Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Bonchap - Kabar Bahagia Keluarga Damarion


__ADS_3

Sepagi ini, pasangan urutan kedua yang paling ribut setelah pemilik rumah sudah berada di meja makan. Keduanya sedang tidak bertegur sapa karena ulah papa Denzel.


Semalam, Dizon maupun Olivia memutuskan untuk tidak tidur seranjang sebelum masing-masing mau menekan egonya. Olivia tidak mau tidur di sofa. Dia meminta Dizon yang tidur ditempat itu. Sempat terjadi ketegangan, akhirnya Dizon memutuskan untuk tidur di kasur kecil yang sengaja diambilnya dari dalam lemari penyimpanan barang di kamarnya.


Terkadang peraturan pasal tentang wanita itu benar dan sudah dibuktikan oleh Dizon. Pasal pertama, wanita selalu benar. Pasal kedua, jika wanita salah maka kembali ke pasal pertama.


"Tumben meja makan sepi? Biasanya kalian bertiga sangat cocok membuat keributan," sindir mama Carlotta pada suami, anak, dan menantunya.


Dizon dan Olivia tidak menanggapi ucapan mamanya. Hanya papa Denzel yang berbicara.


"Hemm, apa kalian berdua sedang gencatan senjata? Wah, kalau seperti ini, penerus Damarion bisa dipastikan bakalan lama," sindir papanya.


Kedua makhluk aneh yang sedang bersitegang itu masa bodoh dengan ucapan papanya. Keduanya akan berbicara ketika sudah mendapatkan ide dari masing-masing yang akan di musyawarahkan untuk mendapatkan mufakat.


"Mama heran dengan kalian berdua. Ribut saja terus! Kapan kalian akur?" tanya mamanya.


Keduanya tidak menjawab. Malah masih asyik dengan piring makan masing-masing.


"Ma, kamu seperti tidak paham saja. Bukankah keduanya duplikat dari kita dulu. Hanya akur ketika di ranjang, bukan begitu?" ucap papanya.


Uhuk!


Keduanya terbatuk mendengar ucapan papanya. Tidak salah dan memang kenyataannya seperti itu.


Sebelum Dizon berangkat ke kantor, ponselnya berdering. Biasanya mamanya akan melarang putranya untuk mengangkat telepon di meja makan, tetapi untuk kali ini Dizon tidak peduli lagi.


"Diz__" Mamanya hendak menghentikan putranya, namun kalah cepat.


"Halo, siapa?" tanya Dizon. Nomor baru yang sengaja menghubunginya.


"Aku Felix, Kak. Ini nomor baruku. Maaf baru bisa menghubungi kakak lagi," ucap Felix.


"Memangnya nomormu yang lama kemana?" tanya Dizon.


"Sengaja kami ganti, Kak. Beberapa kali ada nomor yang sengaja menghubungi kami, makanya kami ganti nomor."


"Ada apa?" tanya Dizon dengan gaya kakunya.


"Bisa jemput ke bandara hari ini?" tanya Felix ke intinya.


"Memangnya kamu pulang hari ini?" tanya Dizon lagi. Dia hanya ingin memastikan untuk tidak salah jam untuk menjemput adiknya.


"Iya, Kak. Sepertinya aku sampai bandara sore hari. Jangan lupa jemput kami, ya?" ucap Felix.


"Kebetulan kamu datang, nanti malam ada acara di rumah barunya Sean. Kamu saja yang datang dengan mama," ucapnya.


Jangan ditanyakan soal mama Carlotta, papa Denzel, dan Olivia. Semua orang itu memandang aneh ke arahnya dan tidak berani berbicara apapun sebelum Dizon selesai.

__ADS_1


"Wah, acara apa itu, Kak?" tanya Felix.


"Kelahiran bayinya Sean," ucapnya.


"Wah, ini bakalan jadi momen yang pas untuk kedatangan kami. Kayana meminta untuk pulang hari ini. Dia sudah rindu dengan rumah kami," ucapnya.


"Baiklah, segera pulang saja," ucap Dizon.


"Oke, Kak. Sampai bertemu nanti sore," ucap Felix kemudian mengakhiri sambungan teleponnya.


Dizon meletakkan ponselnya di meja makan.


"Sudah bicaranya?" tanya mama Carlotta.


Dizon diam dan tidak menjawab pertanyaan mamanya. Dia lebih memilih meninggalkan meja makan dengan segera untuk menuju ke kantor. Berurusan dengan mamanya sama saja kembali pada pasal yang berlaku tentang wanita.


"Oh, ya ampun. Berilah kesabaran berlebih padaku dan istrinya," ucap mama Carlotta.


