Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Sebelas Duabelas


__ADS_3

Malam ini dengan terpaksa, Callista meminta suaminya untuk mengantarkan berbelanja kebutuhan bulanan. Dia tidak hanya pergi dengan suaminya, tetapi juga dengan Kayana, sahabatnya.


Sebenarnya Kayana menolak, tetapi suami Callista yang memintanya untuk ikut.


"Ikut saja! Kamu bisa bantu Callista belanja," ucap Sean.


"Terima kasih, Om," Kayana sebenarnya ragu akan mengganggu kesenangan sepasang suami istri itu.


Mereka bertiga berangkat bersama menuju Mal Sinar Galaxy. Callista dan Kayana duduk di belakang, sementara suaminya berada di kursi kemudi.


Rasanya seperti Om yang mengajak jalan keponakannya. Batin Sean.


Setibanya di sana, Callista dan Kayana turun di depan Mal. Sementara Sean masuk ke bassement untuk memarkirkan kendaraannya.


"Kay, kita belanja kebutuhan bulanan dulu, yah? Gue tadi udah bilang ke Om Sean buat nyusul ke supermarket," ajak Callista.


"Oke, Call. Oh ya, nanti kita mampir ke restoran yang kapan hari, ya? Gue dah kangen makan steak di sana," ucap Kayana yang sedang berada di samping Callista.


"Oke, lihat ntar ya, Kay. Kalau gue belanjanya kelar cepet, kita mampir ke sana. Kalau agak lambat, kita nyari yang cepet aja, yah?" ucap Callista sembari berjalan menuju supermarket.


Keduanya sampai di supermarket. Kayana menawarkan diri untuk mengambilkan Callista troli yang letaknya tidak jauh dari tempat berdirinya saat ini.


"Lo mau kemana dulu, Call?"


"Ke sayur mayur dulu," Callista lebih dulu ke tempat itu.


"Oke, tungguin di sana. Gue ambil troli dulu," Kayana lekas mengambilkan troli untuk sahabatnya itu.


Sepanjang mereka memilih belanjaan, Sean ternyata sudah menunggunya di kasir. Dia tidak mengikuti kemana Callista dan sahabatnya memilih berbagai macam barang belanjaan.


Callista yang baru saja selesai dengan semua belanjaannya, dia celingukan mencari suaminya. Sean yang kebetulan melihat ke arahnya segera melambaikan tangan.


"Kay, yuk kesana! Ternyata suami gue udah nunggu," ajaknya pada Kayana.


Callista sendiri yang mendorong trolinya untuk sampai ke kasir. Di sana, suaminya berusaha membantu. Dia tidak ingin istrinya sampai kelelahan.


"Sayang, jangan terlalu capek. Biar kamunya lekas hamil," bisik Sean tepat di telinga istrinya.


Oh God, bisikan apalagi ini?


Callista tersenyum membalas suaminya. Sementara Kayana sok cuek menghadapi dua manusia yang selalu bersikap mesra di hadapannya itu.


"Sudah semuanya, sayang?" tanya Sean pada Callista.


"Iya, Om. Apa ada yang perlu ditambahkan lagi?" Callista meminta pendapat suaminya. Jika mereka belanja berdua, Sean selalu mengingatkan apa saja yang perlu dan tidak perlu untuk dibeli.


"Aku rasa, ini sudah lebih dari cukup. Kayana juga belanja, kan?" Sean ingin memastikan jika sahabat istrinya itu juga ikut berbelanja untuk kebutuhan pribadinya.

__ADS_1


"Nggak, Om. Cuman ngikut bantu Callista doang," Kayana menolak, lantaran beberapa kali Callista sudah membelikannya beberapa barang. Dia merasa tak enak hati pada sahabatnya.


"Lain kali kalau ikut Callista belanja lagi, sekalian kamu ikut belanja, yah? Biar nggak bosan menemaninya," pinta Sean.


"Baik, Om," jawab Kayana. Mungkin pemikiran suami Callista karena terlalu lama membantu memilih beberapa belanjaan membuatnya cepat bosan.


Setelah tiba antrean Callista, Kasir segera memasukkan beberapa belanjaan yang telah melakukan tahap scanning barcode. Setelah semuanya selesai, Sean membayar pakai kartu debitnya.


"Setelah ini, kalian mau kemana?" tanya Sean yang menenteng beberapa kantong belanjaan.


"Makan steak di restoran pojok, Om," ucap Callista.


"Baiklah. Pergilah kesana terlebih dahulu! Aku mau memasukkan semua barang ini ke mobil," Sean tidak ingin dibuat ribet jika harus membawa semua kantong ini ke restoran. Akan lebih efisien jika dimasukkan dahulu ke dalam mobil.


Callista dan Kayana berjalan sambil bercanda.


"Kay, lo jadi milih Duda?"


