
Damarion Corporation, tulisan yang sangat besar terpampang di bagian depan gedung bertingkat itu. Dimana itu adalah tempat bekerja Felix Damarion. Dia yang ditunjuk sebagai CEO perusahaan yang dibangun oleh papanya.
Pagi ini, dia sudah sampai di kantor. Hari ini adalah penentuan Felix untuk mendapatkan sekretaris baru. Pasalnya, sekretaris lamanya resign karena sedang hamil. Wanita itu sudah tidak diizinkan bekerja oleh suaminya. Felix tidak bisa menahan terlalu lama. Itulah sebabnya, secepatnya dia harus mendapatkan sekretaris baru. Bagian HRD yang akan memberikan interview, setelah itu Felix yang akan menentukan.
"Lucky, apa kamu sudah mendapatkan sesuai kriteria yang kuberikan?" tanya Felix.
Lucky Boy adalah bagian HRD yang mengurus keluar masuk karyawan beserta kontrak yang diberikan pada beberapa pekerja.
"Sudah, Tuan! Hanya ada satu nama yang paling dominan. Selain dia sangat cantik, tetapi juga sangat cerdas menurut pengamatan saya. Apalagi ketika interview, semua jawabannya sangat memuaskan. Namanya Rhiana, Tuan," ucap Lucky. Dia memberikan surat lamaran kerja calon sekretaris baru itu pada Felix.
Felix membaca sekilas curriculum vitae yang menempel di surat lamaran kerja tersebut.
Menarik... Dia juga tidak kalah dengan Floy. Sepertinya pengalaman kerja Rhiana jauh lebih banyak dibanding Floy. Batin Felix.
Floy adalah sekretarisnya yang sudah resign sejak beberapa hari yang lalu. Sekretaris itu memang paling luar biasa dalam hal apapun. Sayangnya dia harus resign lebih cepat dari dugaan Felix.
"Panggil Rhiana... Yang lainnya sementara belum bisa masuk. Aku hanya membutuhkan seorang saja," ucap Felix.
Setelah interview, Lucky sengaja meminta mereka semua untuk menunggu beberapa saat. Setelah Lucky memberitahukan hanya akan ada satu yang masuk, semuanya menjadi sangat tegang.
"Mohon maaf semuanya. Saya hanya akan memanggil satu nama yang akan masuk ke ruangan Bos," ucap Lucky.
Beberapa dari mereka sudah harap-harap cemas. Walaupun yang melamar sekitar lima belas orang, kalau yang terpilih hanya satu kemungkinan terpilih sekitar enam koma enam puluh tujuh persen. Hanya keberuntungan yang menanti mereka. Itu artinya kemungkinan bisa diterima sangat kecil sekali.
"Rhiana... Kamu yang diterima," ucap Lucky.
Semua mata menatap pada gadis itu. Gadis yang sangat seksi sekali dengan balutan blazer yang terlihat sangat pas dan tetap menampakkan betapa seksinya sekretaris itu.
"Terima kasih, Mr. Lucky," ucapnya. Sekretaris baru itu langsung mengikuti HRD untuk masuk ke ruangan Bosnya.
Tok tok tok.
"Masuk!" jawab Felix.
Ceklek!
Lucky dan sekretarisnya itu masuk. Sesaat Felix terdiam menatap sekretarisnya itu. Jika Felix bukan tipe pria setia, sudah dipastikan pasti akan tergoda dengan sekretarisnya itu. Selain seksi, dia juga terlihat sangat cantik.
"Duduklah!" ucap Felix pada sekretaris dan HRDnya.
"Sebenarnya saya akan memintamu bekerja mulai besok, tetapi hari ini saya sedang butuh orang untuk membantu menyiapkan beberapa berkas. Mulai hari ini kamu bisa bekerja," ucap Felix.
__ADS_1
Tak ada penolakan dari Rhiana. Sekretaris barunya itu malah terlihat antusias menghadapi Bosnya yang sangat tampan itu.
"Baik, Tuan," jawab Rhiana.
"Oh, ya... Perkenalkan, saya Felix Damarion," ucap Felix lagi.
"Rhiana, Tuan," jawabnya sembari menjabat tangan atasannya untuk sesaat.
Semua beres. Sekarang Lucky harus kembali ke ruangannya untuk menyiapkan surat kontrak dan beberapa pekerjaan lain yang harus diselesaikan.
Alasannya kenapa Damarion Corporation memperkerjakan sekretaris wanita adalah beberapa kali Dizon memecat asisten atau sekretaris pria yang tidak sesuai dengan kemauannya. Papa Denzel akhirnya memutuskan untuk menerima sekretaris wanita. Floy adalah sekretaris wanita pertama yang betah dan tahan menghadapi Dizon. Itulah kenapa ketika Floy memutuskan untuk resign, Felix merasa kesulitan. Lucky menyarankan untuk segera mencari pengganti. Rhiana-lah yang terpilih saat ini.
