
Sepagi ini dirumah baru sudah dihebohkan dengan suara tangisan baby A. Bisanya setelah mandi dan meminum ASI, bayi itu bersiap untuk mendapatkan sinar mentari pagi yang menyehatkan bersama baby sitter-nya. Setelah itu, barulah Callista mengurus suaminya.
Namun, lain halnya dengan pagi ini. Baby A tidak mau berpisah dari mommy-nya walaupun sejenak. Hasilnya, Sean merasa kalah telak dengan putrinya.
"Sayang, titipkan baby A pada Giana. Lekaslah kita sarapan di meja makan berdua," ucapnya ketika berada di kamar bayi.
"Pergilah dulu ke meja makan, sayang. Baby A masih belum mau tidur. Jika kuserahkan pada Giana, dia langsung menangis dan mencariku," ucap Callista. Memang kenyataannya seperti itu sedari pagi.
Sean mengerucutkan bibirnya. Ini pertama kalinya dia diabaikan sang istri hanya karena baby A sedang rewel. Untung saja Giana tidak sedang berada di kamar bayi, jika tidak, seorang Sean Armstrong akan turun pamor gara-gara minta perhatian istrinya namun baby A menghalanginya.
"Oh ayolah baby A, lepaskan mommy-mu. Daddy juga butuh perhatiannya. Setelah daddy berangkat bekerja, ambil saja mommy-mu sepuas hatimu," ucapnya.
Bukan tanpa alasan Sean mengatakan itu. Pertama, dia harus berhenti mengatakan kata-kata mesum dihadapan baby A. Kedua, Sean harus bersabar selama minimal empat puluh hari dan bahkan bisa lebih untuk tidak menyentuh istrinya. Rasanya berhenti seminggu saja seperti otak mau pecah. Bagaimana jika selama itu? Sean berusaha bersabar untuk hal itu. Ketiga, kali ini baby A mau menang sendiri dan tidak ingin berbagi mommy-nya.
"Jangan cemburu seperti itu, sayang. Mungkin hari ini anak kita ingin bermanja pada mommy-nya." Callista baru saja meletakkan baby A pada box tidurnya.
"Baby besarmu juga ingin di manja, sayang," ucap suaminya.
Callista tidak menggubris tingkah konyol suaminya. Setelah meletakkan baby A, dia meminta pelayan untuk memanggil Giana. Baby sitter putrinya itu sengaja diminta Callista untuk sarapan pagi terlebih dahulu supaya punya tenaga ekstra untuk menjaga putrinya.
Sekarang di meja makan giliran Callista menyiapkan piring makan suaminya. Setelah memiliki seorang bayi, Callista tidak lagi diizinkan untuk masuk dapur. Biar semuanya diurus oleh pelayan rumah barunya.
"Bagaimana persiapannya untuk acara besok, sayang?" tanya Callista.
"Bibi Madison yang akan menyiapkan segalanya," jawab Sean.
Bibi Madison adalah pelayan senior yang bertugas mengurus semua keperluan rumah keluarga Armstrong. Dia juga orang kepercayaan Sean untuk menjaga dan merawat istri serta anaknya.
Sean sangat menikmati sarapan paginya. Semua sudah disiapkan bibi Madison dan pelayan lain dengan sangat hati-hati. Mereka juga memisahkan makanan khusus untuk Tuannya yang anti dengan cabe itu.
"Bibi, persiapan untuk besok malam bagaimana?" tanya Sean ketika bibi Madison membawakan teh hangat low sugar pada Tuannya.
"Sudah bibi urus bersama pelayan lainnya. Tuan jangan khawatir," balas bibi Madison.
"Baiklah, Bi. Jangan ada yang terlupa. Usahakan semua berjalan sebagaimana mestinya," ucap Sean.
"Baik, Tuan," ucapnya.
__ADS_1
Setelah sarapan pagi, Sean pamit ke kantor. Sekarang semuanya sudah berubah. Dia tidak lagi mengendarai mobilnya seorang diri seperti ketika berada di apartemen. Dia mempunyai sopir pribadi yang siap mengantarkan kemana saja.
"Harold, ke kantor langsung ya," ucapnya pada sang sopir yang usianya tiga puluh tahun itu.
"Baik, Tuan," jawab Harold.
Sepanjang jalan, mood eks duda ini sedang tidak baik. Dia lebih banyak diam dan bermain ponselnya. Apa yang sedang dinantikan Tuannya? Harold juga tidak tau.
"Harold, setelah sampai kantor, pulanglah kembali ke rumah. Antarkan Bibi Madison memenuhi kebutuhan untuk acara besok." Sean menatap ponselnya kembali. Sepertinya dia harap-harap cemas tentang sesuatu.
