Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Bonchap - Bertukar Tempat


__ADS_3

Hati wanita mana yang tidak rapuh melihat anak dan menantunya tidak dalam keadaan baik. Carlotta ditemani Felix dan menantunya, Kayana. Mereka berada di depan pintu kamar Dizon. Mereka sangat mengkhawatirkan keadaan Olivia. Wanita itu pasti sangat ketakutan menghadapi suaminya.


Ceklek!


Olivia keluar dengan raut wajah semringah. Mama mertua langsung saja menghadangnya dan meminta penjelasan darinya.


"Oliv," panggil mama mertuanya.


"Mama, kenapa masih di sini? Ini sudah sangat larut, ma."


"Mama khawatir padamu, Kak. Takut kalau Kak Dizon mencelakaimu," ucap Felix. Pria itu tidak tega melihat mamanya cemas memikirkan kakaknya.


"Mama jangan khawatir. Kami baik-baik saja. Suamiku hanya ingin berbicara dari hati ke hati. Mama jangan khawatir, ya?" ucap Olivia dengan senyuman mengembang di bibirnya.


"Lalu, kenapa kamu keluar? Mana Dizon? Apa dia menyakitimu?" Carlotta memberondong menantunya dengan beberapa pertanyaan.


Kayana mendekati mama mertuanya. "Ma, lihat saja. Kak Olivia tersenyum bahagia. Itu artinya dia baik-baik saja."


Mendengar keributan di malam hari, Dizon keluar kamar dan melihatnya. Semua orang berada tepat di depan kamarnya kecuali papanya.


"Ada apa ini? Kalian semua mau menginterogasi istriku? Sebaiknya cepat tidur, ini sudah malam," ucap Dizon yang tidak mau ketenangannya terganggu.


"Bukan begitu, Kak. Kami semua sangat mengkhawatirkanmu." Felix mencoba menjadi penengah.


"Bubar, semuanya bubar! Oliv, pergi ke dapur. Ambilkan aku air minum!" perintah Dizon.


Olivia bergegas pergi ke dapur sesuai perintah suaminya. Sementara yang lain masih menatap tidak percaya pada pasangan teraneh sejagad.


"Masih ingin menjadi penjaga pintu kamarku? Ma, lekaslah tidur. Tidak baik untuk kesehatan mama. Semuanya silakan bubar!" ucap Dizon.


"Dizon, mama mengkhawatirkanmu, nak. Maafkan mama sudah membuatmu pergi dari acara lebih cepat. Itu bukan salah Oliv, nak. Mama yang meminta Sean untuk mengumumkannya." Carlotta merasa bersalah pada putranya.


"Sudahlah, Ma. Lagipula sudah lewat juga. Apa yang perlu dikhawatirkan lagi?" tanya Dizon.


"Aku mengkhawatirkanmu, nak," ucap mamanya lagi.

__ADS_1


"Hmm, mama terlalu berlebihan. Lihat, aku dan Oliv baik-baik saja. Felix, sebaiknya ajak mama untuk masuk ke kamarnya." Dizon kembali ke kamarnya.


Semua orang yang berada di depan kamarnya langsung bubar. Olivia membawa nampan berisi gelas dan teko agar dirinya tidak perlu bolak-balik untuk mengambil air.


Olivia meletakkan nampan di atas nakas agar lebih mudah untuk mengambilnya.


"Oliv, ambilkan segelas untukku," pinta Dizon.


Selesai minum, Dizon mengajak Olivia untuk berbicara sebentar sebelum tidur.


"Kemarilah, Oliv!" Dizon menunjuk ranjang yang kosong tepat di sampingnya. "Ada yang ingin kubicarakan denganmu."


Olivia menuruti kemauan suaminya. Dia bahkan tidak menolak apapun yang diperintahkan padanya. Jangan-jangan Olivia sudah terhipnotis oleh suaminya.


"Oliv, maafkan aku. Setelah menimbang beberapa hal, aku memutuskan untuk pindah ke luar negeri. Bagaimana menurutmu?" Dizon memandang lekat manik mata istrinya. Ini untuk pertama kalinya dia terlihat lembut dan menentramkan.


"Bagaimana dengan pekerjaanku?" tanya Olivia. Dia sebenarnya tidak rela meninggalkan pekerjaan impiannya, tetapi melihat perubahan suaminya yang begitu tiba-tiba, sayang kalau dilewatkan begitu saja.


"Kupikir sebaiknya kamu resign saja. Di tempat baru, aku akan memenuhi seluruh biaya hidupmu. Apapun yang kamu inginkan akan selalu tersedia. Aku berjanji," ucapnya meyakinkan sang istri.


"Berikan satu alasan yang bisa kuterima secara logika. Jika itu masuk akal, aku akan mempertimbangkan lagi untuk ikut denganmu." Olivia mengambil bantal dan merebahkan diri di ranjang.


