Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Proyek Bersama


__ADS_3

Setelah kejadian nananinunani semalam dengan beberapa episode pelepasan, Olivia terlihat kelelahan. Bagaimana suami monsternya itu menghabisinya karena efek obat laknat itu.


Olivia sempat berpikir pada pelaku yang sengaja memberikan suaminya obat gila itu menyebabkan dirinya terpaksa sukarela melayani suaminya. Baginya ada keuntungan tersendiri karena suaminya tidak tidur dengan wanita lain.


Olivia baru saja membuka matanya. Pelukan tangan kekar suami monsternya itu masih berada di tubuhnya. Semalam, setelah pertempuran yang luar biasa itu, Dizon tertidur dengan memeluk istrinya. Keduanya berada di dalam selimut yang sama dan masih dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun.


Olivia melihat jam dinding. Masih terlalu pagi untuk bangun dari mimpi dan kenyataan semalam. Suaminya mampu membuatnya lupa jika dia sedang memancing kebucinan suaminya. Dia terjebak dalam permainan yang memabukkan itu.


Olivia melihat wajah tampan suaminya itu. Walaupun sikapnya terlihat seperti monster, tetapi ketampanannya yang luar biasa itu membuat Olivia luluh.


Ternyata suamiku cakep juga, ya? Permainannya semalam tidak mengecewakan.


Dizon mengeliat. Jika bukan karena hari ini ada pekerjaan penting di kantor, dia ingin tidur seharian. Dia membuka matanya dan melihat istrinya memandang lekat ke arahnya.


"Apa lihat-lihat? Nanti bucin, loh," sindir Dizon.


"Ck, mana mungkin aku bucin padamu, Tuan monster! Tau begitu, semalam kubiarkan saja kamu kesakitan. Kalau perlu, biar mati sekalian," balas Olivia.


"Ooo, jadi rupanya kamu lebih senang menyandang status janda daripada hidup bersamaku?"


"Hemm, selalu saja begitu. Jadi pria itu tolong bisa hargai jerih payah wanita. Tidak seenak jidatnya begitu." Olivia turun dari ranjang dan sengaja turun dalam keadaan polos meninggalkan suaminya.


Dizon menatap tidak percaya pada tingkah istrinya. Bahkan sekarang, dia sudah berani tampil polos di hadapan suaminya. Ini diluar dugaannya.


Dizon bergegas mencari ponsel untuk mentransfer sejumlah uang persis yang disepakati dan menambahkan sedikit bonus karena sampai pagi ini dia masih hidup dan berhasil membuat istrinya berada dalam kungkungannya.


"Wanita aneh!" umpatnya.


Olivia yang baru saja keluar dan sempat mendengar umpatan suaminya itu.


"Kamu pikir aku tuli, hah? Memangnya aku seperti itu?" protes Olivia.


"Iya, memang kenyataannya kamu aneh. Kamu berani telanjang dihadapanku seperti tadi. Kamu merayuku?" Tuduhan Dizon tidak masuk akal.


"Lagipula, semalam kamu sudah melihat semuanya. Apa masih kurang, hah?"


Olivia berada di depan cermin. Dia hendak menyisir rambutnya.

__ADS_1


Dizon tidak menyangkal. Walaupun usianya matang, pesona dan kecantikannya tidak kalah dengan gadis pada umumnya.


"Tidak. Sudah cukup untuk semalam. Aku berharap secepatnya kamu hamil, agar aku tidak lagi bermain denganmu seperti semalam. Aku hari ini sangat lelah, jika bukan karena ada pekerjaan penting, aku ingin tidur seharian," ucapnya.


"Baguslah! Semoga kamu kuat menahan godaan dariku," ucapnya.


Olivia bertekad akan meluluhkan suaminya yang kaku itu. Dia mempunyai segudang rencana untuk membuat pria itu menyerah dan bertekuk lutut padanya.


Dia sangat lincah dan luar biasa. Sepertinya aku akan kalah menghadapinya.


"Silakan saja berbuat sesuka hatimu. Aku tidak akan tergoda."


Olivia telah bersiap. Secepatnya dia harus ke meja makan untuk sarapan. Sementara Dizon masih berada di atas ranjang.


"Apa kamu akan ke rumah sakit dengan keadaan seperti itu?" Dizon mengingatkan karena semalam dia meninggalkan tanda kepemilikan di sembarang tempat.


"Ada yang salah dengan diriku?" tanya Olivia. Dia menoleh ke arah suaminya.


