
Sepasang pengantin baru yang masih terlihat kaku berada di kamar hotel Starlight. Kamar presiden suit yang sangat biasa untuk seorang Felix, tetapi sangat luar biasa untuk Kayana.
Ini adalah pasangan ke tiga yang tidak gercep untuk melakukan malam pertamanya. Kayana sengaja meminta tenggang waktu sampai dia benar-benar siap. Jika kapan hari dia sok-sokan mengajari sahabatnya, sekarang dia berencana ingin belajar dari Callista. Terlihat sangat rumit, bukan? Sia-sia sudah dia membaca novel Online dari A sampai Z jika berujung harus meminta saran sahabatnya.
"Sayang, pagi ini kita pulang ke rumah, ya," ajak Felix yang sudah siap sejak pagi. Semalam dia rela tidur di sofa karena Kayana malu harus tidur seranjang dengannya.
"Ke rumah?" tanya Kayana yang baru saja keluar dari bathroom. Ini pertama kalinya dia menginap di hotel mewah dengan fasilitas yang sangat luar biasa.
"Iya. Kenapa?"
Aku khawatir jika bertemu dengan papa mertua. Pria paruh baya itu sepertinya tidak suka terhadapku. Di hari pernikahan saja selalu bersikap dingin.
"Apa yang kau pikirkan, sayang?"
"Aku takut bertemu papa mertua," ucapnya.
"Papa memang seperti itu sikapnya. Tapi kau jangan khawatir, setelah dari sana kita bisa pulang ke rumah kita," ucap Felix. Pria itu sudah menyiapkan rumah untuk istrinya sejak lama. Siapapun yang akan menjadi istrinya akan beruntung mendapatkan paket komplit seperti Felix.
"Rumah kita?" Kayana tidak menyangka kebahagiaannya semakin bertambah dengan semua kejutan yang diberikan suaminya.
"Iya, aku sudah menyiapkannya. Oh ya, setelah ini kau tak perlu lagi bekerja. Aku akan mengirimkan surat resign atas namamu ke restoran XX. Jangan lagi pergi ke tempat itu, aku tidak suka!" Felix mengingat bagaimana calon istrinya dihina habis-habisan oleh mereka.
"Iya, sayang. Baiklah," ucap Kayana. Dia memasukkan beberapa barang yang harus dibawanya pulang. Dia dan Callista sama-sama tipe wanita yang mandiri. Walaupun masih sangat muda, tantangan terberat dalam hidup sudah pernah mereka lalui bersama.
Felix membawa beberapa koper itu dibantu oleh istrinya. Dia sangat bersyukur harus mengalami beberapa kegagalan dan akhirnya menemukan gadis yang sangat muda dan cantik.
Felix memasukkan beberapa koper itu ke dalam mobilnya setelah melakukan cek out di hotel tersebut. Pria itu membukakan pintu mobil untuk istrinya.
"Seharusnya biarkan aku membukanya sendiri," protes Kayana.
"Aku selalu menghargai wanita, sayang. Aku ingin selalu bersikap baik pada mereka. Apalagi istriku, tapi jangan khawatir. Aku bukan tipe playboy," ucapnya jujur.
__ADS_1
Mobil mulai meninggalkan hotel Starlight menuju rumah orang tua Felix. Sepanjang perjalanan Felix selalu mencuri pandang pada istrinya. Kayana tidak menyadarinya. Dia terlalu fokus pada jalanan yang mengarah ke rumah orang tua suaminya.
Rumah klasik dengan gaya Eropa yang sangat megah dan halaman yang luas. Ini pertama kalinya Kayana akan masuk ke rumah itu. Setelah turun dari mobil, Kayana menghentikan langkahnya.
"Kenapa berhenti?" tanya Felix.
"Aku belum siap untuk masuk ke sana," tolaknya.
"Hemm, apa yang sudah siap? Semalam belum siap, sekarang ke rumah orang tuaku juga belum siap. Hidup itu harus kita hadapi, sayang. Apapun yang sudah kita putuskan pilihannya, kita juga harus siap dengan segala konsekuensinya. Sepertimu yang masih berhutang padaku," ucap Felix tegas.
"Berhutang apa maksudnya?" Kayana heran. Bahkan tidak ada transaksi keuangan antara dia dan suaminya. Bahkan semua biaya resepsi sudah ditanggung Felix dan keluarganya.
"Hutang malam pertama yang harus kau bayarkan ketika kita pergi berbulan madu. Tidak ada penolakan dan tidak ada paksaan dariku. Kau harus menyerahkan secara sukarela," ucapnya dengan senyum semringah.
Kayana dibuat malu mendengar penuturan suaminya yang langsung to the point.
"Ayo masuk!" ajaknya.
