Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Surat Undangan


__ADS_3

Hari pernikahannya yang sudah tinggal menghitung hari, Dizon sebenarnya tidak ikut andil dalam urusan apapun selain menjadi calon pengantin pria. Namun, kali ini mama Carlotta meminta padanya untuk mengantar undangan khusus pada Sean.


Pria itu sangat berjasa besar pada perjodohan ini. Nanti dihari pernikahan Dizon, aku akan mengucapkan terima kasih padanya.


"Dizon, hari ini datanglah ke kantor Sean! Antarkan undangan padanya," ucap mamanya.


"Kenapa harus aku, Ma? Aku sangat malas bertemu dengannya," protesnya.


"Sean itu tamu penting, 'nak! Tolong sedikit turunkan ego dan sikap emosionalmu itu. Sebentar lagi kamu akan menikah."


"Kenapa kita tidak mengirimkan undangan digital saja, Ma?" protes Dizon. Mengingat sekarang sudah semakin maju dengan beberapa contoh undangan digital yang bisa dikirim melalui Facebook, Whatsapp, Instagram, dan lainnya.


"Sayang... Mama bisa saja meminta seseorang untuk membuatnya, tetapi Mama ingin pernikahan kalian berkesan seperti pernikahan Mama tempo dulu. Sama dengan pernikahan Felix, 'kan? Undangan kertas buat mama itu sangat berkesan, tolong jangan diprotes lagi." Mama Carlotta menyerahkan sebuah undangan khusus Sean dan keluarganya.


Dizon menerima undangan itu kemudian meletakkannya di dasboard mobilnya. Tujuannya kali ini ke kantor SA Corporation.


Jika bukan karena permintaan mama, aku malas bertemu dengannya. Amarahku meningkat ribuan kali hanya melihat wajahnya. Padahal itu masa lalu, kenapa sangat sulit melepaskan pria sepertinya?


Dizon mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang sambil memikirkan bagaimana menghadapi Sean.


Tak lama, mobilnya telah memasuki area parkir SA Corporation. Niatnya untuk turun masih jadi pertimbangan. Diambilnya undangan pernikahan kemudian dia keluar dari mobilnya menuju front office.


"Selamat pagi... Bisa bertemu dengan Tuan Sean Armstrong?" Menyebut namanya saja sudah membuatnya geram berkali lipat.


Staf front office melihat wajahnya sekilas dan mulai menanyakan identitas serta keperluannya.


"Maaf, Tuan. Bisa tunjukkan identitas dan untuk keperluan apa ingin bertemu Bos kami," ucap staf itu.


Dizon malas mengeluarkan kartu identitasnya. Dia tidak mau ribet, tetapi harus menghormati aturan yang berlaku. Pria itu mengambil dompetnya kemudian menyerahkan kartu identitasnya.


"Katakan jika aku hanya mengantarkan surat undangan," ucapnya.


Sekitar lima menit lamanya, barulah staf tersebut mendapatkan izin untuk membawa tamunya masuk.


"Mari Tuan, saya antarkan," ucap staf tersebut.


Dizon mengikuti kemana arah staf itu membawanya. Ini bukan pertama kalinya Dizon datang ke kantor Sean. Dulu, pernah datang karena keributannya dengan Diana Carington.


Tok tok tok.


Staf itu mengetuk pintu ruangan Bosnya.


"Masuk!" jawab Sean dari dalam.


Ceklek!


Dizon Damarion muncul di hadapan Sean Armstrong seorang diri.


"Duduklah!" Sean mempersilakan Dizon untuk duduk di sofa.

__ADS_1


"Aku tidak ingin berbasa-basi, Sean. Aku kemari untuk mengantar undangan pernikahanku karena perintah Mama," ucap Dizon.


"Kamu masih dendam padaku?" Sean bertanya bukan tanpa alasan mendengar kekakuan lawan bicaranya.


Pertanyaan Sean membuatnya kesal. Pria itu selalu saja memancing amarahnya.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Dizon dengan wajah yang mulai memerah.


"Tidak ada. Hanya karena Nyonya Carlotta, kamu datang kesini. Seharusnya kamu bisa menitipkannya pada staf front office-ku. Tak perlu bersusah payah untuk menemuiku," ucap Sean.


Dizon semakin geram karena merasa tersinggung atas ucapan Sean. Dia berdiri hendak menghabisi Sean. Dia sudah siap maju dan memukul pria itu. Tangannya sudah mengepal dan hendak melayangkan tinjunya. Beruntung asisten Sean lebih dulu masuk ke ruangan Bosnya.


Ceklek!


"Ada apa ini?" tanya Vigor.


"Hanya kesalah pahaman, Vigor. Bukan apa-apa," ucap Sean beralasan.


