Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Kontraksi Palsu


__ADS_3

Sean mendapatkan sebuah rahasia yang sangat mengejutkan. Setelah dari rumah keluarganya, Sean pulang ke apartemen. Hari ini dia sangat rindu pada istrinya. Walaupun semakin hari rasa cintanya semakin mendalam, tidak menutup kemungkinan rasa rindu juga ikut di dalamnya.


Pengakuan mama Jelita yang kini statusnya sebagai seorang tante bagi Sean dan Zelene membuat eks duda ini berpikir sangat jauh. Dia berharap Mama Jenica-nya masih hidup supaya bisa hidup bahagia bersama anak, menantu, dan cucu.


"Aku harus membicarakan ini dengan Vigor terlebih dahulu. Setelah Zelene pulang, baru aku akan menceritakan semuanya. Aku perlu mencari keberadaan mama Jenica."


Sepanjang perjalanan, rasa rindu yang paling dalam dirasakan Sean pada mamanya. Mama yang telah melahirkannya, tetapi tidak pernah merawat dan melihat tumbuh kembang putra-putrinya.


Mobil Sean mulai memasuki area apartemen Royal. Secepatnya dia akan menemui istrinya.


"Sayang, maafkan aku. Pikiranku terpecah antara dirimu dan mama," ucapnya.


Sean bergegas turun kemudian masuk ke unitnya. Dia tidak mendapati istrinya berada di ruang tamu ataupun dapur.


"Sayang, kamu dimana?" teriak Sean.


Ceklek!


Kamar utama terbuka. Callista baru saja selesai mandi.


"Baru pulang, sayang?" Callista mendekati suaminya kemudian memeluk pria itu dengan sangat hangat. Walaupun perutnya sudah membesar, tetapi pelukan yang diberikan mampu menentramkan jiwanya.


"Iya, sayang. Apa kamu suka mencium bau keringatku seperti ini?" goda suaminya.


"Ish, aku tidak merindukan bau keringatmu. Aku merindukan dirimu, sayang," ucapnya dengan suara manja.


Sean membalas pelukan Callista. Walaupun tidak senyaman memeluknya ketika tidak sedang hamil.


"Kapan baby A keluar? Aku sudah tidak sabar ingin memeluknya."


"Aku cemburu, nih. Sebentar lagi aku punya saingan," ucapnya dengan nada sendu.


"Hemm, sama anak sendiri kenapa merasa tersaingi?"


"Tidak. Aku hanya takut kalau kamu tidak memperhatikanku sama sekali." Callista melepas pelukannya.


"Jangan bicara aneh seperti itu. Kamu, ibu dari anakku. Aku akan tetap memperhatikanmu. Aku akan membersihkan diri dulu. Tunggu di meja makan! Sebentar lagi aku akan membuatkan makanan untukmu."


Callista menuruti perintah suaminya. Dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan suaminya. Raut wajah itu terlihat jelas sedang terluka dan juga bahagia. Callista cemburu padanya.


Kenapa raut wajahmu sangat aneh, sayang?


Callista merasa ada yang aneh dengan perutnya. Seperti melilit tidak tertahankan. Rasanya seperti ada sesuatu yang mau keluar.

__ADS_1


"Auuu, sakit sekali...," teriaknya. Sean belum menyadari jika terjadi sesuatu pada istrinya.


Sakit perutnya kemudian berhenti. Dia sudah tidak merasakan apapun.


"Aduh, kenapa baby A? Apa kamu sudah tidak sabar untuk keluar?" tanya Callista. Dia mengelus perutnya. "Kasih sinyal cintanya jangan mendadak, sayang. Kabari Mama."


Sean belum keluar juga dari kamarnya. Callista tidak mau membuat suaminya khawatir tentang kontraksi palsu yang baru saja dialaminya. Walaupun ini kehamilan pertamanya, Callista banyak belajar.


"Sayang, maaf aku lama di kamar. Baru saja aku mendapatkan telepon dari duda Jonathan kalau dia membatalkan acara meet up yang kita buat." Sean duduk di kursi tepat di depan istrinya.


"Memangnya Jonathan kenapa, sayang?"


"Dia ada masalah di kantor Cabang perusahaannya. Dia yang harus turun tangan," ucapnya.


"Baiklah. Tak masalah, sayang. Mungkin lain waktu bisa bertemu. Sayang, aku tidak yakin bisa ikut meet up itu?" Callista memegangi perutnya.


"Memangnya kenapa, sayang?" Sean beranjak menuju dapur untuk menyiapkan makanan.


"Baby A sudah mengirimkan sinyal cintanya beberapa kali."


Sean terhenti. Dia menatap tidak percaya apa yang diucapkan istrinya. Memang ini sudah mendekati masa persalinan Callista.


"Apa itu artinya sebentar lagi baby A akan lahir?"


