Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Menolak tanpa Menyakiti


__ADS_3

Sean sedang memikirkan apa yang akan direncanakan Mamanya saat ini. Kehadiran Diana dan kepulangan Mama secara tiba-tiba membuatnya harus berpikir keras.


Seolah hampir bersamaan dengan kebahagiaan yang Sean dapatkan setelah menikahi Callista. Gadis yang disangkanya adalah wanita malam anak buah Mami Vee. Namun kenyataannya, Callista adalah gadis baik-baik yang hidup sebatang kara.


Sean sebenarnya tidak tega melihat istrinya berada di apartemen sendirian. Mengajaknya untuk menginap di rumah Mama juga tidak mungkin. Sean memberikan solusi kepada Callista untuk meminta sahabatnya menginap di apartemen.


"Om, kenapa melamun?" tanya Callista yang melihat suaminya tidak fokus pada piring makannya.


"Aku baik-baik saja, sayang. Kamu tidak apa-apa jika aku tinggal sendirian?"


"Kan Om dah bilang. Aku bisa minta Kayana menginap disini. Kenapa sekarang lupa lagi? Om lagi banyak pikiran, yak?" Callista yakin ini pasti ada hubungannya dengan mantan istrinya itu.


Iya, sayang. Aku sedang memikirkan Mama. Mrs. Perfeksionis itu pasti sedang menyiapkan sebuah rencana.


"Om, halo..., kenapa diam lagi?" Callista semakin khawatir terhadap suaminya.


"Ah tidak apa-apa sayang. Aku hanya sedang memikirkan Mama," ucapnya.


Memikirkan Mama atau mantan istrimu, Om?


Callista merasakan cemburu bergemuruh di dadanya. Dia berusaha menetralkan rasa itu agar suaminya tidak mengkhawatirkannya.


Callista dan suaminya selesai makan. Dia membersihkan meja makan dengan cekatan. Dibawanya ke wastafel dapur untuk dicuci.


Sean ingin mendapatkan kekuatan untuk menghadapi Mamanya. Dia beranjak dari kursi untuk memeluk istrinya yang sedang mencuci piring.


"Ish, Om..., lepasin dong! Bisa lama kelarnya...," protes Callista.


"Biarkan saja, sayang! Apa mau dicarikan asisten untuk mengurus apartemen ini?" Sean menawarkan.


"Untuk apa, Om? Aku sudah resign. Aku bisa fokus mengurus apartemen dan suamiku...," jawab Callista.


Mendengar Callista memanggilnya dengan sebutan suamiku membuat Sean semakin mengeratkan pelukannya.


"Lekaslah hamil, sayang! Aku menantinya," ucap Sean.


"Entahlah, Om. Kalau aku tidak lekas hamil bagaimana?" Callista sadar jika semua itu bukan atas kehendak dirinya melainkan kehendak Nya.


"Aku akan membuatnya setiap hari, sayang... Dan, memastikan tugas makhluk hidupku berjalan sebagaimama mestinya," Sean terkekeh.


"Ish, mulai deh!"


"Kamu tidak suka dengan sentuhan lembutku, sayang?"


Ucapan Sean membuat bulu kuduk Callista merinding. Callista meronta meminta dilepaskan dari pelukannya. Setelah selesai mencuci piring, Sean masih saja memeluknya.


"Diamlah, sayang! Aku masih ingin seperti ini," pinta Sean.

__ADS_1


"Om, please! Aku takut khilaf. Suara Om membuat bulu kudukku merinding," jawab Callista.


"Hais, memangnya aku setan!" Sean langsung melepas pelukannya.


Callista tertawa.


"Sayang, aku akan pergi ke rumah Mama. Jaga diri baik-baik," pamit Sean kemudian dia mengecup kening istrinya.


Sean turun ke basement untuk mengambil mobilnya. Dia mengendarai mobilnya menuju rumah utama. Sepanjang perjalanan, dia masih memikirkan Mamanya.


Ma, apa yang sedang kamu rencanakan? Apakah kejadian 15 tahun yang lalu tidak membuatmu berubah?


Mobilnya memasuki area halaman rumah utama. Ternyata di teras, Mama Jelita sudah menunggunya sejak tadi. Mama Jelita menyambut kedatangan putra sulungnya.


"Mama kira kamu tidak akan datang, Nak," ucapnya.


"Aku sudah berjanji sama Mama," jawabnya.


Mama Jelita mengajak Sean langsung ke ruang makan.


"Makan dulu, Nak."


Keduanya makan dalam diam. Mama Jelita tau jika anaknya merasa tidak nyaman berada di dekatnya.


"Mau nambah makannya, Nak?" Mama Jelita menawarkan.


"Nak, setelah ini kita mengobrol di ruang keluarga. Ada banyak hal yang ingin Mama sampaikan kepadamu."


"Iya, Ma," jawab Sean.


Selepas makan malam sesuai permintaan Mama Jelita, Sean mengikuti Mama Jelita ke ruang keluarga.


