
Juvenal sedang mengganti pakaian di kamarnya. Dia akan pergi ke SA Corporation bersama Diana. Ketika sampai di ruang tengah, dia melihat gadis kecilnya terlihat sangat manyun.
"Hei, gadis kecil Daddy kenapa manyun begitu?" tanya pria yang saat ini berusia empat puluh dua tahun itu.
"Daddy mau kemana? Willow nggak diajak?" tanya gadis kecil itu.
"Daddy dan Mommy ada urusan sebentar. Besok sore kita akan pulang ke rumah Willow. Bagaimana? Willow suka?" Juvenal tidak ingin mengajak putrinya bertemu Sean. Biarlah menjadi urusannya dengan pria itu.
Willow mengangguk. Dia akan berada di rumah ditemani beberapa pelayan yang sudah akrab dengan gadis itu.
"Baiklah. Tunggu di rumah, yah? Daddy cuman sebentar, kok," ucapnya.
Bergegas Juvenal dan Diana pergi ke kantor SA Corporation. Sepanjang perjalanan, Juvenal berbincang dengan calon istrinya.
"Kamu tidak membawakan buah tangan untuk Sean? Mungkin untuk istrinya?" tanya Juvenal.
"Kamu sudah tau jika Sean sudah menikah?"
"Iya. Memangnya kenapa?"
"Wanita muda itu benar-benar membuatku kesal kapan hari," ucap Diana.
"Ck, kamu saja yang terlalu bersikap aneh. Wanita itu malah terlihat sangat cuek dan enggan untuk mencari musuh," ucap Juvenal.
Tak ada gunanya berdebat dengan Juvenal. Memang dirinya yang keterlaluan waktu itu.
"Mampir ke toko buah. Aku mau belikan dia parsel dulu," ucap Diana akhirnya.
Juvenal mengangguk tanda setuju. Sebelum sampai, dia membelokkan ke Toko Buah terbesar di kota itu. Tak lama, Diana turun seorang diri. Juvenal menunggunya di dalam mobil.
Sekitar lima belas menit, Diana kembali dengan parcel ditangannya dan sebuah kantong plastik berisi buah yang berbeda.
"Untuk siapa?" tanya Juvenal. Sepertinya yang dibeli Diana terlalu banyak.
"Sebagian untuk Willow. Gadis kecilku itu doyan sekali makan buah," jawab Diana.
Juvenal tak bertanya lagi. Dia langsung mengendarai mobilnya ke kantor Sean. Dia tidak akan lama di sana karena sudah berjanji pada gadis kecil itu.
SA Corporation yang terletak di antara gedung megah lainnya merupakan tempat yang dipilih Sean untuk menjalankan bisnisnya sebagai kontraktor dan pertambangan. Dia juga menjalankan bisnis jual beli alat berat.
Mobil Juvenal memasuki area parkir. Sebagai tamu yang baru, Juvenal dan Diana menuju front office untuk meminta bertemu Sean. Diana biasanya langsung nyelonong masuk. Kali ini dia harus jaga image apalagi sedang bersama Juvenal.
"Maaf, bisa bertemu dengan Tuan Sean Armstrong?" tanya Juvenal.
Staf front office itu memang belum pernah bertemu dengan pria di hadapannya. Staf itu lebih sering bertemu dengan Diana yang selalu nyelonong masuk.
__ADS_1
Sebagai staf yang baik, dia berusaha mengabari Bosnya. Tetapi sebelum itu, dia harus menanyakan identitas dan keperluannya untuk apa.
"Maaf, Tuan. Nama Anda dan keperluannya untuk apa?" tanya staf itu.
"Juvenal. Saya hanya ingin berpamitan, itu saja," ucapnya.
Tak menunggu lama, staf itu mengabari Bosnya. Sedikit lama menunggu persetujuan karena Sean masih menimbang lagi. Haruskah dia bertemu lagi dengan pria itu? Mengingat tujuannya hanya untuk berpamitan. Sekitar sepuluh menit kemudian, staf front office itu mempersilakan masuk ke ruangan Bosnya.
"Mari Tuan, saya antarkan!" ajak staf itu.
Sampai di depan ruangan Bosnya, staf itu hanya membantu mengetukkan pintu saja.
Tok tok tok.
"Masuk!" jawab Sean dari dalam.
Ceklek!
Juvenal datang bersama Diana.
"Silakan duduk!" Sean mempersilakan tamunya duduk di sofa.
Diana meletakkan parselnya di atas meja.
"Tidak masalah! Aku tidak terlalu sibuk," jawab Sean.
"Sean... Aku ke sini mau pamit dan meminta maaf," ucap Diana to the point.
Sean masih mencerna ucapan mantan istrinya itu. "Memangnya kamu mau kemana lagi?"
