Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Penolakan Mama Jelita


__ADS_3

Ceklek!


Callista membuka pintu. Dia terkejut mendapati mama mertuanya yang datang. Ini pertama kalinya apartemen suaminya didatangi.


"Di mana putraku?" tanya Mama Jelita dengan ketus. Dia juga melihat menantu yang tidak pernah diinginkan itu tengah hamil besar.


"Silakan masuk, Ma. Akan kupanggilkan," ucap Callista.


Wanita paruh baya itu pertama kalinya datang ke apartemen. Dia tau alamat apartemen putranya karena Zelene. Wanita yang tengah hamil itu malas berdebat dengan mamanya. Dengan terpaksa, Zelene memberitahu alamatnya.


"Cepatlah!" ucap Mama Jelita.


Callista bergegas masuk ke kamarnya. Dia melihat suaminya baru saja menyelesaikan box bayinya yang berwarna pink itu.


"Siapa tamunya?" tanya Sean.


"Mama," jawab Callista singkat dan padat, tetapi penuh penekanan.


Sean mendongak menatap istrinya dengan penuh tanda tanya dan rasa terkejut yang luar biasa. "Mama?" Hanya itu yang pertanyaan yang keluar dari mulut Sean.


Callista mengangguk. Sean bergegas ke ruang tamu.


"Ma...," sapanya ketika bertemu.


"Sedang apa? Lama sekali!" ucap mamanya.


"Menata box bayi. Tumben mama ke sini? Mama tau alamat apartemenku dari Zelene, 'kan?" Sean sudah bisa menebaknya dengan mudah.


"Iya, mama baru saja dari apartemen Zelene. Mama yang memaksanya untuk memberitahu alamatmu."


Callista datang membawa nampan yang berisi dua gelas minuman teh hangat tidak terlalu manis. Dia meletakkannya di atas meja.


"Silakan di minum, Ma," ucapnya. Callista mundur beberapa langkah.


"Aku ke sini tidak untuk minum seperti ini. Aku ada perlu dengan putraku," ucapnya ketus.


Callista diam. Jika bukan karena itu mama suaminya, bisa saja Callista langsung marah.

__ADS_1


"Ma, tolong jangan bersikap seperti itu! Dia itu menantu mama dan sebentar lagi akan melahirkan keturunan Armstrong." Sean berusaha membuat mamanya mengerti.


"Iya, menantu yang tidak mama harapkan," ucap Jelita. Wanita paruh baya itu menyakiti hati Callista. "Tetapi, jika persyaratan yang tempo hari mama ajukan dan kalian bisa memenuhi, mungkin akan mama pertimbangkan."


Callista masih berada di ruang tamu. Dia mendengarkan semua ucapan Mama mertuanya. Hatinya terasa sakit sekali. Sebentar lagi Callista akan kehilangan suaminya.


"Tidak, Ma! Aku tidak akan pernah menceraikan istriku. Walaupun dia akan melahirkan anak perempuan, dia tetap istriku dan tidak akan pernah tergantikan," ucap Sean.


"Rupanya perempuan calon anakmu, Sean. Mama sudah menduganya. Tetap mama tidak akan pernah mengakuinya sebagai menantu atau cucu Mama. Kita lihat saja, siapa yang akan bertahan di sini. Mama tetap akan mengumumkanmu menjadi seorang duda yang belum pernah menikah sama sekali. Mama tidak main-main," ucapnya.


Sejak awal mama Jelita mengira jika Sean tidak akan menikah lagi, tetapi kenyataannya dia menemukan kabar jika putranya telah menikah dengan gadis rendahan yang tidak selevel dengannya. Bahkan statusnya sebagai anak yatim piatu yang tidak jelas keturunan dari orang kaya atau biasa saja. Itu juga yang membuat mama Jelita enggan mengakui menantunya.


"Terserah apa kata mama. Yang pasti, aku dan Callista tidak akan pernah bercerai. Baby A akan tetap menjadi pewaris Armstrong generasi ke dua setelah aku." Sean berdiri hendak meninggalkan mamanya, namun tangannya di cegah oleh istrinya.


"Jangan pergi! Bicaralah dengan mama. Selesaikan masalah kalian," ucapnya lirih. Callista tidak menduga jika hal ini akan terjadi.


Sean akhirnya mau mendengarkan istrinya. Dia kembali duduk di sofa tepat di depan mamanya.