"Sepertinya begitu, sayang," jawab Callista. Wanita hamil itu kemudian berdiri, namun niatnya itu terhenti karena perutnya sakit lagi. Seperti mau melahirkan.


"Apa ini sakit, sayang?" tanya Sean.


Callista mengangguk. Hari ini, sudah dua kali dirinya mengalami kontraksi palsu. Sepertinya tinggal beberapa hari lagi.


Ketika Sean fokus pada istrinya, ponsel disakunya berbunyi. Ada panggilan masuk dari Vigor.


"Sayang, ada telepon dari Vigor. Boleh kuangkat?" tanya Sean.


"Angkat saja, siapa tau penting," jawab Callista.


"Halo, Vigor. Ada apa?" tanya Sean.


"Halo, Kak. Zelene sore ini sudah boleh pulang. Aku hanya mengabari kakak," ucapnya.


"Apakah kondisinya sudah lebih baik?" tanya Sean.


"Dokter bilang, Zelene sudah lebih baik. Semua jaringan di rahimnya sudah bersih, tetapi__"

__ADS_1


Ucapan Vigor yang menggantung membuat Sean semakin khawatir.


"Cepat katakan!"


"Kami harus menunggu selama setengah tahun untuk melakukan program hamil lagi," ucapnya sendu.


"Ikuti saja anjuran dokter! Hanya setengah tahun. Masih lama kamu menunggu mendapatkan Zelene. Nanti, kuusahakan mampir ke apartemenmu," balas Sean.


"Baiklah, Kak. Aku tutup teleponnya," pamit Vigor.


Sean meletakkan ponselnya di meja makan. Dia mengantar istrinya masuk ke kamar utama.


"Bagaimana kontraksinya? Apa sudah mendingan?" tanya Sean.


"Lumayan, sayang. Timbul tenggelam. Rasanya benar-benar nikmat." Callista berada di atas ranjang dengan kondisi tidur miring ke kiri. Itu yang selalu disarankan. Kalau lelah, dia merubah posisinya. "Apa kata Vigor?"


"Zelene sudah boleh pulang. Apa kamu mau ikut ke apartemennya?"


Callista sebenarnya ingin ikut, tetapi beberapa kali mengalami kontraksi palsu membuatnya berpikir ulang. Tetapi, berada di apartemen seorang diri membuatnya galau.


"Aku di apartemen saja, sayang."


"Kamu yakin akan aman sendirian di sini? Aku khawatir kalau kamu mendadak mengalami kontraksi asli, sayang." Sean tidak tega meninggalkan istrinya seorang diri, tetapi dia juga perlu berbicara dengan Vigor dan Zelene.


Apa sebaiknya aku ajak Callista ke apartemen Vigor. Setidaknya aku tidak akan menyimpan rahasia terlalu lama. Daripada Callista tau dari Zelene. Ada baiknya dia tau langsung. Apalagi selama ini Callista selalu salah paham pada tante Jelita. Dia mengira mamaku yang kejam itu. Ternyata itu bukan dirinya.


"Sayang, sebenarnya aku ada sebuah rahasia yang ingin dibicarakan dengan Zelene dan Vigor. Aku berharap kamu tau dan tidak kepikiran lagi. Aku sama terkejutnya dengan mereka jika mengetahui kenyataan yang sebenarnya." Sean berusaha mengajak istrinya secara tidak langsung.


"Hah? Rahasia apa? Itukah yang membuatmu segalau ini?" Callista duduk di ranjang. Dia menatap lekat manik mata suaminya.


Sean hanya mengangguk. Tidak ada gunanya menjelaskan perseorangan. Lebih baik, mereka berada di forum yang sama agar Sean bisa memutuskan kedepannya harus berbuat apa pada tantenya itu.


Wanita yang selama ini telah membuat kehidupannya berantakan. Zelene pergi ke luar negeri dan melupakan cintanya. Yang paling terakhir telah membuat Zelene harus kehilangan bayinya.


Callista sedang berpikir. Tak ada salahnya dia ikut ke apartemen Vigor. Setidaknya akan membuat suaminya lebih tenang jika mendadak Callista mengalami kontraksi asli.


"Baiklah, sayang. Aku ikut ke apartemen Vigor. Sebelum itu, jangan lupa belikan makanan untukku," ucap Callista membuat Sean lebih tenang.


🍓🍓🍓🍓TBC🍓🍓🍓🍓


Jonathan Anderson dari Novel Mendadak Menjadi BabySitter Anak Sang Duda, Author Syasyi


Sambil menunggu update selanjutnya, yuk kepoin karya teman emak tentang duda juga. Ceritanya gak kalah keren, judulnya Menggenggam Janji, Author Nittagiu.

__ADS_1


Terima kasih 😍😍😍😍



__ADS_2