
Seperti pernikahan Felix sebelumnya, Mama Carlotta paling dominan untuk mengurus pernikahan putranya. Tidak berbeda dengan rencana pernikahan Dizon yang juga diurus olehnya.
Bedanya waktu itu dia harus mengurusnya seorang diri, sedangkan untuk hari ini Dizon ikut serta.
Hari ini terasa sangat cepat sekali, pasalnya setelah reservasi ballroom hotel Sunrise, Mama Carlotta langsung mengajak ke kantor WO yang ada di Mal Sinar Galaxy. Selain itu, Mama Carlotta juga akan melakukan fitting gaun pengantin untuk dokter Olivia. Mereka sudah berjanji akan bertemu di siang hari.
"Kamu pilih yang mana, Dizon? Ini contoh undangannya semua bagus," ucap sang Mama.
"Terserah Mama saja. Apapun pilihan Mama pasti yang terbaik," puji Dizon pada wanita paruh baya itu.
Mama Carlotta memilih beberapa sampel undangan. Kemudian satu per satu mulai diletakkan di atas meja. Pertanda tidak jadi dipilih. Barulah di paling akhir undangan yang masih terpegang, baru diputuskan sebagai pilihan.
"Sudah mengabari dokter Olivia?" tanya Mama Carlotta.
"Dia akan datang sedikit terlambat, Ma," jawab Dizon. Seperti tempo hari ketika membeli perhiasan, Dizon harus menunggunya sampai setengah jam.
"Tidak masalah. Kamu bisa lebih dulu mencoba jas pengantinnya," ucapnya dengan menyunggingkan senyuman.
Setelah memutuskan undangan mana yang akan dipilih dan konsep pernikahan seperti apa yang diambil, Mama Carlotta meminta WO tersebut untuk lekas mencetak undangan. Waktunya sudah sangat mepet sekali dan pihak WO diminta untuk mengantarkannya ke rumah keluarga Damarion.
Mama Carlotta sangat bahagia. Jodoh kedua putranya ternyata dalam waktu yang sangat kilat.
"Kamu bahagia, 'nak?" tanya Mamanya.
Entahlah, Ma! Aku tidak tau bagaimana mendeskripsikan perasaanku yang sesungguhnya. Bahagia enggak, sedih juga enggak. Biasa saja!
"Tentu, Ma. Asal Mama bahagia, aku juga bahagia," ucapnya berbohong.
Mama Carlotta menyelesaikan urusannya dengan pengurus WO, setelah itu keduanya masuk ke butik Queen sembari menunggu datangnya dokter Olivia.
"Pilihlah jasmu dulu, 'nak! Mama akan menunggu dokter Olivia di sini," ucap Mamanya.
Wanita paruh baya itu memilih beberapa gaun pengantin yang akan dipakai untuk calon menantunya. Ketika fokus memilih, sebuah tangan menyentuhnya.
"Tante," panggil wanita itu.
Mama Carlotta menoleh dan melihat kedatangan calon menantunya.
"Baru datang, 'nak?"
"Iya, tante. Maaf selalu datang terlambat," ucapnya.
"Pekerjaanmu jauh lebih penting, 'nak." Mama Carlotta langsung mengajak Olivia memilih beberapa gaun kemudian mencobanya.
Wanita paruh baya itu tidak hanya melibatkan dirinya, melainkan putranya juga.
__ADS_1
"Dizon, lihatlah! Apa kamu menyukainya, 'nak?" tanya sang Mama.
Dizon tidak merespon. Menurut pengamatannya, apapun yang dipakai dokter aneh itu selalu saja terlihat cantik dan pantas. Dizon masih memegang egonya yang sangat tinggi, sehingga untuk memberikan komentar saja sangat berat.
"Ck, kamu diam tidak suka atau memang sedang melamun," protes Mamanya.
"Mau berkomentar apalagi, Ma? Semuanya bagus," ucapnya.
"Yang bagus itu gaunnya atau orangnya?" tanya Mamanya.
Dizon mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Dia belum mau menjadi pria pertama yang bucin akut pada calon istrinya. Lebih baik berpura-pura daripada harus menuruti ucapan mamanya.
Dokter Olivia terlihat biasa saja menanggapi ucapan Dizon yang seolah tidak peduli padanya.
Tenang, Oliv! Pria aneh itu memang sikapnya tidak bisa ditebak. Mama bilang, secepatnya aku harus membuatnya jatuh cinta. Bukan dengan cara mendekati atau memepetnya setiap saat, tetapi ada cara lain yang lebih elegan.
Mama Carlotta memandang calon menantunya yang sedang melamun. Wanita itu merasa tidak enak karena sikap putranya yang tidak peka sama sekali. Sekedar untuk mengomentari apa salahnya.
"Maafkan putraku, 'nak. Dizon sebenarnya pria yang sangat baik," ucap Mama Carlotta. Dia baru berani mengatakan ketika Dizon sudah pindah ke area pemilihan jas. Dia bahkan tidak melirik dokter Olivia sama sekali.
