
Callista tersenyum penuh kemenangan setelah Vigor pergi ke restoran XX. Kini tidak akan ada pengganggu lagi antara dia dan suaminya.
"Sayang, jika baby kita perempuan akan kamu beri nama siapa?" tanya Callista di tengah kegabutan yang melanda.
"Memangnya kamu sangat yakin jika baby kita perempuan?" tanya Sean sembari membolak-balikkan beberapa berkas yang tak dibacanya.
"Tidak juga, sih. Tetapi kita perlu menyiapkan dua nama. Siapa tau anak kita kembar," ucap Callista semringah.
"Ck, mana mungkin. Dalam keluargaku tidak ada gen kembar. Jangan terlalu berharap!" balas Sean.
"Baiklah... Kita bikin satu nama untuk baby perempuan dan laki-laki," ucapnya. Callista benar-benar sangat cerewet kali ini.
Sean ingin agar istrinya untuk diam sesaat, tetapi agaknya akan membuat wanita itu ngambek yang tak berujung. Itu malah akan membuatnya berada dalam kesulitan.
Sepertinya hari ini dia harus menunda beberapa berkas penting yang akan dicek. Ketika hendak fokus pada berkasnya, Callista bertanya lagi dan lagi. Sean bukan pria multitasking yang bisa bekerja sambil berbicara. Dia harus fokus pada salah satunya.
"Baby G atau baby B," jawab Sean asal.
"Nama panjangnya?"
"Baby Girl atau baby Boy," jawab Sean lagi.
"Ish, kenapa hanya begitu? Kurang kreatif... Masih kalah sama yang lagi viral. Namanya panjang banget."
"Siapa?"
"Baby El."
"Itu pendek, sayang. Aku bisa bikin nama yang lebih panjang," jawab Sean. Dia menyerah meletakkan semua berkasnya.
"Kenapa hari ini kamu terlihat sangat malas, sayang? Harusnya bekerja lebih keras dari biasanya. Sebentar lagi anak kita lahir. Butuh banyak biaya," cerocos Callista.
"Ck, aku lelah. Sejak tadi kamu ajak bicara terus. Mana bisa fokus kerja? Kalau soal biaya, kenapa harus khawatir? Suamimu ini sangat kaya."
"Hemm, sombong!" cibirnya.
"Sombong sebanding dengan kekayaan tak masalah. Tak akan ada yang berkomentar. Iya, 'kan?" balas Sean.
Benar juga. Dulu ketika aku tidak memiliki apa-apa, semua mencibirku. Sekarang semuanya mendekat padaku.
"Kenapa diam? Sudah lelah?" tanya Sean. Dia berharap istrinya segera menyerah dan mengakhiri perdebatan yang tak berujung ini.
Callista menggeleng. "Belum."
Sean langsung meletakkan kepalanya di atas meja kerjanya. Sepertinya dia butuh liburan. Pertanyaan yang memojokkan istrinya malah membuat dia bertanya lagi dan lagi.
"Kita pulang!" ajak Sean.
"Tidak mau... Jus lemonku belum datang. Mana bisa ditinggalkan begitu saja. Adik ipar menang banyak dong," ucapnya.
Oh God... Kenapa istriku berubah aneh seperti ini? Dia sangat cerewet sekali.
__ADS_1
"Kita bisa bikin jus lemon yang paling enak di apartemen," ucap Sean.
Iming-iming yang menggiurkan, tetapi sayang Callista tidak tergoda sedikitpun.
"Enggak mau. Aku mau menunggu adik ipar," jawabnya.
Sean kehabisan akal. Sejak pagi belum menyelesaikan apapun dari pekerjaan yang seharusnya.
"Baiklah, setelah kupikir ulang... Anak kita akan kuberi nama baby A. Baik laki-laki atau perempuan, tetap baby A namanya," ucap Callista.
"Terserah kamu saja, sayang," ucapnya.
"Kamu tidak protes?" tanya Callista.
Oh God... Hari ini benar-benar aneh.
Ketika sedang berdebat, seseorang mengetuk pintu ruangannya.
Tok tok tok.
Sean dan Callista saling pandang. Memang sudah sejak tadi tidak ada tamu yang datang. Siapa orang dibalik pintu?
"Masuk!" ucap Sean.
Ceklek!
Vigor menampakkan wajah kusutnya. Setelah memesan nasi box dan membagikannya, pria itu membawa dua box makanan dan satu minuman pesanan kakak iparnya.
"Sudah dibagikan pada karyawan," ucapnya lelah.
"Bagus. Adik ipar memang gercep!" balas Callista.