Dizon menurunkan kepalan tinjunya dari wajah Sean. Sedikit terlambat saja, bisa membuat wajah Sean babak belur.


Vigor menatap pria di hadapan Bosnya penuh tanda tanya.


Dizon? Kenapa tiba-tiba dia datang kemari dan terlihat sangat marah? Apa ini ada hubungannya dengan Diana atau orang lain lagi?


"Jika asistenmu tidak datang, aku tidak segan-segan untuk menghabisimu," ucap Dizon pelan.


Ceklek!


Brak!


Dizon menutup pintunya dengan kasar dan amarah yang memuncak.


"Kenapa lagi, dia?" tanya Vigor.


"Dia masih dendam padaku," ucap Sean singkat.


Sean mengambil surat undangan yang ditinggalkan Dizon di meja sofa. Dibawanya ke meja kerjanya dan langsung dibacanya.


Sebelas Januari... Hemm... Rupanya mereka akan menikah juga.


"Apa itu, Bos?" Jiwa kepo seorang Vigor mulai nampak.


"Undangan perjodohan satu miliar yang kamu lakukan tempo hari. Sudah berbuah manis... Tetapi,...." Sean menghentikan ucapannya.


Vigor memikirkan apa yang selanjutnya akan diucapkan Bosnya itu. Bisa jadi mengenai perangai Dizon yang selalu emosional dan tidak mau mengalah atau malah sikap dokter Olivia yang kata Zelene sangat aneh.


"Kenapa Anda buat semakin penasaran seperti ini?" tanya Vigor.


"Aku tidak yakin, Dizon bisa mendapatkan malam pertamanya dengan mudah," ucapnya dengan tawa menggema di ruangannya.

__ADS_1


Jangankan Dizon, Sean dan Vigor mengalami penundaan malam pertama sampai beberapa hari. Sekarang Sean malah meyakini jika Dizon akan mengalami hal yang sama.


Lain halnya dengan Vigor. Dia tidak bisa menertawakan Dizon karena dirinya juga mengalami penudaan malam pertama yang sangat fatal.


"Kenapa tidak ikut tertawa?" tanya Sean.


Vigor baru bisa tertawa ketika Bosnya menanyakan seperti itu. "Dosa paling besar, Bos. Jika aku menertawakan Dizon. Aku sendiri harus bersolo ria demi menyelesaikan pelepasan laknat gara-gara Zelene kabur ke kamar sebelah."


Sean malah menertawakan adik iparnya itu. Dia masih ingat betul tentang ceritanya.


Ck, apa bedanya denganku? Aku harus menunggu berhari-hari, barulah istri kecilku itu yang menggodanya.


"Sudahlah, lagipula aku sudah mendapatkannya," ucap Vigor dengan senyum tersungging diwajahnya.


"Apa kamu akan datang?" tanya Sean.


"Memangnya aku diundang?"


"Tentu, kamu keluarga Armstrong. Kita akan berangkat bersama."


"Kapan?"


"Sebelas Januari," jawab Sean.


"Hah? Secepat itu?" Vigor sudah seperti anak gadis yang akan dijodohkan dengan pria tidak dikenal.


Pikiran nakal Vigor mulai bekerja. Dia sedang memikirkan kado pernikahan yang paling gila untuk pasangan paling rumit sejagad itu.


Pria itu harus bekerja sama dengan istri dan kakak iparnya untuk membuat Dizon bisa habis dihadapan istri anehnya itu.


"Apa yang sedang kamu pikirkan, Vigor. Kenapa diam?


"Aku sedang memikirkan kado pernikahan tergila yang akan kuberikan pada pria emosional itu," ucap Vigor dengan tawa yang menggema.


Sean sepertinya lebih tertarik daripada membaca undangan pernikahan pria itu. Dengan uang satu miliar pun masih lebih tertarik untuk mengerjai Dizon dan dokter Olivia.


"Baiklah, aku setuju. Kamu bisa memberikan ide kado terkonyol untuk mereka. Libatkan kakak iparmu. Dia selalu punya ide konyol untuk melakukan itu." Sean bangga pada istrinya. Dia memang masih terlihat muda, tetapi pikiran mesumnya tidak jauh darinya.


🍒🍒🍒🍒🍒🍒TBC🍒🍒🍒🍒🍒


Yuk vote rame-rame, biar emak makin semangat...


Kira-kira, kado pernikahan apa yang akan membuat dokter Olivia dan Dizon kesal setengah mati? Bantu di kolom komentar ya, Kak....


Biar makin semangat, ini nih... wajah cakep Bambang Vigor...



Vigor Abraham

__ADS_1


__ADS_2