Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Ketakutan terbesar


__ADS_3

Callista menceritakan awal mula ikut situs kencan buta yang judulnya Kilat Jodoh, sampai akhirnya dia nekat untuk menemui orang yang dikiranya Daddy Gula di hotel Starlight. Sean waktu itu masih menganggap Callista adalah wanita malam yang dikirim Mami Vee untuknya. Keesokan hari, dia harus menikah dengan pria yang baru saja dikenalnya itu dan terikat sebuah kontrak pernikahan, yang waktunya tidak tertulis jelas sampai kapan akan berakhir.


Anehnya, saat itu Callista tidak menolak atau bahkan memberontak. Callista sudah terhipnotis dengan ketampanan duda matang itu. Prinsip hidupnya yang pernah dikhianati membuat dia lebih menerima suaminya yang sekarang daripada mantan kekasihnya yang brengs*k itu.


"Ini gila! Kak Sean malah mencari anak buah Mami Vee. Kakak sudah tidak waras! Eh, tapi kenapa kakak tidak menolak pernikahan dadakan itu? Apa kakak tidak takut jika Kak Sean adalah orang jahat?" protes Zelene yang mendengarkan secara seksama semua cerita kakak iparnya.


"Eh, tapi aku bukan anak buah Mami Vee, loh. Aku benar-benar lewat situs kencan buta Kilat Jodoh itu. Alasannya kenapa aku tidak bisa menolak? Ya karena cita-citaku menikah dengan duda. Aku pernah sakit hati ditinggal selingkuh kekasihku. Lagipula, aku pikir dia adalah Daddy Gula," Callista berkata jujur. Dia tidak ingin adik suaminya menganggap dia bukan wanita baik-baik.


Wait? Jika Kak Sean tidak pernah mengikuti situs kencan buta, lalu siapa yang membuatnya masuk ke sana?


Zelene sedang memikirkan dalang yang sudah menyelamatkan kakaknya dari jeratan wanita malam anak buah Mami Vee.


Astaga! Apa dia orangnya?


"Apa kau memikirkan sesuatu, Ze?" Zelene-lah yang meminta kakak iparnya untuk memanggil dirinya seperti Kak Sean-nya.


"Iya kakak ipar. Jadi sebenarnya kakakku bukan tipe orang yang percaya akan situs kencan seperti itu... Menurutnya dunia maya tidak seperti kenyataan. Makanya, dia lebih memilih memakai jasa Mami Vee. Ya walaupun pada akhirnya dia bakal mendapatkan wanita malam. Tapi pria itu..., ah aku sangat terkesan padanya," Zelene mengatakan apa adanya tentang kakaknya.


"Siapa yang kau maksud, Ze? Aku tidak mengerti arah pembicaraanmu?" Callista bingung. Kenapa Zelene malah seperti meng-elukan orang lain daripada kakaknya.


"Iya, Pria cerdas itu. Beda dengan kakakku yang bodoh!" Zelene menertawakan kakaknya.


"Ish, bodoh-bodoh begitu dia cakep, Ze." protes Callista.


"Ah, iya. Maaf kak. Aku tidak bermaksud menjelekkan suamimu yang sok romantis itu. Ck, apa dia mengalami puber kedua?" Lagi-lagi Zelene mengejek kakaknya.


"Apa kau tidak lapar? Dari tadi kita ngobrol terus. Aku buatkan makan siang dulu ya?" Callista tak enak hati. Sejak tadi membiarkan adik iparnya mengobrol dengan dirinya. Walaupun dia sudah menyuguhkan cemilan dan minuman.


"Nggak usah, Kak. Kita ngobrol aja. Kalau kakak ingin sesuatu aku bisa pesankan secara online," Zelene memberikan solusi karena dia masih ingin berbicara banyak dengan kakak iparnya.


"Baiklah. Kalau begitu, boleh aku bertanya sesuatu?"

__ADS_1


"Silakan, Kak. Apapun itu...," Zelene memaklumkan jika kakak iparnya belum tau banyak tentang keluarganya.


"Ceritakan mengenai Mama mertuaku dan mantan istri suamiku?" Callista ingin mengetahui semuanya. Jika kelak dia akan bertemu langsung maka dirinya sudah siap menghadapi mereka.


Astaga kakak ipar... Aku harus mulai darimana menceritakannya? Apa aku harus berkata jujur jika sampai sekarang aku belum menikah juga karena ulah Mama? Apa kakak ipar tidak semakin takut dan malah meninggalkan Kak Sean. Aku tidak mau itu terjadi....


