Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Dugaan Hamil


__ADS_3

Setelah makan siang bersama Vigor, Sean masih memikirkan istrinya yang berada seorang diri di apartemen. Dia masih terngiang dengan ucapan Felix mengenai Dizon yang berusaha mendapatkan istrinya.


Pria gila itu tak ada hentinya mengacaukan kehidupanku. Sudah dari awal kukatakan jika ini adalah kesalahpahaman antara tiga keluarga. Aku tidak pernah sama sekali mencintai Diana di awal pernikahan itu. Aku hanya berusaha bertanggung jawab atas pilihan yang Mama berikan untukku.


"Kak, kau tidak ada kerjaan lagi selain melamun," ucap Zelene membuyarkan lamunannya.


"Aku sudah selesai, Ze. Sebentar lagi aku pulang. Kasihan Callista, dia sendirian di apartemen," ucapnya mengingat kondisinya sekarang berbeda. Dia harus waspada terhadap kemungkinan munculnya Dizon secara tiba-tiba.


"Ah, baiklah. Pria matang yang sedang bucin. Astaga, baru kali ini aku melihat Kakak sangat romantis. Dulu, ketika Kakak masih menjadi suami Diana, tidak seperti itu tingkahnya," Zelene sangat ingat betul perlakuan kakaknya terhadap mantan istrinya.


"Dulu dan sekarang itu sesuatu yang berbeda, Ze. Aku seperti merasa kembali muda jika bersama Callista. Gadis itu sangat pandai membuat orang lain senang," ucap Sean memuji istrinya.


"Ah, iya. Aku jadi ingat bagaimana dia melawan mantan istri Kakak. Nggak terlalu ngegas, tapi sakitnya nyampe ulu hati," Zelene tertawa mengingat beberapa hari yang lalu pernah pergi berdua dengan kakak iparnya kemudian tak sengaja bertemu Diana.


"Baiklah, Ze. Kamu sendirian di sini nggak apa-apa, yah? Tunggulah suamimu! Kakak pulang dulu. Terima kasih untuk makan siang spesialnya," Sean berpamitan kepada adiknya. Bergegas dia turun menuju tempat parkir mobil berada.


Sebaiknya aku mampir ke toko bunga. Aku ingin membawakan hadiah spesial untuk Callista.


Sean mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Hatinya berada di antara rasa khawatir dan bahagia. Khawatir akan kehadiran Dizon untuk memporak-porandakan hidupnya. Bahagia karena selalu bersama istri kecilnya itu.


Mobilnya berhenti tepat di depan toko bunga. Dia turun untuk mencari buket bunga mawar merah.


"Ada yang bisa dibantu, Om?" sapa florist.


"Siapkan satu buket mawar merah ukuran jumbo. Sekalian berikan note kecil yang isinya aku sangat mencintaimu," ucap Sean.


"Baik, Om. Anda sangat romantis sekali. Kalau boleh tau, untuk siapa buket bunganya?" ucap florist dengan ramah.


"Untuk istriku," Sean menjawab dengan semringah.


Tak menunggu lama, buket bunga mawar merah ukuran jumbo sudah berada di tangan Sean. Tak lupa dia membayarnya dengan beberapa lembar uang.


Sean kembali ke mobilnya. Dia meletakkan buket bunga itu di kursi penumpang. Bergegas dia meninggalkan toko bunga tersebut. Dia ingin segera sampai di apartemen dan memeluk istrinya dengan mesra.


Aku selalu merindukanmu, sayang....


Sepanjang perjalanan, Sean berusaha menata moodnya agar terlihat bagus di hadapan istrinya. Sejak pertemuannya dengan Dizon, sesekali dia merasa sangat emosional.


Mobilnya telah memasuki bassement, Sean turun dan mengambil buket bunga itu. Dia berjalan menuju unitnya. Sampai di depan pintu, dia memasukkan kode akses.


Ceklek!


Sean menutup kembali pintunya. Dia mengamati tidak ada tanda kehidupan di ruang tamu.


Kemana Callista?

__ADS_1


Sean bergegas masuk ke kamar utama. Di sana tak menemukan siapapun.


Di mana anak itu?


Ceklek!


Sean mendengar seseorang masuk dari depan. Sean melemparkan buket bunga entah kemana. Dia langsung menuju ke ruang tamu dan mendapati istrinya sedang bersama sahabatnya.


Sean tak peduli ada siapapun. Dia langsung memeluk istrinya sangat erat.


"Eh, Om kenapa?" tanya Callista yang tiba-tiba dipeluk. "Malu, Om! Ada Kayana."


"Lanjutkan aja, Call! Gue bakalan tutup mata. Takut gue ada adegan absurd selanjutnya," ledek Kayana.


"Dari mana saja, sayang? Aku mengkhawatirkanmu!" ucapnya kemudian melepas pelukan. Dia tak enak hati dilihat sahabat istrinya.


