
Papa Denzel telah kembali dari perjalanan bisnisnya. Malam ini, suasana meja makan terlihat sangat berbeda. Hanya ada Mama Carlotta, Papa Denzel, dan Dizon.
"Mana anak kesayanganmu itu, Ma?" tanya Papa Denzel ketika tidak melihat keberadaan Felix, anak bungsunya.
"Dia sudah menikah, Pa. Sudah sepantasnya untuk memilih hidup mandiri," jawab Mama Carlotta sembari menyiapkan makan malam untuk suaminya.
"Ah, iyah... Dengan istrinya yang tidak jelas asal usulnya itu, kan?" sindir Papa Denzel.
"Pa, namanya Kayana. Itu pilihan Felix. Biarkan mereka bahagia. Yang perlu kau urus sekarang adalah putra sulungmu itu. Lihatlah sebentar lagi dia akan menikah!" goda Mama Carlotta.
Papa Denzel yang tidak tahu menahu perihal putra sulungnya itu menjadi terkejut.
"Hah? Menikah? Pasti dengan wanita murahan yang tidak jelas juga," cibir Papa Denzel.
"Pa, dia juga punya nama," protes Dizon. Entah setelah mengenal wanita aneh itu, rasanya dia terus ingin membela gadis itu.
"Ck, siapa namanya? Dari level atas atau rendahan?" Papa Denzel itu sebenarnya sebelas duabelas dengan Mama Jelita, orang tua Sean yang selalu menjunjung tinggi harkat, martabat, dan derajat. Semua yang berada di bawahnya akan menjadi bahan untuk menekan mereka. Untung saja mereka tidak menjadi sepasang suami istri, bisa hancur dunia persilatan.
"Namanya dokter Olivia, Pa," jawab Dizon.
Papa Denzel memberikan tepukan selamat untuk putra sulungnya.
Plok plok plok.
"Ini baru anak Papa. Kalau memilih istri itu harus lihat bibit, bobot, dan bebetnya. Harus selevel dan berkelas. Bukan begitu, Ma?" sindir Papa Denzel pada istrinya.
"Jodoh sudah ada yang atur, Pa. Kalau boleh memilih, masih banyak loh pria penyabar dan penyayang di luar sana," sindir Mama Carlotta pada suaminya. Mengingatkan kejadian beberapa puluh tahun lalu ketika Mama Carlotta terpaksa menerima Papa Denzel yang katanya berubah lebih baik, ternyata sama saja. "Sayang, kapan kau akan melamar dokter Olivia? Kita bawa keluarga besar, yah?"
Dizon sedang memikirkan ucapan Mamanya. Dokter aneh itu pasti akan kepedean jika keluarga besar Damarion melamarnya. Itu tidak boleh terjadi. Dizon harus mencegahnya. Dia punya cara tersendiri untuk melamar dokter aneh itu.
"Mama tidak usah memikirkan rencana pertunanganku. Aku yang akan melamarnya seorang diri dan menanyakan kapan persiapan untuk pernikahan kami," jawab Dizon.
"Kenapa begitu? Mama ingin bertemu keluarga besarnya dokter Olivia. Siapa tau kami saling kenal, Nak?" bujuk Mama Carlotta.
Dizon tidak peduli. Dia tetap akan melamar dokter Olivia dengan caranya. Dia masih kesal pada wanita itu yang memperlakukan dirinya sesuka hatinya.
__ADS_1
"Nanti juga Mama akan bertemu mereka di pesta pernikahan. Apa bedanya?" tanya Dizon.
Membujuk Dizon sama halnya ribut dengan Denzel, suaminya. Sama-sama sulit. Untung saja, sikap Felix jauh berbeda.
Mereka melanjutkan makan malamnya dalam diam. Mama Carlotta masih dalam pikirannya dan Dizon juga sedang merencanakan sesuatu.
Secepatnya aku harus bertemu wanita itu. Aku akan segera membuatnya bertekuk lutut padaku! Batin Dizon.
"Sayang, Mama akan membelikan cincin untuk calon istrimu itu. Bagaimana?" usul Mama Carlotta.
"Tidak perlu, Ma. Biar kuajak dia untuk memilih mana yang dia suka," ucapnya.
"Itu baru pria keren! Papa setuju... Berikan apapun yang disukainya, sayang," ucapan Papa Denzel seolah terus saja menyerang istrinya.
Ck... Anak dan Papa, sama saja....
Selesai makan malam, Mama Carlotta meminta mereka semua untuk berkumpul diruang tengah. Wanita paruh baya itu ingin membahas pernikahan putranya.
