
Seharian berada di apartemen tanpa melakukan kegiatan apapun membuat tubuh Callista merasa semakin ringkih saja. Dia sudah tidak tahan dengan kondisinya. Dia ingin berangkat ke rumah sakit seorang diri, namun diurungkan niatnya itu.
Sebaiknya gue tunggu Om Sean pulang.
Hari menjelang sore, pintu apartemen dibuka oleh seseorang. Tiba-tiba ruang tamu terdengar sangat ramai sekali seperti kehadiran banyak orang dalam waktu yang bersamaan.
Memang sangat ramai atau kepalaku yang masih pusing. Seperti mendengar banyak suara gaduh di ruang tamu.
Callista beranjak dari ranjang. Dia berjalan perlahan untuk melihat siapa yang datang. Seharusnya suaminya yang datang.
Benar saja ruang tamu sangat ramai. Semuanya berkumpul di sana. Ada suami, adik ipar, suami adik ipar, dan sahabatnya.
"Sayang, kamu sudah baikan?" tanya Sean. Sepulang kerja, dia belum masuk ke kamarnya karena ada obrolan penting yang harus diselesaikan dengan Vigor, asistennya.
"Ah, kakak ipar. Kau baik-baik saja? Kak Sean bilang jika kakak sedang sakit," ucap Zelene.
"Aku baik, Ze. Oh ya, Kay. Apa semuanya sudah siap?" tanya Callista pada sahabatnya.
"Iya, Call. Kami tidak jadi ke butik. Zelene yang membawakan semuanya untukku," ucap Kayana sangat bahagia.
"Ah, iya. Baiklah. Semoga sukses acaranya. Sayang, bisa kita bicara sebentar?"
Sean mengikuti istrinya untuk masuk ke kamar.
"Ada apa, sayang?" tanya Sean. Ucapannya selalu lembut dan penuh kasih sayang.
"Bisa antarkan ke dokter hari ini? Aku nggak kuat menahan pusingnya...," ucapnya membuat Sean semakin panik.
"Baiklah, sayang. Ayo kita berangkat sekarang. Aku nggak mau terjadi sesuatu padamu," ucapnya seperti suami siaga.
Melihatnya panik seperti itu? Apakah ada kebohongan lain yang sedang disembunyikannya? Mengenai foto dan surat itu? Ah, sudahlah. Nanti disaat yang tepat, aku akan memberitahukan kepadanya.
"Ayo, sayang! Kenapa malah terdiam seperti itu?" Sean bergegas mengangkat tubuh istrinya ala bridal style.
Melewati ruang tamu, Zelene dan yang lainnya bertanya.
"Mau kemana, Kak? Romantis sekali," goda Zelene.
"Iya, Om. Callista mau dibawa kemana?" tanya Kayana.
"Bos, mau kemana? Kita belum selesai," protes Vigor yang tiba-tiba ditinggalkan Bosnya.
"Kalian lanjutkan saja. Aku mau ke rumah sakit. Callista sudah tidak kuat merasakan sakitnya," ucap Sean meninggalkan semuanya.
Callista melingkarkan tangannya untuk berpegang erat pada suaminya. Sampai di basement, Sean menurunkan dengan hati-hati tubuh Callista di samping mobilnya.
"Tunggu sebentar, sayang! Aku akan menelepon dokternya," Sean merogoh ponsel di saku jasnya.
Sean mendial nomor seseorang.
"Halo, Sean. Tumben kau menelponku. Ada apa?" sapa seseorang di seberang sana.
__ADS_1
"Oliv, tolong siapkan dirimu. Aku akan membawa istriku ke sana," ucapnya.
"Ck, kau sudah beristri rupanya. Maaf, Sean. Aku sedang tidak ada di rumah sakit. Kalau boleh tau, apa yang dikeluhkan istrimu?" tanya dokter Olivia.
Dokter Olivia adalah dokter umum di rumah sakit AB yang juga sahabat Sean sejak kecil. Jika ada kesulitan apapun, Sean pasti akan bertanya pada dokter wanita itu.
"Semenjak pagi, rasa badannya berkeringat dingin, dokter. Kepalanya juga terasa sangat pusing sekali," ucapnya.
"Pergilah ke apotek, ada kemungkinan istrimu sedang hamil," ucap dokter Olivia.
"Terima kasih, Oliv," Sean menutup teleponnya.
"Bagaimana, sayang?" tanya Callista.
"Kita pergi ke apotek. Ada sesuatu yang harus kubeli," ajak Sean.
"Kenapa harus ke apotek? Bukankah kita harus ke rumah sakit?" protes Callista.
"Nanti, kamu akan tau," ucap Sean kemudian mempersilahkan istrinya untuk masuk ke dalam mobil. "Lekaslah! Tidak ada banyak waktu, sayang."
Sean sangat penasaran dengan ucapan dokter Olivia. Semoga istrinya memang benar hamil.
Sean mengemudikan mobilnya dengan kecepatan standar. Sebenarnya dia ingin ngebut seperti pembalap, mengingat dirinya sudah tidak sabar menanti kabar baik istrinya.
Sesampainya di apotek, Sean turun. Dia meminta Callista tetap berada di mobil.
"Tunggu sebentar, sayang. Aku akan masuk ke dalam," ucap Sean.
Hanya beberapa menit, Sean keluar lagi dengan bungkusan kantong plastik berisi tespek dan cup urine. