Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Hadiah Pernikahan


__ADS_3

Sepasang suami istri turun dari unit apartemen Sean. Siapa lagi kalau bukan Felix dan Kayana. Kayana membawa bingkisan hadiah pernikahan itu dan meletakkannya di kursi penumpang.


"Tidak ada yang ketinggalan, sayang?" tanya Felix.


"Nggak. Hanya hadiah pernikahan," jawab Kayana.


"Baiklah. Kita langsung ke rumah Mama," Felix mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Ini pertama kalinya dia bersama wanita yang sudah sah sebagai istrinya.


Sepanjang perjalanan, Kayana terlihat diam. Entah apa yang sedang dipikirkan istrinya itu.


"Sayang, kamu melamun?" tanya Felix yang sedang fokus mengendarai mobilnya.


"Iya, sedikit," jawabnya menoleh ke arah Felix.


"Boleh aku tau apa yang sedang kamu pikirkan?"


Apa iya aku harus mengakui jika siap tidak siap aku tetap harus memberikan haknya? Aku malu harus mengatakannya....


"Sayang, kenapa diam lagi? Apa pertanyaanku salah?"


Kayana menggeleng. Felix tidak tau karena pandangannya fokus ke depan.


"Sayang, katakan saja! Apapun itu," ucapnya lagi.


"Aku malu untuk mengatakannya," jawab Kayana lirih.


Jika dalam pernikahan Callista dan Sean, Kayana paling gercep untuk mengajari sahabatnya. Sekarang gilirannya, malah seperti mati kutu tidak ada kekuatan sama sekali. Dasar lemah!


"Kenapa harus malu. Aku suamimu sekarang. Apapun itu kita harus saling mengetahui dan jujur. Katakan saja!" Felix terus saja memaksa istrinya untuk berterus terang.


"Aku malu untuk mengatakan ini. Jika aku belum siap, apa kamu akan memaksaku untuk memberikannya?" ucap Kayana lirih.


Astaga! Mengenai itu lagi....


"Tidak! Aku tidak akan memaksa untuk melakukannya jika kamu memang belum siap," Felix bukan tipe orang yang memaksakan kehendak, kecuali urusan misi menghadapi kakaknya, Dizon.


"Terima kasih," Kayana merasa lega.


"Tapi ingat, jangan membuatku menunggu terlalu lama. Tolong kasihanilah aku," goda Felix.


Kayana hanya bisa terdiam memikirkan ucapan suaminya. Terlalu asyik mengobrol, Felix baru menyadari jika mobilnya sudah mendekati rumah keluarganya.


Sesampainya di sana, Felix dan Kayana turun. Gadis itu tidak lupa untuk membawa hadiah pemberian sahabatnya.


Memasuki ruang tengah, Mama Carlotta telah menunggunya.


"Dari mana saja kalian?"


"Apartemen Kak Sean, Ma. Kayana ingin main ke sana sebentar," jawab Felix.


"Apa itu sayang?" Mama Carlotta menunjuk kado yang diberikan Callista.


"Hadiah pernikahan, Ma," jawab Kayana.

__ADS_1


"Masukkan ke kamar kalian. Setelah itu, kita makan malam bersama."


Mama Carlotta menuju meja makan. Dia yang menyiapkan semuanya. Spesial untuk sang menantu, katanya.


Di meja makan formasi lengkap. Tinggal menunggu kedatangan Felix dan istrinya.


"Ma, kapan kita mulai makannya?" protes Papa Denzel.


"Tunggu Felix dan istrinya sebentar, Pa!" jawab Mama Carlotta.


Tak lama, Felix dan istrinya datang. Jika biasanya Mama Carlotta duduk di samping Felix, kini wanita paruh baya itu pindah ke samping Dizon.


"Lain kali, kalau makan malam itu datangnya on time. Semua sudah kelaparan menunggu," sindir Papa Denzel. Dari awal, Papanya tidak pernah menyetujui pernikahan putranya dengan wanita yang tidak jelas asal usulnya.


"Sudahlah, Pa. Hanya terlambat lima menit," ucap Mama Carlotta meredam emosi suaminya.


"Sudah bisa dimulai acara makannya, Ma?" tanya Dizon yang sejak tadi juga menunggu.


"Silakan dinikmati. Masakan buatan Mama yang biasanya disukai Felix," ucap Mama Carlotta menjelaskan.


Mama Carlotta menghidangkan nasi, soto babat, dan perkedel kentang. Tak lupa juga sambal pedas, irisan jeruk nipis, dan kerupuk. Itu yang menjadi makanan favorit Felix.


Mereka menikmati makan malam dengan lahap, namun tidak dengan Papa Denzel yang sepertinya tidak bisa menikmati makan malamnya dengan nikmat. Dia hanya memakan separuh dari yang disiapkan istrinya.


"Tumben nggak habis, Pa?" tanya Felix. Semua makanan yang terhidang di meja makan juga makanan favorit dari pria paruh baya itu.


