
Dizon masih berperang dengan pikirannya. Ikatan kaki yang sudah terlepas sejak tadi tidak mampu membuatnya berpikir secara normal. Setelah mengetahui kenyataan jika dia tengah dihadapkan dengan seorang dokter wanita yang memintanya untuk menikah.
Ini wujud kesialan yang bertubi-tubi. Niatku mengerjainya malah dia memintaku menikahinya. Ini gila namanya. Jika malam ini aku tidak keluar dari sini, esok hari akan semakin lebih rumit lagi.
"Kenapa Anda diam, Tuan? Siapa Anda sebenarnya?" tanya dokter Olivia membuyarkan lamunannya.
"Dizon... Namaku Dizon," ucap pria itu akhirnya.
"Ck, nama yang aneh... Dizon, Bizon, atau apalah. Sangat aneh menurut pendengaranku. Bagaimana? Secepatnya lepaskan diri Anda kemudian bantu saya untuk terbebas," ucap Olivia.
"Kau cerewet sekali!" omel Dizon. Dia sedang berjuang melepaskan ikatan tangannya.
Sekitar sepuluh menit, Dizon tersenyum dengan dirinya sendiri. Dia berhasil melepaskan ikatannya.
Olivia ikut merasakan kebahagiaan yang entah sejak kapan merasa bangga jika pria di hadapannya akan menjadi penyelamat hidupnya.
"Tuan Dizon, lepaskan aku!" pinta Olivia.
Pria itu sebenarnya enggan melepaskan ikatannya begitu saja. Tetapi sebagai rasa kemanusiaannya, dia bergegas membuka ikatan wanita itu.
Sekitar lima menit Dizon berhasil melepaskannya. Keduanya bergegas mencari jalan keluar. Melewati pintu, semuanya sangat sepi.
"Kenapa tidak ada orang sama sekali?" bisik Olivia pada pria itu.
"Entahlah. Mungkin kawanan penyekap itu sedang menikmati malam pergantian tahun," ucap Dizon.
Malam ini memang sudah sangat malam sekali. Dizon melihat jam tangannya menunjukkan jam sebelas malam. Itu artinya hanya satu jam lagi semua akan berpindah ke tahun berikutnya.
Dengan pelan mereka perlahan keluar dari gudang itu. Dilihatnya kanan kiri, semuanya kosong tidak berpenghuni.
Kemana semua penculik itu? Tidak ada seorang pun yang berjaga di sini. Ini sangat aneh sekali. Batin Dizon.
Semakin malam, angin semakin terasa kencang. Ini bukan seperti hawa perkotaan yang masih hangat di malam hari. Malam ini benar-benar dingin, tetapi tidak dirasakan oleh Dizon. Dia masih memakai kemeja dan jasnya lengkap.
"Tunggu, Dizon! Aku tidak kuat jika harus berjalan terus seperti ini. Ini sangat dingin sekali," Olivia mengeluh.
Dizon memang pria keras kepala, tetapi dia juga masih punya hati. Dilepaskannya jas yang masih terpasang rapi dibadannya. Dia berikan jas itu pada Olivia.
"Pakailah!" ucap Dizon menyerahkan jas miliknya.
__ADS_1
"Kau akan kedinginan," tolak Olivia.
"Ck, aku kedinginan sesaat juga tidak akan membuatku mati cepat. Yang bahaya jika kau kedinginan tiba-tiba pingsan di hadapanku. Aku tidak akan sanggup membawamu keluar dari tempat ini," ejek Dizon.
Olivia mendengar ucapan pria itu tidak pernah tulus padanya. Seperti seorang pria yang sedang bermain-main saja. Tetapi Olivia tidak peduli. Yang paling penting sekarang, dia secepatnya bisa keluar dari tempat itu.
Mereka berjalan menuju jalan besar masih sangat jauh. Malam ini sepertinya sangat sepi. Tidak ada sekali kendaraan yang lewat di hadapannya.
"Kita berada di mana ini?" tanya Olivia. Dia tidak pernah berada di tempat yang sangat jauh dari keramaian seperti ini.
"Sepertinya kita sedang berada di puncak. Niat sekali penculik itu membawa manusia berumur ke tempat seperti ini," gerutu Dizon.
"Penculik yang aneh. Semua tas, ponsel, dan koperku ada pada mereka. Aku rugi besar kalau seperti ini," Olivia sangat menyesal dengan kejadian ini.
"Kau pikir yang menderita kerugian hanya kau saja. Untung kita tidak dijual atau mungkin seperti berita yang tidak jelas itu. Tiba-tiba diambil jantung atau ginjalnya," cerocos Dizon.