Sampai kantor, Harold hanya mengantarkan Tuannya tepat di depan gedung utama. Setelah itu, dia kembali untuk melaksanakan perintah Tuannya.
Sementara Sean langsung masuk ke ruangannya. Sebelum sampai, Sean bertemu dengan Vigor di lobi kantor. Vigor baru saja keluar dari ruangannya.
"Kamu mau kemana?" tanya Sean.
"Ke bawah sebentar, Bos. Ada urusan dengan bagian keuangan. Bukankah hari ini Bos memintaku agar mereka membayarkan bonus karena kelahiran baby A?" ucap Vigor.
"Tunggu! Itu kamu pending saja dulu. Aku masih kesal. Langsung masuk ke ruanganku saja," ucapnya.
"Tidak ada kata tetapi atau bonus tidak sama sekali!" ancamnya.
Oh astaga. Ada apa dengan pria beranak satu ini? Tingkatnya seperti anak ABG kuper. Bukan karena kurang pergaulan, tetapi kurang perhatian. Ck, lucu sekali!
"Baiklah." Vigor mengekor dari belakang. Dia terpaksa ikut daripada bonus seluruh karyawan dipertaruhkan karena ulah konyol Vigor yang melanggar permintaan Bosnya.
Sampai di dalam ruangan Sean, pria itu mempersilakan Vigor untuk duduk di depannya.
"Duduklah! Kepalaku hari ini sedikit pusing," ucapnya. Sean melonggarkan ikatan dasinya yang terlihat lebih kencang dari biasanya.
"Bos pake dasi atau rencana bunuh diri?" sindir Vigor.
"Ck, kau tidak paham juga. Hari ini Callista mengabaikanku gara-gara baby A yang tidak mau ditinggal sama sekali," ucap Sean berkeluh kesah.
Sontak membuat Vigor menertawakan atasannya itu. Dia sangat lucu pada drama konyol yang dibuat eks duda ini.
"Kenapa kamu menertawakanku?" tanya Sean.
__ADS_1
"Bos sangatlah lucu. Kenapa dengan putri sendiri saja bisa secemburu itu? Wajar bila bayi selalu meminta perhatian lebih. Bayi besar harap bersabar!" ledek Vigor lagi.
"Hemm, kamu meledekku lagi?"
"Sudah ya, Bos. Lebih baik kita urus kabar Mama Jenica," ucap Vigor.
Pria eks duda itu langsung menatap lekat wajah adik iparnya itu. Dia bahkan sudah melupakan kecemburuannya pada baby A.
"Apa kabar terakhir yang kamu terima?" tanya Sean.
"Dari dua tempat yang mereka cari, tidak ada satupun yang menemukannya. Terakhir mama Jenica pindah bersamaan dengan kepulangan papa mertua kembali ke rumah lama keluarga Armstrong," ucap Vigor.
Sean tidak tau lagi harus mencarinya kemana. Sudah dua negara yang dijelajahi anak buah Vigor. Tak satupun dari mereka menemukan keberadaannya. Sean duduk di kursinya. Nampaknya keinginan untuk bertemu mama Jenica hanya nol koma nol satu persen. Itu artinya, dia kehilangan jejak orang yang selalu dirindukan kasih sayangnya setelah tau kenyataan jika mama Jelita adalah seorang tante baginya.
"Hentikan pencarian mama!" Keputusan Sean ada maksud tertentu.
"Kenapa Bos?" tanya Vigor.
"Kalaupun mama ingat rumah, tanpa kita mencarinya maka dia akan pulang dengan sendirinya."
Harapan Sean mungkin terlalu tinggi, tetapi dia tidak tau harapan Zelene untuk menemukan mamanya lebih cepat begitu besar. Vigor akan mempertimbangkan lagi keputusan Sean.
"Akan kupertimbangkan lagi, Bos. Zelene berharap padaku agar mereka bisa menemukan keberadaan mama lebih cepat," ucap Vigor.
Vigor benar. Harapan Zelene memang terlalu tinggi. Mengingat keinginan adiknya yang segera bertemu dengan mamanya, Sean tidak tega untuk menghentikan pencarian itu.
Pencarian tetap dilanjutkan dan Sean meminta Vigor untuk menambah anak buahnya lagi. Vigor harus menyebar anak buahnya ke berbagai negara.
🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓
Sambil menunggu bonchap selanjutnya, yuk kepoin karya teman emak...
Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku, Author Ruth89
Terima kasih...
__ADS_1