
Seorang pria bertubuh tegap dengan tampilan jas yang memukau berada di antara pria dan wanita paruh baya. Dia adalah Felix Damarion yang usianya saat ini tiga puluh dua tahun. Dia adik bungsu dari Dizon Damarion.
Pria dan wanita paruh baya yang mendampinginya adalah Papa dan Mamanya. Papa Denzel Salamon Damarion yang biasanya lebih akrab dipanggil Papa Denzel dan Mama Carlotta Langdon. Kedua paruh baya itu terlihat sangat bahagia hari ini.
Diana yang mendapati kehadiran mereka langsung meminta mereka untuk masuk.
"Silakan masuk! Mama Jelita sudah menunggu di dalam."
Benar saja ketika semuanya telah memasuki ruang tengah, Mama Jelita tengah berdiri di sana menyambut kedatangan calon menantu dan besannya.
"Selamat datang di kediaman Armstrong... Apa kabar Nyonya Carlo dan Tuan Denzel?" sapa Mama Jelita.
Mama Carlotta dan Mama Jelita berpelukan erat. Lama mereka tidak bertemu. Baru kali ini di acara pertunangan anaknya mereka dipertemukan kembali.
"Aku baik, Jeng. Lama tidak berjumpa. Jeng semakin cantik aja," ucap Mama Carlotta.
Setelah keduanya melepaskan pelukan. Kini fokus Mama Jelita pada Felix Damarion, calon menantunya.
"Felix? Wah, sudah lama sekali kita tidak bertemu, Nak. Apa kabar?" tanya Mama Jelita.
"Felix baik, Ma. Terima kasih Mama sudah memilih Felix untuk menjadi calon menantu Mama," Felix memeluk wanita paruh baya itu.
Setelah penyambutan singkat, Mama Jelita mempersilakan semua tamunya.
"Silakan duduk! Karena semua sudah datang, Mama akan memanggilkan Zelene," ucap Mama Jelita.
Zelene Armstrong, gadis dua puluh delapan tahun yang fotonya baru saja di lihat oleh Felix menjadi pilihan terakhirnya. Gadis itu terlihat matang dan sangat cantik. Dia juga bukan tipikal wanita perfeksionis seperti Mamanya. Dia lebih cenderung modis dan selalu bisa menyikapi segala sesuatunya dengan berpikir secara nalar. Tidak suka memaksakan kehendak. Itulah yang disukai dari seorang Zelene.
Berbeda dengan Felix. Pria tiga puluh dua tahun ini lebih betah menjalani status sebagai pria lajang karena dirinya tidak ingin mengikuti jejak kakaknya yang seorang playboy. Beberapa kali dia gagal menikah karena calon istrinya kebanyakan menyamakan dirinya dengan kakaknya, Dizon Damarion.
Mungkin ini pilihan terakhirnya untuk menikah dengan seorang gadis yang mau menerima dirinya dan tidak menyamakannya dengan kakaknya.
Semoga ini pelabuhan terakhir untukku.
Mama Jelita kembali dengan seorang gadis yang sangat cantik di mata Felix. Ternyata foto yang diterimanya masih kalah jauh dengan aslinya. Zelene sangat cantik. Hanya saja senyum gadis itu seperti sangat dipaksakan menurut Felix.
Kenapa senyumnya seperti menahan sesuatu? Seperti tidak menyukaiku. Apa dia terpaksa menerima pertunangan ini?
__ADS_1
Harapan kecil yang didapati Felix membuat dirinya hanya bisa pasrah jika gadis itu akhirnya menolak dirinya.
Mama Carlo dan Papa Denzel sangat bahagia melihat calon menantunya. Mama Carlo yang paling bahagia di sini, karena hanya seorang Felix yang masih mau menuruti kemauannya.
"Kemarilah, Ze. Tante ingin memelukmu," ucap Mama Carlo ketika berhadapan dengan Zelene.
Zelene tak menolak. Wanita di hadapannya memang sangat anggun dan sepertinya sangat penyabar. Tidak seperti Mamanya.
Sekian detik pelukan masih berlangsung. Mama Carlo mengungkapkan rasa bahagianya pada Zelene.
"Ze, semoga kau mau menerima Felix dengan segala kekurangan dan kelebihannya," Mama Carlo melepaskan pelukannya.
Felix sepertinya orang baik. Mama Carlotta juga baik. Hanya saja aku tidak pernah membayangkan akan berada di kehidupan mereka yang dibayangi oleh Diana Carrington. Aku tidak menyukainya!
"Baik. Semuanya sudah berkumpul. Bisa kita mulai acaranya?" ucap Papa Denzel.
Sebelum memulai acara, Felix memintanya untuk berbicara langsung dari hati ke hati dengan gadis itu. Gadis yang nantinya akan menjadi pendamping hidup untuk selamanya.
"Tunggu, Pa! Izinkan aku berbicara sebentar dengan Nona Zelene sebelum melangsungkan pertunangan ini," pinta Felix.
