
Callista malas meladeni kekasihnya. Kali ini, dia ingin membuat lelaki berengs*k itu akan menyadari kekeliruannya telah menduakan dirinya.
"Gue mau putus!" Callista mengeluarkan senjata pamungkasnya.
Eros sebenarnya tipe lelaki playboy yang tidak pernah diketahui oleh Callista. Dia merasa tak terima jika Callista akhirnya memutuskan dirinya.
"Beri gue alasan logis, kenapa lo mau putus?" tantang Eros.
"Karena lo udah selingkuh dibelakang gue!" balas Callista dengan kesal.
"Apa bedanya sama lo?" serang Eros. Dia masih mempertahankan Magenta dan tidak mau putus dari Callista.
"Bedalah. Gue gak pernah selingkuh dari siapapun!" Callista membela diri.
"Siapa Om-om itu?" selidik Eros.
"Suami gue," Callista langsung pergi meninggalkan Eros. Dia rasa sudah cukup untuk menyelesaikan masalahnya.
"Gue gak mau putus!" teriak Eros.
Callista masa bodo. Dia lebih memilih pergi mencari suaminya yang telah menunggu lama.
Ribut sama orang bikin laper juga ya?
"Bagaimana? Sudah selesai?" tanya Sean yang saat ini sedang menikmati semangkok Bakso.
Callista mendaratkan tubuhnya di atas kursi food court tepat di depan suaminya.
Callista mengangguk. "Udah, Om. Tapi doi gak mau putus! Aku sih bodo amat."
"Yasudah. Mau pesan apa?" Sean tidak mempermasalahkan status hubungan Callista dengan lelaki itu. Toh yang menjadi prioritasnya sekarang, gadis ini sudah resmi menjadi miliknya. Jika lelaki itu berani macam-macam, tak segan Sean akan mengeluarkan power-nya untuk melawan.
"Bakso mercon sama es teh, Om. Satu aja," ucapnya.
"Call, terlalu banyak pedas ngga baik buat kesehatanmu. Pesan Bakso seperti punyaku saja," tawar Sean. Sean bukan pencinta makanan pedas. Dia alergi terhadap cabe.
"Ish, kali ini Om gak keren sama sekali! Pencinta makanan pedas itu keren, loh. Please, Om! Aku mau makan Bakso mercon," pintanya.
"Pesanlah sesuai keinginanmu!" Sean mengalah.
"Kak, aku mau pesan...," panggil Callista kepada salah seorang pelayan yang kebetulan lewat di dekat mejanya.
"Iya, Kak. Mau pesan apa?"
"Bakso mercon, satu. Es teh, satu. Air mineral, satu. Yang kemasan 600 mili aja yah, Kak. Sudah itu aja," ucap Callista.
"Baik, Kak. Ditunggu sebentar ya pesanannya!"
Callista mengangguk.
"Om, makan Bakso kok polos gitu kek aku," ledek Callista yang melihat suaminya memakan semangkok Bakso tanpa sambal, saos, dan kecap.
"Kayak situ masih polos saja," balas Sean yang telah menghabiskan semangkok Baksonya.
__ADS_1
"Iyalah. Nggak percaya?"
"Nggak! Buktikan saja nanti malam jika sudah bertemu makhluk hidup yang ku maksud," goda Sean.
Ish, kenapa doi ngingetin makhluk hidup mulu sih? Kan gue jadi keder.
"Ish, makhluk itu lagi!" cibir Callista.
Sean tertawa mendengar ucapan istrinya.
Tak menunggu lama, pelayan datang mengantar pesanan Callista.
"Om, aku makan dulu yah?"
"Lekaslah! Setelah itu kita pergi ke supermarket," Sean mengingatkan.
Callista memasukkan saos, sambal, dan kecap ke dalam mangkok Baksonya. Sean hanya geleng-geleng kepala.
Astaga! Beda umur beda juga makanannya. Semoga perutmu baik-baik saja, Call.
"Om nggak pengin?" Callista menawarkan.
Sean cuma menggeleng.
Callista sangat menikmati makan siangnya karena dia sudah sangat kelaparan. Ditambah lagi harus berdebat dengan pacarnya yang saat ini sudah menjadi mantan.
Bakso mercon semangkok tandas hanya beberapa menit saja. Callista langsung meminum air mineral, kemudian segelas es teh.
