
"Halo, Bos... Kita sudah mendapatkannya...," ucap anak buah Vigor.
"Baguslah! Ini kabar yang membahagiakan. Sesuai rencana kalian. Lanjutkan!" perintah Vigor.
"Baik, Bos. Mereka ada di mobil yang terpisah. Bos jangan khawatir. Kami akan menempatkan mereka di dalam satu ruangan yang sama," ucapnya.
"Kerja bagus! Lanjutkan!" ucap Vigor mengakhiri teleponnya.
"Bagaimana, honey?" tanya Zelene.
"Berhasil, honey...," Vigor kegirangan. Dia berdiri kemudian memeluk istrinya dengan sangat mesra sekali.
Zelene tampak sangat bahagia melihat keberhasilan suaminya. Entah apa yang akan mereka lakukan pada sepasang makhluk Tuhan yang sangat rumit itu. Zelene tidak mau ikut campur lagi, tetapi dia sangat penasaran.
"Apa yang akan mereka lakukan padanya, honey?" tanya Zelene.
"Hanya menakuti dokter Olivia supaya Dizon mau menolong wanita itu," ucap Vigor.
Sean muncul begitu saja ketika mendengar pembicaraan tentang dokter Olivia.
"Bagaimana? Apa ada kabar dari mereka?" tanya Sean.
"Berhasil, Bos! Mereka sedang membawanya ke gudang itu," ucap Vigor.
"Baguslah! Siang ini kita akan berangkat ke Villa. Persiapkan diri kalian!" ucap Sean.
Tak memerlukan waktu yang lama untuk bersiap. Mereka juga harus mampir ke Supermarket untuk memenuhi kebutuhan selama di Villa.
Sean mendapatkan kabar jika Felix akan mengajak Mama Carlotta karena Papa Denzel kebetulan sedang tidak ada di rumah.
Mereka berangkat menggunakan mobil yang lebih besar yang jarang dipakai oleh Sean.
"Kak, mampir ke supermarket dulu. Sekalian mampir beli baju," ucap Zelene.
Mereka memang tidak ada persiapan sama sekali. Sebenarnya Sean hampir saja membatalkan rencananya untuk pergi ke Villa mengingat istrinya sedang hamil muda. Tetapi wanita itu mengatakan jika ingin menikmati malam pergantian tahun dengan suasana yang berbeda.
Kini mereka telah sampai di Mal Sinar Galaxy. Sean sudah berjanji akan menunggu Felix dan keluarganya di Mal ini juga.
"Menunggu siapa, sayang?" tanya Callista.
__ADS_1
"Felix dan keluarganya. Kami sudah berjanji akan bertemu di sini," ucapnya.
"Wah, ini malam pergantian tahun yang sangat membahagiakan untukku, sayang. Aku bisa menikmatinya dengan sahabatku," ucap Callista dengan raut bahagianya.
"Big no, sayang! Mereka akan tetap dengan pasangan masing-masing!" protes Sean.
Sean berencana menyiapkan malam pergantian tahun yang romantis untuk istrinya. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Felix, istri, dan Mamanya sudah berada di dalam supermarket. Mama Carlotta untuk pertama kalinya bertemu dengan Callista, istrinya Sean.
"Ini istrimu, Sean?" tunjuk Mama Carlotta pada Callista.
"Iya, tante. Dia sahabat Kayana, menantu tante," jawab Sean.
Callista mengulurkan tangan pada wanita paruh baya itu. "Callista, tante."
"Panggil Mama Carlotatta saja," jawab Mama Carlotta dengan menjabat tangan Callista. "Istrimu cantik sekali, Sean. Pantas saja kau tergila-gila padanya."
"Terima kasih, tante," ucap Sean. "Sebaiknya kita berbelanja dulu supaya tidak terlalu malam untuk sampai ke Villa," usul Sean.
Mereka berpencar mencari kebutuhan masing-masing. Sekitar satu jam lebih, mereka baru berkumpul lagi. Persiapan berangkat ke Villa agaknya lebih dipercepat. Mengingat hari sudah semakin siang. Mereka tidak ingin melewatkan pergantian malam tahun baru harus berada di tengah jalan tanpa kejelasan karena macet.
"Tidak lelah, sayang?" tanya Sean pada istrinya.
"Duduklah! Kita istirahat sejenak," ucap Sean.
Mama Carlotta melihat pemandangan yang tidak biasa. Sean terlihat jauh lebih kalem dari sebelumnya.
"Istrimu hamil?" tanya Mama Carlotta.
"Iya, tante," jawab Sean.
"Perjalanan dari tempat ini ke Villa keluargamu berapa lama?" tanya Mama Carlotta.
"Sekitar lima sampai enam jam, tante. Itupun kalau di jalan tidak terjebak macet," Sean menjelaskan.
