Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Dua kabar bahagia


__ADS_3

Setelah Felix mendapatkan jawaban untuk masa depannya, dia mengajak calon istrinya untuk makan.


"Kay, terima kasih. Kau mau menerimaku. Menerima pria yang beberapa kali gagal untuk menikah," ucap Felix.


"Iya, Kak. Kayana juga mengalaminya. Rasanya sakit sekali!" ucap Kayana.


Keduanya saling menunjukkan betapa pernah menghadapi kerapuhan dalam kehidupannya.


"Makanlah dulu! Nanti, aku yang akan mengantarkanmu pulang," ucap Felix.


"Eh, nggak usah, Kak! Aku diantar Zelene dan suaminya," Kayana menolak secara halus.


Rupanya gadis itu sudah menikah. Syukurlah!


"Tak apa, nanti aku yang akan bicara pada mereka. Lanjutkan makannya!"


Keduanya sangat menikmati makan malam dengan perasaan bahagia. Sebenarnya porsi makanan yang dipesan untuk empat orang, ternyata hanya ada Felix dan gadis itu.


"Kak, sisa makanannya boleh dibungkus?" tanya Kayana pada pria itu. Melihat masih banyak yang tersisa.


"Biarkan saja, Kay! Kalau mau bungkus, kupesankan yang baru," ucap Felix. Dia merasa harus memberikan yang terbaik untuk calon istrinya.


"Eh, tidak usah, Kak! Bungkus yang ini saja. Lumayan masih bisa dihangatkan lagi," Kayana memang bukan orang berada. Dia selalu membuat sesuatu yang terlihat sia-sia akan berguna.


"Eh, tidak apa-apa. Lagipula aku bisa memesankan lagi untukmu," Felix memaksa gadis itu untuk menerima pemberiannya.


"Sayang uangnya, Kak. Udah nggak apa-apa. Lagian ini masih banyak, kok."


Gadis sederhana! Mama Carlo pasti akan menyukainya.


"Baiklah. Terserah kau saja! Oh ya, sebagai calon suamimu aku berhak tau berapa nomor ponselmu. Agar kita lebih mudah terhubung," Felix ingin selalu memberikan perhatian lebih pada gadis itu.


"Astaga, aku lupa jika ponselku masih ketinggalan di apartemen Om Sean. Kakak jangan khawatir, aku ingat berapa nomorku," Kayana seperti menjadi gadis pelupa. Bisa-bisanya dia lupa membawa barang penting itu.


Felix mengambil ponselnya dan meminta Kayana untuk mengetikan nomornya. "Tulis nomormu di sini!"


Setelah selesai dengan nomor ponsel, Felix memanggil pelayan untuk membungkus sisa makanannya.


"Pelayan, tolong kemarilah! Bungkus semua sisa makanan ini dan antarkan kembali padaku," perintah Felix pada pelayan yang kebetulan ada di sekitarnya.


Pelayan itu mengambil semua makanan dan mengerjakan perintah tamunya itu.


"Kau yakin tidak mau dibungkuskan makanan yang baru? Nanti, kau pikir aku seorang pria yang perhitungan," Felix merasa tak enak hati memberikan makanan sisa pada gadis itu.


"Tidak, Kak! Aku bekerja di restoran. Jadi sayang kalau makanan seperti itu harus dibuang tanpa sebab," ucapnya membuat Felix semakin yakin jika pilihannya tidak pernah salah.


"Kau bekerja di restoran? Di mana?" Felix penasaran.

__ADS_1


"Restoran XX, Kak. Dulu aku dan Callista bekerja di sana. Setelah Callista menikah, dia memutuskan untuk resign."


"Apa kau juga akan melakukan hal yang sama?" tanya Felix.


"Jika suamiku memintanya," Kayana menjawab dengan sebuah senyuman manis.


Felix sekarang mengerti, kenapa Sean lebih memilih gadis seusia Kayana. Terlihat sekali gampang untuk menuruti perintah suaminya.


Setelah semua bungkusan makanan diterimanya, Felix mengajak Kayana untuk ke tempat parkir.


"Kak, aku harus mencari Zelene dulu. Aku khawatir dia akan mencariku," ucapnya tak enak hati pada orang yang telah mengantarkannya sampai restoran Bukit Bintang.


Orang yang dicarinya ternyata muncul bersama ketika Kayana hendak masuk lagi ke dalam restoran.


"Ze, untung saja kita bertemu di sini. Aku mau mencarimu lagi ke dalam," ucap Kayana.


"Maaf, Kay. Kami sengaja meninggalkan kalian berdua. Aku mencarimu, kata pelayan kalian sudah keluar. Makanya aku menyusul," ucap Zelene.


