Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Ribut Lagi


__ADS_3

Baru saja berdamai dan menikmati keindahan surga dunia, Olivia berteriak histeris. Semalam dia sudah melarang suaminya untuk melakukan itu, tetap saja akhirnya terjadi. Hari ini dia terlambat bekerja.


"Dizon, bangun!"


Dizon merasa kelelahan karena semalam telah bekerja keras. Dia tetap menutup matanya karena masih mengantuk.


"Monster, bangun!" Teriakan Olivia yang kedua kalinya barulah Dizon perlahan membuka matanya.


"Ada apa? Aku lelah dan sangat ngantuk sekali," ucapnya kemudian tertidur lagi.


Olivia mengguncang tubuh pria itu agar secepatnya bangun dan keluar dari apartemennya.


Dizon bukannya bangun, dia malah merengkuh istrinya ke dalam pelukannya.


"Dizon..., aku sudah terlambat bekerja. Ayo bangunlah!"


"Begini saja dulu. Biarkan aku menikmatinya," jawab Dizon enteng. Dia malah memeluk Olivia dengan sangat erat sehingga membuat wanita itu sulit melepaskan diri.


Oh ya ampun! Ini sudah jam berapa?


Olivia berusaha lepas dari tubuh kekar suaminya. Secepatnya dia meronta.


Done! Olivia berhasil lepas, tetapi Dizon malah tertidur pulas. Suara dengkuran kecil menghiasi tidurnya. Dia secepatnya berjalan ke bathroom untuk membersihkan diri. Jangan tanyakan lagi bagaimana semalam pria itu melahapnya dengan sangat lembut membuat Olivia merasakan sensasi aneh di dalam tubuhnya.


Secepatnya dia menyelesaikan ritual mandinya kemudian berangkat ke rumah sakit. Dia membiarkan suaminya tertidur di ranjang mungilnya itu. Tak lupa Olivia meninggalkan catatan kecil di balas, agar pria itu bangun dan tidak mengeluarkan taringnya untuk ribut dengannya.


"Sepertinya hari ini aku akan mendapatkan teguran. Ini pertama kalinya aku terlambat masuk," ucap Olivia ketika berada di dalam mobil menuju ke rumah sakit.


Dizon yang berada di apartemen masih pada posisinya. Dia tertidur sangat nyenyak sekali. Dia melupakan sesuatu jika hari ini dia harus ke kantor. Ada rapat penting yang harus dihadirinya. Nah 'kan, kira-kira Dizon mimpi apa sampai dia betah untuk tidur sampai sesiang ini?


Ponselnya berdering berulang kali. Pemiliknya masih tenggelam dalam mimpi indahnya.

__ADS_1


Tepat menjelang makan siang, perlahan dia mulai membuka matanya. Badannya terasa jauh lebih segar dari sebelumnya. Dia terkejut melihat sekelilingnya seperti bukan di kamarnya. Dia baru ingat jika sedang berada di apartemen istrinya. Matanya melihat kesana-kemari untuk mencari jam dinding.


Deg!


Matanya membelalak manakala dilihatnya jarum jam sudah berada di angka sebelas lebih tiga puluh menit. Dia sudah melewatkan rapat penting dengan relasi Damarion Corporation.


"Sial! Kenapa dia tidak membangunkanku?" Dizon bergegas masuk ke bathroom dalam keadaan polos. Setelah semalam, dia dan Olivia berada dalam selimut yang sama dalam kondisi polos.


Secepatnya dia bersiap dan sialnya lagi, tidak ada baju ganti untuknya. Hanya ada sisa baju semalam yang dilemparkan sekenanya oleh Dizon.


"Oh ya ampun, bahkan apartemenmu tidak menyediakan baju untukku." Dizon mengambil kembali semua bajunya yang berserakan. Setelah selesai, dia mencari ponselnya. Dia menemukan catatan kecil di atas nanas itu.


Maaf, aku sudah berusaha membangunkanmu. Tidurmu terlalu nyenyak, Tuan Monster. Kode akses apartemenku 221133. Mungkin kamu memerlukan sesuatu, lebih baik keluar saja dari apartemen. Aku tidak ada stok makanan. ~Olivia~


Dizon membuang kertas itu sembarangan. Dia bergegas meninggalkan apartemennya. Dia belum sempat mengecek ponselnya. Dia bergegas menuju rumah keluarga Damarion untuk mengambil baju kerjanya.


Sepanjang perjalanan, Dizon menggerutu. Niatnya untuk mendapatkan hati istrinya malah berujung pekerjaan terbengkalai seperti hari ini. Jika papa Denzel tau, pria itu akan sangat marah padanya.