"Aku dari bawah, Om. Menjemput Kayana. Hari ini aku memintanya membawakan rujak buah. Rasanya pasti sangat segar. Kayana ngga bisa membawa semuanya seorang diri, makanya aku turun," ucap Callista. Sebelumnya memang adik iparnya sudah memberikan perintah untuk tidak keluar apartemen.


Rujak buah? Apa Callista mengidam? Apa dia hamil? Dulu, ketika Diana hamil, keinginannya juga sama persis dengan Callista.


"Kenapa Om malah diam?" tanya Callista.


"Eh, enggak. Lanjutkan saja kalau begitu, aku masuk kamar dulu, sayang," pamitnya pada Callista.


"Kay, bawa ke meja makan, yuk! Kita makan di sana," Callista membantu membawakan beberapa kantong buah.


"Call, panggil suami elo, deh. Kita makan rujak sama-sama."


"Nggak bisa, Kay. Suami gue nggak bisa makan makanan pedas seperti ini. Dia alergi cabe," ucap Callista.


"Oh God, lalu rujak sebanyak ini beserta bumbunya mau lo apakan?" tanya Kayana.


"Kita ambil porsi kecil saja, sisanya masuk lemari pendingin," dengan cekatan Callista mengambil dua piring untuk menyiapkan beberapa rujak yang ingin dimakan.


Setelah beberapa buah dan bumbu masuk ke piring masing-masing, sisanya oleh Callista dimasukkan ke dalam lemari pendingin sesuai rencana awal.


Kayana sedikit heran dengan sahabatnya. Permintaan yang secara tiba-tiba membuatnya berpikir apakah Callista sedang mengidam? Biasanya wanita yang sedang hamil muda selalu meminta yang aneh-aneh.


"Call, jangan-jangan lo hamil!" ucap Kayana sambil menikmati sepiring rujak buah.


Hamil? Ish, mana mungkin? Kebetulan aku hanya ingin menikmati rujak ini. Sudah lama aku tidak memakannya.


"Mana mungkin, Kay. Gue cuman pingin aja makan nih rujak," ucapnya yang santai menikmati rujak seperti orang yang tidak pernah makan.


Ketika sedang menikmati sepiring rujak buah, suaminya masuk ke dapur untuk mengambil minum. Dia melihat istrinya makan dengan lahap membuatnya berpikiran sama seperti yang dikatakan sahabatnya barusan. Sean tak sengaja mendengarnya.

__ADS_1


Apa Callista beneran hamil? Jika benar, ini hadiah terindah yang kuterima.


"Om, mau rujak?" Kayana menawarkan. Dia merasa tak enak hati harus makan di hadapan pemilik apartemen namun tidak menawarkannya sama sekali.


"Terima kasih, nikmati saja berdua. Aku hanya mengambil minum," ucap Sean kemudian berlalu ke kamarnya.


"Call, coba susul suami lo, gih. Sepertinya doi mau ngomong sesuatu," pinta Kayana.


Callista sepertinya tidak ingin lekas berpisah dengan rujaknya yang tinggal beberapa lagi dipiringnya.


"Aku selesaikan dulu, belum bisa move on dari nikmatnya makan rujak, nih," canda Callista.


Setelah selesai, Callista mencuci tangan kemudian masuk ke kamarnya. Dia melihat tak ada suaminya di sana. Apa mungkin sedang di bathroom?


Ceklek!


Pintu bathroom baru saja terbuka. Harum sampo menyeruak membuat Callista terhipnotis dengan ketampanan suaminya yang berlipat.


"Sayang, kamu di sini?" tanya Sean.


"Iya, eh. Om, itu bunga mawar untuk siapa?" Callista melihat buket bunga mawar yang jatuh dan terlihat berantakan.


"Oh, itu sebenarnya untukmu. Aku tadi panik mencarimu, jadi aku lemparkan saja asal aku bisa menemukanmu. Maaf sayang, bunganya jadi jelek, deh," ucap Sean sembari memungut kembali buket bunga di lantai.


"Iya tak apa, Om," Callista hendak memeluk suaminya, tetapi dia merasa malu untuk melakukannya terlebih dahulu.


Sean yang tak tahan, langsung memeluk istrinya dengan mesra.


"Sayang, apa sebaiknya kita ke dokter? Aku curiga jika kamu sedang hamil anak kita," Sean membisikkan di telinga istrinya.


Ish, mana mungkin. Aku tidak merasakan apapun.


"Mana mungkin, Om. Aku baik-baik saja," ucapnya.


"Kita jadwalkan ke rumah sakit untuk mengeceknya, yah? Siapa tau kamu hamil, tetapi tidak dirasakan seperti pada umumnya," Sean meminta persetujuan istrinya.


"Terserah Om saja," ucap Callista pasrah.


😍😍😍😍to be continued😍😍😍😍


Duh, deg-degan. Kira-kira Callista hamil nggak, yah? Kepoin terus kisah selanjutnya...


Jangan lupa like, komentar, dan votenya...


Kirim hadiah buket bunga atau secangkir kopi diizinkan...

__ADS_1


Terima kasih... Lup yu, All... 😍😍😍😍


__ADS_2