"Mohon maaf, Sean dan semuanya. Sebenarnya tante suka sekali ikut kalian mengadakan acara pergantian tahun baru bersama di Villa. Tante sangat suka sekali, tetapi tante mohon. Untuk malam ini, sebaiknya acaranya diadakan di rumah tante. Tidak masalah, kan?" usul Mama Carlotta.
"Kenapa begitu, Ma?" protes Felix.
__ADS_1
"Sayang, kamu tidak melihat istri kakakmu sedang hamil? Perjalanan ke Villa akan sangat melelahkan. Mama tidak ingin terjadi apa-apa dengan kandungan kakakmu," ucap Mama Carlotta menjelaskan.
Sean sedang memikirkan ulang ucapan tante Carlotta. Awalnya dia sempat akan membatalkan kepergiannya ke Villa keluarga mengingat kehamilan istrinya baru memasuki trimester awal.
Tante Carlotta benar. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan kehamilan istriku. Mengingat usianya juga masih sangat muda. Akan sedikit rentan bila dipaksakan. Batin Sean.
"Baiklah, Tante. Aku setuju," ucap Sean.
"Kak Sean yakin?" tanya Zelene. Dia sepertinya tidak bisa menerima kenyataan jika harus mengadakan acara pergantian tahun di rumah keluarga Damarion. Pasti akan sangat rumit jika harus bertemu dengan Dizon.
"Kakak yakin, Ze. Apa kamu keberatan?" tanya Sean.
"Aku malas bertemu Dizon, Kak," bisiknya di telinga sang kakak.
Sean tersenyum. "Tidak usah khawatir, Ze. Tidak baik menolak permintaan tante Carlotta. Bukan begitu, sayang?" Kini Sean meminta pendapat istrinya.
"Tak masalah, sayang. Terima kasih tante sudah memberikan saran yang terbaik. Sepertinya aku juga tidak sanggup untuk ikut dalam perjalanan selama itu," ucap Callista.
"Terima kasih, Mama. Mama adalah mertuaku yang paling baik," ucap Kayana yang sejak tadi ikut menyimak pembicaraan mereka semua.
"Tentu, sayang. Demi kebaikan semuanya, mari ke rumah tante," ajak Mama Carlotta.
Mereka kembali ke tempat parkir dengan membawa semua barang yang sudah dibelinya. Mama Carlotta kembali ke mobil Felix. Dia mengabari pelayan rumah untuk menyiapkan dua kamar tamu spesial. Wanita itu juga meminta mereka untuk menyiapkan acara pesta kebun yang akan diadakan nanti malam.
Sementara Zelene yang berada di dalam satu mobil dengan kakaknya masih saja mempermasalahkan kegagalannya untuk pergi ke Villa keluarga.
"Kak, Zelene sudah rindu Villa kita, loh. Kenapa kita tidak kesana saja? Tanggung sudah setengah jalan," protes Zelene.
Sebenarnya Sean juga memikirkan hal yang sama, tetapi dia tidak boleh egois. Dia juga harus memikirkan kondisi istrinya yang sedang hamil.
"Ucapan tante Carlo ada benarnya, Ze. Kakak iparmu sedang hamil. Tidak baik membawanya dalam perjalanan jauh. Kalaupun kita menolak permintaan tante Carlo, itu akan sangat menyinggung perasaannya. Dia sudah menyarankan yang terbaik untuk kita. Bukan begitu, Vigor?" ucap Sean.
"Honey... Tak masalah kita pergi ke tempat keluarga Damarion. Dizon tidak akan ada di sana saat ini. Kau jangan khawatir, yah?" ucap Vigor agar istrinya mengerti.
"Maafkan aku, Ze. Aku juga ingin pergi ke Villa keluarga, tetapi ucapan tante Carlotta benar. Aku mungkin terlihat sanggup di awal perjalanan. Tidak tau nanti akhirnya akan seperti apa. Aku minta maaf, Ze," ucap Callista. Dia merasa bersalah karena dirinya yang membuat liburan akhir tahun ke Villa jadi gagal.
Zelene terdiam. Dia nampak memikirkan jika posisinya dia menjadi wanita hamil. Mungkin orang lain akan melakukan hal yang sama untuk dirinya.
"Maafkan Zelene, Kak. Tante Carlotta benar. Beliau tidak ingin terjadi sesuatu dengan kandungan kakak ipar," ucap Zelene mulai mengerti.
__ADS_1
Mobil yang mereka tumpangi mengarah ke rumah keluarga Damarion. Letaknya memang tidak jauh dari Mal Sinar Galaxy. Hanya butuh beberapa menit untuk sampai ke tujuan.
🍓🍓🍓🍓TBC🍓🍓🍓🍓🍓