Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Berhasil mendapatkannya


__ADS_3

Setelah semalam babak belur dan diobati sang istri, pagi ini Sean segera kembali ke apartemennya.


"Langsung kembali, sayang?" tanya Callista.


"Iya, langsung saja," ajak Sean.


"Tidak menunggu sarapan pagi?" tawar Callista.


"Tidak! Aku bisa kalap jika bertemu lagi dengan pria gila itu," ucap Sean.


Callista mengikuti saja ajakan suaminya.


Setelah melakukan cek out, bergegas Sean menuju ke mobilnya. Mereka langsung meluncur ke apartemen Golden. Hanya beberapa menit, mobilnya sudah memasuki area basement.


Sean bergegas masuk ke unitnya. Sampai di sana dia lekas bersiap.


"Sayang, siapkan kacamata hitam dan masker. Jika ada, sekalian topi," pintanya.


"Untuk apa, sayang?"


"Menutupi memar ini, sayang. Aku tidak mau mereka menertawakanku," ucapnya.


Istrinya menahan tawa. "Boleh kutahu alasan kenapa dulu lebih sering memakai kacamata hitam?"


Callista ingat, jika suaminya dulu memang lebih sering memakai kacamata. Setelah menikah dengannya, kacamata itu sudah tidak dipakainya lagi.


"Agar karyawanku yang genit tidak menatap mataku secara langsung. Aku khawatir mereka tiba-tiba menghipnotisku," ucapnya beralasan.


Callista menertawakan suaminya.


"Eh, kenapa tertawa?" protes Sean.


"Ya lucu saja, sayang. Setelah menikah, kenapa kamu tidak takut mereka akan menghipnotismu lagi?"


"Ya karena tameng hipnotis mereka ada pada istriku. Tidak mempan, kan?" Sekarang Sean malah tertawa.


Sean segera menyelesaikan bersiapnya. Bekas memar dan lebam masih terlihat jelas bagaimana pria gila itu dan dirinya saling melayangkan pukulan.


"Masih sakit?"


"Tidak! Masih lebih sakit melihat pria itu memegangmu."


"Ah, ya. Baiklah. Mau sarapan roti? Aku belum sempat memasak," tawar Callista.


"Aku makan di kantor saja," Sean berjongkok. Dia mengecup perut istrinya. "Jaga mommy dengan baik, ya. Daddy berangkat kerja dulu."


"Hati-hati, sayang," ucap Callista.

__ADS_1


Sean berdiri kemudian mengecup kening istrinya. "Kamu juga hati-hati. Jangan buka pintu untuk orang asing," pesannya.


Sean memakai kacamata hitam dan maskernya untuk berangkat ke kantor. Sepanjang perjalanan, dia masih memikirkan pria gila yang terlibat baku hantam dengannya.


Siapa pria itu sebenarnya? Kenapa dia terlihat sangat tertarik dengan istriku? Dasar pria gila. Aku akan meminta orang untuk menyelidikinya.


Sean hari ini datang lebih siang dari biasanya. Sesampainya di kantor, dia disambut oleh tatapan aneh beberapa karyawannya.


"Vigor sudah datang?" tanya Sean pada staf front office.


"Sudah, Bos. Bos kenapa? Kok kembali lagi pake kacamata hitam, malah sekarang pake masker pula. Apa bos menduda lagi?" ucap staf itu.


Desas desus mengenai bosnya yang suka memakai kacamata hitam karena status dudanya. Supaya karyawannya tidak ada yang melirik ke arahnya.


"Ngomong apa, kamu? Aku sedang flu. Apa kamu mau tertular?" ucap Sean berkilah. Dia tidak mau banyak orang yang tau, jika bosnya penuh lebam karena berkelahi dengan seseorang.


Sean langsung masuk ke ruangannya. Dia akan menyelesaikan masalah ini secepatnya. Dia memanggil asistennya melalui interkom.


"Vigor, datanglah ke ruanganku sekarang!"


Tak butuh waktu lama, Vigor sudah berada di hadapannya. Pria itu sedikit terkejut melihat penampilan bos sekaligus kakak iparnya itu.


"Bos kenapa?" pertanyaan pertama yang lolos dari mulut asistennya.


Sean melepas kacamata hitam dan maskernya. Nampak bekas lebam dan memar sangat terlihat jelas.


Tumben bos sangat marah sekali. Apa sebenarnya yang terjadi?


"Memangnya apa yang terjadi, Bos?"


