Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Sumpah Serapah


__ADS_3

Mengetahui biang masalah adiknya membuat Dizon lega. Adiknya tidak salah sama sekali dalam hal ini. Dia hanya menjadi korban salah sasaran seseorang yang ingin menghancurkan Kayana. Dia juga belum berbicara dengan HRD yang mempermudah Rhiana untuk masuk ke perusahaan. Dia akan memberikan sanksi pada pria itu.


"Suami pulang, kenapa tidak disambut?" tanya Dizon ketika sudah sampai di kamarnya. Dia melihat istrinya juga baru sampai.


"Suami berangkat kerja tidak pamit, pulang minta disambut. Tradisi yang aneh!" sindir Olivia.


"Kamu istri yang aneh! Selalu saja bisa memutar balikkan keadaan," balas Dizon.


Kelakuan suami istri ini persis Tom dan Jerry. Akur jika lagi menciptakan sensasi yang menegangkan namun mengasyikkan. Itupun baru dua kali. Yang pertama, gagal karena alarm sialan. Yang kedua, baru berhasil. Yang ketiga, dokter Olivia tidak memberikannya karena sesuatu hal. Apalagi kalau bukan tanda merah alias kedatangan tamu tak diundang. Dizon sudah mode ingin banget, tetapi Olivia memberikan kabar yang membuat kepalanya semakin nyut-nyutan.


Dizon anti bucin, versinya. Dia selalu memberikan sesuatu yang berbeda pada Olivia. Untung saja Olivia tipikal wanita kuat yang tidak mudah ditindas dan juga tidak mau mengalah. Ada kalanya dia sedikit mengalah demi mendapatkan kemenangannya.


"Kamu suami yang lebih aneh. Minta terus diperhatikan, tetapi tidak mau memperhatikan. Sesekali harusnya belajar memahami arti simbiosis mutualisme," sindir Olivia.


"Loh, jadi istri kok beraninya sama suami," cibir Dizon. Dia melepas jam tangan, jas, dasi, dan kemejanya di depan istrinya. Dia bertelanjang dada.


"Ck, kelakuanmu menodai mataku," balas Olivia. Bisa-bisanya pria itu hanya memakai celana panjangnya saja.


"Aku sengaja memancingmu agar kamu memintanya padaku," ucap Dizon. Pria ini lupa jika istrinya sedang berada pada zona merah.


"Hemm, pancing saja dirimu sendiri suamiku. Aku mau membersihkan diri dulu, setelah itu mama mertua memintaku untuk makan malam. On time! No terlambat!" Olivia masuk ke bathroom terlebih dahulu.


"Sial! Niatku mempermainkannya, malah aku merasa mempermainkan diri sendiri. Jodoh memang aneh. Kenapa aku bertemu dengan wanita sepertinya?" ucap Dizon.


Lumayan lama memang. Dizon melihat jam dinding sudah mendekati makan malam. Sekitar lima menit lagi, makan malam akan segera dimulai. Bersamaan itu, Olivia muncul dari dalam dengan pakaian yang sudah rapi dan terlihat sangat cantik.


Sesaat, mata Dizon terpaku pada istrinya. Selain cerdas dan berwibawa, wanita ini sangat cantik.


Cantik dan menarik.


Pandangan matanya fokus pada wanita itu. Jika Olivia tidak mengingatkan tentang makan malam yang sebentar lagi waktunya, dia akan melanjutkan kekaguman dalam diamnya itu.


"Tolong matanya dijaga. Nanti jatuh cinta beneran, baru tau rasa." Olivia mengambil minyak wangi kemudian menyemprotkan ke seluruh tubuhnya. Akibat ulahnya, kamar itu menjadi sangat wangi.


"Kamu sengaja membuat udara di kamarku terkontaminasi parfum murahan itu?" sindir Dizon. Padahal versi Dizon, perfum yang dipakai Olivia selalu wangi dan berkelas. Lidahnya terlalu kelu harus mengakui selera istrinya yang sangat tinggi itu.

__ADS_1


"Berdebat dengan Tuan Arrogan sepertimu membuat aku gampang lapar. Sebaiknya aku langsung ke meja makan sebelum waktu makan berakhir," ucap Olivia. Dua menit lagi makan malam akan dimulai.


Dizon terpaksa memakai kembali kemejanya. Ada hal penting yang ingin disampaikan pada kedua orang tuanya.


Olivia dan Dizon hampir bersamaan berada di meja makan. Dizon melihat mamanya menatap tajam ke arahnya.


"Dizon, kamu tidak mandi?" tanya mamanya to the point. Dia melihat putranya yang masih acak-acakan seperti itu.


"Menantu mama sengaja berlama-lama di kamar mandi dan putra kesayanganmu ini tidak diberikan kesempatan untuk sekedar mencuci muka, ma," jawabnya.


"Ck, seperti anak kecil yang hobinya mengadu saja," balas Olivia.


