
Kayana memutuskan untuk pergi ke apartemen Om Sean, eks Duda yang meresahkan dan tajir melintir itu. Dia ingin bertemu sahabatnya dan menumpahkan semua masalah yang dihadapinya saat ini. Salah memang jika dia harus meninggalkan rumah dalam keadaan seperti ini, tetapi bagaimana lagi. Kewarasan juga penting, 'kan?
Sepanjang perjalanan, Kayana tidak mengabari sahabatnya jika akan datang ke apartemen. Dia juga tidak mengangkat telepon suaminya yang menghubunginya berkali-kali. Kayana ingin sendiri.
Sesaat rasanya dia ingin tertidur untuk beberapa lama dan ketika bangun semua masalahnya akan selesai. Hoho, tidak semudah itu Ferguso!
Apartemen Golden di pagi hari setengah siang sudah nampak sepi. Taksi yang membawanya telah sampai di depan gerbang apartemen mewah itu. Kayana membayarkan beberapa lembar pada sopir taksi kemudian naik ke unit sahabatnya.
Kayana menekan bel apartemen sampai beberapa kali.
Huft, apa Callista tidak ada ditempat?
Barulah pada bel ke lima, unit apartemen itu terbuka dan menampilkan Callista yang terlihat baru saja bangun tidur.
"Kay?" tanya Callista yang terkejut dengan kedatangan sahabatnya.
"Boleh aku masuk?"
"Tentu, masuklah!" Callista menutup kembali pintunya. "Duduklah! Ada apa?"
"Boleh aku minta minum?"
"Tentu. Sebentar kuambilkan," ucap Callista. Dia beranjak ke dapur mengambil minuman dan beberapa camilan. Untuk sarapan pagi, jangan tanya karena Callista belum memasak.
Wait! Callista melihat meja makan sudah tersedia beberapa makanan. Itu artinya suaminya sudah menyiapkannya sebelum berangkat ke kantor.
Terima kasih, sayang. Suami idaman sekali.
Callista bergegas ke ruang tamu membawa nampan. Dia meletakkannya di meja dan langsung diambil Kayana.
"Maaf, aku sangat haus, Call," ucap Kayana.
"Kamu baik-baik saja, 'kan?" tanya Callista. Terasa aneh juga jika Kayana datang ke apartemennya seorang diri. Tetapi ya sudahlah, mungkin Felix sedang bekerja.
"Hubunganku dengan suami sedang kurang baik, Call," ucap Kayana.
"Tunggu dulu! Makanlah camilan ini, aku akan mandi. Aku baru saja bangun tidur, Kay," ucap Callista malu-malu. Dia sering bangun kesiangan karena ulah suaminya.
__ADS_1
"Baiklah."
Callista kembali ke kamarnya. Dia membutuhkan waktu paling cepat lima belas menit sampai selesai. Tak masalah baginya karena Kayana adalah sahabat yang paling pengertian.
Tepat sesuai perkiraannya, Callista sudah kembali ke depan Kayana.
"Kay, ngobrol di meja makan, yuk! Aku belum sarapan dan minum vitamin kehamilan," ajaknya.
Kayana mengikuti Callista. Di sana dia melihat beberapa masakan yang Kayana yakin bukan buatan Callista.
"Ini Om Sean yang menyiapkan semuanya?" tanya Kayana.
"Iya. Sejak aku hamil, aku lebih sering terlambat bangun. Aku juga merasa gampang lelah, tetapi tidak mual sama sekali," jawabnya sembari mengambil beberapa makanan diletakkan di piringnya. "Makan bareng, yuk? Kuambilkan."
"Enggak, Call. Terima kasih. Aku lagi nggak mood makan," ucapnya.
"Ya sudah. Ceritakan saja, Kay. Akan kudengar," ucap Callista. Dia sembari menikmati sarapan paginya dengan porsi dobel. Minatnya pada makanan menukik tinggi membuat dia lebih gembul dan perut yang mulai buncit. Perpaduan ibu hamil yang seksi, bukan?
Kayana menceritakan semua yang terjadi pada suaminya dengan sekretaris seksi itu sampai dugaan adanya skandal karena Kayana telah melihat foto yang dikirim padanya. Apalagi latar belakang foto yang dilihatnya paling terakhir adalah sebuah kamar. Kedua pria dan wanita itu berada di dalam selimut yang sama dan terlihat sangat romantis.
Kayana juga menceritakan jika dirinya sengaja menghindari suaminya untuk menenangkan diri sampai pria itu bisa membuktikan jika dirinya tidak bersalah.