Felix meminta Rhiana mengambilkan beberapa berkas yang ada di rak ruangannya berada. Sekretaris pilihan Lucky memang sangat cekatan dan cerdas. Ketika sedang fokus menyiapkan berkas, tak sengaja keseimbangan Rhiana tiba-tiba oleng karena salah satu heelsnya tersangkut.
Bruuk!
Felix reflek berusaha menahan sekretarisnya itu agar tidak jatuh ke lantai. Itu bertahan sekitar beberapa detik bersamaan dengan masuknya Kayana ke ruangan Felix.
Agaknya Felix dan Rhiana sangat menikmati adegan tidak sengaja itu. Jika bukan karena suara deheman seseorang, keduanya akan terus seperti itu.
"Ehem!"
Felix mendorong sekretarisnya itu untuk berdiri sebagaimana mestinya.
"Sepertinya kedatanganku sangat tidak tepat," Kayana sudah menampakkan rasa cemburunya pada sang suami.
"Rhiana, pergilah mencari Lucky! Tanyakan dimana ruang kerjamu yang sebenarnya!" perintah Felix.
"Baik, Tuan," jawab Rhiana. Sekretaris itu langsung keluar.
Setelah Rhiana keluar, Felix mendekati istrinya. Wanita itu terlihat ngambek.
"Kenapa tiba-tiba datang dan tidak mengabari suamimu?" protes Felix.
"Sebenarnya aku ke sini ingin memberikan kejutan, tetapi malah aku yang terkejut," ucapnya menampakkan wajah sedih.
"Jangan cemburu begitu! Ini tidak seperti yang kamu pikirkan," ucap Felix.
Gimana nggak kepikiran dengan adegan romantis seperti tadi? Jika aku ngga datang, ada kemungkinan bakalan lebih jauh, kan? Batin Kayana.
"Loh, diam lagi, sih?" Felix mendekati istrinya untuk memeluknya. Tetapi, Kayana keburu menepis tangannya lebih dulu.
__ADS_1
"Aku masih tidak percaya dengan kejadian tadi. Jika aku tidak datang, apa kamu akan meneruskan adegan romantis itu?" ucap Kayana mode cemburu.
Felix menggeleng. "Aku bukan tipe pria yang gampang main wanita, sayang. Kamu istriku... Wanita itu hanya sekretaris yang nggak sengaja hampir jatuh. Aku hanya refleks menolongnya. Tidak lebih," ucap Felix. Dia ingin agar istrinya itu memahami keadaannya.
Kayana terdiam. Dia memang baru beberapa kali masuk ke kantor. Yang dia ingat, sekretaris Felix yang sebelumnya tidak seseksi dan secantik itu, tetapi tetap sopan padanya.
"Sekretaris yang biasanya mana?"
"Floy resign beberapa hari yang lalu," jawab Felix.
Oh, yang lama namanya Floy. Lebih sopan!
Kayana masih badmood melihat kejadian barusan.
"Aku ke sini mau minta izin untuk jalan-jalan ke Mal bersama Callista, istri Om Sean. Mungkin juga akan pergi bersama Zelene," ucap Kayana.
"Kamu bosan di rumah?"
"Enggak! Aku hanya ingin cuci mata. Boleh tidak?" izinnya.
"Pergilah..., tetapi jangan ngambek gitu dong!" protes Felix. Dia bukan pria yang suka dicemburui seperti itu.
Kayana mengiyakan ucapan suaminya. Jika tidak, dia pasti akan sangat lama mendapatkan izinnya. Sebenarnya Kayana sudah mengirim pesan pada suaminya, tetapi Felix tipikal pria yang tidak mau pekerjaannya terganggu hanya karena ponsel. Sehingga pesan dari istrinya juga tak kunjung dibalas.
"Maafkan suamimu. Lain kali akan lebih peka dan perhatian padamu," Felix meminta maaf kemudian memeluk istrinya. Dia memang belum mencintai Kayana, tetapi dia punya tanggung jawab penuh atas istrinya itu.
"Terima kasih... Jangan seperti tadi, aku sangat cemburu padanya. Dia jauh lebih cantik dariku," ucapnya.
"Iya, janji!" jawab Felix.
Felix harus segera menyelesaikan kesalah pahaman dengan istrinya itu jika tidak mau berbuntut panjang.
🍓🍓🍓🍓TBC🍓🍓🍓🍓🍓
Felix Damarion
Kayana
__ADS_1
Rhiana