Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Bonchap - Rumah Baru


__ADS_3

Setelah diizinkan pulang oleh pihak rumah sakit, hari ini Sean akan membawa istrinya pulang ke rumah barunya. Rumah yang dibeli sehari setelah kelahiran baby A.


Di sana, Sean sudah menyiapkan pelayan, baby sitter untuk baby A, dan kelengkapan lainnya. Perlengkapan bayi yang berada di apartemen juga sudah dipindahkan ke sana.


"Sudah siap, sayang?" tanya Sean.


"Iya, sayang," jawab Callista.


Baby A digendong oleh Zelene. Dia sengaja ikut untuk menjemput kakak iparnya pulang.


"Lihatlah, kakak ipar! Baby Aqua sangat pulas tidurnya. Oh ya, kenapa tidak dipanggil Ara atau Bella saja?" ucap Zelene.


Callista tersenyum. "Menurutku supaya beda saja, Ze. Ara, sudah banyak panggilan itu."


Zelene mulai mengerti. Semua mama mempunyai panggilan khusus untuk putrinya. Bagaimana kabar mamanya, ya?


"Oh ya, Kak. Apakah suamiku sudah memberikan kabar tentang keberadaan mama?" tanya Zelene.


Sean yang fokus mengendarai mobilnya kemudian menjawab pertanyaan adiknya.


"Belum, Ze. Sudah dicari ke dua tempat, tetapi tidak ada jejak mama di sana," ucapnya.


Zelene beralih memandangi baby A. "Kamu beruntung, baby. Orang tuamu lengkap. Aku iri padamu."


Callista maupun Sean tidak ingin mengomentari apapun. Sean tau adiknya sangat bersedih, begitu juga dengan dirinya.


Setelah satu jam perjalanan, mobilnya mulai memasuki halama rumah yang sangat luas. Di dalamnya terdapat rumah mewah bergaya mansion yang luas menjadi pilihan Sean. Halaman yang luas membentang berbagai bunga yang indah menambah keindahan alami rumah itu.


"Sayang, kamu yakin ini rumahnya?" tanya Callista.


"Iya, rumahnya memang besar. Sesuai dengan yang Vigor katakan beberapa hari yang lalu." Sean memarkir mobilnya di halaman rumah.


Rumah itu ternyata sudah mempunyai beberapa pelayan dan satu seorang baby sitter. Vigor yang mempersiapkan semuanya.


Zelene dan Callista turun dibantu oleh Sean. Beberapa barang bawaannya dibantu pelayan untuk dibawa masuk ke dalam. Callista tidak menyangka akan hidup di rumah yang seluas ini.


"Ze, kakakmu tidak salah rumah, 'kan?" tanya Callista pada adiknya.


Zelene juga tak habis pikir. Bahkan rumah ini lebih luas dari rumah keluarga Armstrong yang ditinggali selama ini.


Mereka semua masuk. Pelayan menunjukkan kamar utamanya. Pelayan hanya menunjukkannya tepat sampai di depan pintu kamar. Sesuai dengan arahan Vigor, jika Tuannya tidak suka kalau kamar pribadinya dimasuki oleh orang lain.


Callista dan Sean masuk ke kamar utama. Sementara Zelene dan baby A masuk ke kamar bayi yang sudah disiapkan.


"Bagaimana, sayang? Apa kamu suka?" tanya Sean.


Callista tidak mampu berkata apapun. Dia sangat terkejut dengan apa yang diberikan suaminya saat ini. Kebahagiaan, kasih sayang, cinta, dan bayi yang lucu.

__ADS_1


"Ini lebih dari kata sempurna, sayang. Kamu suami yang sangat istimewa untukku," ucapnya.


Sean mendekati istrinya dan memeluknya dengan lembut. "Apakah masih sakit?"


"Sebenarnya masih sakit, sayang. Tapi tidak sebanding dengan kebahagiaanku memeluk baby A," ucapnya.


Ketika sedang asyik bercengkerama dengan suaminya, ponsel Callista berdering.


"Sayang, lepaskan dulu! Tolong ambilkan ponselku," pintanya.


Sean mengambilkan ponsel Callista kemudian menyerahkannya. Panggilan itu berhenti. Dilihatnya sebuah nomor asing yang menghubunginya.


"Siapa, sayang?" tanya Sean.


"Nomor asing, tetapi sudah berhenti panggilannya. Aku terlambat mengangkatnya," ucap Callista sedih. Dia berharap telepon itu berasal dari Kayana, sahabatnya.


"Kamu telepon balik saja," usul suaminya.


Belum sempat mendial nomor tersebut, panggilan masuk berulang dari nomor yang sama.


"Angkatlah!" ucap Sean.


Callista menggeser tombol hijau di ponselnya.


"Halo," sapa Callista.


