Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Memaksa Pulang


__ADS_3

Mengingat informasi yang didapatkan dari kakak iparnya, malam ini Zelene memutuskan untuk menginap di apartemen kakaknya. Dia berniat hanya untuk sementara waktu agar dirinya menunda melakukan malam pertama dengan Vigor, suaminya. Dia ingin mempersiapkan dirinya agar benar-benar siap menghadapi kenyataan yang katanya menyakitkan tetapi mengasyikkan itu.


Terdengar aneh memang, jika biasanya semua pengantin baru akan menantikan malam panas yang membara. Lain halnya dengan Zelene, gadis itu belum siap menyerahkan seluruh raganya untuk suaminya.


Setelah dia membersihkan diri, Zelene langsung menemui suaminya. Dia ingin meminta izin untuk menginap di apartemen Kakaknya.


"Kak, boleh aku meminta sesuatu?" tanya Zelene dengan wajah malu-malu.


Pasti dia meminta malam pertama romantis.


"Apa? Katakanlah!"


"Malam ini, kita tidur di apartemen Kak Sean dulu, yah? Besok atau lusa baru pulang ke apartemen kakak," ucapan Zelene membuat Vigor mengelus dada. Padahal rencananya malam ini dia ingin unboxing istrinya itu dengan tenang dan damai. Rencananya berujung sia-sia.


"Mana bisa begitu, Ze? Pulanglah ke apartemen Vigor!" tegur Kakaknya yang sudah berada di ruang tamu.


Vigor mendapatkan dukungan dari kakak iparnya. Dia berusaha menangkap umpan yang diberikan.


"Nah, benar apa kata kakak ipar. Sebaiknya kita pulang ke apartemen. Kau tau Ze, Kakak ipar akan merasa terganggu dengan keberadaan kita di sini," Vigor membujuk istrinya secara halus.


"Kak, aku masih ingin belajar banyak dari Kak Callista," pintanya.


Apa saja yang dibicarakan istriku dengan gadis ini? Sampai dia tidak ingin pulang dari apartemenku.


"Memangnya kamu mau belajar apa, Ze?" Sean ingin memancing ucapan adiknya.


"Memasak. Aku dengar kakak ipar sangat pandai memasak. Apa salahnya aku belajar darinya?" Lagi-lagi alasan klasik yang didengar oleh dua orang pria di hadapannya. Padahal Zelene sebenarnya adalah alumni sekolah memasak yang masakannya luar biasa enak dibandingkan istri Sean yang masih amatiran itu.


"Kau tidak ingin melakukan malam pertama, yah," bisik kakaknya tepat di telinga Zelene. Muka Zelene langsung memerah seperti kepiting rebus.


Ih, Kak Sean tau aja. Jadi malu deh.


Demi menutupi rasa malunya, Zelene bergegas ke dapur untuk menyiapkan makan malam spesial. Di sana, Callista sedang menyiapkan makan malam untuk suaminya dan adik iparnya.


"Kak, perlu bantuan?" tanya Zelene.


"Duduklah, Ze! Aku biasa melakukannya sendiri," jawab Callista.


Sean ingin memanfaatkan situasi yang bagus ini untuk membuat Zelene kebakaran jenggot. Sean melihat Callista sedang menyiapkan makan malam kemudian didekati istrinya itu. Sean sengaja memeluk istrinya dari belakang. Dia sengaja melakukan adegan romantis di depan adiknya.


"Ih, Kak Sean... Kenapa begitu di depan Ze?" protes Zelene menutup kedua matanya.

__ADS_1


"Agar kamu tau rasanya berdua itu bisa seromantis ini, loh," goda Sean lagi. Dia yakin, pikiran adiknya saat ini melanglang buana entah kemana.


"Hemm, Kak Sean jangan menggodaku seperti itu. Awas saja, aku pasti bisa lebih romantis dari kakak," Zelene membuka matanya. Dia berusaha untuk menerima kegilaan yang dipamerkan sang kakak.


"Makanya, pulang ke apartemen Vigor!" usirnya.


"Ish, Kakak mengusirku? Tidak bisa, aku sudah memutuskan untuk menginap di apartemen ini. No comment lagi, yah!" Zelene sengaja menghindari malam pertama bersama suaminya. Dia belum siap untuk melakukannya.


Sean tidak kehabisan akal. Dia sengaja ingin mencium istrinya di depan Zelene, tetapi sayang Callista malah mendorongnya untuk tidak melakukan hal yang lebih gila lagi.


"Ish, jangan mesum di depan orang!" protes Callista.


Sean kali ini menertawakan istrinya.


"Sayang, kamu tidak peka sekali! Biarkan Zelene mempunyai keinginan yang lebih tinggi dari ini...," ucap Sean.


"Kak, aku pamit," ucap Zelene pada Sean. Gadis itu pindah ke ruang tamu karena merasa tak nyaman melihat kekonyolan yang dibuat kakaknya.


