Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Tes DNA?


__ADS_3

Semalam, Sean pamit pada istrinya untuk menemani Vigor di rumah sakit. Dia tidak mengatakan jika Zelene keguguran. Dia hanya menyampaikan kalau kehamilannya Zelene sedikit bermasalah.


Sean sedikit egois memang meninggalkan istrinya yang sedang hamil seorang diri berada di apartemen karena dia butuh penjelasan dari adiknya.


Pagi ini, Zelene dipindahkan ke kamar rawat inap setelah semalam menjalani proses curetase. Dia sudah terlihat lebih segar, tetapi memancarkan sorot kesedihan yang mendalam.


"Bagaimana keadaanmu, Ze?" tanya Sean yang duduk di tepi ranjang.


"Sudah baikan, Kak. Tapi, aku kehilangan bayiku. Rasanya sangat menyedihkan," ucapnya sendu.


"Sabar, honey. Nanti kita bisa menjalani program hamil lagi setelah dokter mengizinkanmu pulang," ucap suaminya menyemangati.


"Ze, memangnya apa yang kamu lakukan sampai terjadi pendarahan hebat seperti itu? Bukankah selama ini kamu selalu menjaganya dengan baik?" tanya Sean. Setahu Sean, Vigor selalu menceritakan bagaimana Zelene selalu menjaga kehamilannya dengan baik.


Apa aku cerita saja kalau mama datang ke apartemen?


"Aku bersitegang dengan mama, Kak. Dia datang ke apartemen dan aku mengusirnya. Rasanya perutku kram kemudian flek, lalu mengalir darah segar," ucapnya sendu.


Sean terkejut. Mamanya seperti hantu yang selalu membayangi kehidupan putra putrinya. Apa sebenarnya tujuan wanita itu?


"Apa yang kalian ributkan?" tanya Sean lagi.


"Masih sama seperti sebelumnya, Kak. Dia menunggu kabar perceraian kakak," ucap Zelene.


Oh God, kelakuan Mama sudah tidak bisa ditoleransi lagi. Aku harus berbuat sesuatu. Batin Sean.


Sean sangat geram pada mamanya itu. Sepertinya ada sesuatu yang salah dengan wanita itu. Jika Zelene didatangi, tidak menutup kemungkinan wanita paruh baya itu akan mendatangi istrinya lagi.


"Ze, beristirahatlah! Kakak akan pulang. Kasian kakak iparmu dari semalam sendirian," pamit Sean. Dia juga mempersilakan Vigor untuk menjaga istrinya. Urusan kantor sementara waktu akan dipegangnya.


Sean sedang memikirkan kondisi istrinya yang kehamilannya sebentar lagi akan melahirkan. Dia tidak ingin istrinya itu ikut kepikiran Zelene, tetapi Sean tidak boleh berbohong pada wanita itu.


Sampai di apartemen, Sean bergegas menuju unitnya. Sejak semalam, dia kepikiran terus pada istri kesayangannya itu.


"Pagi, sayang," sapa Sean yang melihat istrinya berada di dapur.

__ADS_1


"Eh, kamu sudah pulang? Bagaimana kondisi Zelene? Apa kandungannya baik-baik saja?"


"Zelene keguguran, sayang," jawabnya.


Callista terkejut. Dia ikutan syok mendengar kabar duka itu.


"Ya ampun, aku tidak bisa membayangkan bagaimana kesedihan adik iparku itu." Callista mendekati suaminya kemudian memeluknya. "Sabar, sayang. Ini ujian untuk keluarga kita."


Sean membalas pelukan istrinya dengan hangat. Dia jauh lebih bahagia menikmati momen seperti ini.


"Jaga putri kita dengan baik, sayang. Jangan memikirkan tentang mama atau pernikahan kita. Mama hanya orang ketiga dalam pernikahan kita. Yang paling penting, kita berdua saling mengerti dan memahami. Jangan pernah lagi mengatakan pisah padaku," ucap Sean.


Callista mendongak pada suaminya. "Apa keguguran Zelene ada hubungannya dengan mama?"


Sean mengangguk. Callista terdiam sesaat. Dia memikirkan masa depan putrinya.


"Sayang, apakah kamu yakin jika baby A mampu membuat mama berubah?" tanya Callista.


"Mampu atau tidak, dia tetap putri kita. Biarkan Mama berubah dengan sendirinya." Sean melepaskan pelukannya. Hari ini dia harus berangkat ke kantor. Ada pekerjaan penting yang harus diselesaikan.


"Sudah mau ke kantor?" tanya istrinya. Walaupun yang dia tau, ini sudah sangat terlambat untuk ukuran Sean.