"Rupanya istimu sangat berpengaruh. Buktinya kamu sampai kembali lagi karena ucapannya. Sayang sekali, mama tidak pernah mengakuinya. Aku bisa saja mengadakan konferensi pers untuk mengumumkan jika wanita itu telah merebutmu dari ibunya. Aku juga akan mengatakan pada mereka jika wanita itu hanya simpanan dan tanpa ikatan pernikahan. Mereka akan datang memberondong apartemenmu dan mengusirnya dari sini. Selesai masalah. Aku tidak akan susah payah memaksa kalian untuk bercerai," ucap mama Jelita.


"Tapi mama tidak suka padanya. Seleramu terlalu rendahan, Sean," balas mamanya.


Callista yang mendengar semua itu ikut andil berbicara. Dia sudah tidak tahan dihina mama mertuanya terus-terusan.


"Baiklah kalau itu permintaan mama. Aku akan mengabulkannya. Aku akan mengirimkan gugatan cerai secepatnya," ucap Callista.


Deg!


Mata Sean melotot ke arah istrinya. Berbeda dengan Mama Jelita, wanita itu terlihat bahagia jika menantunya akan menceraikan putranya.


"Baguslah! Mama tidak perlu susah payah memisahkan kalian," ucap mamanya.


"Tidak Ma. Callista tidak akan menceraikanku. Sayang, jangan pernah kamu katakan lagi. Sudah ribuan kali aku bilang. Tidak akan ada kata cerai di antara kita." Sean berdiri kemudian mendekati istrinya.


"Selesaikan dulu urusanmu dengan mama. Aku mau ke kamar sebentar," pamitnya.


Sean sudah kepikiran hal yang tidak mengenakkan itu. Istrinya bisa saja tiba-tiba meninggalkannya jika kelakuan mamanya terus seperti itu.

__ADS_1


"Sudahlah, Sean. Lepaskan dia! Mama akan mencarikan jodoh terbaik untukmu," ucap mamanya.


"Ma, aku minta maaf. Sebaiknya Mama pergi dari sini sekarang juga dan jangan pernah datang lagi ke apartemenku. Kehidupan seorang wanita sedang mama pertaruhkan dan aku tidak mau itu. Tolong sebaiknya Mama pergi," ucap Sean. Kelakuan mamanya tidak pernah berubah. Dia heran sebenarnya dia anak kandung atau anak tiri yang selalu harus mengikuti kemauan mamanya.


"Kamu mengusir mama?" tanya Mama Jelita.


"Baguslah kalau mama mengerti. Rumah tanggaku lebih penting dari apapun. Silakan mama menikah lagi dan hidup berbahagia dengan orang lain. Jika tidak, mama akan terus mengganggu kehidupanku maupun Zelene." Sean membukakan pintu dan menunjukkan pada wanita itu jika ini adalah pintu keluarnya.


"Ck, kamu menjadi anak pembangkang sejak bersama dengannya. Baiklah, mama pulang. Tapi ingat, mama tunggu wanita itu menceraikanmu," ucap mama Jelita. Wanita paruh baya itu langsung pergi dari apartemen.


Sean menutup pintunya dengan nada sedikit emosi. Dia bergegas masuk ke kamarnya untuk menemui istrinya.


"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Sean. Dia melihat istrinya mengepak beberapa bajunya.


"Aku ingin menenangkan diri sejenak. Tolong mengertilah!" ucap Callista.


Sean tidak tega membiarkan istrinya untuk keluar apartemen, mengingat tidak ada lagi tujuannya. Kondisi kehamilan yang semakin besar sangat rentan jika berada diluar sana.


"Aku tidak akan membiarkanmu pergi. Jangan turuti ide gila mama, sayang." Sean memohon dengan amat sangat agar istrinya tidak pergi.


"Terlambat, sayang! Izinkan aku menenangkan diri."


Callista membawa tas yang berisi beberapa pakaiannya. Sean memeluknya dengan erat wanita hamil itu.


"Lepaskan! Ini tidak akan menyelesaikan masalah. Biarkan aku berpikir sejenak," pinta Callista.


Tak ada gunanya mendebat ibu hamil yang keras kepala itu. Sean mempersilakan istrinya untuk pergi dan menenangkan diri.


"Pergilah!" ucap Sean.


Maafkan aku, sayang. Ini cara terbaik yang harus kulakukan.


Callista kemudian pergi meninggalkan kamarnya yang biasa ditempati bersama suaminya.


🍓🍓🍓🍓TBC🍓🍓🍓🍓🍓


Wah, Callista pergi kemana, ya? 😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2