"Terima kasih, Nona. Kau sudah berbaik hati untuk mengantarkan seorang calon istri padaku," ucap Felix.


"Calon istri?" Zelene dan Vigor saling memandang.


"Iya, Ze. Kak Felix sudah melamarku," ucap Kayana malu.


Wah, syukurlah! Akhirnya Felix bisa lekas move on dari pertunangan gagal itu.


"Aku akan mengantarkannya pulang," jawab Felix.


"Baiklah. Hati-hati di jalan. Aku mampir ke apartemen Kak Sean dulu," Zelene kemudian masuk ke mobil suaminya.


Vigor bergegas menuju apartemen kakak iparnya. Dia akan menyelesaikan sesuatu yang tertunda.


Sepanjang perjalanan, Zelene memikirkan kakak iparnya. Sejak tadi, tidak ada kabar yang masuk ke ponselnya. Dia sudah sepakat dengan suaminya untuk mampir ke apartemen kakaknya.


Sesampainya di apartemen Sean, Zelene dan suaminya berharap tidak terjadi sesuatu pada kakak iparnya.


Zelene menekan belnya berulang kali.


"Lama sekali, sih?" gerutu Zelene yang sejak tadi tidak dibukakan pintu.


Ceklek!


Nampak Sean yang membuka pintu.


"Mana Kayana?" tanya Sean.


"Ish, kakak itu harusnya mengkhawatirkanku. Malah menanyakan Kayana," ucap Zelene yang langsung masuk ke ruang tamu bersama suaminya.

__ADS_1


"Bukan begitu. Sejak tadi Callista terus saja menanyakan kabar Kayana."


"Oh ya, bagaimana kabar kakak ipar? Apa dia baik-baik saja?"


"Kalian akan segera menjadi uncle dan aunty," goda Sean.


Zelene menatap kakaknya tidak percaya.


"Itu artinya... Kakak ipar hamil?" ucap Zelene sangat bahagia.


Sean mengangguk.


"Wah, ini kabar yang sangat bahagia. Mana kakak ipar?"


"Biarkan dia istirahat di kamarnya," ucap Sean.


Sesuatu yang sangat penting dan sangat privasi adalah kamar. Sean tidak akan membiarkan siapapun masuk ke kamar pribadinya. Jangankan adiknya, Mamanya bahkan orang lain tidak akan pernah diizinkan kecuali istrinya.


Pernah suatu ketika, Zelene tak sengaja masuk ke kamar kakaknya. Dia ketahuan keluar dari sana, kakaknya sangat marah sekali.


"Ah, iya. Aku lupa. Hanya kakak ipar yang bebas keluar masuk kamar kakak," ucap Zelene pasrah.


Sebenarnya dia ingin mengobrol banyak dengan Callista. Berhubung dia sedang berada di dalam kamar tidak boleh sembarang orang masuk, diurungkan niatnya.


"Bos, apa tidak sebaiknya melangsungkan resepsi pernikahan? Agar semua orang tau jika Bos SA Corporation sudah tidak menduda," usul Vigor.


Apa sebaiknya aku ikuti usul Vigor. Tapi, melihat kondisi Callista yang sangat lemah sepertinya aku harus berpikir ulang.


"Iya, Kak. Aku juga ingin mengadakan resepsi pernikahan. Kau tau sendiri, kan? Pernikahan kita serba mendadak," usul Zelene.


"Aku akan memikirkannya lagi, Ze. Mengingat kondisi Callista sedikit lemah," Sean tidak tega melihat keadaan istrinya. Dia bahagia dengan kehamilan istrinya, tetapi dia juga khawatir pada kesehatan gadis itu.


"Kak, aku ada kabar bahagia lainnya," ucap Zelene.


"Kabar apalagi?"


"Felix sudah melamar Kayana malam ini," ucap Zelene semringah.


"Wah, malam ini ada dua kabar bahagia. Aku turut senang pada gadis itu akhirnya mau menerima Felix. Kamu tau, Ze. Gadis itu hampir saja tergila-gila dengan Dizon pada pertemuan pertamanya," Sean menertawakan sahabat istrinya.


"Serius, Kak? Kapan itu terjadi?"


Vigor juga tampak antusias mendengar cerita Sean.


"Beberapa hari yang lalu, ketika aku mengajaknya menemani Callista berbelanja."


"Pria brengs*k itu masih punya nyali, ternyata!" Zelene merasa kesal dengan ulah pria perusak rumah tangga orang itu.

__ADS_1


😍😍😍😍TBC


__ADS_2