Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Kakak ipar atau adik ipar?


__ADS_3

Sean memarkir mobilnya di basement apartemen. Zelene pertama kalinya masuk ke apartemen Golden dibuat takjub dengan view dan bangunan yang sangat luar biasa itu.


"Kak, apartemenmu bagus, yah?" Zelene menunjukkan rasa kagumnya.


Sejak perceraian Sean dan Diana lima tahun lalu, Zelene memilih tinggal di luar negeri. Sean mengikuti jejak adiknya yang keluar dari rumah utama dan lebih memilih untuk tinggal di apartemen.


"Begitulah, Ze. Aku sudah lama tertarik dengan apartemen ini. Ayo naik!" Sean mengajak adiknya menuju unitnya.


Sesampainya di depan unit, Sean membuka pintu.


Ceklek!


"Masuklah!"


Zelene pertama kalinya masuk ke unit kakaknya. Dia langsung mengomentari interior dan meja sudut yang menarik perhatian yaitu sebuah buket bunga mawar merah tergeletak di sana.


"Wah, keren! Pemilihan interiornya sangat luar biasa... Buket bunga milik siapa ini, Kak?" Zelene menunjukkannya.


Itu milik istriku, Ze!


Sean tak menjawab pertanyaan adiknya. Misinya untuk mempertemukan adik dan istrinya akan segera terwujud. Dia kemudian memeluk adiknya untuk menumpahkan segala kerinduan dan kebahagiaan yang dirasakan saat ini.


"Aku merindukanmu, Ze! Aku sangat bahagia bisa melihatmu lagi," ucapnya.


Sean seolah menyadari kehadiran seseorang. Dia yakin istrinya sedang melihatnya. Sean menengok sekejap dan beradu pandangan mata dengan istrinya.


Tanpa menunggu aba-aba, istrinya berbalik arah masuk ke kamarnya.


Astaga! Dia salah paham lagi....


"Ze, tunggu sebentar! Aku akan segera kembali," Sean melepaskan pelukannya.


Sean hendak masuk ke kamar, tetapi pintu kamarnya dikunci dari dalam.


"Sayang, buka pintunya!" teriak Sean.


Sementara di kamarnya, Callista sedang menangis di balik pintu. Dia sedang berusaha keras untuk bisa bersikap romantis kepada suaminya, tetapi sepertinya sudah terlambat. Suaminya membawa wanita lain masuk ke apartemennya.


Siapa lagi wanita itu? Beberapa hari yang lalu datang mantan istrinya ke kantor. Sekarang siapa lagi? Kekasih barunya? Dasar Om-om nggak ada akhlak! Bisa-bisanya selingkuh di depan istrinya. Hiks....


"Sayang, buka pintunya! Aku dobrak ya?" teriak Sean dari luar.


Bodo amat! Mau dobrak ya dobrak aja... Udah ketahuan selingkuh masih aja sok romantis. Gue juga bisa sakit hati, keles!


Sean tak kehabisan akal. Dia masuk melalui pintu rahasia seperti beberapa hari yang lalu ketika Callista menguncinya dari luar.


Sean sudah berada di kamar. Dia mendapati istrinya sedang menangis. Sean mendekat kemudian memeluk istrinya. Tak ada penolakan.


"Om jahat! Kenapa bisa masuk kesini?" protes Callista sesenggukan.


"Sayang, apa kamu lupa? Ini apartemen siapa? Aku bisa masuk darimana saja," candanya.


"Ish, nggak lucu! Kenapa bisa bawa selingkuhan kesini?" protes Callista.


Sean tertawa. Tuduhan istrinya sangat tidak masuk akal.

__ADS_1


"Selingkuhan yang mana?" Sean tak bisa menahan diri untuk tidak membuat istrinya kesal.


"Yang di depan, lah! Memang yang mana lagi? Kalau pelukannya kek gitu bikin sakit mata yang ngelihat, tauk!"


"Cemburu?" goda Sean.


"Iyalah!" jawab Callista singkat.


Akhirnya... Kamu bisa cemburu juga, sayang!


"Pandang wajah suamimu!" Callista selalu saja terhipnotis dengan perintah suaminya. "Mana mungkin mantan duda ini selingkuh, jika istrinya saja sudah secantik ini...," rayu Sean.


"Bohong!" Callista masih tidak percaya.


"Percayalah! Dia itu Zelene, adikku...," ucap Sean mengakhiri perdebatannya.


Zelene? Adiknya Om Sean? Astaga! Gue malu sekali. Aduh, gimana nih?


"Bagaimana? Sudah ingat?" tanya Sean. Beberapa hari yang lalu, Sean pernah menyebutkan nama adiknya di depan Callista.


Callista mengangguk.


"Mau diantarkan bertemu adik ipar?" Sean menawarkan.


"Apa dia orang yang baik, Om?" Callista khawatir jika pernikahannya dengan Sean akan ditentang adiknya.