"Maaf, Kak. Mamaku tidak seperti yang kakak bayangkan. Dia wanita perfeksionis yang selalu memandang sesuatu yang berbeda, tidak seperti kita. Dimatanya semua harus terlihat sempurna. Tapi, kakak tak perlu khawatir. Jika sudah saatnya, aku akan mempertemukan kakak dengan Mama," ucap Zelene.


Bagaimana nasib gue jika bertemu Mama mertua, yak? Apa bakalan di cincang habis seperti bawang. Mendengar ceritanya, horor sekali.


"Lalu, bagaimana dengan mantan istrinya?" Callista penasaran dengan masa lalu Sean.


Hais, kenapa aku harus menceritakan orang itu lagi sih?


"Kenapa kakak ingin tau tentang mantan istrinya Kak Sean? Toh ini tidak ada hubungannya dengan kakak, kan?" Menurut Zelene, mantan istri tak penting itu tidak pantas untuk diceritakan.


"Dia menemui kakakmu dan meminta rujuk!" Terlihat wajah kecewa yang ditunjukkan Callista pada adik iparnya.


Zelene terkejut. Bahkan kakaknya belum menceritakan padanya mengenai masalah ini.


"Kak, lain waktu aku akan menceritakan tentang mantan istri Kak Sean," Zelene harus bertemu dengan Vigor terlebih dahulu.


Setelah obrolan panjang, Callista meminta Zelene untuk membersihkan diri dulu sebelum Kakaknya pulang. Rencana untuk memesan makanan Online juga ditolak Callista. Dia lebih memilih menyiapkan sendiri makanannya.


"Baiklah, Kak. Aku akan membersihkan diri di kamar tamu," ucap Zelene. Dia tau jika kamar kakaknya sangat privasi. Apalagi setelah Kakaknya memiliki seorang istri.


Callista pergi ke dapur untuk menyiapkan beberapa makanan. Dia khawatir jika suaminya akan pulang lebih cepat dari biasanya. Selesai memasak, dia kembali ke kamar utama untuk membersihkan diri.


Callista juga menyiapkan baju casual untuk dipakai suaminya. Jika biasanya suaminya mengambilnya sendiri, maka kali ini dia akan belajar menjadi istri yang baik.


Setelah aktivitasnya di kamar utama selesai, Callista keluar dan memastikan apakah adik iparnya juga sudah selesai.

__ADS_1


Zelene tampak menikmati seluruh pemandangan yang dilihat di dalam apartemen kakaknya. Termasuk kamar tamu yang terlihat selalu bersih dan nyaman dengan beberapa furniture nya.


Kakak sudah banyak berubah. Semoga pernikahannya kali ini berjalan dengan lancar dan aku segera mendapatkan keponakan.


Zelene lupa jika dirinya tidak memiliki baju ganti. Dia keluar kamar tamu untuk mencari kakak iparnya.


Keduanya tak sengaja bertemu di ruang tengah.


"Ze, apa kau sudah selesai?" Callista melihat jika adik iparnya masih memakai pakaian yang sama. "Astaga! Maafkan kakak. Akan kakak ambilkan baju ganti untukmu."


"Kakak bisa membaca pikiranku?" tanya Zelene yang seolah kakak iparnya itu mengerti tujuannya.


"Ish, memangnya kau pikir aku paranormal?" Callista tertawa.


"Setidaknya kakak bisa bersikap normal di depan Kak Sean yang aneh itu!" Zelene selalu saja memojokkan kakaknya.


"Astaga! Menurutmu aku tidak waras?" ledek Callista.


"Tidak seperti itu, kakak ipar. Sudahlah, aku minta tolong lekas ambilkan baju ganti untukku. Rasanya gerah sekali, Kak," pinta Zelene.


"Baiklah," Callista masuk ke kamar utama. Dia menuju walk in closet untuk mengambil paper bag yang berisi baju baru.


Setelah kembali, dia memberikan paper bag itu kepada adiknya.


"Pakailah ini," ucap Callista.


Sebelum Zelene kembali ke kamar tamu, kakaknya baru saja masuk ke ruang tamu. Sean memanggil istrinya karena dia mengajak seseorang yang akan bertemu dengan adiknya, Zelene.


"Sayang, kemarilah! Aku mengajak seseorang," teriak Sean.


Zelene langsung kembali ke kamar tamu, Callista menemui tamu yang diajak suaminya.

__ADS_1


"Om kurir...," ucap Callista.


Ngapain Om Sean bawa kurir ini lagi?


__ADS_2