Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Rencana liburan yang gagal


__ADS_3

Setelah kepergian wanita penggoda yang diusir secara kasar oleh Sean dan beberapa penjaga, sekarang giliran Vigor yang masuk ke ruangan Bosnya. Kali ini dia sudah sangat terlambat datang ke kantornya.


"Kenapa hari ini terlambat! Alarm apartemenmu tidak berfungsi dengan baik?" Sean sangat kesal pada asisten sekaligus adik iparnya.


Bagaimana tidak terlambat, Bos? Semalam berusaha mendapatkan malam pertama yang baru goal sejak beberapa hari yang lalu harus bermain solo dan menahan hasr*t yang sangat menggebu itu. Sekarang kau tau, gadisku itu bahkan belum terbangun dari tidurnya! Aku sengaja menggempurnya habis-habisan karena kesal beberapa hari yang lalu membuatku berjuang seorang diri.


Vigor tersenyum mengingat kejadian semalam. Dia harus memaksa istrinya sampai mengajaknya nonton film yang tidak senonoh agar gadis itu mau memberikan haknya pada Vigor.


"Kenapa kau tersenyum? Lihat! Sudah jam berapa ini? Bahkan kamu tidak tau keributan yang disebabkan oleh wanita jal*ng itu!" Sean terus saja mengoceh tanpa henti.


"Memangnya ada keributan apa, Bos?" tanya Vigor dengan wajah polos tak berdosanya itu.


"Tanyakan pada semua penjaga!" Sean beralih pada beberapa berkas yang sudah ada di mejanya sejak kedatangan Vigor.


"Baiklah, nanti akan kutanyakan pada mereka," jawab Vigor. Pagi setengah siang ini, dia enggan untuk membuat keributan dengan Bosnya karena moodnya sedang baik hari ini.


"Baiklah, Bos. Aku kembali ke ruanganku," pamitnya.


Sean diam. Dia masih fokus pada beberapa berkasnya dan tidak menyadari jika asistennya sudah tidak berada di ruangan.


"Vigor, rencananya akhir pekan ini aku akan mengajak Callista berlibur. Aku ingin menata mood ibu hamil itu agar terlihat selalu baik. Aku harap untuk akhir pekan selama berlibur, gantikan pekerjaanku untuk mengurus beberapa proyek yang sedang berjalan. Jangan lupa siapkan bonus akhir tahun untuk semua karyawan yang rajin dan tidak pernah bolos. Berikan pada orang yang sangat disiplin dan selalu datang tepat waktu. Bagaimana menurutmu?" ucap Sean panjang lebar. Dia tidak akan mengulangi ucapannya lagi.


Lima detik tidak ada respon.


Lima menit tidak ada jawaban, Sean menoleh dan ternyata tidak mendapati asistennya berada di sana.


"Oh God, ternyata sejak tadi aku mengoceh seorang diri. Kemana asisten itu?" Sean meletakkan beberapa berkas kemudian menghubungi Vigor melalui interkom.


"Vigor, ke ruanganku. Sekarang!" perintah Sean.


"Baik, Bos!" jawab Vigor.


Tak sampai lima menit, Vigor sudah berada di hadapan Bosnya.


"Ada apa, Bos?"


"Kupikir kamu akan menungguku selesai, ternyata kabur lebih dulu," ucap Sean memandang asistennya.


Sensitif sekali hari ini!


"Ada apa, Bos? Apa ada berkas yang terlewatkan?"

__ADS_1


"Tidak! Akhir pekan aku ingin berlibur dengan istriku. Tolong gantikan semua pekerjaanku dan jangan lupa bayarkan bonus akhir tahun untuk karyawan yang sangat berpotensi," ucap Sean.


Kebiasaan setiap akhir tahun SA Corporation selalu memberikan bonus pada semua karyawannya. Hanya saja yang mereka terima tidak sama. Semua bergantung pada dedikasinya pada perusahaan dan daftar kehadiran. Jika mereka memiliki dua hal itu, tak tanggung-tanggung perusahaan akan memberikan bonus yang lumayan untuk liburan akhir tahun.


"Berapa lama, Bos? Apa hari ini kuserahkan data karyawan agar Bos bisa langsung mengoreksi bila ada kesalahan," ucap Vigor. Dia berharap bisa secepatnya menerima bonus untuk pergi berbulan madu dengan istrinya.


"Siapkan segera. Sebenarnya rencana liburannya tanggal dua puluh empat besok, tetapi aku belum memberitahukan pada Callista. Mungkin hanya sekitar tiga harian karena aku tidak mau istriku terlalu kelelahan," ucap Sean.


"Baiklah, aku kembali ke ruangan untuk mengambil datanya. Tunggu ya, Bos," ucap Vigor meninggalkan ruangan Bosnya.


Apa tidak masalah mengajak Callista berlibur dengan kondisi hamil muda seperti itu?