"Sudah agak dingin. Papa jadi malas makannya. Lain kali kalau memang nggak niat ikut makan malam, lebih baik tidak usah makan," ucapnya menyindir Kayana, menantunya.


Gadis itu merasa tak enak hati di hari pertamanya telah membuat Papa mertuanya terlihat sangat tidak nyaman dengan keberadaannya.


"Ma... Felix dan Kayana langsung ke kamar," pamit Felix pada Mamanya.


Mama Carlotta khawatir jika sang menantu akan tersinggung dengan ucapan suaminya.


"Pergilah!" ucap Mama Carlotta.


Felix menggenggam erat tangan istrinya, membuat Papa Denzel semakin tidak menyukainya. Sesampai di depan kamar Felix, Kayana berhenti.


"Kenapa berhenti?" tanya Felix.


"Aku merasa tak enak hati dengan Papa mertua," lirih Kayana.


"Masuklah! Kita bicara di dalam," ajak Felix.


Felix meminta pada istrinya untuk duduk di ranjang, sedangkan dirinya lebih memilih duduk di sofa kamarnya.


"Jangan pikirkan ucapan Papa. Kita hanya semalam di sini. Secepatnya aku akan membawamu ke rumah baru kita," Felix tidak ingin membuat istrinya merasa tertekan.


"Terima kasih."


"Jangan tidur dulu! Santai saja," ucap Felix menenangkan.


Kayana menyandarkan kepalanya pada headboard ranjang. Dia memejamkan mata sesaat untuk mengurangi beban di pikirannya. Felix yang melihat itu lantas mendekati istrinya, Kayana terkejut.

__ADS_1


"Eh, kok sudah di sini saja," ucap Kayana.


Felix naik ke ranjang dan duduk di sebelah istrinya.


"Aku penasaran, hadiah apa yang diberikan seorang sahabat untukmu," Felix ingin tau apa isi kado itu.


Hadiah itu diletakkan di meja sofa. Sehingga membuat Kayana turun dari ranjang untuk mengambilnya.


"Entahlah. Aku juga tidak tau. Mari kita buka sama-sama," ajak Kayana.


"Kamu tidak takut jika itu isinya sesuatu yang nyeleneh? Atau bahkan sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam benakmu?" tanya Felix.


Kayana menggeleng. Dia tau sahabatnya itu sangat polos. Mana mungkin dia memberikan kado yang aneh atau diluar ekspektasi.


"Baiklah. Sebelum dibuka, mari kita tebak isinya," ucap Felix agar Kayana terlihat lebih santai.


"Oke. Silakan tebak terlebih dahulu."


Kurasa, Callista memberikan kado yang akan membuatnya malu dihadapanku. Aku sangat yakin!


"Bahan kain untuk dibuat couple baju suami istri," jawab Felix.


"Melihat bentuk packing yang sangat besar, aku pikir ini bed cover. Sudah sangat umum untuk hadiah pernikahan," ucapan Kayana sangat meyakinkan.


"Baiklah. Bukalah perlahan," pinta Felix.


Kayana mulai membuka kado yang ukurannya lumayan besar tetapi tidak terlalu berat. Ketika semuanya sudah terbuka, Kayana membelalakkan matanya tidak percaya.


Felix malah menertawakan istrinya yang terlihat memerah wajahnya.


"Kenapa begitu mukanya?" tanya Felix.


"Aku harus protes pada Callista!" ucap Kayana.


Gadis itu benar-benar dibuat malu di hadapan suaminya.


"Istri Kak Sean sudah benar ngasih kado seperti itu. Tujuannya agar kamu mau memakainya di hadapanku," goda Felix.


Callista memberikan tujuh lingerie dengan model dan warna yang berbeda-beda. Di setiap lingerie tertulis jadwal pemakaiannya mulai dari senin sampai minggu. Tidak hanya itu, masih ada secarik kertas yang isinya membuat Kayana sangat malu di hadapan suaminya.


"Ayo dibaca dengan keras! Suamimu ingin tau ucapan apa yang diberikan seorang sahabat," goda Felix. Dia tau, istrinya saat ini sudah mati kutu.


Kayana tidak sanggup membaca isi pesannya. Dia langsung memberikan kertas itu pada suaminya.


Felix menerimanya kemudian membacanya dalam hati sambil tertawa melihat tingkah istrinya.


Pasukan gercep buka segel, jangan lupa dipakai sesuai jadwal, yah? Semoga berhasil!


"Kapan sesi pembelajarannya akan dimulai?" goda Felix.


Kayana tidak menjawab. Cepat atau lambat, gadis itu memang harus memutuskan sesuatu. Tergantung jadwal yang mana yang mau dipakai. Hadiah pernikahan dari Callista membuatnya mati kutu dihadapan suaminya.


Aku akan meminta perhitungan denganmu, Call.

__ADS_1


🥀🥀🥀🥀🥀TBC☕☕☕☕☕


__ADS_2