"Sean, maafkan kesalahanku di masa lalu. Aku telah menyusahkanmu dan membuat pernikahan kita hancur tak tersisa. Aku akan kembali bersama Willow dan Juvenal untuk memulai kehidupan yang baru," ucap Diana.
"Kalian sudah memutuskan?" tanya Sean.
"Iya. Besok sore kami akan berangkat ke tempat Diana tinggal. Kami akan memulai kehidupan baru di sana. Oh ya, maafkan atas kesalahanku yang tidak sengaja itu," Juvenal juga meminta maaf pada Sean. "Terima kasih telah mempertemukan kami kembali."
Ucapan Juvenal membuat Sean merasa sedih. Sekian lama, seorang anak yang terpisah dengan ayahnya akhirnya bertemu kembali.
"Baguslah! Jaga Willow dengan baik. Dan, kamu Diana. Jangan berulah lagi! Juvenal akan bertanggung jawab penuh atas dirimu," ucap Sean mengingatkan.
Diana terdiam. Baginya, Sean memang orang yang baik. Dia pantas mendapatkan Callista. Sayang seribu sayang, Mama Jelita tidak menyukai gadis itu. Menurut mantan mertuanya itu, Callista tidak selevel dengan putranya. Apalagi gadis itu berasal dari yatim piatu yang tidak jelas asal usulnya.
Mama Jelita memang pernah memaksa Diana untuk kembali pada Sean, tetapi Sean terus saja menolak. Pernikahannya dengan Callista baru tercium ketika sang Mama pulang atas permintaan Diana.
Diana juga yang merencanakan perjodohan Felix dengan Zelene. Sebenarnya tujuan Diana saat itu hanya mengikuti permintaan mantan mertuanya yang memaksa untuk mencarikan jodoh untuk putri bungsunya yang sudah berumur itu.
__ADS_1
"Sean... Aku juga minta maaf pada istrimu. Aku dengan sengaja telah menyakiti hatinya. Sekali lagi, tolong maafkan aku," ucap Diana.
Beberapa kali bertemu wanita muda itu dan selalu berujung keributan. Dia merasa malu pada Sean dan Juvenal saat ini. Tetapi kedua pria itu berusaha memahami kondisi Diana.
"Akan kusampaikan. Dia bukan wanita pendendam. Jangan khawatir!"
"Terima kasih. Callista memang layak mendapatkan dirimu. Dia wanita yang baik," ucap Diana memuji istri baru mantan suaminya.
"Jadi, kapan kalian akan menikah?" tanya Sean. Tujuan sepasang pria wanita itu pasti akan mengarah ke sana.
Juvenal dan Diana saling pandang. Juvenal lebih dulu angkat bicara.
"Secepatnya setelah hasil tes DNA Willow keluar," jawab Juvenal.
Sean menatap tajam pada pria itu. "Kamu meragukan putrimu?"
Juvenal menggeleng. "Aku tidak meragukannya, Sean. Aku ingin anak itu memiliki nama belakang keluargaku. Aku akan mengajukan ke pengadilan."
Sean bisa bernafas lega. Masalahnya dengan mantan istrinya telah terpecahkan dan selesai.
"Baguslah! Aku mendukungmu."
"Terima kasih, Sean. Kita berdua langsung pamit, ya? Willow pasti sedang menunggu. Aku memintanya untuk berada di rumah karena aku dan Diana hanya ingin berpamitan dan mengucapkan terima kasih padamu," ucap Juvenal. Pria itu lebih dulu berdiri untuk segera keluar dari ruangan Sean.
Diana juga ikut berdiri. Dia akan pulang bersama masa depannya.
"Semoga selalu bahagia dan terima kasih atas parcelnya," ucap Sean.
Setelah Diana dan Juvenal meninggalkan ruangannya. Sean berdiri menatap jauh ke jendela yang ada di ruangannya.
Masalahku dengan Diana telah selesai. Gadis kecil itu pasti sangat bahagia. Sekarang, aku harus fokus pada masalahku yang lainnya. Mama Jelita, masih banyak urusanku yang belum selesai dengannya.
🥝🥝🥝🥝🥝TBC🥝🥝🥝🥝🥝
Kelar guys urusannya dengan ulet bulu, Mom Diana. Biarkan mereka bahagia... sekarang fokus perjodohan konyol satu M itu... Semoga suka part kali ini. Kita selesaikan konfliknya biar lekas kelar.
Jangan lupa like, vote, dan komentarnya... 🥀🥀🥀☕☕☕⭐⭐⭐⭐⭐ ditunggu...
Kuy Kak, kepoin karya teman emak... Ceritanya juga gak kalah keren..
Mendadak Menjadi Baby Sister Anak Sang Duda (Author : Syasyi)
Terima kasih. Luv Yu All... 😍😍😍😘😘😘😘
__ADS_1