Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Alarm Sialan


__ADS_3

Setelah terenggut ciuman pertama oleh suaminya, Olivia merasa aneh menghadapi pria itu. Acara pernikahan yang telah usai membawanya masuk ke dalam kamar hotel yang sudah dipesan atas nama Dizon Damarion. Beberapa baju ganti untuknya sudah disiapkan oleh sang Mama sebelum meninggalkannya.


Ceklek!


Dizon baru saja masuk. Dia melihat Olivia duduk di sofa kamarnya. Ranjang yang dihiasi bunga masih terlihat rapi. Tak ada pergerakan sedikitpun.


Beberapa kado pernikahan yang diterima dari tamu undangan sengaja diletakkan di lantai karena terlalu banyak. Ada salah satu kado yang menarik perhatiannya, sebuah box besar yang isinya entah apa. Biasanya sepasang pengantin akan sangat antusias untuk membuka kado-kado tersebut. Lain halnya dengan Dizon dan Olivia. Mereka terdiam di tempatnya masing-masing.


Dizon masih berdiri di belakang pintu. Dia tidak tau harus memulainya dari mana. Ini pertama kalinya dia bersama istri sahnya.


"Pergilah membersihkan diri!" ucap Dizon kaku. Pria tiga puluh delapan tahun itu sangat tidak romantis.


Olivia beranjak dari sofa untuk masuk ke dalam bathroom. Dia juga membawa baju ganti, namun dia sangat kesulitan untuk membuka resleting gaunnya yang berada di tengah punggungnya.


"Bisa minta tolong?" tanya Olivia.


Dizon mendekati istrinya. "Apa?"


"Bukakan resleting gaunku!"


Dizon sudah merenggut ciuman dokter aneh itu dan sekarang harus membuka resleting gaunnya. Nanti apalagi?


"Harus aku?" tunjuk Dizon pada hidungnya.


"Hemm, memangnya siapa lagi yang ada dikamar ini selain dirimu?" Olivia merasa kesal pada pria yang berjuluk suaminya itu.


"Wanita memang ribet!" gerutunya sembari membuka resleting gaun pengantin itu. Punggung mulus nampak jelas di sana membuat Dizon menelan salivanya.


Oh ****! Dia sangat menggoda sekali.


Pikiran mesum Dizon sudah travelling sangat jauh. Padahal Olivia sendiri sudah masuk ke bathroom.


Aku harus mendapatkannya malam ini.


Dizon duduk di sofa menggantikan istrinya. Wanita itu terlalu lama berada di bathroom. Dizon sudah sangat gerah karena sejak acara pernikahannya sampai selesai, dia belum memanjakan dirinya dengan air yang menyegarkan. Dia berdiri kemudian hendak mengetuk pintu bathroom.


Belum sempat mengetuk pintu, Olivia keluar dengan harum sampo yang menyeruak hidung Dizon. Sangat menggair*hkan.


"Kamu mau apa?" tanya Olivia.


"Mau mandilah, memang mau apalagi?" Dizon sangat ketus menghadapi istrinya.


"Dasar pria kaku," gerutu Olivia yang masih terdengar jelas ditelinga Dizon.


Lihat saja malam ini. Aku tidak akan melepaskanmu.


Dizon langsung masuk ke dalam bathroom. Si*lnya sampai dalam dia tidak membawa baju ganti. Untung saja masih ada bathrobe yang belum terpakai sama sekali.


"Eh, kenapa tidak pakai baju?" protes Olivia.


"Bajuku tertinggal di koper," ucapnya santai kemudian berjalan menuju koper dan membukanya.


Dizon kembali lagi untuk berganti pakaian. Setelah itu, dia kembali ke kamarnya. Di meja sudah tersusun makan malam untuk mereka berdua.


Dizon tak menunggu Olivia. Dia langsung memakan makanannya seorang diri.

__ADS_1


"Dasar pria tidak peka! Makan nggak ngajak-ngajak!" sindir Olivia.


"Ck, kamu bisa langsung makan, 'kan? Lagipula pihak hotel juga sudah menyediakan untuk dua porsi. Bersikaplah sedikit manis pada suamimu!" ucap Dizon kemudian melanjutkan makan malamnya.


Olivia langsung mendekati suaminya dan memegang keningnya.


"Tidak panas! Tetapi kamu sangat aneh," ucapnya kemudian menurunkan tangannya.


Dizon terkejut mendapati perlakuan seperti itu. "Kenapa kamu memegangku?" protesnya.


"Hanya memegang. Tidak mencium!" sindirnya.


Olivia lekas memakan makanannya. Dia sudah sangat lapar sekali. Tak mempedulikan lagi Dizon yang ada di hadapannya.


"Seperti tidak pernah makan saja," sindir Dizon.


"Memang tidak pernah," balasnya sengit.


Olivia harus benar-benar menjaga kondisi jantungnya setiap dekat dengan Dizon. Pria kaku itu selalu saja membuat dia bisa terkena serangan jantung sewaktu-waktu.


Apa kuutarakan saja untuk meminta hakku malam ini? Kalau tiba-tiba aku menyerangnya, terkesan seperti suami yang memerkosa istrinya. Padahal dia sudah sah sebagai istriku. Apa salahnya?


"Ehem, boleh aku mengatakan sesuatu?" tanya Dizon. Dia menghentikan makannya untuk sesaat.


