Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Kedatangan Diana


__ADS_3

Sean dan yang lainnya sudah berada di apartemen. Sepulang dari keluarga Damarion, Vigor dan istrinya masih berada di sana.


Tak menunggu lama, Vigor berpamitan pada Sean untuk segera kembali ke apartemennya.


"Bos, aku dan Zelene langsung pamit saja. Ini sudah menjelang siang. Aku ingin istirahat dengan nyaman di apartemenku," pamit Vigor pada Sean.


"Iya, hati-hati di jalan," ucap Sean.


Setelah sepasang suami istri itu meninggalkan apartemen Sean, kali ini mantan duda mulai beraksi. Dia mendekati istrinya dan bermanja pada wanita itu.


"Sayang... Apa kamu tidak merindukanku?" tanya Sean.


Istrinya sedang merebahkan diri di atas ranjang. Wanita itu masih sangat mengantuk karena semalaman ikut andil dalam malam pergantian tahun itu.


"Sayang... Jangan ganggu! Aku sangat ngantuk sekali," ucapnya.


"Hanya seperti ini saja," ucap Sean sembari memeluk istrinya itu.


"Ish, sama saja. Tolong lepaskan! Aku ngantuk berat," ucapnya.


Ketika sedang asyik mengganggu istrinya, tiba-tiba ponselnya berdering. Tanda pesan masuk. Sean bergegas mengambil ponselnya. Dia pikir akan ada sesuatu yang penting, ternyata....


[Sean, tolong jemput aku dan Willow di bandara. Aku akan menemui Juvenal seperti yang telah Vigor kabarkan padaku] pesan dari Diana.


Oh ****! Kenapa harus aku? Vigor pasti baru saja sampai di apartemennya. Mana mungkin dia akan pergi lagi.


"Sayang... Bangunlah! Ikut denganku, ya?" tanya Sean.


"Kemana sayang? Aku masih ngantuk...," tolaknya.


"Bandara... Untuk menjemput Diana."


Deg!


Callista mengerjapkan matanya. Dia memasang telinga dengan baik agar pendengarannya itu memang benar.


"Diana?" tanya Callista.

__ADS_1


Callista mulai cemburu. Beberapa hari yang lalu, dia sepertinya sudah menghapus nama Diana menjadi rivalnya. Kenapa sekarang muncul lagi?


"Iya, sayang... Dia memintaku untuk menjemputnya sekaligus Willow. Mereka akan bertemu Juvenal," ucap Sean.


"Oh, pria asing yang meresahkan itu. Baiklah... Aku akan ikut, tetapi aku akan tertidur di mobil. Tidak apa-apa, kan?"


"Terserah. Asal istriku tidak cemburu lagi," ucap Sean.


"Baiklah," jawab Callista.


Keduanya sedang bersiap untuk menuju bandara. Callista duduk di kursi belakang. Dia ingin menikmati tidurnya yang masih kurang itu.


Perjalanan ke bandara membutuhkan waktu yang lumayan. Sehingga membuat Callista bisa tidur dengan nyenyak tanpa gangguan siapa pun. Sean fokus mengendarai kendaraannya.


Kamu pasti sangat lelah, sayang. Sampai terlihat pulas seperti itu.


Perjalanan ke bandara terasa sangat cepat sekali. Beberapa kendaraan tidak terlihat berlalu lalang. Mungkin mereka kelelahan setelah semalaman menikmati malam pergantian tahun.


Sesampainya di bandara, Sean mengajak Callista untuk masuk ke dalam. Dia tidak ingin istrinya seorang diri berada di dalam mobil.


"Sayang, ikut masuk ke dalam, ya? Kita jemput Diana dan Willow bersama-sama," ucap Sean. Dia tidak ingin ada kesalah pahaman lagi dengannya.


Bukan Diana namanya jika tidak membuat orang lain gedek atau kesal padanya. Ketika tau jika Sean datang bersama istrinya, Diana segera mendekati mantan suaminya itu kemudian memberikan pelukan mesra pada pria itu. Sean menolak dan mendorong tubuh Diana agar menjauh darinya.


"Jaga sikapmu!" ucap Sean.


Jika tidak ada Willow, Sean akan bertindak lebih kasar dari sekedar ucapan. Pria itu akan diam jika orang lain memperlakukannya dengan baik. Jika sudah melewati batasan, dia juga manusia yang jauh dari kata sempurna.


