusing."
"Kamu pikir aku juga tidak pusing memikirkan kakakmu itu. Pria rumit itu... Huft, menyebalkan," ucap Vigor.
"Kamu sudah punya rencana?" tanya Sean.
"Tapi apa?" tanya Sean.
"Aku butuh dana besar untuk menjalankannya."
"Maksudmu?" tanya Felix penasaran.
Vigor menjelaskan bagaimana caranya untuk membuat sepasang pria dan wanita yang sama-sama ribet itu akan menyadari jika keduanya saling membutuhkan. Tetapi Vigor tidak mau menjalankannya seorang diri. Dia meminta bantuan orang lain untuk melakukannya.
"Jadi, maksudmu mereka tidak akan berada di Villa?" tanya Felix.
"Tidak! Mereka akan sangat mengganggu. Biarkan saja mereka berdua berada ditempat yang tepat," ucapnya.
Sean dan Felix nampak berpikir keras.
"Apa ini bukan tindakan kriminal?" tanya Felix.
"Oh, ayolah Felix. Ini bisa di kondisikan. Keuangan Bosku yang akan menjamin. Semua anak buahku akan bermain cantik. Kau jangan khawatir. Aku sudah memikirkannya," ucap Vigor.
"Setidaknya mereka berdua tidak akan mengganggu acara malam pergantian tahun yang sudah kita buat," ucap Sean dengan senyuman mengembang.
__ADS_1
Vigor juga memikirkan hal yang sama. Acara yang disusun secara matang itu akan terganggu dengan adanya dua orang yang paling ribet sejagad.
"Baiklah, aku ikut kalian saja. Lagipula, Mamaku juga tidak berhasil membujuk kakakku untuk ikut acara itu," Felix pasrah.
"Ini baru rencana yang sempurna. Berapa pun uang yang kamu butuhkan, akan disiapkan," ucap Sean menepuk bahu Vigor.
Setidaknya malam pergantian tahun akan terasa tenteram dan damai. Biarkan mereka berdua memperjuangkan dunianya. Batin Sean.
Aku tidak akan rumit lagi memikirkan cara untuk membawa kak Dizon keluar dari rumah. Pria itu terlalu rumit sekali. Batin Felix.
Sementara di dapur, ketiga wanita itu telah menyelesaikan masakannya. Callista bertugas menata meja makan, sedangkan Zelene dan Kayana memasak di dapur.
"Kak, bisa minta tolong panggilkan semua pria itu?" pinta Zelene.
"Baiklah, Ze," Callista langsung menuju ke ruang tamu. Dia melihat ketiga pria itu masih sibuk dengan obrolannya.
"Apa kedatanganku mengganggu?" tanya Callista.
"Tidak, sayang. Ada apa?" jawab Sean.
"Zelene meminta semuanya untuk ke meja makan. Makan malam sudah siap," ucapnya.
"Baiklah, tunggulah di sana. Lima menit lagi," ucap Sean.
Callista kembali lagi ke meja makan. Sementara ketiga pria itu masih melanjutkan sedikit obrolannya.
"Kamu butuh uang berapa untuk menjalankan rencana ini?" tanya Sean pada Vigor.
"Satu miliar. Masing-masing aku harus membayarkannya lima ratus juta," ucap Vigor.
"Hah? Ini misi perjodohan satu miliar? Ini benar-benar gila," seru Felix.
"Tak masalah. Berapa pun akan kubayar, asalkan malam akhir tahun kita bisa santai dan tidak diribetkan dengan dua manusia ribet itu," ucap Sean.
Mereka tertawa bersama.
"Honey, sudah tertawanya?" ucap Zelene yang tiba-tiba sudah berada di ruang tamu.
"Ada apa, honey?" tanya Vigor.
"Ayo, ajak semuanya ke ruang makan! Kita makan sama-sama," ajak Zelene.
Mereka mengikuti Zelene menuju meja makan. Ketiga wanita itu menyiapkan makanan untuk suaminya masing-masing.
"Aku tidak bisa membayangkan jika Kak Dizon berjodoh dengan dokter Olivia. Akan seribet apa mereka berdua?" ucap Felix dengan tawa renyahnya.
Mereka semua yang ada di meja makan juga membayangkan hal yang sama. Apalagi Zelene yang sangat tau betul sikap dokter Olivia.
__ADS_1
Mereka semua sangat menikmati makan malam bersama. Jarang sekali bisa berkumpul seperti ini. Kebersamaan mereka akan berlanjut di malam pergantian tahun.
🍓🍓🍓🍓TBC🍓🍓🍓🍓