
"Lepaskan! Malu dilihat banyak orang," ucap Kayana.
"Jangan diulangi lagi!"
"Harusnya aku yang bilang seperti itu!" balas Kayana.
Felix melepaskan pelukannya kemudian menggandeng mesra tangan istrinya. Dia melihat jam tangan menunjukkan waktu prosesi pernikahan kakaknya akan segera tiba.
"Ayo! Dokter Olivia pasti sudah datang. Kita terlalu lama meninggalkan ballroom."
Sepasang suami istri yang tengah cemburu itu harus rela kehilangan momen saat sang kakak baru saja selesai melakukan prosesi pernikahannya. Itu artinya kakaknya dan dokter Olivia telah resmi menjadi sepasang suami istri.
"Kita terlambat, sayang," ucap Felix. Dia melihat kakaknya sudah menjalani foto bersama keluarganya.
"Darimana saja, Felix?" tanya Mama Carlotta.
"Ada urusan sebentar, Ma," ucap Felix ketika sudah sampai di pelaminan sang kakak.
"Langsung saja kalian berfoto sama kakakmu, setelah itu giliran tamu undangan."
Sesi foto bersama keluarga telah berakhir setelah Felix dan istrinya. Kemudian tamu undangan dipersilakan untuk memberikan ucapan selamat dilanjutkan dengan foto bersama.
Papa Denzel terlihat tidak senang dengan keberadaan menantu dari putra bungsunya. Dia bahkan tidak memberikan kesempatan pada menantunya itu untuk dikenal banyak orang walaupun mereka semua tau jika Kayana adalah menantu pertama keluarga Damarion.
Lain halnya dengan Mama Carlotta. Dia selalu sayang kepada menantunya itu. Wanita paruh baya itu mengajak Felix dan Kayana untuk mendekati Sean dan keluarganya. Dia ingin mengucapkan terima kasih padanya.
"Sean...," panggil Mama Carlotta.
"Tante... Selamat atas pernikahan Dizon," balas Sean.
"Apa kalian sangat menikmati acaranya?" tanya Mama Carllota. Wanita itu berusaha memastikan akan semua tamu undangan merasa nyaman.
"Tentu, tante. Kami sangat menikmatinya," balas Zelene.
"Tante, lihatlah ke pelaminan! Sepasang suami istri itu masih terlihat kaku," ucap Vigor. Dia merasa menang bisa membuat Dizon berada dikondisi seperti itu.
Mama Carlotta tersenyum ketika melihat putra sulungnya bersikap seperti itu di sana.
"Itu awal yang baik, 'nak," balas Mama Carlotta. "Sean, tante mengucapkan terima kasih banyak padamu. Tanpa campur tanganmu, mereka tidak akan seperti itu."
"Iya, Kak. Felix juga mengucapkan terima kasih," ucap Felix.
"Sama-sama, tante. Felix, kamu jangan sungkan. Selagi aku bisa menolong, akan kubantu semampuku," balas Sean.
Percakapan mereka terhenti ketika keluarga dokter Olivia meminta besannya untuk naik ke pelaminan.
__ADS_1
Beberapa ucapan selamat datang dari keluarga kedua mempelai. Termasuk beberapa tamu undangan dan kolega Damarion Corporation.
Nampak mantan terindah Kayana yang sedang memberikan ucapan selamat pada sepasang pengantin itu. Callista mengingat wajah pria yang saat ini berada di pelaminan.
"Kay... Galen tambah cakep, ya!" ucap Callista membuat Sean menoleh ke arahnya dan menatap tajam pada istrinya. Callista menunjuk ke arah pelaminan dan meyakini jika dia tidak salah orang.
Felix melakukan hal yang sama menatap mata istrinya dengan tajam. Sean bahkan tidak tau ada hubungan apa antara Callista dengan pria yang ditunjuknya barusan.
"Dia memang selalu keren, Call." Kayana berusaha membumbui ucapan sahabatnya itu supaya suaminya semakin cemburu.
Fix. Dua pria terjerembab pada jebakan kedua wanita. Jebakan yang tidak di sengaja. Sean mulai kesal ketika istrinya menyebutkan pria lain di hadapannya.
"Siapa pria yang kamu maksud?" tanya Sean dengan suara baritonnya itu memecah fokus Callista untuk memandang mantan sahabatnya.
"Hah?" Callista menatap bingung pada suaminya. Dia hanya reflek menunjukkan Galen pada Kayana. Tak ada maksud apapun, tetapi tatapan mata suaminya yang seolah mengintimidasi dirinya membuat Callista tersenyum pasrah.
"Dia mantan terindahku, Om Sean. Jangan baper gitu, dong!" balas Kayana.
Felix semakin kesal manakala Kayana mengulang menyebut pria itu sebagai mantan terindahnya. Hati yang tidak bisa dikondisikan dan terlihat sangat marah tanpa alasan.