"Jangan terlalu percaya berita hoax yang disebarkan oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab. Bisa jadi itu editan," balas Callista. Dia pernah mengalami kegaduhan rumah tangganya juga gara-gara foto tidak senonoh itu.
"Mana mungkin, Call. Itu sangat jelas, loh. Suamiku berada di ranjang dan selimut yang sama dengan Rhiana," ucapnya.
Cerita yang disampaikan Kayana hampir mirip foto tidak senonoh yang diterimanya waktu itu. Callista tidak ambil pusing karena sampai sekarang hubungannya dengan Sean tidak ada masalah. Jika foto tempo hari benar, biarkan saja. Lagipula siapa yang menggenggam Sean saat ini jika bukan dirinya.
"Sebaiknya kamu pulang dan selesaikan masalah dengan Felix. Kabur tidak akan menyelesaikan masalah," ucap Callista menertawakan dirinya sendiri. "Sudah berasa sok bijak ya?" ucapnya.
"Ck, aku pikir ada sesuatu yang salah pada dirimu. Bisa jadi ada kabel yang salah," sindir Kayana.
"Dari dulu aku memang bijak. Kamu saja yang tidak tau," balasnya.
"Baiklah. Aku paham sekarang. Kamu adalah sahabatku yang sangat luar biasa. Lalu, apa selanjutnya yang harus kulakukan?" tanya Kayana.
"Sebentar! Aku buka biro curhat eksklusif dulu. Tunggu, ya!" Callista masuk ke dalam kamarnya. Dia mengambil sesuatu yang Kayana juga tidak tau itu apa.
__ADS_1
Callista memintanya untuk masuk ke ruang tengah supaya terlihat lebih santai.
"Untuk apa buku dan bolpoin itu?" tanya Kayana.
"Menuliskan semua masalahmu dan memikirkan solusinya. Aku tidak kuat menampung terlalu banyak di otakku. Isi otakku sudah dipenuhi Om Sean dengan segala kemesumannya," jawab Callista dengan bangga membuat Kayana bisa tertawa lepas dan sejenak melupakan masalahnya.
"Hemm, suami dudamu itu sangat meresahkan!" cibir Kayana.
"Sudah. Jangan bahas suami tampanku itu!"
Callista mulai menulis beberapa masalah yang dihadapi sahabatnya itu. Setelah itu difotonya hasil tulisannya itu.
"Eh, kenapa kok difoto segala?" tanya Kayana.
"Hemm, dengarkan! Suami tampanku itu melarang keras untuk berpikir terlalu keras. Jika aku melanggarnya, aku takut kena SP. Kamu tau efeknya? Jatah wajib selama dua bulan ke depan akan di stop. Aku tidak mau itu. Maaf ya sahabat," ucap Callista.
Oh ya ampun... Jadi biro curhat yang dimaksud Callista adalah Om Sean. Astaga!
Callista sedang memainkan ponselnya. Dia sangat sibuk meminta pendapat suaminya. Setelah berkutat sekitar setengah jam lamanya, Callista langsung tersenyum semringah.
"Bagaimana? Apa kata Om Sean?" tanya Kayana.
"Pulanglah! Selesaikan masalahmu. Apapun keputusan Felix, ikuti saja. Pria itu sangat baik. Dia tidak mungkin melakukan kesalahan bodoh itu. Hanya jebakan yang mampu menggiringnya ke sana. Kay, kamu harus yakin jika Felix itu bukan tipe pria plin-plan yang doyan selingkuh atau apalah," jawab Callista.
"Jadi menurut Om Sean, Felix benar tidak melakukan kesalahan itu?" Ada binar bahagia di mata wanita itu.
"Felix itu pria yang baik. Mengenai kenapa dia tidak langsung ambil keputusan yang kamu maksud karena dia mempertimbangkan beberapa hal. Kalau suamimu terlalu tergesa-gesa mengambil keputusan, hasilnya akan fatal," jawab Callista.
Kayana sedikit heran. Sahabatnya itu bisa mengucapkan semua kata setegas itu. Apa karena dia sedang hamil? Atau dia memang sudah berubah sejak bergaul dengan Om Sean, eks Duda yang kadang bisa plin-plan juga.
🍒🍒🍒🍒TBC🍒🍒🍒🍒
Tunggu keputusan Abang Felix yang sangat mengejutkan, yah...
Jangan lupa like, vote, dan komentarnya...
🥀🥀🥀🥀☕☕☕☕⭐⭐⭐⭐⭐ Jangan lupa dikirimkan...
__ADS_1
Terima kasih... luv yu all... 😍😍😍😍