
"Apa-apaan ini, Sean? Kenapa kau menghentikan acara ini?" protes Papa Denzel. Pria paruh baya itu terlihat kecewa dengan kedatangan kakak Zelene.
"Maaf, Om! Aku tidak pernah setuju atas pertunangan ini," Sean berjalan mendekati adiknya.
Sean dengan tegas melarang pertunangan itu dilanjutkan. Dia datang seorang diri. Hal itulah yang membuat Mama Jelita sekaligus keluarga Damarion murka. Berbeda dengan Felix, dia menanggapinya dengan biasa saja. Tidak ada raut sedih ataupun kecewa di wajah pria tiga puluh dua tahun itu. Setidaknya ini tak akan sulit bagi Felix untuk membatalkan pertunangan yang rencananya akan dilakukan tiga hari setelah acara ini selesai.
Mama Carlotta mendekati suaminya. Dia meminta suaminya itu untuk menahan amarahnya agar mereka bisa membuat keputusan dengan baik.
"Pa, biarkan mereka berbicara. Ada kesalahpahaman yang tidak kita tau. Mama mohon. Please!" Mama Carlotta berusaha meredam kemarahan Papa Denzel. Dia tau jika suaminya adalah tipikal orang yang gampang marah.
"Tidak, Ma! Aku mau pertunangan ini tetap berlanjut. Bagaimana dengan Anda, Nyonya Jelita?" Papa Denzel sedang mencari dukungan untuk tetap menjalankan pertunangan ini.
Mama Jelita sangat setuju dengan usulan Papa Denzel. "Iya, Tuan Denzel. Aku setuju acara ini kita lanjutkan."
"Tidak, Ma! Tidak akan ada acara pertunangan lagi. Aku akan membawa Zelene pergi. Ini keputusanku!" Sean tetap ingin memperjuangkan kebebasan adiknya untuk menikahi orang yang sangat dicintainya. Tidak ada banyak waktu untuk berdebat, karena hari ini Zelene harus melangsungkan pernikahan dengan Vigor.
Plok plok plok.
Dari arah lain, seorang wanita datang mendekati mereka dengan tepukan tangan. Wanita itu seakan menikmati pertunjukan di hadapannya. Siapa lagi kalau bukan Diana Carrington, mantan istri Sean.
"Apa yang kau lakukan, Sean? Kau pikir keputusanmu untuk membawa Zelene itu benar. Tidak, Sean! Dia akan tetap melanjutkan pertunangan ini. Tidak ada bantahan!" ucap Diana.
"Iya, Mama juga setuju ucapan Diana. Pertunangan ini harus tetap berlangsung," Mama Jelita mendapatkan dukungan lagi dari mantan menantunya.
"Tidak, Ma! Zelene akan ikut bersamaku. Felix, aku minta maaf atas ketidak nyamanan ini. Sekali lagi bukan maksudku untuk menghalangi pertunangan kalian, tetapi Zelene sudah memiliki seorang kekasih," Sean sedang mengupayakan bisa berdamai dengan semua yang ada.
Sean, apa kau pikir Mama akan membiarkan begitu saja jika Zelene pergi? Itu tidak akan pernah terjadi!
"Berani kau keluar dari rumah Mama, itu artinya kau bukan lagi anak Mama!" ancam Mama Jelita pada Zelene.
"Ma, kau sangat kejam sekali!" protes Zelene.
"Baiklah, Ma. Jika Mama tidak mau mengalah, biarkan Zelene yang menentukan pilihannya," pinta Sean.
__ADS_1
Zelene menoleh ke arah Felix. Dia ingin meminta persetujuan pria itu. Felix mengangguk membiarkan gadis itu untuk menentukan keputusan terbaiknya.
"Maaf, Om, Tante, Mama. Ze tidak bisa melanjutkan pertunangan ini. Ze mencintai orang lain. Ze tidak ingin membuat sebuah hubungan dengan adanya kebohongan yang lain. Sekali lagi, Ze minta maaf," Zelene mendekati kakaknya.
"Ayo, Ze. Kita pergi. Tak banyak waktu untuk melanjutkan perdebatan ini," Sean secepatnya mengajak adiknya untuk melangsungkan pernikahan dengan Vigor. Mereka sudah menunggunya di kantor catatan pernikahan.
"Tunggu, Sean! Berani kau bawa Zelene pergi, itu artinya kau menantangku," ancam Papa Denzel.
Papa Denzel tidak ingin pertunangan anaknya batal karena beberapa koleganya sudah mengetahui jika dirinya akan menjadi besan keluarga Armstrong. Keluarga terkaya sebelum keluarga Damarion.
Sean berbalik badan. Sebenarnya dia tidak ingin menunda kepergiannya dengan Zelene. Mengingat waktunya sangat mepet sekali.
"Aku tidak pernah berniat menantang, Om. Jika ini membuat Om sangat marah, Sean meminta maaf. Asal Om tau, keluarga kami sebenarnya tidak ingin melanjutkan pertunangan ini. Mama Jelita dan Diana lah yang menyetujui ini semua tanpa melibatkan aku. Sebagai seorang kakak, aku ingin yang terbaik untuk adikku," Sean tidak ingin membuat pria paruh baya itu meninggalkan dendam dengan keluarganya.
