
Mama Carlotta berada di ruang tengah. Setelah makan malam, dia mengumumkan undangan untuk menghadiri acara syukuran kelahiran bayi Sean.
"Semuanya sudah berkumpul. Lusa, Sean akan mengadakan syukuran kelahiran bayinya. Kita semua diminta untuk datang," ucap Carlotta.
"Wah, kapan kita mengadakan acara seperti itu, ma?" sindir papa Denzel. Pria itu sengaja menyindir anak sulungnya.
"Ya kalau Olivia atau Kayana sudah hamil, nanti kita bikin acara yang sama," usul mamanya.
Nampaknya kedua manusia batu itu tidak merespon ucapan nyonya rumah itu. Mereka fokus pada ponsel masing-masing.
"Ck, memangnya anak kalian bisa dihasilkan dari Download atau Bluetooth? Kenapa tidak mendengar ucapan mama, malah asyik sendiri dengan ponselnya," sindir papanya.
Dizon meletakkan ponselnya. Dia menatap tajam ke arah papanya.
"Pa, aku sudah berjuang keras untuk mendapatkan apa yang papa inginkan. Jika Tuhan belum berkehendak, aku bisa apa, pa? Papa jangan seperti mamanya Sean yang seenak jidatnya mengatur keadaan duniawi yang sudah digariskan oleh Tuhan. Papa akan menyesal!" ucapnya. Dizon kemudian beranjak pergi meninggalkan ruang tengah.
Olivia menatap kepergian suaminya merasa aneh. Pria itu bisa tersinggung juga. Padahal Olivia menanggapinya biasa saja. Dia cukup sadar diri bahwa sampai sekarang belum hamil. Entah apa yang salah dengan dirinya? Jika dalam waktu satu bulan ke depan dia belum hamil, Olivia berencana pergi ke dokter Adelard, rekan kerjanya. Dia akan meminta saran pada dokter itu.
"Oliv, susul suamimu. Tenangkan dia," pinta Mama mertuanya.
"Baik, ma." Olivia berdiri kemudian masuk ke kamarnya. Di sana, dia melihat suaminya tidak berada di kamar melainkan di balkon. Secepatnya Olivia menyusulnya. Dia ingin berbicara dari hati ke hati dengan pria kulkas nan kaku itu.
"Dizon," panggil Olivia.
"Kenapa kamu kemari? Aku ingin sendiri. Pergilah!" ucapnya.
"Kamu tersinggung dengan ucapan papa?" tanya Olivia.
"Tidak! Aku hanya kesal saja. Kenapa selalu membandingkan aku dengan Sean?"
Biasanya pria kaku ini sangat pendiam dan jarang mau membagi keluh kesahnya. Tumben, untuk malam ini dia berusaha jujur pada istrinya.
"Papa tidak pernah membandingkanmu dengan siapapun. Itu hanya perasaanmu saja. Maksud papa, dia__"
Dizon memotong pembicaraan istrinya. "Kamu jangan membela papa dihadapanku. Aku tidak suka itu."
"Kamu jangan keras kepala seperti itu. Papa hanya ingin kita bekerja lebih keras lagi," ucap Olivia.
__ADS_1
"Tapi, bukankah selama ini kita sudah bekerja keras?" Dizon menatap lekat manik mata istrinya.
Keduanya memang tipikal pasangan yang unik. Jika akur, dunia rasanya milik berdua. Jika sedang ribut, Tom and Jerry kalah tuh.
"Entahlah, Dizon. Mungkin tujuan kita menikah bukan untuk itu. Benarkan ucapanku?"
Kamu benar, Oliv. Tujuan kita menikah tidak serius untuk ke arah sana. Itulah sebabnya, sampai saat ini kita sulit sekali mendapatkan keturunan. Apa yang harus kulakukan?
"Lalu, aku harus apa?" tanya Dizon.
Olivia berjalan maju menuju tepian balkon. Ada tembok kokoh sebagai pelindungnya di sana.
"Merubah mindset kita tentang tujuan menikah," ucapnya santai.
Dizon sejak tadi duduk di kursi, sekarang dia berdiri mendekati istrinya. Berdiri tepat disampingnya.
"Apa aku terlalu kasar padamu?" tanya Dizon.
Olivia menggeleng. Dia tidak tau harus mengatakan apa pada suaminya itu. Terkadang pria itu memiliki kepribadian ganda. Sebentar baik dan sebaliknya.
