Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Pertemuan Terakhir


__ADS_3

Sepagi ini di apartemen Sean telah di hebohkan dengan kedatangan Kayana dan suaminya. Setelah pintu apartemen dibuka, Kayana sangat ceria menghampiri istrinya. Sean tidak curiga pada perubahan sikap sahabat istrinya itu.


"Hai bumil seksi. Maaf, pagi-pagi sudah mengganggumu," ucap Kayana.


"Tidak masalah Kay. Silakan duduk!" Callista mempersilakan Kayana dan Felix untuk duduk di sofa.


"Aku juga minta maaf, Kak Sean. Sepagi ini harus datang ke apartemen kakak." Kali ini Felix yang meminta maaf. Dia belum mengutarakan niatnya untuk pergi ke negara A karena penerbangan masih sekitar dua jam lagi. Itu artinya masih cukup untuk istrinya berpamitan tanpa menyakiti hati sahabatnya.


"Memangnya kalian akan berbulan madu kemana?" tanya Sean. Sekarang dia juga duduk di sofa yang sama dengan tamunya. Sementara istrinya mengambilkan minuman hangat di pagi hari.


"Negara A, Om Sean. Berbulan madu sambil menyelesaikan beberapa bisnis suami," jawab Kayana tanpa membuat Sean curiga jika kepergiannya ke sana akan berlangsung lama. Bisa jadi, mereka tidak akan kembali ke negara ini dalam waktu dekat. Bisa lima tahun atau lebih. Mereka mengikuti permintaan Dizon.


Maafkan aku, Call. Aku tidak bermaksud membohongi suamimu. Tetapi keutuhan rumah tangga kami juga penting. Batin Kayana.


Callista telah kembali membawa nampan berisi dua cangkir kopi dan dua cangkir lemon tea hangat. Dia meletakkannya di meja.


"Silakan di minum dulu. Kopinya masih panas," ucap Callista. Dia kemudian duduk di samping suaminya. "Kenapa mendadak pergi bulan madu, Kay?"


"Aku punya cita-cita berkeliling dunia, Call. Suamiku setuju dan akan mengabulkannya," jawab Kayana. Dia masih ingin menikmati kebersamaannya sebentar kemudian berpamitan pada sahabatnya itu.


Felix mulai meminum kopinya yang sudah tidak terlalu panas. Dia melihat jam tangannya terus-menerus seperti orang yang sedang khawatir.


Sepertinya berada satu jam di apartemen Kak Sean akan membuat penerbangan kami terlambat. Mumpung masih setengah jam, aku akan meminta Kayana berpamitan. Batin Felix.


"Sayang, katakan pada Kak Sean dan istrinya. Kita harus cepat berangkat. Perjalanan dari sini ke bandara memerlukan waktu yang lumayan. Jangan sampai terlambat!" ucap Felix mengingatkan istrinya.


Kayana mengangguk. Matanya mulai berkaca-kaca. Dia akan berpisah dengan sahabatnya yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun.


"Loh, kenapa kamu terlihat bersedih seperti itu, Kay?" tanya Callista.


"Berdirilah, Call! Aku mau mengatakan hal penting padamu," pinta Kayana.


Callista belum mencurigai apapun tentang kepergian sahabatnya itu. Kayana langsung memeluk bumil itu dengan sangat erat.


"Call, maafkan semua kesalahanku dan suami. Aku harus pergi ke negara A dan menetap di sana," ucap Kayana dengan sesenggukan.

__ADS_1


Jeduar!


Callista seperti terkena hantaman palu yang sangat besar. Ternyata sahabatnya ini berpamitan akan pindah ke negara A. Ada rasa sesak yang bergemuruh di dadanya. Callista mendorong pelukan sahabatnya itu.


"Apa kamu akan meninggalkanku?" Callista tidak bisa menahan tangisnya. Selama kehamilan ini begitu sensitif baginya.


Sean mendekati istrinya kemudian memeluknya. Dia bermaksud menenangkan istrinya.


"Felix, tolong jelaskan kepada kami. Apa maksud semua ini?" tanya Sean. Pria ini masih memeluk istrinya.


"Maaf, Kak. Aku tidak bisa menjelaskan inti permasalahan yang sedang kami alami. Kami sengaja ke sini untuk berpamitan karena mulai besok sampai dengan batas waktu yang tidak ditentukan, kami akan mengurus perusahaan Kak Dizon yang ada di negara A. Tolong jangan sampai orang lain tau jika kami pergi ke sana. Ada alasan khusus agar kami merahasiakannya," ucap Felix panjang lebar.


