Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Sean Panik!


__ADS_3

Sean mengantarkan Diana dan Willow kembali ke rumah Mamanya. Di sana, Willow langsung masuk ke kamar karena Sean yang dianggap sebagai daddynya tidak bisa bersikap manis seperti daddy Cinzia, teman sekolahnya.


"Bisa bicara sebentar?" tanya Sean.


"Untuk apalagi, Sean? Bukankah sudah jelas semuanya?" jawab Diana.


"Belum! Aku belum tau siapa ayah biologis Willow. Jangan kau kira, aku akan diam saja. Sementara kau sibuk menuduhku ataupun Dizon untuk bertanggung jawab," ucap Sean.


"Kenapa kau memaksaku seperti itu?" protes Diana.


"Agar kau tidak lagi merasuki pikiran Mama!"


Mama Jelita selalu percaya pada Diana. Makanya ketika perceraian terjadi, Mama Jelita sering memusuhi Sean. Sehingga Sean dan adiknya, Zelene memutuskan untuk keluar dari rumah utama.


Apa aku harus mengaku saja?


"Burchard Juvenal Halbur...," ucapnya.


"Ck, pria mana lagi itu? Berapa lama kau menjalin hubungan dengannya?" Sean ingat betul bagaimana wanita itu sering menolak ketika Sean meminta haknya.


"Kau tak perlu tau itu!" Diana meninggalkan Sean begitu saja.


Sean yang mengingat tujuan sebenarnya untuk mencari Callista, dia bergegas pergi dari rumah utama tanpa pamit dengan Mamanya yang sejak tadi menemani Willow.


Sepanjang perjalanan, Sean mencari Callista. Dia lupa menanyakan akan pergi kemana wanita hamil itu?


Harus mencarinya kemana lagi?


Secepatnya Sean mengendarai mobilnya menuju apartemen. Dia berharap akan menemukan istrinya di sana.


Sesampainya di bassement apartemen, Sean sedikit berlari supaya lekas sampai ke unitnya. Sampai di dalam unitnya, Sean seperti tidak melihat tanda kehidupan. Kosong.


Ruang tamu, dapur, kamar utama, dan seluruh bagian lainnya, semuanya dicek oleh Sean. Tidak terlihat apapun yang berubah. Dia malah menemukan perhiasan beserta ponsel baru yang belum digunakan sama sekali oleh istrinya.


"Dimana dirimu, sayang?" Sean mendaratkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Dia berharap istrinya lekas pulang.


Lama menunggu istrinya yang tak kunjung datang, Sean didera rasa kantuk yang luar biasa sehingga menyebabkan tertidur.


Sementara Callista saat ini sedang berada di rumah sahabatnya terlihat sangat santai dan bahagia.


"Kay, bagaimana persiapan untuk pernikahan lo besok?" tanya Callista yang sedang merebahkan dirinya di atas ranjang sahabatnya.


Kayana merasa sangat bahagia. Sepanjang hidupnya, baru kali ini dia menemukan orang-orang yang sangat baik. Sahabat, calon suami, dan mertua yang baik.


"Akhirnya, besok pernikahanku dilaksanakan. Calon Mama mertuaku yang menyiapkan segalanya. Semoga lancar ya, Call," Kayana terlihat begitu bahagia.


"Tentu, Kay! Semua doa terbaik untukmu...."


"Eh, lo nggak pulang ke apartemen? Ntar suami duda lo itu nyariin, loh!" ucap Kayana mengingatkan.

__ADS_1


"Nanti saja, Kay! Aku masih ingin menemanimu di sini...."


Biarkan saja doi pusing nyariin gue. Biar ngerasain juga syok terapi yang gue rasain tadi siang.


"Eh, bumil pamali loh pulang malam-malam. Gue antar naik taksi sekarang, yah? Gue takut suami duda lo itu kalap, terus elo-nya dicabik-cabik. Kan ngeri gue!" bujuk Kayana.


"Ish, mentang-mentang suami lo perjaka. Eh, tapi suami duda gue gak kalah kok pesonanya...," canda Callista.


"Call, lo lagi ngambek sama suami duda lo itu, yah?" tanya Kayana penasaran. Tumben sahabatnya itu betah dirumahnya.


"Enggak juga! Gue sengaja mau nemenin lo malam ini," ucapnya berbohong. Dia tak menampik jika masih kesal sama sikap suaminya itu. Ya, walaupun akhirnya dia mendapatkan informasi dari Dizon yang katanya rivalnya itu.


"Please, Call! Lo nggak bisa bohong sama gue. Lihat, sekarang sudah jam delapan malam. Mau pulang jam berapa, lo? Keburu taksinya kagak lewat, loh!" Kayana tidak ingin dihari bahagianya besok, sahabatnya sedang ribut dengan suaminya.


"Baiklah, Kay! Antarkan gue nyari taksi, ya...," ajak Callista yang mengambil dua paper bag dan tas kecilnya.