Sean menertawakan adiknya. Callista mencubit suaminya karena sejak tadi terus saja menggoda adiknya.


"Om, biarkan Zelene menginap di sini. Apa salahnya, sih? Hanya semalam saja," tegur Callista.


"Jangan begitu, sayang. Ze sudah bersuami. Apa kamu tidak kasihan sama Vigor. Dia sudah menunggu untuk nganu sejak lama, loh! Kalau tidak dituntaskan malam ini, makhluk hidupnya semakin berkarat...," ucapan Sean membuat Callista melotot tajam ke arahnya.


Setelah makan malam siap, Callista memanggil semuanya untuk berkumpul di meja makan. Zelene dengan muka cemberutnya duduk berdampingan dengan Vigor.


"Jadi pulang atau tidak?" tanya Sean pada adiknya.


"Iya, jadi. Kakak jahat udah mengusirku secara halus. Padahal aku masih ingin menginap di sini," ucap Zelene kecewa.


Wah, terima kasih kakak ipar. Kau memang kakak ipar yang paling best. Tau aja keinginan terpendamku.


Vigor senyam-senyum sendirian. Sean yang menyadari tingkah asistennya itu langsung digodanya.


"Jangan lupa, bobol yang kenceng! Kalau perlu, habisin sekalian sampai tetes terakhir," ucapnya kemudian tertawa.


"Eh, Kak Sean ngomong sama siapa, sih?" protes Zelene. "Makin lama kenapa omongannya makin nggak jelas gitu."


"Sudah-sudah. Ayo dimakan dulu. Nanti baru lanjut lagi ngobrolnya," ucap Callista menengahi keributan yang terjadi di meja makan.


Setelah makan malam selesai, Zelene berubah haluan. Dia memutuskan untuk pulang mengikuti suaminya.

__ADS_1


Kak Sean benar, aku harus pulang ke apartemen Kak Vigor. Setidaknya jika aku belum siap untuk melakukannya, aku bisa menyampaikan kepada Kak Vigor dengan baik-baik, kan? Dia juga nggak bakalan marah.


"Kak Vigor, malam ini kita pulang ke apartemen kakak, yah?" ajak Zelene pada suaminya.


"Yakin, Ze? Katamu masih mau menginap di sini?" ucap Vigor. Padahal ucapannya hanya ingin membuat istrinya itu benar-benar mau pulang atau sekedar omong kosong saja.


"Yakin, Kak. Zelene penasaran sebagus apa apartemen kakak?" Zelene memaksakan untuk pulang ke apartemen.


Astaga, Ze! Hanya penasaran mengenai itu. Aku kira bakalan ngajak malam pertama yang istimewa.


Vigor memijit pelipisnya. Dia pikir akan mudah melakukan unboxing setelah menjadi istrinya, tetapi sama sulitnya dengan mendapatkan dirinya.


"Bagus kalau begitu, Ze. Pulanglah ke apartemen Vigor! Ingat, malam ini dia akan menerkammu. Jadi, bersiap-siaplah!" goda Sean.


Zelene yang mengerti maksud ucapan kakaknya langsung mengerutkan keningnya. Dia harus menerima risiko jika ternyata Vigor meminta haknya untuk malam ini.


Ah, entahlah. Aku sangat malu menghadapinya.


"Padahal aku masih ingin menginap di sini, loh. Masih banyak yang ingin kubicarakan dengan kakak ipar," ucap Vigor menggoda.


Obrolan yang tak menemukan keputusan itu membuat Callista ikut turun tangan mengatasinya. Dia ingin agar adik iparnya itu bisa memutuskan dengan baik apa yang telah menjadi pilihannya.


"Ze, Kakakmu benar. Sebaiknya kamu pulang. Jika suamimu memintanya hari ini, maka layanilah bila sudah siap. Jika belum, ya minta pisah kamar sementara...," ucapan Callista membuat Zelene memantapkan niat untuk pulang ke apartemen.


"Usul yang bagus, Kak. Baiklah aku memaksa pulang malam ini," Zelene terlihat lebih cerah dari sebelumnya.


Sean menertawakan ucapan istrinya yang dirasa sangat konyol itu. Padahal dalam batin Vigor, dia sudah tidak tahan untuk menahannya terlalu lama.


Astaga kakak ipar! Seribu persen rencana yang kususun bakalan gagal total.


😍😍😍😍😍


Hai hai hai akak readers yang budiman di manapun berada... Semoga senantiasa diberikan keberkahan, kesehatan, dan rezeki berlimpah... Aamiin 🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲


Jangan lupa like, komentar, dan votenya agar emak author semakin bersemangat... Setangkai bunga atau secangkir kopi pun boleh dikirimkan ke mak author...


Sambil menunggu part selanjutnya, kuy kepoin karya teman emak


Judul : Berbagi Cinta : Second Wife


Author : Chika Ssi

__ADS_1


Kuy kepoin, ceritanya keren loh... Terima kasih



__ADS_2