"Seribu persen dia sangat baik, sayang. Ayo...," Sean melepaskan pelukannya. "Sebelum itu, cuci muka dulu. Biar Ze tidak menuduhku telah melakukan KDRT padamu, sayang."


Tak menunggu lama, Callista sudah kembali dalam keadaan lebih segar. Tidak terlihat seperti habis menangis.


"Nah, begitu kan cantik. Jangan cengeng lagi, aku tidak suka!" goda Sean. "Ayo kita temui adikku!"


Zelene melihat kedatangan kakaknya menggandeng seorang wanita. Hal itu yang membuatnya semakin terkejut.


Astaga! Apa dia wanita simpanan Kak Sean atau semacam sugar baby? Masih terlihat sangat muda... Oh God, Kakak....


"Kak, siapa wanita ini?" selidik Zelene. Dia langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Duduklah, Ze!" perintah kakaknya.


Sean juga ikut duduk bersama istrinya.


"Apa dia sugar baby?" Zelene masih tidak percaya jika kakaknya menyembunyikan seorang wanita di apartemennya.


"Apa kamu pikir aku menjadi sugar daddy?" Sean tersenyum dan tidak terima tuduhan adiknya. "Ze, perkenalkan ini Callista, istriku. Dan ini adalah Zelene, adikku...," Akhirnya Sean berhasil mempertemukan adik dan istrinya.


"Hah? Kakak tidak sedang bercanda, kan?" balas Zelene masih dalam keterkejutannya.


Setelah mendengar kabar kepulangan Mama yang mendadak, sekarang dia dikejutkan dengan kakaknya yang telah menikah lagi.


Zelene dan Callista berjabat tangan.


"Sayang..., bicaralah dengan Ze. Aku akan bersiap untuk ke kantor. Yah walaupun sudah sangat terlambat. Ze, kamu tidak keberatan bersama kakak iparmu? Lain waktu saja ke kantornya," Sean masuk ke kamar untuk bersiap.


Zelene mengangguk.

__ADS_1


"Iya, sayang...," jawab Callista. Dia hanya ingin bersikap sebagaimana mestinya di depan adik iparnya.


"Wah, kalian sangat romantis sekali... Apa kakak sudah mengenal lama Kakakku?" Zelene membuka percakapan dengan kakak iparnya yang terlihat bingung ingin memulai darimana.


Apa gue jujur aja jika kami terikat pernikahan kontrak?


"Halo, Kakak ipar kenapa diam?" tanya Zelene.


"Sebenarnya aku baru saja mengenalnya. Kami terikat pernikahan kontrak," jawab Callista. Dia merasa tidak nyaman berhadapan dengan adik suaminya.


Astaga! Kak Sean... Apa yang Kakak rencanakan dibelakangku?


"Usia Kakak berapa?" Zelene seperti seorang atasan yang sedang melakukan interview.


"Dua puluh tahun...."


Astaga! Kakak..., kau menikahi gadis kecil. Sangat kecil malah. Aku yang hampir kepala tiga saja belum menikah. Ini tidak adil untukku!


"Bagaimana aku harus memanggilnya? Kakak ipar atau adik ipar?" canda Zelene mengingat usia Callista jauh dibawahnya.


"Panggil Kakak ipar, Ze... Kamu jangan bercanda! Kakak sedang tidak bermain rumah-rumahan, Ze...," jawab Kakaknya yang kebetulan lewat hendak berangkat ke kantor. "Sayang, kemarilah sebentar!" panggil Sean pada istrinya.


Callista berdiri mendekati suaminya. Sean langsung memberikan kecupan di keningnya.


"Astaga! Kakak tega sekali bikin aku baper!" teriak Zelene.


"Lekaslah menikah, Ze! Sayang, temani Zelene ya... Aku berangkat ke kantor," Sean meninggalkan adik dan istrinya di apartemen.


"Hati-hati, sayang...," jawab Callista.


Gue udah belajar romantis, kan?


"Kak, apa suamimu selalu begitu?" Zelene mulai kepo.


"Maksudnya?" Callista berusaha mengakrabkan diri dengan adik iparnya.


"Selalu bersikap sok romantis dan pamer kemesraan di depan semua orang. Huft, menyebalkan!" protes Zelene.


"Iya, dia selalu bersikap romantis padaku," Callista berkata jujur.


"Wah, aku penasaran. Ceritakan awal pertemuan kalian sampai bisa menikah?" Jiwa kepo Zelene meronta-ronta.


Hah? Apa gue ceritakan semuanya?


😍😍😍😍😍


Halo kakakku yang kece badai semuanya...


Semoga selalu diberikan keberkahan, kesehatan, dan rezeki berlimpah.... Aamiin...


Jangan lupa like, komentar, dan votenya. Terima kasih 😍


Sambil menanti Emak author merangkai part selanjutnya, kuy kepoin karya teman Emak..


Judulnya: Sebuah Hati

__ADS_1


Author : Asire



__ADS_2