Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Hakku yang tertunda


__ADS_3

Walaupun malam pertamanya gagal, tak menyurutkan kebahagiaan Dizon maupun Olivia. Pagi ini, Dizon meminta pelayan hotel untuk memindahkan semua kado pernikahannya ke dalam mobil beserta beberapa koper yang akan dibawanya pulang.


Olivia sedang bersiap. Dia menertawakan dirinya sendiri di depan cermin mengingat permintaan konyolnya semalam.


"Padahal suamiku tampan, kenapa aku jadi bersikap aneh seperti itu?" ucapnya.


Olivia fokus pada polesan make up-nya sebelum suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya.


Tok tok tok.


Olivia bergegas mengoleskan lipstik tipis untuk menyelesaikan hasil akhir riasan naturalnya. Dia masih fokus pada wajahnya dan mengabaikan ketukan itu.


Tok tok tok.


Ketukan kedua, Olivia masih membereskan alat make up kemudian memasukkannya kembali pada tas kecilnya.


Ceklek!


Olivia akhirnya membuka pintu, tetapi dia sangat terkejut mendapati suaminya sudah kesal di hadapannya.


"Kenapa lama sekali? Aku sudah membereskan semua barangnya. Setelah ini, kita langsung pulang!" ucapnya dengan nada kesal.


"Maaf." Hanya itu yang disampaikan Olivia.


Tunggu! Sepertinya ada yang perlu diluruskan mengenai kata-kata pulang.


"Memangnya kita mau pulang ke mana?" tanya Olivia. Pikiran wanita matang itu akan pulang ke rumahnya sendiri bersama Dizon atau ke apartemen yang selama ini menjadi tempat tinggalnya.


"Rumah keluargaku," jawab Dizon. Pria itu masih mengemasi dompet dan ponsel barunya. Ponsel lamanya raib ketika penyekapan malam tahun baru itu.


"Kenapa tidak pulang ke rumah kita? Setidaknya kita bisa hidup mandiri atau pulang ke apartemenku saja," usul Olivia.


"Tempat ternyamanku ada di rumah keluargaku. Aku belum punya rumah sendiri. Mengenai pulang ke apartemen, lain kali saja. Apa kamu akan menolaknya?" Dizon menghentikan kegiatannya.


Olivia memang sudah menjadi istrinya. Tidak baik menolak ajakan suami anehnya itu.


"Baiklah. Aku ikut saja kemanapun kamu pergi," ucap Olivia pasrah.


Dizon mengajaknya untuk sarapan pagi sebelum pulang ke rumahnya. Olivia terkadang bingung pada sikap suaminya yang kadang-kadang baiknya seperti dewa, terkadang sangat menyebalkan sekali. Apa suaminya memiliki kepribadian ganda?


Olivia tidak mau pusing dibuatnya, setidaknya status lajangnya sudah berubah menjadi menikah. Urusan selanjutnya, dia harus siap apa yang akan terjadi dikemudian hari.


Selesai sarapan pagi perdana bersama suaminya, Olivia mengikuti Dizon ke tempat parkir. Di sana, Olivia langsung masuk ke mobil tanpa menunggu Dizon membukakan pintu seperti adegan romantis di sinetron. Itu tidak dilakukan Dizon sama sekali.


"Kenapa tidak bisa bersikap romantis?" tanya Olivia memecah keheningan.


"Jangan kamu samakan aku dengan pria diluaran sana. Aku berbeda dengan mereka," jawabnya ketus.

__ADS_1


Oh God... Suami macam apa yang sedang kuhadapi?


Olivia terdiam lagi. Tak ada gunanya mendebat suaminya. Dizon fokus menyetir sampai mobilnya mulai memasuki halaman rumahnya yang sangat luas.


Dizon segera turun dan masuk ke dalam. Dia meninggalkan Olivia begitu saja.


"Oh ya ampun, pria itu sangat menyebalkan sekali," ucap Olivia. Ini kedua kalinya menginjakkan kaki di rumah keluarga suaminya.


Dari dalam muncul beberapa pelayan dan suaminya. Pria itu meminta bantuan untuk membawa barang ke kamarnya.


Mama dan Papa mertuanya juga muncul menyambut kedatangan menantunya.


"Selamat datang, 'nak," ucap Mama Carlotta.


"Selamat datang, dokter. Semoga betah berada di rumah ini," ucap Papa Denzel.


Mama Carlotta gedek menghadapi sikap suaminya. Dia sangat membedakan istri kedua putranya.


"Panggil Olivia saja, Pa." Olivia hanya menantu di rumah itu.


Mama Carlotta mengajaknya masuk. Wanita paruh baya itu memberikan kebebasan pada menantunya.