"Aku ingin kamu berhenti bekerja dan fokus pada anak dan suamimu. Itu alasan yang sangat logis menurutku, tetapi jika kamu masih tidak bisa menerimanya. Kita bisa cari alternatif lain, tetapi jangan salahkan jika pekerjaanmu akan semakin rumit karena mengurusku dan buah cinta kita." Dizon menarik tangannya dari kepala istrinya.


"Hemm, apakah ini buah cinta kita? Kapan kamu berusaha mencintaiku?" sindir Olivia. Bukan tanpa alasan dia mengatakan itu karena Dizon hanya mengatakan satu kali. Itupun ketika berada di puncak kenikmatan.


"Cinta tidak perlu dikatakan Oliv. Cinta itu lebih nyata dengan tindakan. Bukankah begitu? Jadi, kapan aku menerima keputusanmu untuk bertukar tempat dengan Felix? Aku menunggu keputusanmu maksimal dua hari dari sekarang." Dizon beranjak dari ranjang untuk masuk ke bathroom. Dia ingin mencuci muka supaya lekas tidur.


Olivia memandang seluruh isi kamar. Dia sebenarnya tidak rela meninggalkan kariernya yang dibangun dengan susah payah karena bertentangan dengan keinginan papanya. Jika dulu Olivia menang melawan papanya dan sekarang dia harus mengalah demi suami dan anaknya.


Ini namanya sedikit memaksa, Dizon. Bagaimana aku bisa memutuskan dalam waktu dua hari? Tidak mudah untuk meminta resign secara mendadak seperti ini.


Dizon keluar dari bathroom. Ini untuk pertama kalinya dia bertelanjang dada seperti itu. Entah sengaja ingin memancing istrinya atau apa.


Tatapan mata Olivia tertuju padanya. Bukan tanpa sebab, pesona suaminya itu diatas rata-rata jika dilihat langsung seperti itu.

__ADS_1


"Kenapa memandangku seperti itu? Kaget jika suamimu ini sangat tampan?" Dizon kemudian duduk kembali ke ranjang.


Olivia tersenyum. "Tidak. Hanya tumben saja kamu berani bertelanjang dada di hadapanku."


"Hemm, biasakan untuk melihatnya mulai hari ini dan seterusnya."


Dizon menarik selimut. Dia ingin tidur seperti ketika belum menikah. Bertelanjang dada dan memakai selimut. Setelah menikah dengan Olivia, dia lebih menjaga image pada istrinya itu.


"Eh, kenapa harus pakai selimut segala? Aku masih ingin melihatnya," ucap Olivia dengan binar mata bahagianya.


"Ck, aku bisa masuk angin kalau tidak pakai selimut!"


Olivia duduk. Kini dirinya yang memandang lekat wajah dan tubuh suaminya.


"Sebentar saja. Ini permintaan baby-ku." Olivia beralasan. Padahal dirinya masih ingin menikmati pemandangan indah atas ciptaan Tuhan yang paling luar biasa itu.


"Tolong diperjelas lagi, Nona! Itu baby kita, bukan hanya Anda saja. Tetapi saya juga ikut andil besar di dalamnya." Dizon merenggangkan selimutnya agar istrinya puas melihat dirinya yang bertelanjang dada.


Baru pertama kalinya Olivia bisa tertawa lepas. Dia bahkan tidak percaya jika suaminya akan mengatakan hal seperti itu.


"Baiklah, Tuan Dizon. Terima kasih untuk andil besar Anda dalam mewujudkan keinginan saya."


Dizon menarik kembali selimutnya, tetapi Olivia melarangnya.


"Tunggu! Biarkan seperti tadi!"


"Oliv, aku bisa masuk angin! Aku khawatir kamu akan tergoda melihat tubuh seksiku, tetapi jangan khawatir. Aku tidak akan menyentuhmu untuk saat ini."


Olivia melongo tidak percaya. "Kenapa? Bukankah kamu selalu menginginkannya?"


Kali ini Olivia mulai mesum. Padahal dirinya sudah tergoda oleh ketampanan suaminya, tetapi dia hanya berpura-pura seperti kelakuan Dizon sebelumnya.


Dizon mendekati Olivia kemudian membisikkan sesuatu. "Tidak untuk kehamilan trimester pertama. Aku tidak ingin bayiku kenapa-napa. Aku akan bersabar menunggu sampai trimester dua. Siapkan dirimu dengan baik saat itu tiba!"


Glek!

__ADS_1


Olivia terkejut. Suaminya sangat pengertian dalam hal ini. Dia tidak yakin jika ini adalah Dizon yang dikenalnya. Seperti menjadi orang yang berbeda dan Olivia sangat menyukai perubahannya.


🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓


__ADS_2