
Zelene dan Callista dalam perjalanan pulang ke apartemen kakaknya. Ketika berada di dalam taksi, ponsel Callista berdering.
"Siapa, Kak?" tanya Zelene.
Callista mengambil ponselnya dari dalam tas.
"Kakakmu," ucap Callista kemudian mengangkat panggilannya. "Halo,..."
"Sayang, kamu dimana? Sebentar lagi aku sampai di Mal," ucap Sean.
"Maaf, sayang... Aku dan Zelene dalam perjalanan pulang."
"Baiklah, aku akan ambil jalur memutar saja. Kita bertemu di apartemen. Hati-hati, sayang."
"Iya, sayang. Kamu juga," ucap Callista menutup sambungan teleponnya.
Sepanjang perjalanan, Callista telah memikirkan akan berbicara jujur kepada suaminya tentang pria asing itu. Dia tidak mau kesalah pahaman akan terjadi lagi dalam kehidupan rumah tangganya yang sudah adem ayem ini.
Mengenai Mama mertuanya, untuk sementara waktu Callista tak perlu khawatir. Karena wanita paruh baya itu sedang berada di luar negeri untuk beberapa bulan ke depan. Itu kabar terakhir yang didapat dari Zelene.
Taksi telah sampai di gerbang apartemen. Seperti biasa, Zelene yang membayarkan melalui aplikasi taksi online miliknya.
"Ze, terima kasih. Sisa uang dari pria itu bisa kamu ambil. Anggap saja ganti uang taksi yang sudah kamu bayarkan beberapa kali," ucap Callista sembari berjalan menuju unit suaminya dengan membawa beberapa kantong belanjaan.
Zelene mengingat pria yang tadi. Dia juga tidak ingin menerima uang itu karena setiap bulan, kakaknya masih memberikan uang jajan seperti selama dia berada di luar negeri.
"Tidak perlu, Kak! Simpan saja. Kak Sean setiap bulan masih mentransfer uang jajanku," ucapnya.
Ketika sampai di depan unit apartemen, Callista meletakkan kantong belanjaannya kemudian membuka pintu.
Ceklek!
"Masuk, Ze," ajak Callista yang mengambil kembali kantong belanjaannya.
Zelene duduk di ruang tamu, sementara Callista memasukkan barang-barang itu ke tempat yang seharusnya. Sekitar sepuluh menit, Callista kembali ke ruang tamu.
"Kakak yakin tidak mengenali pria itu?" tanya Zelene.
Ceklek!
Belum sempat Callista menjawab, suaminya datang.
"Baru sampai, sayang?" tanya Callista.
"Iya, tadinya aku mau jemput ke Mal. Kalian keburu pulang. Kalian sedang membicarakan apa? Sepertinya serius," ucap Sean.
"Tadi, kakak ipar bertemu pria asing yang baik hati," ucap Zelene.
Sean membulatkan matanya menatap istrinya. "Siapa pria itu, sayang?" Tatapan mata Sean tidak berpindah dari istrinya.
"Aku tidak mengenalnya," ucap Callista. Kenyataannya memang begitu.
__ADS_1
"Kamu yakin?"
"Iya, seribu persen aku tidak pernah kenal dengan pria menyebalkan sepertinya," Callista memang terlihat tidak senang dengan pria asing itu.
Sean sangat cemburu karena belum mendengarkan keseluruhan cerita dari istrinya. Dia langsung ke kamar tanpa berbicara apapun.
"Ze, tunggu sebentar. Suami dudaku sedang cemburu," pamitnya pada adik iparnya.
Sean masuk ke kamar. Dia melepas jas dan dasinya sesuka hatinya. Dia diam seribu bahasa.
Callista mendekatinya.
"Sayang... Jangan cemburu. Aku tidak mengenalnya," ucap Callista. Dia mendekat dan memegang pundak suaminya.
Sean mengalihkan pandangannya. Dia sangat cemburu. Dia tidak bisa membayangkan pria itu mendekati istrinya.
Aku tidak habis pikir. Siapa pria itu? Beraninya mendekati istriku. Dia tidak tau berurusan dengan siapa?
"Hei, sayang. Lihatlah! Daddy-mu cemburu sama mommy," ucap Callista. Tangannya beralih memegangi perutnya yang belum terlalu buncit.
Sean masih terdiam. Dia tidak memandang istrinya sama sekali. Callista tidak kehabisan akal. Dia ingat pesan sahabatnya untuk menjadi istri agresif. Callista memegang wajah suaminya dengan kedua tangannya.
"Sayang, pandanglah istrimu! Aku tidak akan merugikan suamiku. Aku sangat mencintaimu. Jangan takut aku akan berpaling. Suamiku sudah ganteng dan cakep seperti ini. Mana mungkin aku berpaling," rayu Callista.