"Daddy Sean... Benarkah daddy akan mempertemukan aku dengan daddy Willow," ucap gadis kecil itu.


"Iya, sayang. Kemarilah... Janji setelah bertemu daddynya Willow, Willow akan selalu menjadi anak yang baik, yah?" ucap Sean memeluk gadis kecil itu.


Bagaimana pun, gadis kecil itu pernah di gendong dan ditimangnya ketika masih bayi.


Callista terharu melihat interaksi ayah dan anak itu. Dia meraba perutnya dan membayangkan akan sangat bahagia ketika suami dan anaknya sedang bersama.


Apakah sangat bahagia? Batin Callista.

__ADS_1


"Ayo, sayang...," ajak Sean pada istrinya. Pria itu juga menggenggam erat tangan gadis kecil itu sekaligus tangan istrinya.


Diana mengekor dibelakang mereka bertiga. Rasanya seperti orang asing melihat pemandangan di depannya. Dia juga sedang menata hati untuk bertemu lagi dengan Juvenal. Pria yang selalu ada di hatinya sejak masih belia.


Gadis kecil itu yang paling antusias. Dia sudah tidak seperti pertama kali bertemu Callista. Kali ini, gadis kecil itu sangat ramah sekali.


"Aunty, terima kasih sudah mengizinkan Daddy Sean menjemput Willow. Maafkan Willow, yah?" ucap gadis kecil itu.


"Iya, sayang... Sini, dekat sama aunty...," Callista ingin lebih dekat dengan gadis kecil itu walaupun dia bukan anak kandung suaminya, setidaknya dia sudah bersikap baik pada anak itu.


Mereka semua sudah masuk ke mobil.


Callista dan Willow berada di kursi penumpang, sedangkan Diana duduk di samping Sean. Wanita itu enggan untuk berinteraksi dengan istri mantan suaminya.


"Kamu sudah menyiapkan risiko apa yang akan diterima jika berhadapan dengan pria itu?" tanya Sean pada Diana.


"Iya, sudah kupikirkan. Vigor bilang, pria itu hanya akan bertanggung jawab pada Willow dan tidak akan bertanggung jawab padaku," ucapnya sedih.


"Itu risiko yang kamu ambil. Kenapa dulu nekat mendekatinya?" tanya Sean. Bukan pria itu sok peduli atau apa. Sebenarnya dia hanya ingin tau, tujuannya apa.


"Aku terlalu mencintainya, Sean. Maaf... Pernikahan kita hancur gara-gara aku," ucap Diana menyesali masa lalunya. Seandainya dia tidak berbuat bodoh seperti itu, hari ini tentunya dia akan menjadi keluarga yang paling bahagia bersama Sean. Diana baru menyadari jika Sean adalah pria yang sangat baik dan setia. Dia tipe pria sempurna untuk ukuran semua wanita.


Callista hanya sebagai pendengar obrolan antara mantan itu.


"Kau beruntung, Call. Bisa mendapatkan pria sebaik Sean," ucap Diana pada Callista. Dia juga melihat keakraban anak dan istri baru mantan suaminya itu.


"Kamu baru sadar jika aku pria sangat baik?" sindir Sean. Pria itu ingat bagaimana dengan kerasnya untuk berusaha mencintai Diana. Wanita yang siap hamil untuk melanjutkan keturunannya. Ternyata dia hanya di tipu oleh wanita itu.


"Maafkan aku, Sean," ucapnya lirih.


Sepanjang perjalanan, Diana sudah tidak lagi bersikap kasar seperti sebelumnya. Dia sangat berterima kasih pada mantan suaminya karena berhasil mendapatkan pria yang selama ini dicarinya. Setelah ini, Diana berjanji akan hidup jauh lebih baik lagi.


"Apa kamu tidak akan berencana menikah dengan pria itu?" tanya Sean.


"Aku tidak tau. Jika pria itu mau, mungkin aku akan menikah dengannya. Semua murni kesalahanku, Sean. Aku yakin pria itu akan terus menolakku," ucapnya.


Callista terdiam mendengarnya. Sungguh sangat rumit kehidupan masa lalu suaminya. Tidak menyangka jika anak sekecil Willow menjadi korban keegoisan orang dewasa.

__ADS_1


Mobil mereka telah memasuki area rumah besar yang Diana tidak tau itu rumah siapa. Asing baginya menginjakkan kaki di rumah sebesar itu.


🍓🍓🍓🍓TBC🍓🍓🍓🍓


__ADS_2