
Sean terlelap bersama istrinya. Mereka melewatkan sarapan pagi yang sudah hampir siang ini. Jika Zelene tidak mengetuk pintu kamarnya, sepasang suami istri itu mungkin akan terbangun di sore hari.
Tok tok tok.
"Kak Sean... Kakak ipar... Ayo bangun! Ini sudah hampir siang...," teriak Zelene.
Sean dan Callista perlahan mulai membuka matanya. Callista yang lebih dulu melihat jam dinding, dia berteriak paling heboh.
"Ya ampun, sekarang sudah jam sepuluh...," teriaknya.
Bergegas Callista masuk ke bathroom. Suaminya juga tidak mau kalah. Keduanya malah berebut hendak masuk bersama.
"Big no, sayang!" protes istrinya yang sudah berkacak pinggang di hadapanya.
"Please, sayang... Ini akan lebih cepat! Janji tidak akan macam-macam...," ucap Sean.
"Ish, kita bagi tempat. Aku di shower, O...," Callista menjeda ucapannya. Hampir saja dia keceplosan memanggil suaminya dengan panggilan Om.
"Apa itu barusan? Kenapa tidak dilanjutkan?" tanya Sean penuh selidik.
Callista cengengesan. Sementara Zelene masih dengan teriakannya sehingga membuat Sean harus memilih untuk menemui adiknya terlebih dahulu.
"Kali ini kamu lolos, sayang," ucap Sean berbalik arah untuk membuka pintu.
Ceklek!
"Ada apa, Ze?" Sean menutup kembali pintunya. Seperti biasa, Sean tidak akan pernah mengizinkan orang lain untuk masuk ke kamarnya ataupun sekedar mengintip. Bukan Sean pelit, tetapi pria itu selalu menjaga kamarnya sebagai tempat yang sangat privasi.
"Kak, bukankah hari ini kalian harus melanjutkan misi perjodohan itu? Apa kakak lupa?" Zelene mengingatkan.
"Oh, astaga... Iya. Mana suamimu?"
"Suamiku baru saja bangun. Dia memintaku untuk memanggil kakak. Dia juga butuh nomor ponsel dokter Olivia maupun Dizon. Dan mengenai acara ke Villa nanti malam bagaimana, Kak?" tanya Zelene.
"Ya ampun, Ze. Banyak bener...," protes Sean.
Sean belum memutuskan mana dulu yang harus didahulukan. Sementara dia mengirim pesan ke Felix untuk menanyakan nomor ponsel kakaknya.
Hanya sekitar sepuluh menit berbalas pesan dengan Felix, Sean segera menemui Vigor yang sudah duduk manis di ruang tamu.
"Nomor ponsel dokter Olivia dan Dizon sudah kukirim semua ke ponselmu. Kuharap, anak buahmu berhasil lagi kali ini," ucap Sean.
Tring.
Ponsel Sean berbunyi. Ada pesan baru dari Felix.
[Gawat, Kak... Kak Dizon akan berangkat ke luar negeri siang ini. Barusan aku dapat kabar dari Mama] pesan dari Felix.
__ADS_1
"Vigor. Ini gawat. Dizon akan pergi ke luar negeri siang ini... Kerahkan anak buahmu untuk mencegahnya. Aku tidak ingin perjodohan satu M itu berakhir sia-sia," ucap Sean.
Bergegas Vigor masuk ke kamarnya. Dia juga mengirimkan nomor ponsel Dizon untuk melacak keberadaannya. Dia juga mengingatkan untuk tidak membiarkan pria itu lolos dengan mudah.
Vigor menggenggam erat ponselnya. Berharap perjodohan satu miliar ini tidak berakhir sia-sia.
Zelene tidak tau dengan apa yang sedang dihadapi kakak maupun suaminya.
"Kenapa kalian berdua terlihat sangat tegang sekali?" ucap Zelene. Niatnya ke ruang tamu untuk mengajak sarapan pagi yang sudah sangat terlambat itu.
"Dizon akan pergi ke luar negeri siang ini," ucap Vigor.
Zelene membelalakkan matanya pada sang suami. Dia yang tidak ikut sebagai eksekutor perjodohan satu miliar ikutan pusing.
"Kalau Dizon akan ke luar negeri, sebaiknya segera pantau dokter Olivia dimana sekarang. Jangan sampai dia punya rencana lain yang membuat kita kehilangan jejak dokter aneh itu," usul Zelene.
Ucapan Zelene ada benarnya. Sekarang Sean yang khawatir. Dia lekas mengambil ponselnya kemudian mengirim pesan pada dokter Olivia.
[Segera datang ke apartemenku. Di apartemen Royal. Aku butuh bantuanmu] pesan dari Sean.
"Aku berusaha menggiring dokter Olivia untuk datang ke apartemen ini," ucap Sean.
"Baguslah. Ini akan mudah untuk mereka mendapatkan keduanya," ucap Vigor.