"Apa aku coba mengirimkan pesan pada Olivia. Aku ingin menanyakan pada dokter kandungan yang bekerja di sana," ucap Sean. Dia mengambil ponselnya dan mulai mengetik pesan.


[Oliv, bisakah kamu kirimkan nomor dokter kandungan yang ada di rumah sakit tempatmu bekerja? Aku sangat butuh konsultasi mendadak] pesan dikirim kepada dokter Olivia, sahabatnya.


[Kenapa tidak langsung ke rumah sakit saja? Aku tidak mau memberikan nomor ponsel dokter dingin itu. Kalau kau ada perlu, besok datanglah ke rumah sakit. Bawa serta istrimu. Pukul tujuh tepat! Jangan terlambat!] balas dokter Olivia.


Astaga! Sedingin apa dokter itu? Dokter pria? Oh ya ampun... Baiklah, tidak ada pilihan lain. Aku harus mengantar Callista ke sana.


[Baiklah. Besok pagi on time!] balas Sean.


Setelah mengirimkan pesan pada dokter Olivia, Sean mengembalikan ponselnya ke saku jas. Dia kembali lagi melihat berkas yang sejak tadi dipegangnya namun tak kunjung dikerjakan olehnya.


Rencananya ingin menelepon istrinya batal karena Vigor sudah siap dengan berkas yang dibawanya.


"Maaf, Bos! Aku langsung masuk," ucapnya. Dia membawa beberapa berkas di tangan kiri dan kanannya.


Sean melihat banyak berkas ditangan asistennya langsung memijat pelipisnya. "Masih sebanyak itu yang harus kulihat isinya?"


Vigor tersenyum kemudian mengangguk. "Iya, Bos," jawabnya.


"Baiklah. Tolong tinggalkan aku sendiri," pinta Sean. Dia ingin menelepon istrinya kemudian melanjutkan beberapa berkas yang sepertinya tidak akan selesai hari ini.


Vigor keluar. Sean mendial nomor istrinya. Tak menunggu lama, telepon diangkat.


"Halo, sayang. Ada apa?" tanya Callista yang saat ini sedang berada di apartemen.


"Sedang apa?" Sean malah bertanya balik. Ini pertama kalinya mereka berbicara melalui telepon.


"Di kamar, nonton tivi. Kenapa memangnya?" Sejak dinyatakan hamil, Callista harus banyak beristirahat.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, sayang. Akhir pekan aku mau mengajakmu pergi berlibur. Apa kamu mau?" tanya Sean.


"Kapan?"


"Kita berangkat tanggal dua puluh empat. Hanya selama tiga hari, sayang," ucap Sean.


"Tunggu! Dua puluh empat?" Callista berusaha mengingat tanggal itu. Dia lebih dulu mendapatkan pesan lain.


"Kenapa, sayang? Apa kamu menolaknya?"


"Tidak! Aku mau, tetapi itu adalah tanggal pernikahan Kayana, sayang. Mana bisa aku meninggalkan dia begitu saja," ucap Callista menjelaskan.


Rencana liburan yang gagal.


"Baiklah, sayang. Kita tunda saja liburannya. Beristirahatlah, aku akan melanjutkan pekerjaanku," pamit Sean.


"Baiklah, sayang. Jangan lupa makan siang," Callista menutup teleponnya.


Sean meletakkan kembali ponselnya di atas meja kerjanya. Rasanya rencananya sudah gagal sebelum waktunya. Dia menghela nafas panjang.


Sebaiknya aku undur akhir tahun saja. Supaya bisa menikmati malam pergantian tahun bersama Callista, istriku!


Sean menyandarkan tubuhnya pada kursi yang saat ini menjadi tempat duduknya. Niatnya untuk menyelesaikan beberapa berkas yang menumpuk di hadapannya diurungkan.


Tok tok tok.


Vigor mengetuk pintu kemudian masuk ke ruangan Bosnya.


"Bagaimana, Bos? Berkas bonusnya sudah selesai di cek?" tanya Vigor.


Sean menggeleng. "Besok saja kuselesaikan."


"Memangnya Bos tidak jadi pergi berlibur? Kalau hari ini semua berkas selesai, tepat tanggal dua puluh empat aku siap membantu pekerjaan Anda, Bos," Vigor sebagai asisten yang sangat bertanggung jawab demi keberlanjutan perusahaan.


"Felix akan menikah di tanggal itu dan Callista lebih dulu menerima kabar dari Kayana. Liburan kutunda sampai menjelang akhir tahun," ucapnya.


😍😍😍😍TBC😍😍😍😍


Wah, selamat merencanakan liburan akhir tahun ya akak readers. Jangan lupa selalu patuhi protokol kesehatan dan selalu jaga kesehatan di musim hujan seperti sekarang ini.


Semoga kalian semua selalu diberikan keberkahan, kesehatan dan rezeki berlimpah... Aamiin...

__ADS_1


Sudah hari senin, jangan lupa vote sebanyak-banyaknya...


Terima kasih... Luv yu All... 😍😍😍😍


__ADS_2