
"Ze, pulanglah dengan suamimu! Kakak ada urusan yang harus diselesaikan. Sayang, ayo kita pulang!" Sean ingin menyelesaikan masalah rumit ini berdua dengan istrinya.
"Baiklah. Urusan yang nggak jauh dari kata mesum. Iya, kan, Kak?" goda Zelene.
"Urus saja suamimu yang gagal itu. Jangan mengurusi urusan kakak," ledek Sean.
Bagaimana tidak, Vigor menceritakan malam pertamanya yang gagal itu. Dia harus menuntaskannya seorang diri. Sean tertawa mendengar curhatan pengantin baru itu.
Sean segera mengajak istrinya untuk masuk ke mobil. Hari ini dia ingin menyelesaikan semuanya di apartemen.
"Call, kita terlalu lama menjadi pasangan yang sangat bodoh," ucap Sean ketika sudah berada di dalam mobil.
"Maksud, Om?"
"Iya. Sangat bodoh. Bagaimana suami istri tidak saling mengetahui nomor ponsel masing-masing. Apa kamu tidak menyadarinya?"
Wah, iya. Nomor ponsel suami gue? Gue nggak punya. Emang pasangan terbodoh ya.
Callista cekikikan.
"Eh, kenapa begitu?" tanya Sean melihat tingkah aneh istrinya.
"Iya, pasangan bodoh. Aku juga baru nyadar, ponsel baru yang Om kasih belum kugunakan. Masih ada di ruang tamu," ucap Callista dengan senyuman manis yang tersungging di wajahnya.
"Hemm, pantesan saja. Kita langsung pulang atau mau mampir ke mana dulu?" Sean memberikan penawaran bagus, tetapi sayang mood Callista sedang tidak baik. Setelah bertemu Mama mertua di Mal dan kedatangannya ke kantor suaminya membuat Callista semakin gusar. Walaupun Sean sudah berkali-kali berusaha menenangkan.
"Langsung pulang saja, Om," ajaknya.
Rasanya berada di sampingnya terasa lucu. Bagaimana seorang istri selalu memanggil diriku seorang Om. Seperti sedang bersama keponakan saja. Aku merasa tua dan dirinya memang masih muda. Kenyataannya begitu, bukan?
"Call, boleh aku mengatakan sesuatu?" tanya Sean.
Kira-kira apa yang akan dikatakan Om Sean, yah? Apa mengenai perceraian yang akan diajukannya?
"Apa, Om?" Callista menoleh ke arah suaminya.
"Bisa mengganti panggilan Om? Maksudku mungkin memanggilku dengan suamiku, misalnya. Atau sayang, my husband atau apalah. Biar terdengar keren, gitu," Sean tersenyum mengatakannya. Apa memang ini yang namanya puber kedua? Dia merasa seperti seorang remaja yang membutuhkan kasih sayang berlebihan.
Callista tertawa. Memang selama ini dia terlalu terbiasa memanggilnya dengan sebutan Om. Baru berubah jika di sekelilingnya ada adik atau siapapun, tetapi terkadang dia sudah tidak peduli tempat. Mau di manapun dipanggilnya Om terus.
"Hemm, apa yah? Suamiku? Kenapa rasanya geli sekali, sih? My hubby? Ah, enggak. Ntar dikira ikutan yang ono. My love? Sudah umum, yah? My bestie, nggak cocok juga. Kita sepasang suami istri, bukan sahabat," Callista sedang berpikir keras.
"Bubba and sexy baby...," Callista tertawa lagi.
"Itu lucu, loh. Panggil suamimu, Bubba!" usul Sean.
Oh God. Ide gila gue diterima?
"Apa tidak terlalu berlebihan, Om? Eh, maksudku, Bubba," Callista menawar ucapannya yang pertama.
"Itu sangat romantis, baby," Sean seperti mendapatkan sesuatu yang sangat romantis dari istri kecilnya.
__ADS_1
"Sexy baby," Callista mengingatkan.
"No! Sexy baby hanya untuk urusan ranjang!" Sean menegaskan.
Oh God, masih saja selalu mesum!
Mobil telah memasuki bassement apartemen, Sean dan istrinya lekas turun untuk masuk ke unit mereka. Sean menggenggam erat tangan istrinya.
Sesampainya di depan unit, Sean memberikan pilihan yang aneh.
"Mau aku yang buka atau kamu?" tanyanya.
"Om saja," ucap Callista.
"Panggil Om terus! Hari ini aku minta jatah lebih lama dari biasanya...," Sean menggoda istrinya.
"Ish, tak jauh dari mesum, yah?" protes Callista.
"Aku akan berhenti mesum jika kamu sudah hamil, sayang. Ingat surat perjanjian kita!"
Callista teringat surat perjanjian itu. Surat itu pasti akan mengancam hubungannya dengan suaminya.
Sean membuka lalu menutup kembali pintunya. Dia mendaratkan tubuhnya di sofa ruang tamu.
"Kemarilah, sexy baby! Aku ingin berbicara," Sean meminta Callista untuk duduk di sampingnya.
Pria matang itu merangkul pinggang istrinya dengan mesra.
