Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Monster


__ADS_3

Seperti permintaan Callista tempo hari mengenai syukuran kehamilannya, hari ini Sean telah menyiapkan jamuan makan malam untuk beberapa tamu undangan. Dia hanya mengundang keluarga Damarion, mamanya, Zelene beserta suaminya.


Sayang sekali, mamanya menolak untuk hadir sebelum dia mengetahui jenis kelamin calon cucunya. Sean tak ambil pusing, malah ini kesempatan bagus untuk membahagiakan istrinya.


Kehamilan Callista sudah memasuki minggu ke enam belas. Dia sangat bersyukur sekali karena semuanya berjalan lancar.


"Sudah siap, sayang?" tanya Sean.


Callista terlihat lebih menawan menggunakan gaun berwarna lemon. Kulitnya yang putih bersih semakin terlihat cantik.


Callista menganggukkan kepalanya.


Mereka berdua bergegas berangkat ke restoran yang sudah dipesan atas namanya.


Sesampainya di sana, ternyata keluarga Damarion, Zelene, dan yang lainnya sudah berkumpul di sana. Mereka menyambut kehadiran ibu hamil itu dengan sangat antusias.


Berbeda dengan Dizon dan Olivia. Keduanya terlihat biasa saja menyambut kehadiran Tuan rumahnya. Bukan karena tuan rumahnya yang sudah terdaftar menjadi rival Dizon sejak dulu, melainkan perseteruan untuk melancarkan proses pembuahan. Olivia selalu menolak permintaan Dizon sebelum pria itu mau mengaku jika telah jatuh cinta padanya. Inilah susahnya menyatukan kutub utara dan selatan.


Setelah kehadiran Sean dan istrinya. Dia memberikan sambutan singkat pada tamu yang hadir.


"Terima kasih atas kehadirannya untuk memberikan doa dan restu demi kelancaran kehamilan istri saya sampai melahirkan. Terima kasih," ucap Sean. Dia meminta semua tamu untuk menikmati hidangan yang telah disediakan.


"Sean, mama Jelita tidak datang?" tanya Carlotta.


"Mama ada keperluan mendadak, tante," ucapnya. Padahal Sean sengaja menutupi alasan mamanya untuk tidak ikut dalam acara ini.


Sebenarnya mama Carlotta tidak terkejut jika mama Jelita tidak datang. Tidak heran juga dengan wanita itu. Persis suaminya.


Mereka sangat menikmati hidangan, tetapi semua berubah ketika Sean menyinggung tentang kehamilan adiknya.


"Ze, bagaimana kehamilanmu?" tanya Sean.


Sejauh ini kehamilan Zelene baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena Zelene sendiri selalu mengurangi aktivitas dan memperbanyak istirahat.


"Doakan selalu sehat ya, Kak?" balas Zelene.


"Wah, Zelene juga hamil?" tanya papa Denzel.


"Iya, Om. Baru beberapa minggu saja," jawab Zelene.

__ADS_1


"Tentu, Ze. Kalau putra Om, jangan harap istrinya lekas hamil. Dia terlalu jaga image," sindir papanya.


Uhuk! Dizon dan Olivia terbatuk bersamaan. Papanya terlalu gamblang untuk membuat keduanya terpojok. Di sisi lain, ada orang yang lebih bahagia melihat penderitaan dua orang di hadapannya. Siapa lagi kalau bukan Sean Armstrong. Mama Carlotta juga tersenyum memandang keduanya.


"Itu soal gampang, Om," ucap Sean. Dia memang masih punya sedikit rasa kesal pada Dizon. "Om tinggal kurung saja mereka berdua dalam sebuah kamar selama satu minggu. Lihat saja reaksinya," usul Sean.


"Sean, kamu jangan meracuni otak papaku dengan ide gilamu itu." Dizon kesal. Bagaimana bisa dia berada dalam satu kamar jika tidak melakukan adegan yang ehem itu.


"Aku hanya bercanda, bro. Kalau Om Denzel mau melakukannya, itu urusan beliau, bukan urusanku. Bukan begitu, Om?" tanya Sean.


Sementara beberapa orang yang hadir ikut menertawakan ulah Sean. Namun, tawa mereka cukup dinikmati perseorangan saja. Jika tidak, meja restoran bisa saja terbalik karena ulah Dizon. Sementara Vigor sangat menikmati dalam diamnya. Dia tidak mau ikut campur urusan orang lain apalagi model Dizon.