"Apa dokter Olivia membalas pesanmu, Kak?" tanya Zelene.
Tring.
Sean memberitahukan pada Vigor jika dokter aneh itu sekarang posisi ke bandara.
"Gotcha! Ini tidak akan sulit untuk kita dapatkan, Bos," ucap Vigor semringah.
Mereka sepertinya akan merasakan keberhasilan diakhir tahun ini untuk menjodohkan dua manusia yang sama-sama unik itu. Ketika ketiganya sedang dalam mode bahagia, tiba-tiba Callista datang.
"Kalian tidak jadi sarapan? Ini sudah siang banget, loh. Aku barusan selesai. Kalau kalian mau sarapan, silakan," ucap Callista seperti orang yang tidak berdosa sama sekali karena makan terlebih dahulu. Dia merasa masa bodoh karena sudah kelaparan sejak semalaman.
"Baiklah, sayang. Tak masalah. Sebentar lagi kita akan ke meja makan," ucap suaminya.
"Oke, sayang. Aku masuk ke kamar duluan yah. Rasanya sangat lelah sekali," pamit Callista.
"Oke, kakak ipar. Silakan," jawab Zelene.
Sementara menunggu kabar dari anak buahnya, Vigor merasa kelaparan.
"Honey, aku sangat lapar," ucapnya.
"Ayo kita makan dulu. Kak Sean juga. Lihatlah... Ini hampir jam sebelas siang," ucap Zelene.
__ADS_1
"Kalian makanlah duluan! Aku belum mandi," ucap Sean. Sejak berebut bathroom dengan istrinya, dia lebih memilih mundur. Tak ada gunanya ribut dengan ibu hamil yang moody itu.
"Hemm, pantas saja... Sejak tadi seperti ada yang aneh dengan kakak," sindir Zelene.
"Kau jangan khawatir, Ze. Kakak belum mandi pun, pesona kakak akan selalu nomor satu. Bandingkan saja dengan suamimu. Siapa yang lebih tampan dan populer," balas Sean.
Zelene langsung mencak-mencak tidak terima dengan ucapan kakaknya barusan.
"Mana bisa begitu. Suamiku jauh lebih tampan dibanding kakak," protesnya.
"Lihat saja, suamimu masih kalah dengan kakak. Tanya kakak iparmu. Makhluk hidup kakak telah menghasilkan. Bagaimana dengan makhluk hidup milik suamimu? Apa sudah berhasil?" ledek Sean lagi. Niatnya untuk memojokkan suami adiknya malah berujung ribut dengan Zelene.
"Makhluk hidup?" tanya Zelene dan Vigor bersamaan.
Sean keceplosan. Dia hanya mengatakan itu pada istrinya. Adiknya maupun adik iparnya tidak tau mengenai hal itu.
"Sudah-sudah. Sebaiknya kalian makan. Dan kamu, Vigor. Jangan lupa pantau terus anak buahmu. Jangan sampai misi gagal untuk hari ini. Mengenai yang lain, akan kupikirkan ulang," ucap Sean meninggalkan mereka berdua.
"Bagaimana, honey?" tanya Zelene.
"Kita makan dulu, honey! Suamimu ini sangat lelah," ucapnya.
Zelene menggandeng tangan suaminya untuk masuk ke ruang makan. Di sana sudah terhidang berbagai macam masakan kesukaan Vigor maupun kakaknya, Sean. Hari ini, Zelene sengaja menyiapkan makanan yang beraneka ragam karena ini adalah penghujung tahun dua ribu dua puluh satu. Harapan di tahun berikutnya, semua akan menjadi lebih indah dan bermakna.
Ketika sedang menikmati makan pagi yang hampir siang, Vigor tidak lepas dari ponselnya. Dia terus memantau kabar dari anak buahnya yang bertugas untuk melanjutkan misi perjodohan satu miliar itu. Semoga usahanya tidak sia-sia.
Sedang asyik menikmati makanannya, tiba-tiba ponselnya berdering. Di sana tertera nama anak buahnya. Vigor hendak mengangkatnya, tetapi dia khawatir perjodohan satu miliar itu akan gagal.
"Kenapa, honey?" tanya Zelene.
"Telepon dari anak buahku, honey. Aku takut mereka gagal," jawab Vigor.
"Yakin aja, honey! Yang penting kamu sudah berusaha," Zelene berusaha menguatkan.
Klik...
Telepon tersambung.
🍓🍓🍓🍓TBC🍓🍓🍓🍓🍓
Hai akak reader... sabar yach, bentar lagi sambungannya...
Jangan lupa like, vote dan komentarnya...
Sambil nunggu update selanjutnya, yuk mampir ke karya teman emak... gak kalah keren... komedi juga... sebagai penghibur jiwa yang merana di akhir tahun... 😁😁😁😁
Jodoh Online by author Kumi Kimut... Chus kepoin...
__ADS_1
Terima kasih... Luv yu All... 😍😍😍😍