"Pria itu sangat lancang telah menyentuh istriku!" ucapnya.


Oh, ya ampun! Pria itu cari mati....


"Baiklah, Bos... Tetapi...," Vigor selalu saja membuat orang penasaran.


"Apalagi?"


"Tambah lagi, Bos. Satu miliar hanya untuk proses perjodohan gila itu. Untuk ini, dua ratus juta lagi langsung beres," ucap Vigor.


"Akan kuberi lima ratus juta jika anak buahmu berhasil membawa pria itu ke hadapanku. Jika gagal, jangan harap dapat sepeserpun dariku," ucap Sean.


Astaga... Terkadang sangat royal. Hari ini pelit sekali.


"Baiklah, Bos. Kalau boleh tau, siapa nama pria itu?"


Sean melotot padanya. "Kau pikir ini lelucon, Vigor? Jika aku tau siapa pria itu, tak mungkin aku berani memberikan lima ratus juta jika anak buahmu berhasil."

__ADS_1


Vigor memegang kepalanya yang sedikit pusing melihat tingkah Bosnya yang semakin hari semakin aneh.


"Baiklah. Hari ini anak buahku akan membawanya ke hadapan Anda, Bos," ucap Vigor meyakinkan.


"Bagus! Bawa ke gudang kosong dekat Villa kita," perintahnya.


Setelah kepergian Vigor, Sean memakai kembali masker dan kacamata hitamnya.


Vigor segera menghubungi anak buahnya untuk melakukan misi dadakan. Semuanya harus tersusun rapi dan beres untuk hari ini. Besok mereka harus bekerja di dua tempat yang berbeda.


Sean harap-harap cemas. Jangan sampai pria itu tiba-tiba kabur begitu saja. Dia sudah terlalu kesal dengan tingkahnya.


Hari ini, tepat tanggal tiga puluh Desember adalah hari terakhir bekerja di perusahaan. Dia meminta Vigor untuk segera memberikan pengumuman liburan bagi mereka. Mengenai bonus, sudah dibayarkan bagian keuangan dari kemarin.


Sean akan memberikan liburan selama tiga hari untuk seluruh karyawannya, kecuali Satpam. Satpam akan mendapatkan tambahan uang lembur dua kali lipat dari biasanya.


Setelah Vigor menyelesaikan urusan dengan anak buahnya, sekarang dia menghadap lagi ke atasannya.


"Bos, tunggu sampai siang ini. Mereka akan membawanya ke gudang kosong itu. Bos jangan khawatir," ucap Vigor ketika sudah berada di hadapannya.


"Baiklah. Kutunggu kabar baiknya. Pengumuman liburan segera tempel di papan pengumuman. Aku mau mereka merasakan akhir tahun bersama keluarganya," ucap Sean.


Hari ini, Sean dan Vigor sangat sibuk menyelesaikan pekerjaan akhir tahun. Ketika sedang fokus pada beberapa berkas, ponsel Vigor berdering.


"Bos, angkat telepon dulu, ya?" pamitnya.


"Silakan," ucap Sean.


Vigor kembali ke ruangannya. Sedangkan Sean masih fokus pada beberapa berkas penting. Setelah menyelesaikan beberapa berkas, Sean berdiri menatap ke luar jendela kantornya.


Akhir tahun yang menyenangkan. Bisa bersama Istri dan beberapa sahabat.


Tok tok tok.


Belum selesai melamunkan beberapa rencananya ke depan, pintu ruangannya diketuk lagi oleh seseorang.


"Masuk!" ucapnya.


Sean kembali lagi duduk di kursinya. Ternyata yang datang adalah Vigor.


"Bos, mereka berhasil membawa keduanya. Pria dan wanita itu juga. Sekarang mereka sedang menuju ke gudang yang Anda maksud," ucap Vigor.


Sean tersenyum merasakan kemenangannya. Dia akan melihat betapa pria itu akan merasakan kesakitan karena sudah bermain-main dengannya. Tetapi, Sean bukan pria seperti itu. Dia hanya membiarkan pria itu untuk sementara waktu berada di genggamannya. Jika sudah puas, Sean akan melepasnya lagi.


"Kita berangkat sekarang!" ajaknya.


Sean sudah tidak sabar ingin mengetahui identitas sebenarnya pria itu dan tujuan apa telah mendekati istrinya.

__ADS_1


🍓🍓🍓🍓TBC🍓🍓🍓🍓


__ADS_2