Begitu pula dengan mama Carlotta. Putra sulungnya itu benar-benar memperlakukan dokter Olivia diluar dugaannya.


"Sudah, sayang. Jangan ganggu mereka," ucap Callista. Dia tidak ingin acara makan malam ini berlangsung dengan keributan.


"Kakak ipar benar, Kak. Jangan diteruskan!" balas Zelene. Walaupun dia tau jika Sean dan Dizon tidak akan pernah akur sampai kapanpun.


"Aku hanya meladeni permintaan pendapat Om Denzel. Apa salahnya aku memberikan saran?" kilah Sean.


Dizon terdiam. Dia masih berpikir ucapan apa yang tepat untuk diberikan pada Sean itu.


Deg!


Callista seketika tertegun mendengar ucapan Dizon. Dia berharap agar putrinya kelak tidak bernasib sama sepertinya mendapatkan duda yang umurnya lebih jauh diatasnya.


"Tolong dokter. Rayulah suamimu untuk menghapus ucapannya barusan. Suamiku tidak bermaksud menyakitinya." Callista memohon pada dokter Olivia. Berbicara dengan Dizon tidak akan mendapatkan solusi.


"Maaf Nyonya Sean, aku tidak berani mengatakan itu pada Tuan Monster," ucap Olivia membuat semua orang menertawakan dirinya.


"Monster?" tanya mama Carlotta.


"Maaf, Ma. Aku tidak bermaksud mengatainya. Memang kenyataannya seperti itu," ucap Olivia semringah.


Dizon manatap tajam ke arahnya. Olivia menabuh genderang perang pada pria yang disebut monster itu. Sementara Vigor, ingin jadi penengah dari semuanya.


"Tolong acara makannya dilanjutkan saja. Kasian Tuan rumahnya," sindir Vigor.


Semua menikmati acara makan dengan khidmat. Tidak ada lagi obrolan yang membuat pusing. Termasuk pria yang disebut Monster oleh dokter Olivia.

__ADS_1


Setelah selesai, mereka melanjutkan obrolan yang tertunda.


"Berapa lama lagi akan melahirkan?" tanya mama Carlotta.


"Sekitar lima atau enam bulan lagi, tante. Doakan lancar, tante," jawab Callista.


"Tentu, nak. Tante juga ingin anak-anak tante lekas memiliki keturunan. Semoga lekas nular, ya," ucap mama Carlotta.


"Dizon, dengar ucapan mamamu. Dia berharap banyak padamu," ucap papa Denzel.


"Papa mertua jangan berharap banyak pada monster itu. Dia akan berkembang biak seperti amoeba," sindir Olivia.


Sial! Wanita itu selalu saja memojokkanku. Awas saja!


Sean dan Vigor tertawa. Sebenarnya dia menertawakan ucapan dokter Olivia, tetapi keduanya berpura-pura untuk itu.


"Apa yang kalian tertawakan?" tanya Zelene.


"Tidak ada, Ze. Kami tertawa karena mendengar cerita Vigor tempo hari dan kami mengingatnya," kilah Sean.


Padahal semuanya juga ikut menertawakan ucapan dokter Olivia termasuk mamanya.


"Sayang, istrimu memberikan kode keras agar kalian berjuang bersama," ucap mamanya.


Selama ini Dizon memang selalu membuat Olivia terpojok. Sekarang gilirannya dia yang dipojokkan. Dia tidak bisa membayangkan menjadi Sean yang istrinya tengah hamil. Bagaimana Dizon akan bersikap pada istrinya jika wanita itu benar hamil?


"Mama jangan khawatir, sekeras kode yang kuberikan, dia tetap Mon...," Olivia tidak melanjutkan ucapannya karena suaminya telah memelototinya lebih dalam.


Rasakan saja. Memang enak dipojokkan seperti itu. Aku sengaja, anggap saja ini wujud pembalasanku.


"Kalian itu pasangan yang romantis," ucap papa Denzel.


Lagi-lagi mereka semua menertawakan Dizon. Pasangan romantis darimananya kalau setiap bertemu selalu ribut.


Sementara Callista masih memikirkan ucapan Dizon. Dia berharap masa depan putrinya tidak seperti yang Dizon ucapkan.


Acara makan malam berlangsung sangat meriah walaupun sempat terjadi keributan kecil. Setelah itu, mereka kembali ke rumah masing-masing.


πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“TBCπŸ“πŸ“πŸ“πŸ“

__ADS_1


Maaf emak kemarin belum sempat up... emak sedikit olengπŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»


__ADS_2