Olivia menoleh. "Katakan saja!"


"Malam ini, aku meminta hakku," ucapnya.


Uhuk!


"Kenapa malah diam? Setuju tidak?" tanya Dizon lagi.


"Kamu butuh aku?" pertanyaan konyol lolos begitu saja dari Olivia.


"Memangnya aku amoeba yang bisa membelah diri!" ucap Dizon. Dia berdiri mengakhiri makan malamnya.


Olivia menatap heran, kenapa Dizon malah lebih sensitif daripada perempuan?


"Tunggu! Aku punya syarat untuk itu," ucap Olivia menghentikan langkah suaminya.


Dizon berhenti. Dia memutar tubuhnya dan melihat istrinya.


"Katakan!" ucap Dizon. Dia sangat antusias sekali.


"A-aku mau melakukannya jika dalam keadaan gelap," ucap Olivia. Dia malu harus memandang tubuh suaminya ataupun sebaliknya. Dia sangat malu sekali.


"Ck, persyaratan yang aneh! Seperti meraba sesuatu ditempat yang gelap," cibirnya.


"Terserah! Jika kamu ingin mendapatkannya malam ini. Setuju atau tidak?" ucap Olivia yang baru saja menyelesaikan makan malamnya.


Dasar wanita aneh. Bisa-bisanya dia memberikan syarat yang aneh seperti itu.


"Baiklah. Tepat jam sebelas malam kita mulai," ucapnya.


Dizon masuk lagi ke bathroom. Dia ingin menyegarkan pikiran dan hatinya di ruang berair itu.

__ADS_1


"Malam ini aku akan mendapatkannya, Sean. Seperti ucapanmu, aku tidak akan menundanya," ucap Dizon. Dia masih berada di depan cermin sebelum berendam yang sangat lama.


Sementara Olivia sibuk di kamarnya berputar ke sana kemari. Dia sangat galau karena malam ini untuk pertama kalinya akan melayani suaminya.


Tepat jam sebelas malam, Dizon baru saja keluar dari bathroom. Dia mengenakan bathrobe-nya dengan rambut yang masih basah.


"Bersihkan dirimu dulu. Jangan lama-lama!"


Olivia masuk ke bathroom. Sementara Dizon sudah duduk di ranjang yang penuh dengan bunga-bunga itu.


Olivia baru keluar di menit ke lima belas. Dia sama dengan suaminya hanya memakai bathrobe saja.


Dizon menyanggupi syarat istrinya. Setelah Olivia duduk di ranjang, Dizon mematikan seluruh lampu kamar itu sampai terlihat gelap.


Dizon meraba tangan istrinya dan dia berhasil. Instingnya bekerja dengan baik.


Pria itu mulai memberikan sentuhan nakal pada istrinya. Olivia merasakan sengatan yang luar biasa. Dia mulai menikmati permainan suaminya. Perlahan, Dizon membuat istrinya menjadi polos. Dia juga memberikan ciuman nakal pada istrinya itu. Dizon benar-benar membuat wanita itu meleng*h nikmat.


Ketika hendak melakukan penyatuan, Dizon meminta izin terlebih dahulu. Dia memang pria kaku, setidaknya bisa membuat istrinya nyaman.


"Boleh aku melakukannya?" tanya Dizon dalam kegelapan.


"Lakukan saja," jawab Olivia.


Dizon bersiap melakukan penyatuannya. Entah sudah berapa lama mereka melakukan pemanasan, ketika hendak memasuki inti istrinya, sesuatu menghentikan kegiatannya.


Seperti bunyi alarm jam yang saling bersahutan. Semakin lama semakin keras bunyinya.


"Apa kamu sengaja menyetel alarm di jam seperti ini?" Dizon bangkit dan hendak mematikan alarm itu. Sangat mengganggu sekali.


"Apa kamu pikir hotel ini menyediakan jam beker?" tanya Olivia.


Keduanya kembali memakai bathrobe masing-masing. Dizon menyalakan kembali lampu kamarnya. Malam ini, dia gagal melakukan penyatuan karena alarm sialan itu.


Dizon mencari sumber suara dan mendapatinya di tumpukan semua kado di kamar itu. Bunyi alarm itu terus saja bersahutan. Dizon melihat tepat jam dua belas malam.


Bergegas diambilnya box besar itu. Dia yakin bunyinya berasal. dari dalamnya.


"Apa itu asal bunyinya?" tanya Olivia.


"Dengarkan saja!" Dizon mendekatkan box itu pada istrinya.


Perlahan keduanya mulai membuka isi box itu untuk mematikan alarmnya.


Glek!


Dizon dan Olivia terkejut mendapati isinya. Beberapa jam beker yang sedang bersahutan bunyinya, buah-buahan, bumbu rujak manis, dan sebuah kotak yang lumayan sedang ukurannya.


Olivia membuka kotak itu. Isinya adalah lingerie dengan berbagai warna dan modelnya.


Dizon sudah badmood dengan kejadian yang sangat mengganggunya itu. Sebenarnya dia masih ingin melanjutkannya, keburu Olivia terlihat tidak nyaman.


"Aku ke kamar mandi dulu," pamitnya.


Dizon harus bekerja seorang diri di dalam sana.

__ADS_1


🐍🐍🐍🐍🐍TBC🐍🐍🐍🐍🐍🐍


__ADS_2