Papa Denzel melihat pertengkaran sengit antara anak dan menantunya mengingatkan dirinya dengan Carlotta Langdon, istrinya. Dulu juga seperti Dizon dan Olivia. Tidak pernah akur bahkan sulit untuk bekerja sama. Keduanya baru akur ketika berada di ranjang. Itupun harus saling mengorbankan ego masing-masing. Kelar permainan panas itu, kembali seperti semula. Ribut lagi sampai sekarang.


"Kalian itu seperti papa dan mama. Ribut terus, tetapi pasti ada masanya kalian akur," ucap papa Denzel.


"Maksud papa?" tanya Dizon. Baginya tidak ada kata akur jika berurusan dengan dokter Olivia.


"Iya, akur ketika seranjang berdua. Tau sendirilah, tidak perlu dijelaskan," ucapan papanya membuat suami istri cukup umur ini terdiam. Mereka fokus pada makanan masing-masing.


Mama Carlotta tidak berkomentar apapun tentang hal ini. Memang keduanya seperti duplikat dirinya dan sang suami. Itulah kenapa sampai Mama Carlotta bisa melahirkan Dizon dan Felix dalam jarak selisih enam tahun.


"Tolong papa dan mama jangan pergi dulu," pinta Dizon.


"Kalau aku?" tanya Olivia. Dia merasa tidak disebutkan.


"Jadi istri tolong lebih peka sedikit, dokter. Suamimu masih ada di sini. Sudah sepantasnya Anda tau harus bagaimana," balas Dizon.


Ck, jika bukan suamiku. Sudah ku deportasi ke dasar lautan yang paling dalam.


Olivia terpaku ditempatnya. Tak ada gunanya ribut dihadapan mertuanya. Lebih baik jika dia mendengarkan apa yang akan disampaikan suaminya.


"Ma, Pa, mengenai kepergian Felix dan Kayana. Aku sudah menemukan biang masalahnya," ucap Dizon.


Mama Carlotta adalah orang yang paling bahagia mendengarnya. "Ceritakan, nak!"

__ADS_1


Dizon menceritakan semuanya mulai dari Rhiana masuk dan sampai akhirnya Felix memutuskan untuk pergi. Barulah Dizon mengakhiri pembicaraannya.


"Jadi, maksudmu gadis itu dendam pada Kayana? Dia menjadikan Felix sebagai sarana balas dendam?" tanya mamanya.


Dizon mengangguk.


"Pembalasan dendam yang aneh. Harusnya Rhiana itu balasnya langsung ke Galen. Lagipula Kayana tidak lagi merebut Galen darinya. Sekarang putraku sudah pergi jauh. Dia tidak mau kembali lagi ke rumah ini sebelum dia memiliki anak," ucap mamanya.


Menyinggung soal anak, Dizon menatap tajam pada Olivia. Seolah tatapan itu adalah menagih jatah yang sudah dijanjikan wanita itu. Dia tidak menyadari jika di kawasan zona merah bisa berlangsung selama tujuh hari. Hari ini baru hari ke dua. Olivia hanya bisa mengatakan dalam batin.


Rasakan akibatnya sudah mempermainkan istri sendiri. Alam sedang mempermainkanmu.


"Apa Felix mengatakan seperti itu, Ma?" tanya Dizon.


"Iya, dia mengatakannya pada mama. Papamu juga tau," ucapnya kemudian beranjak membawa piring kotor ke dapur. Malam ini, mama Carlotta sengaja meminta beberapa pelayan untuk istirahat lebih awal setelah menyiapkan makan malam.


"Biar kubantu, ma." Olivia beranjak dari kursinya namun dicegah oleh Dizon.


"Mama bisa sendiri. Urus hal lainnya yang lebih penting," ucap Dizon.


Papa Denzel sudah beralih ke kamarnya. Tinggal Dizon dan Olivia.


"Apa maksudmu?" tanya Olivia.


"Urus suamimu! Mama sudah terlalu lihai mengerjakannya seorang diri."


"Ck, mana bisa begitu. Sesekali aku juga perlu membantu Mama." Olivia berdiri. Bukan Dizon namanya jika tidak berbuat usil. Dia sengaja menarik tangan istrinya untuk mendekat padanya. Keduanya berada pada jarak yang sangat dekat.


Posisi yang saling menguntungkan. Keduanya berada pada pikiran masing-masing. Setelah saling menyadari, Dizon mendorong istrinya untuk mundur beberapa langkah.


"Dasar suami keterlaluan. Aku sumpahin bakalan bucin setengah mati padaku!" ucap Olivia. Dia sangat kesal diperlakukan seperti itu.


"Sumpahmu tidak akan berguna," cibir Dizon.


Olivia tidak membalas ucapan suaminya. Dia lebih memilih untuk segera masuk ke kamarnya daripada melanjutkan perdebatan tak berujung itu.

__ADS_1


Kita lihat saja Tuan Arogan. Aku akan membuatmu bertekuk lutut padaku.


🌹🌹🌹🌹🌹TBC🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2