Seseorang diseberang sana masih terdiam, sekitar sepuluh detik kemudian barulah terdengar suaranya.


"Kayana?" teriak Callista.


"Wah, kamu masih ingat suaraku?" tanya Kayana.


Callista tertawa bahagia setelah beberapa bulan tidak mendapatkan kabar dari sahabatnya itu.


"Tentu, Kay. Kamu apa kabar?" balas Callista.


"Aku baik. Om Sean kabarnya bagaimana?" tanya Kayana.


"Ck, kenapa kamu malah menanyakan kabar suamiku?"


"Om ayolah, Call. Suamiku juga perlu tau kabar suamimu, 'kan?" balas Kayana.


"Baik semuanya, Kay. Kapan kamu pulang?" Callista sudah rindu pada sahabatnya itu.


"Belum tau, Call. Memangnya kenapa?" tanya Kayana dengan suara terdengar sedih.


"Aku hanya mau bilang jika sudah pindah rumah," balas Callista.

__ADS_1


"Baiklah. Kirimkan saja alamatmu! Kapan-kapan kalau aku pulang, aku akan langsung mampir ke sana. Sudah dulu ya, Call. Aku ada urusan penting," ucap Kayana mengakhiri sambungan teleponnya.


Callista meletakkan ponselnya di atas ranjang. Suaminya dengan sabar menunggunya.


"Kenapa, sayang?" tanya Sean.


"Kayana, entah kapan dia akan pulang." Callista merasa sedih. Dia juga lupa mengabari jika baby A telah lahir.


"Jangan sedih seperti itu. Baby A baru saja lahir. Aku akan membuat acara untuk menyambut kehadiran baby A. Aku akan mengundang beberapa orang untuk mendoakan putri kita," ucap Sean. Pria itu sudah merencanakan untuk mengundang keluarga Damarion dan beberapa orang kerabat dekatnya. Sementara untuk karyawan SA Corporation, pria itu akan memberikan bonus kelahiran putrinya berupa satu kali gaji untuk bulan ini.


"Baiklah, sayang. Terserah kamu saja. Ayo kita lihat baby A, siapa tau dia sudah haus dan ingin minum ASI-ku," ucap Callista.


Sean menggandeng mesra istrinya. Mereka menuju kamar bayi yang sudah di desain persis kamar utamanya di apartemen.


"Kakak ipar, baby A sebenarnya tadi sempat menangis. Sepertinya dia haus. Untung saja baby sitter-nya luar biasa bisa menenangkannya." Zelene meminta bayi yang sedang di gendong baby sitter bernama Giana itu.


"Terima kasih, Ze. Siapa namamu?" tanya Callista pada baby sitter-nya.


"Giana, Nyonya," ucapnya.


"Terima kasih, Giana. Semoga kamu selalu nyaman bekerja di keluarga kami. Jangan sungkan untuk mengatakan apapun bila kamu merasa kurang nyaman. Bekerjalah dengan baik dan jangan kecewakan kami," ucap Sean.


"Baik, Tuan," ucap gadis itu. Giana baru berusia sekitar dua puluh tiga tahun. Masih sangat muda bersanding dengan Nyonya rumahnya yang hampir seumuran.


Zelene memberikan bayi itu pada kakak iparnya. Dia harus segera minum agar tidurnya pulas lagi. Bayi itu mengeliat karena kedatangan mommynya.


Callista memberikan ASI-nya langsung dan membuat baby A sangat lahap meminumnya. Jangan tanya soal Sean, dia sudah mendapatkan peringatan untuk tidak mesum dihadapan putrinya.


Callista selalu mengingatkan itu. Apalagi sekarang di rumah barunya banyak karyawan yang bekerja membantu mereka. Sean jangan sampai terlihat turun harga dirinya di depan beberapa karyawannya itu.


Setelah baby A kenyang, Sean ingin menggendongnya sebentar.


"Sayang, kemarikan baby A. Aku ingin menggendongnya," pinta Sean.


Callista memberikannya dengan sangat hati-hati. Rupanya baby A sangat nyaman berada di gendongan daddy-nya.


"Anak daddy yang cantik. Tumbuhlah menjadi gadis yang luar biasa dan tidak gampang ditindas oleh siapapun," doa Sean untuk putrinya.


Walaupun dia tidak khawatir kehidupan putrinya di masa mendatang, tetapi dia juga masih ingat ucapan Dizon tempo hari. Pria itu sungguh-sungguh dengan ucapannya.


Maafkan Daddy, sayang. Semoga kutukan paman Dizon tidak berlaku padamu.


🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓


Sambil menunggu bonchap selanjutnya, kuy mampir di karya teman emak.


Pacar Sewaan Sang Idola, Author ria aisyah.

__ADS_1


Terima kasih... 😍😍😍



__ADS_2