"Kau merusak acara ini, Sean. Aku tidak terima," teriak Papa Denzel.
Felix mendekati Papanya agar pria paruh baya itu bisa mengikhlaskan apa yang terjadi hari ini.
"Sudahlah, Pa. Biarkan mereka pergi. Felix tak masalah," ucap Felix.
"Tunggu, Sean! Kita bisa bernegosiasi," Papa Denzel lagi-lagi menghentikan Sean.
Astaga! Aku harus secepatnya sampai di sana. Ini lagi, Om Denzel menghadangku.
Zelene semakin khawatir jika pertunangan ini tetap berlanjut. Dia khawatir pada kakaknya akan kalah dengan Om Denzel.
"Apa yang ingin Om katakan?" tantang Sean.
"Biarkan Zelene bertunangan dengan Felix. Aku akan menjamin kebahagiaan menjadi milik mereka berdua," Papa Denzel memohon.
"Maaf, Om. Jika sekedar kebahagiaan, Sean juga bisa memberikannya. Apa Om melupakan sesuatu? Jika kebahagiaan keluarga Armstrong tidak berasal dari keluarga Damarion? Justru keluarga Damarion-lah yang menghancurkan kebahagiaanku," Sean ingin agar Papa Denzel menyadari kesalahan putranya di masa lalu.
"Apa maksudmu, Sean?" Papa Denzel tidak mengerti arah ucapan pria empat puluh tahun lebih itu.
__ADS_1
"Dizon merusak pernikahanku dengan Diana. Apa itu belum membuat Om puas? Sekarang Om juga akan merusak kebahagiaan adikku dengan melanjutkan pertunangan ini?" Sean mengingatkan luka masa lalu kedua keluarga.
"Itu tidak benar, Sean! Dizon memang berselingkuh dengan Diana, istrimu. Tetapi Willow adalah anak kalian," Mama Carlotta angkat bicara. Putranya tidak sepenuhnya salah. Dia ingin agar Sean tidak menyudutkan suaminya.
Willow bukan anakku. Bahkan hasil tes DNA itu menunjukkan ketidak cocokan antara aku dan Willow. Aku juga sudah mengajukan penghapusan nama Armstrong dibelakang nama Willow.
"Maaf, Tante. Itu tidak benar. Willow murni anak Dizon dengan Diana. Aku sudah membuktikan dengan tes DNA. Aku juga sudah mengajukan penghapusan nama Armstrong di belakang nama Willow."
Mama Carlotta tidak bisa berkata apa-apa lagi. Diana sudah mempermainkan keluarga Damarion. Mama Carlotta merasa malu dengan kenyataan yang didapat saat ini.
Itu artinya Willow adalah cucuku.
Semua orang yang mendengar pengakuan Sean merasa terkejut dengan kabar yang didapat dari pria berstatus duda itu. Mengenai Willow Armstrong yang selalu menjadi perdebatan dua keluarga. Keluarga Armstrong tidak mengakui adanya gadis kecil itu, begitupun keluarga Damarion. Mereka menganggap jika keluarga Armstrong lah yang membuat keluarga Damarion malu karena anak sulungnya memiliki anak diluar nikah. Kenyataan yang disembunyikan Diana selama bertahun-tahun akhirnya terbongkar.
"Pergilah, Sean!" ucapan itu yang lolos dari mulut seorang Mama Carlotta. Hatinya merasa sakit atas kebohongan yang dilakukan Diana dan Dizon, anak sulungnya.
"Terima kasih, Tante," Sean bergegas membawa adiknya pergi.
Semua orang yang ada di ruangan itu sedang menatap tajam ke arah Diana. Mantan menantu dari keluarga Armstrong yang berhasil membuat kekacauan di antara dua keluarga. Mama Jelita tidak bisa berbuat banyak. Dia harus merelakan anak gadisnya memilih orang lain.
Sean menggandeng erat tangan adiknya. Secepatnya pria itu akan menikahkan adiknya dengan lelaki pilihannya.
"Terima kasih, Kak. Aku menyayangimu," ucap Zelene ketika memasuki mobil kakaknya.
Sean mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh agar lekas sampai ke tempat pernikahan.
"Sama-sama, Ze. Kakak ingin kau selalu berbahagia," ucap Sean.
😍😍😍😍😍
Hai akak readers yang selalu setia menanti kelanjutan cerita ini. Emak author mengucapkan banyak terima kasih. Semoga cerita ini selalu menghibur di manapun kalian berada.
Oh ya, hari ini masuk hari senin. Jangan lupa votenya agar emak lebih semangat..
__ADS_1
Jaga kesehatan juga ya, musim hujan membuat banyak penyakit bertebaran. Semoga kalian semua selalu diberikan kesehatan, keberkahan, dan rezeki berlimpah. Aamiin....