"Iya. Kamu akan dipermalukan jika seperti itu. Lihatlah tanda merah bekas kepemilikan yang kutinggalkan." Dizon sebenarnya sudah terpesona dengan Olivia sejak pertemuannya pertamanya di pernikahan Felix. Hanya saja, dia tidak mengakuinya.


"Ck, kamu ini. Bilangnya anti bucin, nyatanya meninggalkan tanda kepemilikan sebanyak ini. Ini namanya bucin akut. Mengaku saja di sini, daripada nanti kupermalukan di meja makan."


Oh astaga. Telat sedikit, papa dan mama akan sangat marah karena menunggu terlalu lama.


Bergegas Dizon ke bathroom, sementara Olivia langsung menuju meja makan.


Di sana, mama dan papa mertua sudah menunggunya. Betapa terkejutnya ketika mendapati suaminya hanya memakai bathrobe menuju meja makan.


"Astaga, Dizon!" teriak mamanya.


Dizon cuek. Dia tidak peduli dengan apa yang akan mereka ucapkan padanya.


"Kamu kehabisan baju?" sindir papanya.


Dizon dengan santainya duduk di meja makan. Seperti tidak ada dosa dan masalah yang ditimbulkannya.


"Mama dan papa jangan protes dulu. Ini juga kerjaan menantu kalian yang membuatku bangun kesiangan seperti ini," ucapnya.

__ADS_1


Dizon bisa-bisanya menuduh Olivia yang jelas sebagai korban kegilaannya. Dizon sekarang membuat istrinya itu seperti disudutkan.


"Memangnya kalian habis ngapain?" goda mamanya.


"Hanya memijitnya, Ma," ucap Olivia. Dia tidak ingin suaminya itu membuka kejadian semalam.


Tidak bisa dipungkiri, Olivia juga menginginkan hal yang sama sehingga semalam permainan berjalan seimbang.


"Menantu mama sudah pandai berbohong. Lihatlah, ada gigitan vampir di leherku! Sepertinya kamarku sudah tidak aman, Ma." Dizon sengaja menggoda istrinya. Memang semalam Olivia sempat menggigit leher suaminya karena gemas dengan pria itu.


Mama Carlotta dan Papa Denzel menertawakan kedua tingkah konyol mereka. Sementara Olivia sangat menikmati makanannya dalam diam. Dia terlalu malu untuk mengakuinya.


Olivia lebih dulu menyelesaikan sarapan paginya. Dia langsung pamit ke rumah sakit sebelum obrolan aneh akan semakin tercipta di sana.


"Ma, Pa, Olivia berangkat ke rumah sakit," pamitnya.


"Tidak pamit dengan suamimu?" tanya Dizon.


Olivia memang sengaja. Dia kesal karena dipermalukan seperti ini. Dia langsung pergi meninggalkan ruang makan.


"Istrimu kenapa, Dizon?" tanya mama Carlotta.


"Lagi bete, Ma. Semalam kita mengerjakan proyek bersama," ucap Dizon.


Mamanya paham maksud putranya, sementara papa Denzel malah mempertanyakan.


"Damarion Corporation ada proyek dengan rumah sakit?" tanya papa Denzel.


"Astaga, suamiku! Seperti kamu tidak pernah muda saja. Tentu saja proyek untuk cucu kita. Iya, 'kan?"


Mereka semua menertawakan Dizon. Benar-benar konyol karena membuat keributan di pagi hari.


Setelah sarapan, Dizon kembali ke kamarnya. Dia bergegas untuk bersiap. Dia sedikit terlambat untuk datang ke kantor.


"Kamu cantik, menarik, luar biasa, dan selalu ceria. Walaupun aku selalu membuatmu kesal, tetapi di lubuk hatiku paling dalam, kamu adalah wanita sempurna untukku." Dizon memandang cermin. Dia melihat pantulan bahagia tergambar jelas diwajahnya.


Dizon langsung menghubungi Samuel untuk mengucapkan terima kasih karena berhasil membuat malamnya luar biasa. Dia juga mengatakan jika obat laknat itu berjalan sebagaimana mestinya. Dizon tidak menyadari seseorang telah mengamatinya di luar kamar dengan tatapan mengintimidasi. Dia tidak sadar jika perang yang sebenarnya telah menantinya.

__ADS_1


Orang yang berada di luar kamar merasa geram dan sangat geram dengan kelicikan suaminya itu. Dia berniat untuk membalaskannya suatu hari nanti.


🌹🌹🌹🌹🌹TBC🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2