"Masih muat perutnya?" tanya Sean yang melihat istrinya sangat rakus.
Belum sempat keduanya berdiri, tiba-tiba lelaki yang sudah menjadi mantan Callista datang menggebrak meja.
Brak!
Callista terkejut melihat Eros yang melakukan tindakan yang kurang terpuji itu.
"Om, bisa kita bicara secara jantan?" ucap Eros pada Sean.
"Mau ngomong apalagi?" tantang Sean dengan suara bariton khas Om-om.
"Lepaskan gadis ini!" tunjuknya kepada Callista.
"Kamu tidak berhak mengaturku," ucap Sean, namun mampu membuat kilatan amarah di wajah Eros semakin menjadi.
"Ck, lo gak sepantasnya ngrebut cewek gue!" suara Eros membuat seisi food court Bakso dan Mie tersebut memandang ke arah mereka.
"Oh, astaga! Gue sudah jadi mantan lo keles," protes Callista tak terima.
"Lihat! Bahkan gadis ini terang-terangan menolaknya. Jadi, mau bicara apalagi?"
"Gue gak pernah putus dari doi. Camkan itu!" Eros menarik tangan Callista dan akan membawa gadis itu pergi.
"Eh, lepasin nggak? Apa-apaan sih lo? Lo dan gue udah end!" Callista berusaha melepaskan tangan Eros yang sangat erat memegangi tangannya.
__ADS_1
"Bisa lepaskan tangan istriku?" pinta Sean secara baik-baik.
Hah, istri? Apa yang Callista ucapkan tadi memang serius? Gue gak peduli lagi, asal Callista mau balik lagi sama gue!
"Eros, lepasin tangan gue!" pinta Callista lagi.
Pelayan food court merasa tidak nyaman di tempat kerjanya terjadi keributan. Salah seorang dari mereka berusaha melerai.
"Maaf, Mas. Tolong hentikan keributan ini! Custommer kami merasa tidak nyaman," ucap salah satu pelayan.
"Nah, iya. Betul itu! Lepasin tangan gue!" Callista memberontak.
"Enggak!" bentak Eros.
"Ck, keributan tak berkelas!" cibir Sean.
"Apa maksud, Om?" tanya Eros yang masih memegangi tangan Callista.
"Harusnya bisa bersikap secara jantan! Biarkan Callista yang memilih," usul Sean.
Si*lan! Bahkan Om-om ini mampu membuat harga diriku jatuh di depan Callista.
"Bagaimana, Call? Apa kamu mau memilih?" Sean berusaha menguasai keadaan karena beberapa custommer food court memandang ke arah mereka.
Callista mengangguk.
"Lo pilih siapa?" Eros sudah nggak sabar mendengar jawabannya.
Gue gak bakal mau pilih lo, Eros! Lo udah nyakitin perasaan gue. Sekarang, lo rasain yang pernah gue rasain.
"Mau pilih siapa, Callista?" tanya Sean membuyarkan lamunannya.
Suara bariton ini membuatku nyaman, Om suami.
Callista tak menjawab. Dia hanya menunjuk ke arah Sean. Satu tangannya masih dipegang erat oleh Eros.
"Lihat! Bahkan dia memilihku. Lepaskan tangannya!" pinta Sean dengan hormat.
Eros sudah terlanjur malu. Jika usahanya untuk mendapatkan kembali Callista ternyata sia-sia. Dia melepaskan tangan gadis itu kemudian meninggalkan keduanya tanpa sepatah katapun.
Sean merengkuh istrinya, memeluknya sesaat agar gadis itu merasa nyaman bersama dirinya.
"Jangan takut," ucapnya lirih.
Setelah Callista merasa lega, Sean segera membayar semua pesanannya.
Mereka melanjutkan pergi ke supermarket untuk berbelanja. Sepanjang perjalanan dari food court ke supermarket, Sean selalu menggenggam erat tangan istrinya.
"Masuklah! Aku akan mengambil troli," Sean membiarkan gadis itu untuk berbelanja.
Callista mulai berkeliling di area daging dan ikan. Setelah Sean datang membawa troli, dia mulai memasukkan beberapa belanjaannya.
"Om mau beli apalagi?" tanya Callista.
__ADS_1
"Belilah buah, sayur, dan beberapa kebutuhanmu!" ucapnya.
Callista terus saja berkeliling sampai trolinya penuh.