Kembali ke apartemen Sean. Pria itu tertidur entah berapa lama. Ketika terbangun, dia mendapati hari sudah malam sekali. Dilihatnya jam tangan yang masih melingkar ditangannya.


"Astaga! Sudah malam. Callista mana?" Sean beranjak kembali ke kamarnya. Dia melihat tidak ada istrinya.


Sean panik. Frustrasi. Kacau. Seperti kehilangan separuh jiwanya.


Apa dia benar-benar kabur? Kemana lagi harus kucari? Oh ya, Kayana..., dia pasti berada di rumah sahabatnya itu....


Sean bergegas mengambil kunci mobilnya. Tujuannya saat ini kerumah sahabat istrinya.


Sepanjang perjalanan, Sean terus memikirkan bagaimana jika istrinya itu kabur? Kemana dia harus mencarinya? Atau, ada kemungkinan diculik. Sean benar-benar panik!


"Apa sebaiknya aku coba tanya Kayana saja? Siapa tau Callista memang berada di sini sebelumnya," Sean nekat turun mengetuk pintu rumah itu.


Tok tok tok.


Ketukan pertama belum direspon penghuninya. Sean mengulanginya lagi untuk kedua kalinya.


Tok tok tok.


Ceklek!


Menampakkan Kayana yang sedang memakai masker di wajahnya.


Oh God, Om Sean kenapa datang kemari? Kan, istrinya sudah pulang.


"Kay, apa Callista ada di sini?" tanya Sean.


Kayana tidak serta merta menjawabnya. Dia kembali lagi masuk ke dalam rumah. Hal itu membuat Sean bahagia.


Ternyata dia ada di sini.


Kayana kembali lagi seorang diri membuat Sean semakin panik. Takut, jika istrinya tidak mau menemuinya. Kayana tidak berbicara apapun, dia malah menyerahkan selembar kertas seperti sebuah surat. Sean membacanya.

__ADS_1


Maaf, Om. Aku lagi pakai masker. Lagi nggak bisa ngomong, nih. Callista udah pergi dari jam delapan. Naik taksi...


Sean pikir, istrinya masih ada di rumah sahabatnya. Ternyata malah sudah pergi. Dia terlambat!


"Terima kasih, Kay...," Sean langsung kembali ke mobilnya.


Apa mungkin dia sudah sampai di apartemen?


Sean mengendarai mobilnya menuju ke apartemen. Dia ingin memeluk istrinya itu dan tak akan pernah dilepaskannya. Sampai di bassement apartemen, Sean berlari kecil untuk cepat sampai ke unitnya. Dia melihat jam tangannya sudah pukul sepuluh malam lebih lima belas menit.


Ceklek!


Sean langsung masuk. Di ruang tamu, dia tidak menemukan keberadaan istrinya, tetapi dia melihat ada dua paper bag yang tergeletak di lantai.


Sean masuk ke kamarnya dan melihat seorang wanita tertidur di ranjangnya dengan memeluk bantal. Dia mendekatinya dan melihat ada sisa air mata yang tertinggal di mata wanita itu. Bekas menangis beberapa jam yang lalu.


Maafkan aku, sayang... Aku tidak bermaksud untuk menyakiti hatimu.


Sean membetulkan posisi selimutnya untuk menyelimuti istrinya itu. Sean masuk ke bathroom untuk membersihkan diri kemudian ikut bergabung di ranjang bersama istrinya.


Callista terbangun mendapati dirinya dipeluk oleh seseorang.


"Apa aku menganggumu, sayang?" tanya Sean.


"Tidak! Kupikir, Om akan tidur di rumah Mama mertua menemani anak dan mantan istrimu itu," sindir Callista.


"Kau salah paham, sayang... Dan, kau berhasil membuat suamimu ini sangat panik," ucapnya merayu.


"Bohong! Buktinya, aku sampai apartemen tidak ada siapapun," protes Callista.


"Itu karena aku mencarimu ke rumah Kayana," ucapnya jujur.


"Itu karena Om baru ingat jika masih punya istri, kan? Setelah bermanja-manja dengan anak dan mantan istrinya," Callista masih saja cemburu. Jika tadi di rumah Kayana, dia bisa bersikap biasa saja. Namun, kembali bertemu suaminya membuatnya kembali cemburu.


Sean tak kehabisan akal. Diciumnya istrinya itu sampai dia tidak menolak semua permintaannya. Dan selanjutnya, terserah mereka mau melakukan apa.


😍😍😍😍TBC😍😍😍😍


Hai hai hai... semoga belum bosan, ya...


jangan lupa like, vote dan komentarnya... kirim hadiah juga boleh, bunga atau secangkir kopi...


Besok, 24 Desember 2021, siap-siap kondangan dinikahan Bambang Felix ya... 😘😘😘😘


Sambil menunggu update part selanjutnya, kuy kepoin novel teman emak.


Judul : Berbagi Cinta : Selir Kesayangan Dokter Ken


Author : ria aisyah

__ADS_1


Terima kasih.. Luv Yu All... 😍😍😍😍



__ADS_2