"Mau langsung masuk ke kamar suamimu atau ngobrol di ruang tengah dulu?"


Olivia bingung. Ini pertama kalinya dia masuk ke dalam keluarga suaminya. Dia tidak tau pilihan apa yang paling tepat. Dia merasa malu.


Mama dan Papa mertuanya menertawakan pilihan menantunya.


"Ya, ya... Pengantin baru tidak akan jauh-jauh dari kamar. Tempat ternyaman untuk berdua," goda Mama mertuanya.


"Dizon...," panggil Papanya ketika melihat anaknya lewat. "Ajak istrimu masuk ke kamar! Dia penasaran dengan kamarmu."


Dizon yang baru saja membantu pelayan mengangkat beberapa barang kemudian menghampiri papa dan mamanya.


"Iya, Pa. Tunggu mereka beres meletakkan beberapa barangnya," jawab Dizon.


"Bagaimana malam pertamanya? Lekas berikan papa cucu!" ucap Papa Denzel. Pria paruh baya ini sangat ramah pada istri Dizon daripada Felix.


Glek!


Sepasang suami istri itu tidak bisa berkata apa-apa. Dizon mengingat kegagalan malam pertamanya karena sebuah alarm sialan itu.


"Jangan seperti itu, Pa! Lihatlah... Keduanya sangat malu dengan pertanyaan konyolmu itu," protes Mama Carlotta.


"Itu pertanyaan wajar, Ma... Sudah sama-sama dewasa, lalu apalagi yang ditunggu," balasnya.


Dizon tidak ingin memperpanjang perdebatan itu. Secepatnya dia mengajak Olivia untuk masuk ke kamarnya.

__ADS_1


"Ma, Pa... Aku ajak istriku masuk ke kamar dulu. Dia juga sangat lelah dengan malam pertama kita," jawab Dizon tak kalah mengejutkan di telinga Olivia maupun kedua orangtuanya.


Olivia terdiam. Dia mengikuti langkah suaminya menuju lantai atas di mana kamarnya berada.


Ceklek!


Dizon langsung masuk diikuti Olivia dibelakangnya. Olivia sangat tertarik dengan nuansa kamar bercat hitam dan abu-abu itu. Sangat khas sebagai kamar seorang pria. Kamar yang berukuran dua puluh lima meter persegi itu terlihat sangat luas dan tertata rapi. Di sudut ruangan terdapat sofa untuk sekedar bersantai. Ukuran kamar yang sangat luas masih jauh dengan luas kamar apartemennya.


"Semoga kamu betah. Jangan pernah pindahkan barang-barangku dari tempatnya!" ucapnya.


Olivia berada di kamar suaminya seperti berada di sebuah sangkar yang di dalamnya dia tidak bisa melakukan apapun sesuka hatinya.


"Ya, baiklah...," jawab Olivia. Wanita itu bisa bertahan atau tidak dengan sikap Dizon yang terkadang hangat, lembut, dan terkadang sangat dingin.


"Kapan kamu akan memberikannya?" tanya Dizon to the point.


Olivia mendongak memandang suaminya. "Hah, memberikan apa?" Bagaimana istrinya bisa paham jika kata-kata yang dikeluarkan selalu dipenuhi tanda tanya.


"Hakku yang tertunda."


Glek!


Olivia pikir setelah kegagalan semalam, pria itu akan melupakannya. Tetap saja masih diingat dan selalu ditagih. Persis debt collector yang sedang menagih utang.


"Lakukanlah kapan kamu mau. Aku akan selalu siap." Jawaban terbodoh yang diucapkan dokter Olivia. Wanita itu sudah melemah di hadapan suaminya.


"Baiklah. Selalu siapkan dirimu. Sewaktu-waktu aku akan memintanya. Tetapi...." Dizon menghentikan ucapannya yang membuat dokter Olivia berpikiran tidak singkron.


Apa yang akan diucapkan?


"Tetapi apa?"


"Aku tidak mau permintaan konyol itu hadir," jawabnya.


Permintaan konyol yang dimaksud Dizon adalah mematikan lampu saat memulai aksinya itu. Sementara Olivia sangat malu harus dilihat langsung oleh suaminya.


"Eh, kenapa begitu? Bukankah itu adil untuk kita. Kamu akan mendapatkannya sedangkan aku akan memberikannya." Lagi-lagi ucapan terbodoh keluar dari bibir istrinya.


Oh ya ampun... Aku terlihat sangat bodoh di hadapannya.


Dizon tersenyum kemudian menjawabnya. "Karena ini kamarku dan orang lain tidak berhak mengaturnya."


Glek!


Benar-benar suami yang aneh. Olivia kalah telak menghadapi pria model Dizon Damarion.


💖💖💖💖💖💖TBC💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2