Disini, Sean dan Mama Jelita duduk di sofa menghadap televisi.


"Mau menonton?" Mama Jelita menawarkan.


"Nggak, Ma!" tolak Sean.


Mama Jelita keluar sebentar. Dia memanggil pelayan untuk menyiapkan cemilan dan minuman. Setelah itu dia kembali lagi menemui anak sulungnya.


"Mama ingin menanyakan ini padamu, Nak...," Mama Jelita menjeda ucapannya. Dia sedang memikirkan kata yang tepat untuk anaknya. "Apa kau tidak ingin menikah lagi, Boy?"


Sean terdiam. Dia masih memikirkan jawaban yang tepat untuk Mamanya. Sebenarnya dia bisa saja mengatakan jika sudah menikah. Tetapi dia memikirkan konsekuensi yang akan didapat dari Mamanya. Mungkin berupa penolakan atau memaksa dirinya untuk bercerai dan menerima keputusan sepihak dari Mamanya.


"Ma, Sean Duda kepala 4. Sean malu jika harus menikah lagi," kilah Sean. Dia tidak ingin pernikahannya dengan Callista cepat diketahui Mamanya.


Mama ingin membuatmu rujuk dengan Diana dan memberikan keluarga yang utuh untuk Willow, cucu Mama. Walaupun kamu juga tau, Nak. Jika Willow adalah anak hasil perselingkuhan Diana. Tetapi Mama pikir, Diana tetap yang terbaik untukmu.

__ADS_1


"Mama ingin kau kembali rujuk, Nak."


Dugaan Sean benar. Ini pasti ada hubungannya dengan Diana. Sean tidak lekas membalas ucapan Mamanya.


"Selain memintaku untuk rujuk, apalagi yang Mama inginkan?"


Ternyata Mama Jelita tidak pernah berubah.


"Mama ingin mendapatkan cucu laki-laki dari Diana. Ya walaupun Mama tau jika Willow bukan anak kandungmu, tapi Mama sangat menyayangi anak itu...," Mama Jelita menginginkan keturunan yang jelas bibit, bebet, dan bobotnya.


"Aku tidak bisa rujuk kembali dengan Diana, Ma. Rasa kecewaku masih terlalu tinggi pada wanita itu. Mama ingat bagaimana membuatku bisa menikah dengannya? Saat itu dia mempunyai seorang kekasih, tetapi Mama terlalu memaksakan kehendak. Dia bisa menerimaku dan masih berhubungan dengan mantan kekasihnya. Mama ingin mengulang hal yang sama untuk kehidupan anakmu ini, Ma? Maafkan Sean Ma... Sean tidak bermaksud menyakiti hati Mama, tetapi Sean tidak ingin mengulang kesalahan yang sama," Sean menolak permintaan Mamanya, tetapi dia juga tidak kuasa menyakiti Mamanya.


Jelita ingat betul bagaimana dia meyakinkan Diana untuk menerima anaknya. Sean juga menerima Diana dengan baik. Saat itu Sean masih lelaki polos yang selalu mengikuti kemauan Mamanya.


Bagaimana ini? Sangat sulit meyakinkan Sean.


"Mama yakin, Diana sudah berubah...," Mama Jelita berusaha keras meyakinkan anak sulungnya.


Mama terlihat seperti menyimpan sebuah rahasia.


"Mama tau darimana jika wanita itu sudah berubah? Apa Mama sering bertemu dengannya di luar negeri?" Sean menginterogasi.


Mama Jelita memang tidak pernah lagi bertemu dengan Diana, tetapi selalu menjalin komunikasi melalui telepon. Mama Jelita bahkan sering melakukan video call dengan Willow.


Obrolan terhenti ketika pelayan mengantarkan nampan yang berisi cemilan dan minuman.


Sean langsung mengambil segelas minuman yang sudah diletakkan di depannya. Dia meminumnya sampai habis kemudian mengembalikan gelas ke tempat semula.


"Mama menginginkan cucu, Nak," pinta Mama Jelita akhirnya.


"Aku akan memenuhi permintaan Mama, tetapi tidak rujuk dengan Diana. Mama juga harus tau, Willow itu bukan Willow Armstrong, Ma. Dia itu Willow Damarion. Anak dari Diana Carrington dan Dizon Damarion, mantan kekasihnya. Sean minta maaf harus mengatakan ini semua...," Sean menjelaskan agar Mamanya berusaha melupakan Willow dan Diana.


😍😍😍😍😍


Halo kakak-kakak yang kece badai...


Selamat hari senin,


Semoga selalu diberikan keberkahan, kesehatan, dan rezeki yang berlimpah. Aamiin...


Jangan lupa like, vote, dan komentarnya...


Terima kasih 😍😍😍


Sambil menunggu update selanjutnya, Emak Author ingin memperkenalkan karya teman Emak... Monggo mampir disana


Judul Novel : Berbagi Cinta \= Belenggu Cinta Yang Sama karya Author Liana kiezia

__ADS_1



__ADS_2