Olivia tersenyum melihat tingkah konyol mama mertuanya. Lain halnya dengan papa Denzel. Pria itu lebih dulu meninggalkan meja makan ketika Dizon mulai mengangkat telepon. Bisa dipastikan setelah selesai, Carlotta akan mengomel panjang lebar.


"Kamu tidak ke rumah sakit, sayang?" tanya mama Carlotta.


"Tidak, ma. Hari ini badanku rasanya sakit semua. Seperti masuk angin. Aku sudah meminta izin untuk tidak masuk hari ini," ucapnya.


"Mama buatkan teh jahe, mau?" tanya mama Carlotta.


"Untuk menantu mama, tidak ada kata repot sama sekali. Tunggu sebentar!" Mama Carlotta segera ke dapur mengambil bahan pembuatan teh jahe dan merebus airnya hingga mendidih. Setelah selesai, dibawanya secangkir teh jahe di atas nampan yang tidak terlalu besar.


"Minumlah, sayang. Lekas enakan, ya," ucap mama Carlotta.


"Iya, ma. Rasanya seperti masuk angin dan sedikit pusing," ucap Olivia. Dia memijit pelipisnya secara perlahan untuk mengurangi rasa pusingnya.


Sepertinya menantuku tidak menyadari jika dirinya sedang hamil.


"Kapan terakhir kali kamu menstruasi?" tanya mama Carlotta.


Deg!


Olivia sempat melupakannya. Seharusnya seminggu yang lalu dia mendapatkan menstruasinya kembali, tetapi sampai hari ini tak kunjung mendapatkannya.


"Seharusnya seminggu yang lalu, ma. Tetapi, mana mungkin aku hamil?" tanya Olivia ragu.


"Sebaiknya di cek saja, sayang. Mama akan meminta tolong pelayan untuk membelikan tespek untukmu. Kamu butuh berapa?" tanya mama mertuanya.


"Dua atau tiga lebih dari cukup ma. Minta yang beda merek," ucapnya.


Mama Carlotta secepatnya pergi ke dapur dan meminta salah satu pelayan untuk pergi ke apotek. Sementara Olivia yang berada di meja makan sedang menelaah ucapan mama mertuanya.

__ADS_1


Mana mungkin aku hamil? Kami tidak pernah serius menjalani rumah tangga ini.


Mama Carlotta kembali dan memandangi wajah menantunya.


"Sayang, mama harap ini adalah kabar paling baik untuk kita semua," ucap mama Carlotta semringah.


Sebenarnya Olivia bahagia bisa hamil walaupun suaminya seorang monster, tetapi setelah ini yang dihadapi Olivia adalah Dizon. Dia khawatir tidak bisa menjaga kandungannya dengan baik.


"Apa yang sedang mengganggu pikiranmu, sayang?" tanya mama mertuanya.


"Dizon, ma. Bagaimana suamiku itu bisa bersikap lembut seperti normalnya seorang suami?" tanya Olivia dengan wajah sedihnya.


"Mama yang akan mengatakannya. Kamu jangan khawatir."


Obrolan antara menantu dan mertua terhenti ketika pelayan menyerahkan bungkusan dari apotek.


"Terima kasih," ucap mama Carlotta.


"Sama-sama, Nyonya," jawab pelayan itu kemudian meninggalkan majikannya.


"Oliv, segeralah lakukan tes! Mama tunggu hasilnya sekarang," ucapnya.


Olivia menerima bungkusan yang diberikan mama mertuanya. Bergegas dia masuk ke dalam kamar. Sebelum melakukan tes, dia bercermin di kaca bathroom.


"Apakah ada kehidupan baru di sini?" Olivia menunjuk perutnya sendiri. Dia tersenyum membayangkan kehamilan pertamanya.


Setelah puas bercermin, bergegas Olivia melanjutkan tujuannya untuk mengambil sampel urinenya kemudian mengambil tiga tespek yang berbeda.


Olivia menutup matanya selama menunggu proses tespek itu untuk menunjukkan hasilnya.


Dalam hitungan ketiga, Olivia harus membuka matanya.


Satu.


Dua.


Tiga.


Binar mata bahagia nampak di wajah Olivia. Keinginannya untuk punya anak akan terwujud. Bergegas dia membawa satu sampel tespek itu untuk ditunjukkan pada mama mertuanya.


"Bagaimana, sayang?" tanya mama Carlotta.


Olivia terharu. Dia tidak bisa berkata-kata lagi. Ditunjukkannya tespek itu dihadapan mama mertuanya. Mama Carlotta sangat bahagia kemudian memeluk menantunya dengan sangat erat.


Kebahagiaan keluarga Damarion baru dimulai dengan kabar pertama kehamilan Olivia.


🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓

__ADS_1


__ADS_2