Kayana dan Felix sudah berada di dalam rumah keluarga Damarion. Hari sudah menjelang siang. Di rumah itu hanya ada beberapa pelayan dan Mama Carlotta yang memang hari ini sedang tidak ada urusan untuk keluar rumah.
"Selamat datang, sayang," sapa Mama Carlotta melihat kedatangan putra dan menantunya.
Wanita paruh baya itu memberikan pelukan hangat untuk menerima kedatangan menantunya. Dia sangat bahagia. Impiannya mempunyai seorang menantu akhirnya terwujud.
"Anggap rumah sendiri," ucap Mama Carlotta melepaskan pelukannya. "Rumah lagi sepi, sayang. Papa Denzel dan Dizon sudah ke kantor sejak pagi. Kakakmu itu sangat lucu sekali. Setelah hari pernikahanmu kemarin, dia semakin uring-uringan," ucapnya pada Felix dan Kayana.
"Kak Dizon kenapa lagi, Ma? Ayo sayang, kita duduk di ruang tengah. Kita ngobrol sama Mama di sana," ucap Felix. Mama Carlotta mengikuti sepasang pengantin baru itu dengan riang gembira.
"Duduklah, sayang!" ucapnya pada Kayana.
"Terima kasih, Ma," jawab Kayana. Dia berusaha untuk mengimbangi perlakuan Mama mertuanya pada dirinya.
__ADS_1
"Kakakmu baik-baik saja, Felix. Bagaimana malam pertama kalian?" tanya Mama Carlotta. Wanita itu yakin tidak akan mudah untuk melakukannya apalagi keduanya baru saling kenal dan memutuskan untuk menikah.
"Belum, Ma. Kayana sedang berhalangan," ucap Felix berbohong. Demi membuat Mamanya tidak bertanya hal yang sangat jauh lagi, berbohong akan lebih baik.
Kayana memandang tidak percaya bagaimana suaminya itu membohongi Mamanya seperti itu. Sebenarnya Kayana memang belum siap untuk melakukannya. Masih terlalu kaku berhadapan dengan pria yang saat ini menjadi suaminya. Waktu itu, Kayana malah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Dizon, kakaknya Felix. Itulah sebabnya dia belum mau untuk memberikan haknya. Untung saja Felix pria yang sangat sabar dan pengertian.
"Baiklah. Kalian bisa melakukannya saat bulan madu dan lekas berikan cucu untuk Mama," Mama Carlotta berdiri untuk mengambil sesuatu.
Wanita itu menyerahkan sepaket tiket bepergian untuk akhir tahun menjelang pergantian tahun baru. Tiket liburan ke Paris, Perancis.
"Apa ini, Ma?" tanya Felix.
"Tiket berbulan madu yang sudah Mama siapkan untuk kalian berdua," Mama Carlotta sudah lama memimpikan akan memberikannya kepada salah satu menantunya. Liburan berkedok bulan madu.
"Maaf, Ma. Ini sangat berlebihan. Bahkan Kayana belum pernah naik pesawat terbang. Takut, Ma," ucap Kayana. Dia naik kereta saja bisa mabuk apalagi naik pesawat terbang?
"Nanti saja, Ma. Kita rundingkan lagi," bujuk Felix. Pria itu sebenarnya ingin menikmati akhir tahun di villa keluarganya yang letaknya di puncak. Dia sengaja memilih lokasi itu karena letaknya tidak terlalu jauh tetapi masih ada waktu untuk melakukan quality time bersama keluarga.
"Baiklah. Mama tidak memaksa. Apa yang menurut kalian baik, silakan saja. Asal kalian berdua selalu bahagia. Oh ya, malam ini menginap di rumah Mama dulu, ya? Mama masih ingin bercengkerama dengan menantu Mama," ucap wanita paruh baya itu.
Felix pernah mengutarakan keinginannya untuk menikah dan setelah itu akan membawa istrinya untuk pulang ke rumah yang telah disiapkan. Mamanya tidak pernah melarang keputusan putra bungsunya itu. Seharusnya untuk sepasang suami istri, ada baiknya belajar hidup mandiri.
😍😍😍😍TBC😍😍😍😍
Hidup PMI (Perumahan Mertua Indah),,, hanya dunia halu yang abis nikah langsung pindah rumah. Dunia nyata kudu ekstra sabar hidup nomaden (pindah dari rumah orang tua ke mertua bahkan ngontrak atau ngekost). Tetap semangat 💪🏼
Saya doakan yang belum punya rumah lekas disegerakan. Aamiin 🤲🏻🤲🏻🤲🏻🤲🏻
Jangan lupa like, vote, dan komentarnya...
Jangan lupa 🥀🥀🥀🥀 atau ☕☕☕☕ agar emak author lebih bersemangat.
__ADS_1
Krisan membangun untuk karya yang jauh dari kata sempurna ini selalu di tunggu. Terima kasih, luv yu all... 😍😍😍😍