
Sean masih melanjutkan obrolannya sebelum pindah ke ruangan sebelah. Ruangan yang berisi wanita penggoda yang pernah datang ke kantornya tempo hari. Sean ingin tau atas perintah siapa wanita itu melakukannya.
Hari sudah semakin gelap, Sean masih fokus menyelesaikan masalahnya.
Ceklek!
Wanita itu langsung melihat ke arahnya.
"Lepaskan ikatan di mulutnya!" perintah Vigor.
"Lepaskan aku!" teriak wanita itu. "Aku tidak ada urusannya dengan kalian!"
"Ck, semudah itu kau mengatakan itu, Nona?" ucap Sean.
"Apa maksudmu, Tuan Sean?" tantang wanita seksi itu.
"Kau hanya tinggal mengakui, siapa orang yang memintamu untuk datang ke kantorku tempo hari? Setelah kau mengatakan yang sebenarnya, aku akan melepaskanmu," ucap Sean.
Vigor baru ingat ketika dia datang terlambat pada waktu itu. Sekarang dia sudah memahami benang merah yang dimaksud Bosnya.
"Aku tidak akan mengatakannya, Tuan," wanita itu menolaknya. Dia sudah berjanji pada perempuan itu untuk tidak mengatakannya.
"Vigor, kumpulkan semua pria yang ada di sini! Buat dia mengakui sekarang atau dia akan mati!" ancam Sean. Dia hanya menggertak wanita itu untuk mengakuinya saja.
"Apa yang akan mereka lakukan padaku?" tanya wanita itu mulai ketakutan.
"Mereka akan bergiliran membuatmu mendes*h. Bukankah itu pekerjaanmu selama ini? Kalau kau ingin secepatnya bebas, katakanlah!" rupanya ancaman Sean sedikit membuat nyali wanita itu menciut.
Wanita itu melihat ada sekitar lima belas orang yang berdiri berjajar di antara Sean. Seorang duda berkharisma yang ternyata diam-diam telah menikah lagi.
Kalau aku menolak untuk mengakuinya, bisa habis dengan anak buah mereka yang terlihat bengis seperti itu. Tidak akan ada untungnya juga untukku melayani mereka tanpa bayaran sepeserpun. Yang ada, aku bisa mati mendadak. Batin wanita itu.
"Baiklah. Aku akan mengaku, tetapi aku minta syarat," ucap wanita itu.
"Apa syaratnya?" tanya Sean.
"Berikan aku sejumlah uang dan aku akan mengakui semuanya."
"Berapa yang kau minta?" tanya Sean.
"Aku hanya butuh sepuluh miliar," ucap wanita itu sekenanya. Dia tau, Sean Armstrong adalah pebisnis yang kekayaannya sudah tidak bisa dihitung dengan jari, apalagi menggunakan kalkulator. Semuanya tidak bisa terdeteksi, tetapi tidak akan pernah habis untuk berpuluh keturunannya.
__ADS_1
"Ck, wanita yang sangat matre," ucap Sean. Dia sedang menimbang permintaan wanita itu.
Sebenarnya memberikan uang sebanyak itu tidak bagus untuk wanita seperti itu. Dia akan tetap memaksa orang lain untuk memberikannya lagi. Terlalu banyak untuknya!
"Aku tidak bisa memberikan sebanyak itu. Aku akan memberikanmu satu miliar. Kalau kau mau, silakan katakan. Jika tidak, aku sudah menyiapkan lima belas orang yang akan membuatmu kewalahan. Masing-masing dari mereka akan membayar jasamu dan totalnya masih lebih banyak satu miliar yang kutawarkan. Bagaimana?" Sean bernegosiasi.
Si*l! Pria ini ternyata terlalu cerdas dari yang kubayangkan. Melayani lima belas orang, aku hanya akan mendapatkan sekitar empat ratus lima puluh juta, tetapi nyawaku menjadi taruhannya. Ini sangat gila. Baiklah, tak ada pilihan lain. Aku akan menerimanya.
"Baiklah! Satu miliar. Deal!" ucapnya.
"Katakanlah!" perintah Sean.
"Mamamu yang memintaku untuk merayumu," ucap wanita itu.
Deg!
Sean sangat terkejut mendengar ucapan wanita itu. Mamanya tega sekali melakukan perbuatan keji untuk memisahkannya dengan Callista, istrinya. Mengingat Callista, dia baru sadar jika hari sudah sangat malam. Wanita itu pasti sangat mengkhawatirkan dirinya.
"Vigor. Berikan satu miliar sesuai permintaan wanita itu. Kemudian lepaskan!" perintahnya.
Sean bergegas keluar dari ruangan itu dan mengecek ponselnya. Pasti istrinya sangat mengkhawatirkan keberadaannya.