Papa Denzel tak menolak. Dia bahkan mengizinkan anaknya untuk berbicara berdua dengan calon menantunya. Walaupun Felix anak bungsu keluarganya, tetapi pemikirannya jauh lebih dewasa dibandingkan Dizon, anak sulungnya.
Zelene menolak. Dia tidak akan membawa pria lain masuk ke kamarnya kecuali sudah sah menjadi calon suaminya.
"Maaf, Ma. Bukannya Ze tidak mau membawanya ke kamar. Jika ingin berbicara, bisa dilakukan di ruang kerja almarhum Papa. Kalau Tuan Felix tidak menolak," Ze memang seperti Sean. Dia tidak akan membiarkan orang lain masuk ke kamarnya tanpa izinnya.
"Baiklah, Nona. Di mana saja tak masalah menurutku," Felix menyetujuinya.
Mama Jelita menunjukkan di mana ruang kerja almarhum suaminya. Zelene dan Felix masuk ke ruangan itu. Ruangan yang memang dibuat sangat privat oleh almarhum papanya.
Zelene menutup pintunya dengan rapat. Entah apa yang akan dibicarakan oleh calon tunangannya itu. Keduanya sama-sama duduk di sofa. Zelene duduk menjauh dari Felix.
"Silakan, Tuan. Apa yang ingin Anda sampaikan?" Zelene mengawali pembicaraan.
"Maaf, Nona. Sebelumnya aku meminta maaf jika kedatanganku bersama keluarga membuat Anda tidak nyaman. Sejujurnya, aku memang sudah setuju untuk menerima pertunangan ini dengan Anda, tetapi melihat senyum memaksa yang Anda tunjukkan membuatku berpikir ulang. Makanya aku meminta berbicara berdua sebelum acara pertunangan ini dimulai," ucap Felix dengan suara batironnya. Tegas tetapi tak memaksa.
"Maaf, Tuan Felix. Sebenarnya aku tidak bisa menerima pertunangan ini. Aku sudah mencintai orang lain, tetapi Mama memaksaku untuk menerimanya. Maaf jika ucapanku menyakiti hati Anda. Sekali lagi, terima kasih atas kebaikan Anda yang mau mendengar keluh kesahku," Zelene tidak mau membuat Felix merasa dipermainkan. Dia berkata jujur agar pria itu mengerti posisinya.
__ADS_1
"Baiklah. Jika memang Nona Zelene tidak bisa menerimaku, aku akan menyampaikan pada Papa untuk membatalkan acara ini," ucap Felix.
"Maaf, Tuan. Sejujurnya jika Anda mengatakan ini, maka Mamaku akan membuat kehidupanku semakin terkekang. Apa tidak ada jalan lain untuk ini?" Zelene merasa pria di hadapannya memang sangat baik. Tetapi cintanya pada Vigor jauh lebih besar.
Kasihan sekali hidupmu, Ze. Aku tidak menyangka jika Mamaku adalah orang yang selalu mengekangku, tetapi ternyata Mama Jelita jauh melebihi sikap Mama Carlo.
"Tetap kita langsungkan saja pertunangan ini. Setelah selesai, beberapa hari kemudian aku akan membatalkannya. Nona tak perlu khawatir. Aku bukan pria yang suka ingkar dan memaksakan kehendak untuk orang lain," ucapan Felix membuat Zelene bisa tersenyum lega.
"Terima kasih, Tuan. Anda sangat baik," Zelene tidak mampu mengungkapkan kebahagiaannya saat ini. Felix memang orang yang sangat baik. Dia bisa berlapang dada menghadapi penolakan Zelene.
Sebenarnya kau sangat menarik untukku, Ze. Tetapi aku tidak ingin menikah karena memaksakan seseorang untuk bisa menerimaku.
Keduanya kembali ke ruang utama di mana acara akan segera berlangsung. Zelene sudah terlihat ceria tidak seperti sebelumnya.
Papa Denzel memulai acara pertunangan anaknya. Mulai dari sambutan darinya kemudian sambutan yang disampaikan Mama Jelita atas acara yang berlangsung saat ini.
Sesi terakhir dari inti acara adalah menyematkan cincin di jari masing-masing. Zelene dan Felix sudah berada tepat di depan dekorasi pertunangan mereka.
Felix siap menyematkan cincin yang mengikat Zelene sebagai calon istrinya, tetapi seseorang tiba-tiba datang dan menghentikan acara ini.
"Maaf, acara ini tidak bisa diteruskan!" ucap pria itu membuat semua orang menoleh kepadanya, termasuk Mama Jelita.
Tatapan mata tak suka Mama Jelita ditujukan pada pria itu.
😍😍😍😍😍
Hai-hai, akak readers... Semoga selalu menunggu kisah selanjutnya dari perjalanan hidup mereka.
Jangan lupa like, vote dan komentarnya. Agar emak author makin bersemangat.
Terima kasih...
Sambil menunggu emak update part selanjutnya, kuy kepoin karya teman emak yang nggak kalah bagus ceritanya.
Judul : Berbagi Cinta : Mencintai Diriku dan Dirinya
Author : m anha
__ADS_1