Callista mengangguk.
"Baby, tak perlu khawatir. Aku tidak akan pernah menceraikanmu," ucap Sean meyakinkan istrinya.
"Jadi, ucapan Mama mertua tidak main-main? Dan mengenai surat perjanjian itu apa sebaiknya tidak di sobek saja," usul Callista.
Aku tidak akan pernah menyobek kertas perjanjian itu. Jika Callista melanggar, aku tidak akan pernah mengampuninya. Aku ingin selalu bersamanya. Selamanya!
"Mama tidak pernah main-main dengan ucapannya. Aku juga tidak akan pernah merobek surat kontrak pernikahan kita," Sean memutuskan yang terbaik untuk masa depannya.
"Kenapa begitu, Bubba? Bukankah jika masih ada surat kontrak itu, Mama mertua ataupun mantan istri Bubba akan meminta aku mundur atau bahkan Bubba akan menceraikannya?" Kini Callista semakin dirundung kekhawatiran.
"Justru jika aku robek, aku takut baby akan bertindak macam-macam di luar sana. Aku mengikat pernikahan kontrak kita untuk selamanya."
"Begitu pentingkah surat kontrak itu untuk Bubba?" Callista masih belum yakin akan ucapan suaminya.
"Sangat penting, baby. Kamu tau, isi surat kontrak itu akan mengikatmu selamanya denganku. Jangan coba-coba bermain hati di luar sana," Sean tidak ingin kegagalan pernikahannya terdahulu akan terulang lagi.
Callista hanya bisa pasrah. Semoga saja ini menjadi awal yang baik untuknya bersama Sean. Walaupun dia yakin tak akan mudah menghadapi Mama mertua ataupun mantan istri suaminya. Dia tetap harus berjuang mempertahankan Seannya.
Callista merebahkan kepalanya di pundak suaminya. Dia merasa tenang dan nyaman berada di sampingnya.
"Bubba, aku sangat lelah sekali. Rasanya aku ingin berendam lebih lama dari biasanya."
__ADS_1
"Barengan, yah?"
"Enggak!" Callista menolaknya.
"Kenapa, baby? Apa kamu tidak suka berada di dekatku terus?" tanya Sean.
"Suka, tetapi sekarang aku haus, Bubba. Aku ambil minum dulu, yah? Bubba mau?" Callista beranjak dari sofa menuju dapur.
"Boleh, ambilkan untukku juga. Oh ya, sayang. Jangan lupa bawa ponselmu kemari. Kita selesaikan kebodohan ini," ucap Sean mengingatkan.
Setelah Callista mengambil minuman. Dia bergegas mengambil tas kecil yang di letakkan tak jauh dari sofa. Diambilnya ponsel dan dompet kecil yang menemaninya selama ini. Di dalam dompet kecil itu dia menemukan sebuah kartu nama yang pernah diberikan seorang pria kepadanya ketika mengantarkan makanan kala itu. Dibacanya kartu nama itu sekilas dan....
Deg!
Tuan berkacamata hitam?
Callista memandangi suaminya. Sean yang merasa aneh ditatap istrinya seperti itu membuatnya bertanya.
"Baby, kenapa memandangiku seperti itu?"
"Tuan berkacamata hitam?" tanya Callista.
"Apa maksudnya?" Sean dibuat bingung dengan pertanyaan istrinya.
"Ish, ternyata pria sombong yang menabrakku tempo hari dan berkacamata hitam adalah suamiku sekarang. Jika waktu itu tau kalau Om pelakunya, sudah kugampar habis deh," Callista mengingat pertemuan tak sengajanya dengan Sean.
"Jadi, gadis yang kukasih kartu nama itu dirimu, sayang?" Sean tertawa.
"Eh, kenapa tertawa, Om?" tanya Callista lagi. Memang sangat tidak nyaman memanggil suaminya dengan sebutan Bubba. Rasanya lidah kelu dan kaku.
"Tau gitu kita nggak perlu ketemuan di hotel," ucapnya membuat Callista melotot.
Ketika sibuk menyelesaikan persoalan ketidak sengajaan tempo hari, bel unit apartemennya berbunyi. Sean dan Callista saling pandang. Hari ini keduanya tidak ada janji bertemu dengan siapapun.
"Apa Om ada janji dengan seseorang?"
Sean menggeleng. Callista juga tidak ada janji dengan siapapun.
Apa itu Mama mertua yang datang? Atau adik ipar? Mungkin mantan istri Om Sean. Oh God, kira-kira siapa tamu dibalik pintu itu?
ππππto be continuedππππ
Hai akak readers yang budiman di manapun berada...
Kira-kira siapa yang datang, yah?
Sambil menunggu kejutan selanjutnya, jangan lupa like, vote, dan komentar. Sedikit bunga atau secangkir kopi pun boleh dihadiahkan untuk emak author. Jangan lupa kasih bintangnya, yach... Terima kasih... Lup yu Allπππ
Kuy mampir dulu di novel anak online emak... Di jamin ceritanya nggak ngebosenin... Kuy kepoin rame-rame...
__ADS_1