"Entahlah, Dizon. Aku juga sudah kebal dengan sikapmu. Terkadang aku perlu masa bodoh untuk menghadapi tingkah anehmu itu," sindir Olivia.
Olivia mengambil napas dalam kemudian menghembuskannya.
"Terkadang, kita tidak bisa memilih apa yang sebenarnya kita cintai. Tetapi kenyataannya, kita bisa bersanding dengan orang yang berlawanan sikap. Itu sudah takdir yang harus kita jalani, Dizon. Aku pernah gagal ketika hampir menikah. Aku juga pernah gagal mencintai seseorang. Aku pasrah kemana Tuhan membawa kehidupanku." Olivia berpindah ke kursi yang sempat diduduki suaminya.
"Apa sebaiknya aku minta Felix kembali? Setidaknya untuk meringankan pekerjaanku. Setelah itu, bagaimana kalau kita merencanakan bulan madu?" ucap Dizon.
"Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku, Dizon. Aku setiap hari harus masuk bekerja. Dokter adalah cita-citaku sejak dulu. Mana mungkin aku bisa mengambil cuti terlalu lama," ucap Olivia.
"Kalau begitu, urus surat resign-mu. Aku masih sanggup untuk membiayai kehidupanmu," ucap Dizon berapi-api.
Deg!
Nampaknya ucapan Olivia barusan membangkitkan amarah suaminya. Entah, pria itu sulit sekali bisa dimengerti.
"Aku tidak bisa, Dizon," ucapnya.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan membeli rumah sakit itu. Aku akan memecatmu secepatnya!" balas Dizon.
"Dizon, kamu jangan gila!"
Bisa dibayangkan. Dari seratus persen, tujuh puluh limanya ribut, dua puluh limanya akur. Hampir komposisi yang tidak seimbang.
"Aku mulai gila gara-gara undangan meresahkan itu," cibirnya.
Olivia bingung. Bahasannya sejak tadi adalah antara keturunan dan rumah sakit, kenapa malah beralih ke undangan?
"Apa maksudmu, Dizon. Sejak tadi kita tidak membahas itu, loh."
"Iya, gara-gara undangan dari Sean itu, kita jadi bertengkar seperti ini. Mana mama meminta kita untuk datang. Aku malas bertemu lagi dengannya," ucap Dizon.
"Memangnya kamu pernah punya masalah apa dengannya?" tanya Olivia.
Dizon terdiam. Ingatannya kembali pada masa silam ketika dia menjalin hubungan dengan Diana Carington. Tiba-tiba, Dizon mendapatkan kabar jika Diana akan menikah dengan Sean. Setelah kejadian itu, Dizon mempunyai dendam pada Sean.
Seiring perjalanan waktu, ternyata dia menyadari jika Diana adalah wanita brengsek yang mempermainkan perasaannya. Dia malah hamil anak orang lain.
Dizon kenapa selalu emosional pada Sean? Pria itu sempat depresi ketika kehilangan Diana. Bahkan, dia berusaha merebut semua apa yang dimiliki Sean.
Mendengar cerita dari suaminya, Olivia lantas mengingatkan Dizon untuk tidak dendam lagi pada Sean.
"Sebenarnya menurut ceritamu, Diana adalah orang yang paling salah di sini, bukan Sean."
Ucapan Olivia tidak malah membuat Dizon diam, malah membuatnya marah. Dia langsung menyambar rahang kokoh istrinya.
"Tau apa kamu tentang Sean?"
"Le-lepaskan!" Olivia sulit sekali untuk berbicara. Dia berusaha meronta dari serangan mendadak suaminya.
Setelah semuanya terlepas, barulah Olivia mengatakan yang sebenarnya tentang Sean. Dia bahkan pernah mengatakan cinta pada pria itu, tetapi ditolaknya.
"Kamu masih membelanya, hah?" teriak Dizon.
"Tidak. Memang kenyataannya seperti itu. Kamu mau apa? Tidak percaya, 'kan? Cinta itu tak pernah tau kapan menghampiri, Dizon. Katanya mau merubah mindset. Sebentar marah-marah tidak jelas. Pria macam apa ini?" ucap Olivia. Dia bahkan tidak gentar jika harus ribut sama suaminya. Olivia selalu bisa mengimbangi perlakuan kasar maupun halus dari pria kaku dan ajaib ini.
__ADS_1
Hanya gara-gara undangan syukuran kelahiran anak Sean dan sindiran sang papa membuatnya kebakaran jenggot. Dizon terdiam dan tak lagi mendebat istrinya.
🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