
Dizon tidak mendapatkan jawaban apapun. Bergegas dia menyambar tangan istrinya dan mengajaknya keluar. Dia sengaja meminta Olivia untuk masuk ke dalam mobilnya. Padahal Dizon berangkat berempat bersama Felix dan istrinya. Dia sudah tidak peduli lagi. Saat ini dipikirannya adalah kenapa dia tau dari orang lain dan bukan dari mulut Olivia sendiri?
Pertengkaran akan di mulai. Dizon mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang lumayan dari biasanya.
"Dizon, cukup! Hentikan mobilnya. Aku bisa mual jika kamu mengendarai seperti ini!" teriak Olivia. Sikap suaminya yang kesekian kalinya sudah tidak bisa di toleransi lagi.
"Kamu bilang cukup? Apa kamu peduli padaku tentang semua ini?" Dizon balas berteriak.
"Apa maksudmu?"
"Ck, kamu masih tidak mengerti juga. Sebenarnya suamimu itu Sean atau aku, hah? Kenapa dia bisa lebih dulu tau kabar kehamilanmu dibanding aku?" Dizon masih mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan diatas rata-rata.
"I-itu bukan kemauanku, Dizon. Bahkan aku juga tidak tau kalau Sean akan mengumumkan hal sepenting itu di depan semua orang. Tapi melihat sikapmu seperti ini, aku yakin seratus persen bahwa keputusan mama tidak salah!"
"Kamu menuduh mamaku yang melakukannya?"
"Sikapmu selalu saja seperti itu, Dizon. Tolong mengertilah dan jadilah pria yang lembut seperti pada umumnya." Olivia berharap usahanya untuk membujuk Dizon berhasil. Jika tidak, solusi terakhir akan mengancamnya dengan sesuatu yang lebih mengerikan lagi.
Dizon pura-pura tidak mendengar ucapan Olivia. Padahal dihatinya ada kebahagiaan karena istrinya hamil, tetapi karena Sean yang mengatakan membuatnya merasa tidak ada orang lain lagi yang pantas mengatakannya. Mungkin istri atau mamanya sendiri yang harus mengatakannya.
Mobil Dizon berhenti tepat di halaman rumah keluarganya. Dia meminta Olivia untuk segera masuk ke kamarnya.
"Masuk ke kamar sekarang!"
Olivia tidak ingin mendebat lagi tingkah suaminya. Dia berpikir akan ada jalan di dalam sama jika sampai Dizon berlaku kasar padanya. Olivia tidak segan untuk meminta cerai jika Dizon berlaku kelewat batas.
Dizon dengan cepat mengunci pintu kamarnya. Malam ini akan diselesaikan kesalah pahamannya selama ini.
"Kenapa diam?" tanya Dizon.
"Aku tidak ingin berdebat denganmu!" Olivia sengaja duduk di sofa supaya agak jauh dari pria itu yang selama ini disebutnya monster.
"Aku tidak marah."
__ADS_1
Glek!
Rasanya Olivia ingin meminum racun saat ini juga. Sikap suaminya dalam perjalanan sudah seperti berada di medan pertempuran dan sekarang mengatakan kalimat sesimpel itu?
"Maksudmu?" tanya Olivia.
"Seharusnya aku sangat berterima kasih pada Sean. Pria itu mengatakan hal yang membuatku bahagia diwaktu yang bersamaan dengan kebahagiaannya. Aku terlalu gengsi untuk mengakui dihadapan orang banyak. Makanya aku mengajakmu pulang terlebih dahulu." Dizon menuju ke laci dan mengambil sesuatu dari sana. Sebuah kotak yang Olivia juga tidak tau isinya apa.
Apa ini seperti prank? Tiba-tiba aku dijebak dan diberikan kejutan kebahagiaan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Suami monsterku itu sulit sekali ditebak sikapnya. Apakah malam ini akan tamat riwayatku?
"Ini hadiah untukmu. Aku sudah lama menyiapkannya setelah pernikahan kita," ucap Dizon.
Olivia menerima kotak tersebut dengan sangat hati-hati. Dia harus ekstra menjaga diri jika berhadapan dengan Dizon.
"Apa ini?" tanya Olivia. Dia ragu untuk membukanya sebelum mendapatkan perintah dari suami monsternya itu.
"Bukalah!"
"Sepasang perhiasan untuk ibu dan anak?" tanya Olivia.