"Kamu yakin pria itu tidak menarik?"
Callista menggeleng.
"Sayang, kalau pria itu menarik..., untuk apa aku pulang ke apartemen ini? Benar, kan?"
"Ceritakan kronologisnya!" Sean tidak menjawab pertanyaan istrinya, dia malah menanyakan cerita yang sebenarnya.
Callista mulai menceritakan bagaimana pria itu mengambilkannya susu untuk ibu hamil, meletakkannya ke dalam troli yang dibawanya dan meninggalkan uang di kasir untuk membayar barang belanjaannya.
"Berapa pria itu meninggalkan uangnya? Dan, mana struk belanjaannya? Kita harus mengembalikannya! Dia pikir, suaminya tidak bisa membelikan hanya seisi troli saja? Satu Mal akan kubelikan untuk istriku! Belum tau pria itu berhadapan dengan siapa?" cerocosnya.
Callista tersenyum melihat suaminya yang sangat cemburu buta. Seperti anak ABG yang sedang marah.
"Sudah cemburunya?" tanya Callista.
Sean menggeleng. "Belum, jika aku belum menemukan pria itu!"
"Sini peluk istrimu! Biar rasa cemburunya berkurang," ucap Callista.
Sean berdiri memeluk istrinya. "Jangan pernah meninggalkanku. Apapun itu alasannya."
"Tidak akan pernah. Mana ada suami duda sebaik dirimu, sayang," rayu Callista.
"Aku bukan duda! Aku pria matang beristri," ucapnya.
"Iya, percaya!" Callista tersenyum pada suaminya. "Sudah cemburunya? Kasian Zelene. Sudah menunggu sejak tadi."
__ADS_1
"Astaga! Maafkan aku, sayang," Sean melepaskan pelukannya.
"Uang dan struk belanja akan kuletakkan di meja setelah aku menemui Zelene. Lekaslah membersihkan diri. Jangan ngambek lagi!" ucapnya kemudian beralih ke ruang tamu.
"Hai, Ze... Maaf membuatmu menunggu," ucap Callista. Dia mendaratkan tubuhnya di sofa tepat disebelah adiknya.
"Kak Sean bagaimana? Apa dia secemburu itu pada kakak?" tanya Zelene penasaran. Dia takut kakaknya akan ribut dengan kakak iparnya.
"Biasa, Ze. Seperti anak ABG. Ada adegan manyun dan ngambeknya," ucap Callista.
"Oh ya, aku melupakan sesuatu. Suamiku meminta Kak Sean untuk ke apartemen malam ini. Ada hal yang ingin dibicarakan."
"Baiklah, kita tunggu saja dia keluar."
Sekitar dua puluh menit, Sean sudah berada di hadapan adik dan istrinya.
"Sudah diletakkan struk dan sisa uangnya?" tanya Sean.
Callista beranjak dari duduknya mengambil apa yang dimaksud suaminya. Diletakkannya di atas meja yang sudah ditunjuk oleh Sean.
"Sudah, sayang," ucap Callista.
Zelene terdiam. Dia tidak mau ikut campur urusan kakaknya.
"Sayang, Vigor meminta kita untuk ke apartemennya malam ini," ucap Callista.
"Ada apa, Ze? Apa ada hal yang penting?"
"Entahlah, Kak. Suamiku hanya mengirim pesan untuk meminta kakak datang ke sana. Dia juga meminta nomor ponsel Felix, tetapi aku tidak punya," ucap Zelene.
Mungkin ada urusan dengan rencana yang kapan hari....
"Kenapa tidak di apartemenku saja?" protes Sean.
"Mana kutahu, Kak. Itung-itung sekalian mengantarkanku pulang," harap Zelene.
"Baiklah! Sayang, kamu bersiaplah dulu. Nanti kita makan malam di apartemen Vigor saja. Istrinya pandai memasak," goda Sean pada Zelene.
Callista kembali lagi ke kamarnya. Sepulang dari Mal, dia memang belum melakukan apapun selain menata belanjaannya.
Sean menunggunya bersama Zelene.
"Aku akan mengirimkan pesan kepada Felix," ucapnya.
[Felix, datanglah ke apartemen K&Q lantai 5 nomor 27. Kutunggu di sana] bunyi pesan untuk Felix.
"Bagaimana, Kak? Apa. sudah terkirim pesannya?"
"Sudah, tetapi dia belum membalasnya. Aku yakin dia pasti datang," ucapnya.
Hanya sekitar tiga puluh menit, Callista telah kembali ke ruang tamu. Mereka akan berangkat ke apartemen Vigor. Mungkin untuk urusan rencana malam akhir tahun yang sudah disepakati, tetapi belum menemukan solusi.
__ADS_1
🍓🍓🍓🍓TBC🍓🍓🍓🍓