"Ck, begini rasanya bucin. Semua pekerjaan terbengkalai. Aku yang kelewat bucin ataukah Felix yang pandai mengatur siasat." Dizon menggerutu sepanjang jalan. Felix adiknya yang bucin itu bisa mengatur waktu dengan baik dan tetap bisa bucin seperti biasa. Sedangkan dirinya, baru mengatakan bucin semalam saja sudah membuat semua pekerjaannya kacau. "Mereka pasti menertawakanku."


Mobilnya mulai masuk ke halaman rumah. Dia bergegas turun dan masuk ke kamarnya. Dia melepas pakaiannya asal kemudian menggantinya dengan baju kerjanya. Setelah itu, tak lupa dia mengambil jam tangan kemudian memakainya. Ponselnya sengaja diletakkan di dasboard mobilnya. Secepatnya Dizon kembali ke mobilnya.


Diambil ponselnya. Banyak panggilan masuk dari papanya. Ada sebuah pesan masuk yang membuatnya semakin emosi.


[Kalau tidak becus bekerja, sebaiknya serahkan pada Felix. Kau ini sudah tua, tapi kelakuan seperti anak kecil saja!]


Pesan dari papanya. Dia memukul kemudinya dengan kesal. Dilemparkan ponselnya begitu saja. Diurungkannya untuk berangkat ke kantor.


"Lebih baik aku kembali ke apartemen menunggu wanita itu. Aku akan membuat perhitungan dengannya!" Amarah Dizon tidak bisa dibendung. Dia mencintai wanita itu, tetapi juga kesal padanya.


Dizon masuk menggunakan kode akses yang diberikan istrinya. Dia sengaja menunggu wanita itu di ruang tamu. Hanya tinggal beberapa jam lagi dia akan kembali.

__ADS_1


Dizon kelaparan. Dia pergi ke dapur mencari sesuatu yang bisa di makannya. Sepertinya Dizon sangat apes sekali berhadapan dengan Olovia.


Pertama, semalam dia sudah mengakui cintanya. Kedua, hari ini dia terlambat datang ke kantor dan mendapatkan makian dari papanya. Ketiga, ketika lapar melanda, dirinya tidak menemukan makanan apapun di apartemen ini. Dia hanya menemukan air putih saja. Terpaksa dia meminumnya daripada kelaparan kemudian pingsan. Itu tidak lucu.


Tepat sesuai perkiraannya, Olivia pulang ke apartemen. Dia membuka pintunya kemudian menutup kembali. Dia terkejut mendapati suami monsternya itu malah berada di ruang tamu apartemennya.


"Kamu itu istri macam apa?" ucap Dizon.


Olivia melongo menatapnya. "Apa maksudmu?" Dia baru saja pulang kerja dan ingin beristirahat malah disuguhkan dengan kata-kata yang menyakitkan.


"Kenapa tidak membangunkan suamimu? Kamu tau, gara-gara kamu, papa marah padaku. Hari ini aku tidak pergi ke kantor," ucapnya dengan nada mengajak bertengkar.


"Baguslah. Kesalahan sendiri di lempar ke orang lain. Pria macam apa itu? Bukankah pagi tadi sudah kubangunkan. Tapi kamunya saja yang keenakan tidur di ranjangku!" balas Olivia. Dalam hal ini, dia tidak mau disudutkan. Memang kenyataannya begitu.


"Kamu jadi istri selalu melawan suami. Pantas saja dari dulu kamu tidak laku. Kelakuannya saja seperti itu!" cibir Dizon.


"Ck, helo Tuan Monster! Mari berkaca bersama. Siapa yang brengsek di sini? Harusnya kamu bersyukur karena masih ada wanita yang mau menerimamu, mau tidur denganmu, dan mau bertengkar denganmu. Ingat, siapa yang paling tua di sini? Jangan belagu! Suami juga berhak salah, kok!" balas Olivia.


"Apa maumu sekarang?" Tantang Dizon. Sepertinya sengaja diciptakan wanita model Olivia agar Dizon bisa berubah sikap.


"Aku?" Olivia menunjuk dirinya sendiri. "Jadilah pria normal sebagaimana pria pada umumnya!"


Jawaban Olivia membuat Dizon bingung. Selama ini dia sudah menjadi pria normal.


"Apa maksudmu? Kamu pikir aku ada kelainan?"


"Ck, bersikaplah seperti pria pada umumnya. Bersikap baik pada wanita dan selalu sopan padanya. Kalau salah, ya salah saja," ucap Olivia.


Ibarat permainan sepak bola, Dizon dan Olivia sama kuat. Keduanya tidak mau mengalah satu sama lain. Cepat akur dan cepat juga ribut.


🍓🍓🍓🍓TBC🍓🍓🍓🍓

__ADS_1


__ADS_2