"Duda semakin terdepan, Call. Lo kenapa mau sama Om Sean?" Kayana berusaha membalikkan semua ucapan sahabatnya.


"Ya, karena gue trauma sama pria lajang," ucap Callista. Dia masih teringat bagaimana mantan kekasihnya itu selingkuh di belakangnya.


Sebelum memasuki restoran yang dituju, Kayana tak sengaja bertabrakan dengan seorang pria. Keduanya sama-sama terjatuh.


"Maaf, Nona. Aku benar-benar tidak sengaja. Aku sedang terburu-buru," ucap pria itu langsung berdiri dan meninggalkan gadis yang ditabraknya.


Sumpah, doi ganteng banget. Gue sampe spechless, loh. Wah, kalau Dudanya modelan kek gitu, gue maulah.


"Kay, lo nggak apa-apa?" Callista sejak tadi melihat Kayana masih berada di posisinya.


"Sumpah demi apa, Call? Pria itu keren banget... Sebelas Duabelas sama suami lo. Kalau kek gitu Dudanya, gue mau dah," ucap Kayana.


Pria itu berusia sekitar tiga puluh lima tahun lebih. Dia terlihat sangat matang dan memiliki penampilan sempurna. Semua mata memandang pasti akan tergila-gila padanya.


Callista menarik tangan sahabatnya. "Yuk masuk, keburu malam banget," ajak Callista.


"Nggak jadi deh, Call. Kita cari makan di tempat lain aja, yah?" Kayana memang masih penasaran dengan pria yang barusan menabrak dirinya. Dia menatap mata pria itu dan merasa sangat cocok sekali dengan kriteria pria idamannya.


"Baiklah. Tunggu suami gue bentar, yah?" Callista menoleh kesana kemari berharap suaminya lekas datang.


Lima belas menit, suami Callista tak kunjung datang. Ketika keduanya hendak memutuskan untuk meninggalkan tempatnya menunggu saat ini, Sean muncul dari arah berlawanan.


"Maaf menunggu lama. Kenapa tidak masuk ke restoran?" tanya Sean.


"Nggak jadi, Om. Kayana tiba-tiba jadi nggak pengin makan steak. Maaf ya, Om," balas Kayana.


"Yasudah, kita cari bakso saja di tempat langganan Callista," ajak Sean.

__ADS_1


Mereka berjalan beriringan menuju food court Mie dan Bakso.


Di sana, suasana tidak terlalu ramai. Mereka bisa duduk dengan nyaman.


"Oke, kalian mau pesan apa? Pelayan, kemarilah!" ucap Sean yang duduk berdampingan dengan istrinya.


"Seperti biasa, Om. Aku bakso mercon aja. Kay, lo mau pesen apa?"


"Samain aja, Call," ucap Kayana pada Callista.


Hemm, Callista... Callista... Itu perut apa tidak kasihan, sayang? Tiap makan selalu saja sepedas itu.


"Iya, Kak. Mau pesan apa?" tanya Pelayan.


"Bakso biasa, dua. Bakso merconnya, satu. Tiga air mineral 600ml," jawab Sean.


Callista mendengar ucapan suaminya merasa terkejut.


"Eh, kok yang biasa dua, sih?" protes Callista.


"Wanita yang sedang program hamil, dilarang banyak makan pedas," bisik Sean pada istrinya.


Oh God, perhatian sekali.


"Jadi bagaimana, Kak?" ucap Pelayan.


"Sudah itu aja," jawab Sean.


"Bakso biasanya dua, bakso merconnya satu dan air mineral?" Pelayan mengulang pesanan pelanggannya.


"Iya, benar," jawab Sean.


Setelah pelayan pergi, Callista baru berani bertanya pada suaminya.


"Om, kenapa tadi lama sekali?" Callista mengira jika suaminya tidak akan menyusul untuk makan.


"Aku bertemu Felix di depan toko baju. Kami mengobrol sebentar."


Felix yang hampir jadi tunangan adik ipar?


"Eh, Om. Tadi Kayana ketemu pria cakep banget. Mau dong kalau dijodohin sama doi," ucap Kayana yang tak tahan untuk tidak menceritakan pria yang menabraknya tadi.


"Pria? Kalian berdua bertemu siapa?" Sean nampak tak senang mendengar cerita Kayana. Dia takut istrinya akan tertarik dengan pria lain.


"Ish, Om. Kita nggak ketemu siapa-siapa. Tadi, ada pria yang nggak sengaja nabrak Kayana saat jalan ke restoran. Nah, Kayana langsung suka tuh dengan pria itu. Sebelas Duabelas sama Om," Callista menjelaskan.


Aku pikir, Callista akan tertarik dengan pria lain.

__ADS_1


😍😍😍😍to be continued😍😍😍😍


__ADS_2