"Sayang, dengarkan suamimu! Ada urusan yang harus mereka selesaikan. Tolong relakan kepergian Kayana maupun Felix. Kita bisa pergi ke negara A jika kamu mau," Sean berusaha membujuk istrinya agar mau mengerti.


"Tapi, aku disini kesepian. Tidak ada sahabatku," ucap Callista.


"Ada Zelene. Kalian bisa bertukar cerita. Oh ya, Felix. Pesawatmu akan berangkat jam berapa? Sepertinya kamu terlihat buru-buru." Sean melepaskan pelukannya.


"Iya, Kak. Satu setengah jam lagi pesawat akan berangkat. Kami langsung pamit, ya," ucap Felix.


"Lemon tea buatanmu masih sama enaknya. Jangan bersedih! Kabari jika baby-mu telah lahir. Aku akan menjadi aunty yang paling bahagia. Doakan aku segera nyusul, yah?" ucap Kayana.


"Kay, apa ada sesuatu yang tidak kutahu? Kenapa kamu mendadak pergi, 'sih?" cecar Callista.


"Semuanya sudah kamu ketahui bumil cantik. Aku dan suami langsung pamit ya. Mohon maaf harus membuatmu terluka seperti ini," ucap Kayana berusaha menahan air matanya yang hampir jatuh. Dia langsung melepaskan pelukannya.


"Kak Sean, Kak Callista, kami pergi dulu. Selamat tinggal dan sampai jumpa lagi di kemudian hari," ucap Felix.


Ucapan Felix membuat Callista maupun Kayana terenyuh. Keduanya sangat sedih mengantar kepergian sepasang suami istri itu.


"Hati-hati, ya." Hanya itu yang bisa diucapkan Callista.


Setelah kepergian mereka, Sean menutup pintunya kembali. Callista langsung terduduk lemas. Tidak ada lagi orang terdekat yang bisa diajak berbagi keluh kesah.


"Sayang, kenapa lemas begitu?" tanya Sean.

__ADS_1


"Tidak ada tempat untuk berbagi suka dan duka," ucap Callista.


Suaminya mendekat, merengkuh istrinya. Tak puas disitu, dia memegang pipinya kemudian mengecup keningnya.


"Jangan bersedih, sayang. Suamimu ini siap menjadi tempatmu berkeluh kesah. Jangan libatkan orang lain. Tetap bahagia, tak akan ada lagi duka untukmu." Sean menangkup wajah istrinya.


"Apa aku bisa menjalani hari-hariku tanpa Kayana?" tanya Callista.


Kayana adalah bestie Callista. Tempat untuk membagi suka dan duka. Sampai pada akhirnya Callista harus menikah terlebih dahulu.


"Bisa, sayang. Sebentar lagi, kamu, aku, dan anak kita," balas Sean.


Kehamilannya yang hanya beberapa bulan lagi dan akan bertemu dengan baby A.


"Ngomong-ngomong, baby A nama panjangnya siapa?" tanya Sean lagi.


"Rahasia. Tunggu tanggal launchingnya," ucap Callista. Sesaat dia bisa melupakan kepergian sahabatnya mengingat ada janin yang sedang dikandungnya. Dia mengelus perutnya kemudian mengatakan sesuatu pada janinnya. "Sehat terus ya, nak. Mama akan mengajakmu jalan-jalan ke negara A bertemu aunty Kay."


"Papa tidak diajak, nih?" sindir Sean.


"Oh, papamu mau ikut, nak. Apa boleh?" tanya Callista lagi. "Baby A nggak mau sama papa."


"Hemm, apa karena sudah lama papa tidak menjengukmu, sayang?" Kode keras pada istrinya.


"Ck, selalu saja mesum!" cibir Callista.


"Sudah-sudah, ayo sarapan dulu. Kamu tunggulah di meja makan, biar aku yang menyiapkan. Hari ini aku harus ke kantor. Vigor masih cuti sampai beberapa hari ke depan," ajak Sean.


"Baiklah. Terima kasih, sayang." Callista mengekor di belakang suaminya. Bersyukur dia memiliki suami yang sangat perhatian padanya.


Hari ini merupakan hari yang melelahkan bagi Callista. Dia harus berpisah dengan sahabat terbaiknya. Menurut Callista, semua orang berhak menentukan kebahagiaan masing-masing, termasuk dirinya.


Aku tidak boleh kalah dengan mama mertua. Jika dia tidak mau menerimaku, setidaknya aku tetap akan berjuang dan mempertahankan rumah tanggaku.


🍎🍎🍎🍎TBC🍎🍎🍎🍎🍎

__ADS_1


__ADS_2