"Iya, itu untukmu dan anak kita." Dizon memberikan senyuman normal pria pada umumnya. Olivia sudah tidak ketakutan lagi pada suaminya.
"Tapi, kita belum tau jenis kelaminnya, Dizon. Jika laki-laki, bagaimana?" tanya Olivia.
"Kamu bisa menyimpannya untuk anak perempuan kita," ucap Dizon.
Rasanya Olivia berada di atas awan yang tidak bisa digambarkan kebahagiaannya seperti apa. Entah ini prank sesaat atau memang suaminya sudah berubah.
"Dizon, boleh aku bertanya padamu?" Olivia penasaran pada perubahan sikap suaminya.
"Tanyakan saja!" Dizon sekarang duduk diposisi tepat di samping istrinya.
"Kenapa kamu membelikanku sepaket perhiasan ibu dan anak? Sementara aku sendiri tidak yakin jika anak kita perempuan."
__ADS_1
"Ini hanya hadiah, Olivia. Sudah lama aku mengharapkan bisa memiliki keturunan dari istriku."
"Tapi, aku takut jika kamu berlaku kasar padaku," ucap Olivia sendu.
"Aku tidak akan melakukannya lagi. Ada janin yang harus dijaga dengan baik. Aku akan marah jika kamu tidak peduli padanya," balas Dizon. Dia meraih tangan istrinya kemudian menggengamnya. "Terima kasih sudah menerimaku apa adanya. Aku tidak yakin wanita diluaran sana sekuat dan sehebat dirimu."
"Janji kalau kamu tidak akan berlaku kasar lagi padaku?" Olivia memandang wajah suaminya. Pria yang selama ini membuatnya takut, membuat Olivia bertengkar hebat dengannya dan kadang sisi baiknya yang tiba-tiba muncul seperti undian berhadiah.
Dizon mengangguk. "Janji."
Malam ini rasanya Olivia ingin menangis dan tertawa disaat yang bersamaan. Ucapan mamanya tentang Dizon tempo hari benar terwujud saat ini. Mama Olivia tega melepaskan putrinya ditangan yang tepat. Tidak ada keraguan lagi membiarkan Olivia hidup bersama Dizon.
"Hei, kenapa matamu berkaca-kaca?" tanya Dizon.
"Aku tidak tau ini nyata atau sebuah mimpi, Dizon. Kehamilan ini membuatku yakin jika kamu adalah orang baik. Tetapi, terkadang aku bingung. Sikapmu yang berubah-ubah itu nyata atau settingan?"
"Aku tidak tau, Oliv. Terkadang masa lalu memenjarakan diriku dalam dendam yang tiada akhir. Aku sengaja menciptakan kejelekan pada diriku sendiri agar orang lain menjauhiku. Aku terkenal sebagai seorang pebinor yang pada kenyataannya itu hanya isu yang kubuat. Aku ingin menemukan orang yang tepat walaupun usiaku tak lagi muda. Kamu tau sendiri 'kan jika suamimu ini sangat tampan?" Dizon sengaja mengatakan hal yang sebenarnya pada istrinya. Tak ada lagi yang harus ditutupi.
"Jadi, mengenai dendammu pada Sean itu hanya settingan?"
"Tidak! Aku masih dendam, tetapi aku juga berteman dengannya," jawaban Dizon membuat Olivia memijat pelipisnya.
Dizon menyadari persaingannya dengan Sean harus segera diakhiri. Tidak ada lagi penengah di antara keduanya. Dulu yang menjadi pemicu masalahnya adalah seorang Diana Carington yang saat ini telah berbahagia dengan ayah biologis putrinya.
Kamar Dizon suasananya menjadi tenteram dan damai. Tidak ada keributan sama sekali. Sementara diluar kamar, Mama Carlotta sangat mengkhawatirkan menantu dan putranya.
"Ma, kalau mama terus mondar-mandir seperti itu, kita tidak akan tau kabar kakak ipar di dalam," Ucap Felix.
"Lalu, apa yang harus mama lakukan, Felix?" tanya wanita paruh baya itu. Dipikirannya membuat kejutan untuk Dizon adalah cara yang tepat untuk membuatnya akur dengan Olivia, tetapi dugaannya salah besar.
Mama Carlotta menunggu pintu itu terbuka daripada harus mengganggu keduanya. Semoga saja harapan dan keinginan wanita paruh baya itu sesuai dengan kenyataannya.
🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓
__ADS_1