Setelah mendapatkan beberapa baju dan Dizon juga telah memilih jasnya. Mama Carlotta mengecek kecocokan pemilihan putranya dan calon menantunya.
"Wah, mama tidak menyangka. Pilihan kalian sangat cocok. Ini baru namanya jodoh," goda Mama Carlotta.
Wanita itu selalu berusaha mencairkan suasana agar dokter Olivia tidak merasa canggung.
"Mama pergi dengan dokter Olivia saja. Aku langsung balik ke kantor, Ma. Felix pasti sudah menungguku," ucap Dizon beralasan. Dia tidak mau terlalu lama berinteraksi dengan dokter Olivia.
"Felix bisa menyelesaikan pekerjaannya. Temani mama dan calon istrimu! Tak ada penolakan," ucap Mamanya.
Dengan berat hati, Dizon mengikuti perintah mamanya. Mama Carlotta memilih restoran yang menyediakan berbagai makanan.
Ketika berada di dalam restoran, Mama Carlotta sengaja membuat anaknya duduk berhadapan dengan dokter Olivia. Wanita itu berharap agar Dizon lebih leluasa memandang calon istrinya.
Pemesanan makanan sudah dilakukan, sekarang Mama Carlotta mengajak mereka berdua untuk mengobrol dari hati ke hati.
"Mama berharap banyak pada kalian berdua," ucapnya memulai pembicaraan. "Terutama kamu, Dizon. Mama secepatnya ingin memiliki cucu dari kalian."
Glek!
Dokter Olivia maupun Dizon sama-sama menelan saliva masing-masing.
Hah? Bagaimana bisa aku melakukan itu dengan pria tidak jelas ini? Bisa saja dia bersikap kasar padaku. Oh God, kenapa jalan kehidupanku Engkau buat serumit ini? Batin Olivia.
Ck, Mama ini apa-apaan, sih? Aku belum tau bisa atau tidak mendekati dokter aneh itu. Bisa-bisa malam pertama berakhir runyam. Bisa saja aku diberikan obat tidur olehnya. Dia kan dokter aneh! Batin Dizon.
__ADS_1
"Apa yang kalian pikirkan? Kalian berdua sudah berumur. Tak perlu lagi mama mengajari kalian untuk mendapatkan cucu. Berjuang saja berdua. Jangan egois!" ucap mamanya memberikan pukulan telak pada mereka.
"Doakan saja, tante! Semoga secepatnya bisa mewujudkan keinginan tante," ucap Olivia. Walaupun dia yakin akan terlihat sangat sulit mewujudkannya.
Menikah tidak didasari cinta. Terkesan dipaksa namun sama-sama mau. Kita lihat saja, hubungan kedua orang rumit ini akan seperti apa?
Dizon tak berkomentar. Dia juga pusing bagaimana cara mendapatkan malam pertamanya dengan istrinya kelak.
Untung saja makanan yang mereka pesan datang. Jika tidak, mereka terus saja berkutat pada pikirannya masing-masing. Mama Carlotta mempersilakan untuk memakan semua hidangannya terlebih dahulu.
Permintaan mama terlalu berlebihan. Batin Dizon.
Mereka semua fokus pada makanannya dan tidak ada yang berbicara sedikitpun. Mama Carlotta lebih dulu selesai. Dia ingin pergi ke toilet sebentar.
"Dizon, dokter Olivia... Mama ke toilet sebentar, ya. Lanjutkan ngobrolnya!" pamit Mama Carlotta.
"Kamu harus mewujudkan permintaan mama," ucap Dizon.
"Hah? Maksudnya?" tanya dokter Olivia pura-pura bego.
"Iya, secepatnya kita harus melakukannya," ucapan absurd Dizon membuat Olivia bergidik ngeri. Dia tidak habis pikir jika Dizon ternyata memiliki level mesum yang lumayan.
Ish, aku tidak tau akan seperti apa nasibku?
Dokter Olivia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia merasa malu berhadapan dengan Dizon.
"Ck, tidak usah berpura-pura seperti itu! Kita sudah sama-sama tua. Sebaiknya tidak ditunda lagi," cibir Dizon.
Menikah memang impian Olivia. Apalagi memiliki keturunan. Tetapi melakukannya dengan Dizon, apa dia sanggup?
Mama Carlotta telah kembali. Setelah melihat semuanya selesai, Mama Carlotta meminta Dizon untuk mengantarkan dokter Olivia pulang. Dokter Olivia menolaknya karena dia juga membawa mobil.
"Terima kasih, tante. Lain kali saja. Saya bisa pulang sendiri," tolaknya secara halus.
Mereka berpisah di basement mal. Dizon mengantarkan Mamanya pulang sebelum kembali ke kantornya.
🌹🌹🌹🌹TBC🌹🌹🌹🌹
Dokter Olivia
Dizon Damarion
__ADS_1
Carlotta Langdon dan Denzel Salamon Damarion