Callista hampir lupa jika suaminya akan membuat janji makan malam bersama sebelum kelahiran baby A. Setelah itu, Sean akan fokus pada putrinya.


Callista menyiapkan sarapan di meja makan, setelah itu dia menemui suaminya di kamar utama.


"Sayang, apa kamu yakin akan ke kantor sendirian?" tanya Callista. Dia tau jika Vigor pasti menjaga istrinya.


"Iya, memangnya kenapa sayang?" Sean sudah siap dengan jas lengkap beserta dasi yang dipakainya.


"Kamu tidak ingin mengajakku?"


Sean menoleh ke arahnya kemudian memberikan senyum terbaik. "Kamu tidak capek menunggu suami bekerja? Aku yakin, kamu akan bosan di sana. Begini saja, katakan apa yang kamu inginkan. Aku akan meminta orang untuk mengantarkannya."


Sean belajar dari pengalaman. Bukannya tidak mau istrinya ikut, dia mengantisipasi untuk bisa bekerja dengan baik tanpa gangguan dari istrinya.

__ADS_1


"Baiklah. Aku dirumah saja." Callista mengalah.


Setelah sarapan pagi setengah siang, Sean berangkat ke kantor. Hari ini, dia berencana untuk menghubungi Jonathan untuk memastikan meet up yang sudah direncanakan.


Ketika berada di ruangannya, bergegas dia mengambil ponselnya dan menghubungi duda itu. Pembicaraan mereka berlangsung seru karena Sean puas telah menggoda Jonathan. Sambungan teleponnya hanya berlangsung beberapa menit saja dan memutuskan lusa mereka akan bertemu.


Aku tidak bisa membayangkan betapa bingungnya kamu, Jo. Kira-kira, siapa wanita beruntung yang akan kamu bawa untuk bertemu denganku?


Setelah mengobrol dengan Jonathan, Sean mengembalikan ponselnya. Dia mulai mengecek beberapa berkas penting yang diambil dari ruangan Vigor. Pikirannya sekarang terpecah. Dia menyesal tidak mengajak istrinya ke kantor. Dia khawatir mamanya akan datang ke apartemen dan melakukan hal yang sama pada istrinya.


Sean mengambil ponselnya lagi untuk mengirim pesan pada istrinya.


[Sayang, jaga diri baik-baik. Kalau mama datang, kabari aku.]


Setelah mengirim pesan, Sean sedikit lebih tenang. Istrinya juga tak kunjung membalas pesannya. Ada apa dengan wanita hamil itu?


[Sayang, kamu baik-baik saja, 'kan?]


Pesan kedua dikirim. Sean meletakkan kembali ponselnya. Lima belas menit kemudian baru ada balasan.


[Iya, sayang. Aku baik-baik saja. Tidak ada tanda kedatangan mama, kok.]


Balasan dari istrinya cukup membuat Sean lega. Secepatnya dia selesaikan berkas untuk rapat ini. Dia berencana pergi ke rumah mamanya untuk membuat perhitungan dengan wanita itu. Dia seperti bukan mama yang baik untuknya dan Zelene. Bahkan karenanya, Zelene harus kehilangan keturunan Armstrong yang sebenarnya.


"Ma, apa tujuan hidupmu sebenarnya? Seharusnya kebahagiaan anakmu jauh lebih penting daripada harkat, martabat, dan derajat yang sering kamu elu-elukan itu, ma. Lihatlah putrimu sedang terbaring lemah di rumah sakit karena ulahmu," ucap Sean disela kesibukannya.


Sean berdiri kemudian beralih ke sofa. Dia sendirian yang harus memikirkan solusinya. Disandarkan badannya pada sofa. Pikirannya jauh melanglang buana.


Apa sebaiknya aku mengancam mama untuk melakukan tes DNA? Menurutku sangat tidak wajar sikapnya seperti itu. Sekarang, keturunan Amrstrong telah hilang satu. Padahal, aku sangat bahagia putriku akan mempunyai sepupu yang usianya hampir seumuran.


Sean memandangi meja di hadapannya. Berharap dia menemukan sesuatu di sana. Tak ada petunjuk. Secepatnya dia harus pulang ke rumah keluarga Armstrong.


πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“BersambungπŸ“πŸ“πŸ“πŸ“


Dizon, sabar dulu ya. Sean juga sibuk 😁 mau perang melawan mamanya itu... πŸ˜‚

__ADS_1


Yang kepo sama Jonathan, mampir yuk... Mendadak Menjadi Babysitter Anak Sang Duda, Author Syasyi



__ADS_2