"Ada apa, sih?" protes Papa Denzel.
"Lebih cepat lebih baik, Ma," usul Dizon.
Pria tiga puluh delapan tahun itu sudah tidak sabar mengakhiri masa lajangnya. Dia sudah cukup puas mempermainkan orang lain.
Dizon sudah tidak mau ke rumah sakit lagi seperti tempo hari sang Mama memaksanya. Dia memang tidak sakit, hanya terlalu gampang emosional.
"Felix sudah menempati Ballroom Starlight, kau mau di mana, Nak?" tanya Mama Carlotta.
"Ballroom hotel Sunrise... Di sana jauh lebih dekat dengan rumah sakit AB," usul Dizon.
Rupanya gadis itu mampu membuat Dizon perlahan berubah. Batin Mama Carlotta.
"Kapan rencanamu akan menikah? Jangan sampai bentrok dengan jadwal Papa ke luar negeri," ucap Papa Denzel.
Mama Carlotta memaklumi, jika pada pernikahan Felix, suaminya itu tidak peduli sama sekali karena Kayana bukan dari kalangan orang berada. Berbeda dengan dokter Olivia, walaupun suaminya belum pernah bertemu, tetapi karena gadis itu seorang dokter maka suaminya sangat antusias.
__ADS_1
"Sebenarnya Mama menyerahkan semua pilihan pada gadis itu, Pa. Jika Dizon punya tanggal yang bagus, kenapa tidak?" usul sang Mama. "Bukankah lebih cepat lebih baik? Kita akan memiliki menantu lagi."
Aku ingin menikah tepat di tanggal sepuluh Januari. Masih beberapa hari dari sekarang. Apa sebaiknya seperti itu?
"Sepuluh Januari, Ma...," usul Dizon.
Mama Carlotta menatap tajam ke arah putranya. " Secepat itu? Apa tidak sebaiknya kau ketemu dulu dengan dokter Olivia. Tanyakan kesiapannya. Jangan sampai bentrok dengan pekerjaan, loh!" usul Mama Carlotta.
"Papa setuju dengan keputusanmu, Dizon. Dua hari setelah pernikahanmu, Papa akan pergi lagi."
Dizon sedang menimbang lagi tanggal yang dipilihnya. "Baiklah, Ma. Aku ke kamar dulu. Aku akan membuat janji temu dengan dokter aneh itu," ucap Dizon. Dia beranjak dari duduk untuk masuk ke kamarnya.
Papa Denzel menatap aneh pada istrinya tentang ucapan putranya barusan. Sepertinya bayangan memiliki menantu sempurna akan jauh dari harapan pria paruh baya itu.
"Apa maksud ucapan Dizon?" Papa Denzel tidak paham dengan jalan pikiran kedua putranya.
"Yang mana? Dizon tidak mengatakan hal yang tidak masuk akan, bukan?"
"Apa maksudnya dokter aneh? Apa wanita itu hanya berpura-pura menjadi seorang dokter dan menipu keluarga kita?" Papa Denzel masih tidak percaya.
Mama Carlotta tidak mempedulikan ucapan suaminya. Dia beranjak dari ruang tengah karena sudah merasa ngantuk. Bahkan wanita paruh baya itu menertawakan suaminya dalam batin.
Di dunia ini tidak ada yang sempurna, Denzel. Semua sudah pas pada porsinya. Yang biasa akan mendapatkan yang tampan. Bisa saja yang kaya akan mendapatkan yang miskin. Kalau mikirnya harkat, martabat, derajat terus. Kasihan Dizon. Dia tidak akan cepat menikah. Terlalu menuruti ego tidak akan baik, Denzel. Kita doakan saja yang terbaik untuk kedua anak dan menantu kita.
"Ma, tunggu!" teriak Papa Denzel yang masih membutuhkan penjelasan dari istrinya.
Mama Carlotta terus saja masuk ke kamarnya. Sesampainya di sana, wanita itu merebahkan dirinya di ranjang.
"Apa maksud ucapan Dizon?" tanya Papa Denzel yang sudah berada di samping istrinya.
"Kau penasaran dengan dokter itu? Atau kau takut jika ekspektasi yang kau bayangkan tidak sesuai dengan realita?" cibir Mama Carlotta.
Denzel terdiam. Tidak ada gunanya mendebat istrinya. Dia lebih memilih bersabar sampai bertemu calon istrinya Dizon.
🌹🌹🌹🌹🌹TBC🌹🌹🌹🌹
__ADS_1