Callista berdiri untuk mengambil jus lemon yang dipesannya. Setelah itu dia kembali ke sofa dan membukanya.
Callista langsung kusut. Ekspektasi akan minum jus lemon dingin, kenyataannya sudah tidak dingin lagi. Dia langsung meletakkannya kembali ke atas meja.
"Loh, kenapa tidak diminum? Vigor sudah capek membelikannya," ucap Sean.
"Malas saja. Tidak sesuai dengan ekspektasi. Aku mau pulang," ucapnya.
"Kenapa?" tanya Sean dan Vigor bersamaan.
"Esnya sudah tidak dingin!" Callista langsung cemberut menatap jus lemon yang nasibnya akan berakhir sia-sia.
Sebentar lagi bom akan meledak. Secepatnya Sean meminta Vigor untuk kembali ke ruangannya.
"Kembalilah ke ruanganmu! Terima kasih sudah mewujudkan ngidam istriku," ucapnya.
Vigor berdiri dan keluar dari ruangan Sean.
Sean beranjak dari kursinya untuk mendekati sang istri.
__ADS_1
"Kita pulang sekarang?"
Callista mengangguk. Dia sudah tidak mood lagi berada di ruangan suaminya.
Terima kasih, Vigor. Sekarang kami bisa pulang ke apartemen.
Sean menggenggam tangan istrinya. Sebelum itu, dia mampir ke ruangan Vigor untuk berpamitan. Hanya beberapa menit, mereka sudah masuk ke dalam mobil.
"Kenapa nekat ikut ke kantor kalau ujung-ujungnya bosan?" tanya Sean yang sudah mulai mengendarai mobilnya.
"Hanya ingin saja. Memangnya tidak boleh?"
"Tidak masalah, tetapi aku tidak bisa fokus untuk bekerja." Sean mengeluhkan keadaannya hari ini. Beberapa berkas terbengkalai.
Callista terdiam. Sesaat dia ingin ikut suaminya ke kantor. Mendengar ucapan suaminya barusan, dia juga merasa bersalah. Callista akhirnya diam.
"Loh, kenapa diam? Apa ada yang salah dengan ucapanku?" tanya Sean.
Callista menggeleng, tetapi Sean tidak melihatnya. "Aku tidak akan ikut ke kantor lagi," ucapnya dengan suara parau.
"Kamu sedih? Jangan khawatir, aku tidak akan mempermasalahkannya lagi. Lain waktu kalau kamu mau ikut, nggak apa-apa, sayang," ucap Sean. Dia harus menjaga mood istrinya dengan baik.
"Tidak lagi," ucapnya dengan suara lirih.
Bumil itu terlihat sedih. Sean harus mencairkan suasananya.
"Kapan ke dokter lagi?" tanya Sean.
"Beberapa minggu lagi."
"Akan kuantar."
Tidak ada obrolan lagi di antara keduanya. Callista masih terdiam dalam pikirannya.
Berapa lama lagi anak ini akan lahir? Aku merasa ada yang aneh pada diriku. Terkadang ingin marah secara tiba-tiba. Kadang cemburu tak beraturan. Ingin juga bermanja terus pada suami. Apalah dayaku harus mengikuti perubahan mood yang berubah. Berat badanku juga lumayan bertambah sekarang.
"Kalau aku gendut, apa Om akan tetap mencintaiku?" tanya Callista tiba-tiba.
Sean tidak menjawab. Dia berusaha mencari jalan yang sepi untuk menghentikan mobilnya.
Callista merasa tak enak hati telah meragukan cinta suaminya. Apalagi dia masih kepikiran ucapan Zelene tempo hari. Tentu itu akan menjadi bomerang dalam rumah tangganya.
Sean tiba-tiba menghentikan mobilnya di lokasi parkir dekat taman kota. Callista sempat protes.
"Loh, katanya pulang. Kenapa malah berhenti, sih?"
"Kenapa panggil Om lagi? Aku suamimu. Bisa 'kan panggil sayang, suamiku atau apalah. Kita suami istri, loh. Jangan seperti itu lagi! Mengenai cinta, tak perlu kamu ragukan lagi. Aku selalu menerima apapun keadaanmu. Jangan pernah tanya itu lagi!" cerocos Sean.
Callista bukan tanpa alasan menanyakan itu. Kegiatannya di apartemen yang lebih banyak santai membuat tangannya gatal berseliweran di situs internet mencari seputar kehamilan, persalinan, dan lain sebagainya.
Callista juga masih kepikiran mengenai syarat yang diajukan Mama mertuanya walaupun dia tau jawabannya akan selalu seperti apa.
__ADS_1
💎💎💎💎💎💎TBC💎💎💎💎💎