Si*l. Ponselnya ternyata mati. Dia akan kesulitan jika sudah seperti ini. Bergegas Sean kembali menemui Vigor.
Vigor mengambil ponselnya dari saku jas yang dipakainya. Ternyata, ponselnya juga mati.
"Mati, Bos!" ucapnya.
Sean memijit pelipisnya. Dia sudah terlalu lama berada di luar.
"Pinjam anak buahmu sebentar!"
Vigor meminjam dari salah satu anak buahnya. Untung saja Vigor segera mendapatkannya.
Sean hanya mengingat nomor ponsel adiknya, Zelene.
Sekitar lima menit mendial nomor adiknya, wanita itu baru mengangkatnya.
"Halo, siapa?" tanya Zelene karena dia tidak kenal nomor baru itu.
"Sean, Ze," ucapnya.
__ADS_1
"Kakak... Suamiku ada bersamamu? Apa dia baik-baik saja? Sejak tadi aku berusaha menghubunginya, tetapi ponselnya mati," cerocos Zelene.
"Ze, kau tenang dulu. Biar kakak yang bicara. Suamimu aman bersamaku. Tolong, sekarang pergilah ke apartemen kakak. Temui kakak iparmu. Dia pasti sangat khawatir mencari keberadaan kakak. Ponsel kakak mati," ucapnya.
"Oh, astaga! Bumil itu pasti nangis bombay," teriak Zelene membuat kakaknya menjauhkan ponselnya.
"Ze, cukup! Jangan teriak seperti itu lagi! Telinga kakak sampai pusing dengernya. Bilang sama kakak ipar, kakak akan sampai rumah sekitar pukul tiga pagi. Jangan khawatirkan kakak. Kakak baik-baik saja," ucap Sean mengakhiri teleponnya.
Setelah itu, Sean mengembalikan ponselnya lagi pada Vigor.
"Secepatnya kita pulang. Urus saja yang bisa mereka selesaikan. Mengenai uang satu miliar itu, berikan padanya esok hari," ucapnya.
"Lalu mengenai Juvenal, bagaimana? Besok tempat ini akan menjadi tempat perjodohan satu miliar itu. Harus segera dikosongkan," ucap Vigor mengingatkan.
"Pindahkan pria itu ke kota. Kita tunggu kedatangan Diana setelah itu. Untuk wanitanya, lepaskan setelah uang satu miliar kau serahkan padanya. Aku sudah tidak ada urusan lagi dengan wanita itu," ucap Sean.
"Baiklah, Bos! Sesuai perintah," Vigor bergegas pergi menemui anak buahnya. Dia menyampaikan semua permintaan Bosnya kepada mereka. Setelah itu, Vigor kembali ke tempat semula. Dia sudah tidak melihat keberadaan Bosnya.
Sean sudah menunggunya di mobil. Dia baru saja menyambungkan ponselnya dengan charger yang ada dimobilnya. Segera dibukanya ponsel itu. Benar saja, banyak pesan dan panggilan yang masuk dari istrinya.
"Sebaiknya aku balas pesannya," ucap Sean.
[Sayang, maafkan aku. Aku akan sampai rumah tepat pukul tiga pagi. Jangan khawatirkan suamimu, Zelene akan menemanimu malam ini. Istirahatlah dan jangan terlalu khawatir] pesan terkirim untuk istrinya.
Sean tidak akan menelepon istrinya dalam kondisi seperti ini. Wanita itu pasti akan membombardir beberapa pertanyaan yang malah akan membuatnya semakin pusing harus menjelaskannya dari mana dan kemana. Akan lebih baik mengirimkannya pesan pada wanita itu.
"Bos, langsung balik, ya!" ajak Vigor.
Sean lebih dulu mengendarai mobilnya. Vigor duduk tepat disebelahnya.
"Apa Zelene mengkhawatirkanku?" tanya Vigor pada Sean.
"Kau pikir semua istri tidak akan khawatir jika tidak mendapatkan kabar suaminya?" sindir Sean.
"Ah, iya. Maafkan aku, kakak ipar," ucapnya.
"Kita mampir cari makan dulu. Aku sudah kelaparan sejak tadi," ucap Sean.
Sepanjang perjalanan menuju ke gudang kosong, keduanya melupakan hal yang sepenting itu. Sehingga dalam perjalanan pulang, mereka menyempatkan diri untuk mengisi perutnya.
Sean akan mencari restoran terdekat. Dia sudah sama kelaparannya dengan Vigor.
__ADS_1
Menyelesaikan masalah juga butuh asupan yang cukup. Jika tidak, tubuh tak akan mampu menopang beban hidup. Batin Sean.
🍓🍓🍓🍓🍓TBC🍓🍓🍓🍓