Jalanan yang mereka lalui sangat sepi. Olivia berada agak jauh dari Dizon yang sedang berjalan di depannya.
"Tunggu Dizon! Jalanmu cepat sekali! Aku sangat lelah," teriak Olivia.
"Jalanmu seperti siput! Kalau begini terus, kapan kita akan sampai jalan besar? Kita harus pergi dari tempat ini sebelum penculik itu menyadari jika kita telah kabur," ucap Dizon membuat Olivia kesal.
"Eh, kenapa begini?" Dizon merasa tidak nyaman.
"Kau bilang aku seperti siput. Setidaknya aku sedang berusaha untuk mengimbangi jalanmu."
Dizon terdiam. Tidak ada gunanya berdebat tanpa arah dengan wanita itu.
Dari jauh, Dizon melihat sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan sedang.
"Tunggulah di sini! Aku akan meminta bantuan," ucap Dizon.
Olivia manggut-manggut saja mendengar ucapan pria itu. Tak berapa lama, dia kembali dan menarik tangan Olivia.
"Ayo cepat! Aku mendapatkan tumpangan untuk pergi ke kota," ajak Dizon. Lelaki itu sudah tidak peduli lagi. Dia langsung menggenggam erat tangan wanita itu.
Sepanjang perjalanan, Dizon terdiam. Dia hanya memandangi wajah wanita yang saat ini tertidur dipangkuannya.
Sangat cantik, terkadang kelakuan anehnya itu yang membuat aku kesal.
__ADS_1
Malam ini, tepat di pergantian tahun malah harus berjuang keluar dari sekapan orang yang tidak bertanggung jawab bersama seorang wanita yang sebenarnya sudah dicari selama ini. Kesepakatannya di dalam gudang kosong seperti dianggap angin lalu oleh Dizon.
Aku tidak tau. Permintaan atau tawaranmu di dalam gudang tadi sekadar ocehan belaka atau benar, aku tidak peduli. Batin Dizon.
Pria ini tidak akan sanggup hidup dengan wanita seperti Olivia. Mereka sama-sama mempunyai sikap keras kepala yang berlebihan.
Perjalanan ini terasa sangat lama sekali. Dizon perlahan juga tertidur lelap bersandar pada mobil yang ditumpanginya. Mereka dari puncak naik mobil box yang membawa sayuran hendak ke pasar yang berada di kota.
Sekitar enam jam perjalanan, mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki area pasar. Dizon terbangun.
"Bangunlah! Kita sudah berada di pasar kota," ucapnya pada Olivia.
Keduanya turun dari mobil box tersebut.
"Kita cari taksi dan pulang ke rumahku terlebih dahulu. Aku yakin, jarak terdekat saat ini adalah rumahku," ucap Dizon yakin.
"Terserah kau saja," ucap Olivia. Dia masih kedinginan dan sedikit pusing.
Dizon memeluk pinggang Olivia. Wanita itu tidak menolak ataupun memberontak.
Tepat di hadapannya berhenti sebuah taksi. Dizon langsung menaikinya. Sebelum itu, dia menempatkan Olivia untuk masuk terlebih dahulu. Barulah dirinya yang menyusul.
"Jalan pak... Komplek perumahan elite kota A," ucap Dizon.
Pria itu tidak peduli saat ini tidak memegang uang ataupun dompet. Sesampainya di rumah, dia akan meminta sang Mama untuk membayarkannya terlebih dahulu.
Satu jam perjalanan, taksi yang ditumpanginya telah masuk ke area halaman keluarga Damarion. Dizon bergegas turun untuk masuk ke dalam rumah. Sementara membiarkan Olivia berada di dalam taksi.
"Tunggu sebentar, Pak. Akan saya ambilkan uangnya," ucap Dizon. Dia berlari ke dalam mencari Mamanya.
Mama Carlotta terkejut mendapati putra sulungnya sudah berada di rumah dengan kondisi yang kurang enak di pandang mata.
"Dizon? Ada apa, Nak?" tanya Mama Carlotta.
"Ma, aku pinjam uang untuk bayar taksi. Nanti kuceritakan," ucapnya.
Setelah menerima uang dari Mamanya, dia lekas keluar dan membayarkan uang taksi tersebut. Tak lupa, dia mengajak Olivia untuk masuk ke dalam rumahnya.
🍓🍓🍓🍓TBC🍓🍓🍓🍓
__ADS_1
Dizon akan membuat kehebohan seisi rumah. tunggu kelanjutannya... 😍