Kenapa aku jadi seperti ini? Aku kesal pada Kayana karena menyebut pria itu mantan terindahnya.
Untuk memecah keheningan, dia meminta keluarga Armstrong untuk memberikan ucapan selamat pada kakaknya.
"Kak Sean, ajak semuanya naik ke pelaminan. Giliran kalian mengucapkan selamat pada kakakku," ucap Felix. Dia ingin hanya berdua saja dengan Kayana, istrinya.
"Ayo sayang... Vigor dan Zelene, kita ucapkan pada pengantin baru," ajak Sean.
Mereka langsung bergantian menjabat tangan orang tua Dizon, kemudian beranjak ke sepasang pengantin.
Dizon sangat kaku menghadapi Sean. Pria itu sebenarnya malas bertemu lagi dengannya. Tetapi bukan Sean namanya jika tidak berbuat usil. Dia menjabat tangan Dizon kemudian memeluk pria itu dan membisikkan sesuatu.
"Jangan tunda malam pertamanya!" bisik Sean.
Si*l! Kenapa dia bisa mengucap kata seperti itu? Batin Dizon.
Setelah puas membuat Dizon kesal, Sean mengucapkan selamat pada dokter Olivia.
"Selamat, dokter. Akhirnya kesampaian juga menikah," ucap Sean.
"Terima kasih, Sean," jawab singkat dokter Olivia. Dia sulit bersikap biasa saja di hadapan suaminya.
Setelah Sean, bergantian Callista, Vigor, dan Zelene. Kemudian mereka melakukan foto bersama. Setelah itu, mereka kembali ke tempat semula untuk menikmati hidangan yang sudah disediakan.
"Apa yang kakak bisikkan pada pria aneh itu?" tanya Zelene.
__ADS_1
"Aku hanya memintanya untuk tidak menunda malam pertamanya," ucap Sean dengan senyum mengembang.
Callista dan Vigor fokus menyimak ucapan kakak beradik itu.
"Pantas saja, dia langsung terlihat kesal," ucap Zelene.
Ketika sedang menikmati makanannya, tiba-tiba seorang pria menghampiri Callista.
"Callista? Apa kabar?" tanya pria itu dengan ramah.
Callista menoleh dan merespon ucapan pria itu.
"Galen... Aku baik. Bagaimana denganmu?" tanya Callista.
"Boleh gabung di sini?" Galen datang seorang diri.
"Tidak! Carilah tempat lainnya," jawab Sean. Pria matang itu seperti anak kecil yang tidak mendapatkan uang jajan dari ibunya.
Mendapat penolakan suaminya, Callista terlihat sangat bingung bagaimana harus bersikap.
"Kenapa tidak boleh?" tanya Callista.
"Karena...." Belum sempat Sean menyelesaikan ucapannya, suara mikrofon memanggil mereka untuk bersiap menyambut lemparan buket bunga pengantin. "Nah, ayo kita lihat!" Sean mengalihkan pria itu untuk tidak mendekati istrinya.
Semua berkumpul untuk menikmati pemandangan yang selalu dinanti pada setiap momen pernikahan, termasuk pasangan muda-mudi yang sedang kasmaran maupun jomblowers yang berharap mendapat pasangan secepatnya.
Kayana dan Callista nampak terkejut manakala Galen Austin masuk di area orang-orang yang sedang menunggu lemparan buket bunga. Yang tak kalah mengejutkannya lagi, Felix lebih syok mendapati mantan kekasih istrinya berada di kerumunan orang-orang itu.
Pria itu? Apakah belum menikah?
Ketika pelemparan terjadi dan bom... Ternyata buket bunga itu tepat berada di tangan Galen Austin yang menyebabkan beberapa pasang mata terlihat sangat heran.
Mereka masih dalam pikiran masing-masing, jika bukan karena ulah sang MC yang akan membuat kakaknya akan melakukan ciuman pertama pada calon istrinya, Felix tidak akan mengalihkan pikirannya.
Semua orang bersorak sorai untuk membuat sepasang pengantin itu berciuman.
"Cium... Cium... Cium...," teriak tamu undangan.
Sebenarnya Dizon tak akan ada pikiran bakal ada momen seperti ini. Olivia berusaha mengalihkan pandangannya agar suaminya tidak menciumnya di hadapan banyak orang. Dia terlalu keder mendapatkan serangan mendadak.
Pada akhirnya, Dizon memanfaatkan situasi sebaik mungkin. Dia langsung menyambar bibir istrinya dan melum*tnya dengan sangat lembut membuat Olivia terkejut luar biasa.
Sorakan tamu undangan terdengar sangat meriah membuat Dizon lekas melepaskan ciumannya.
Dasar pria! Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Batin Olivia.
__ADS_1
🍅🍅🍅🍅🍅🍅TBC🍅🍅🍅🍅🍅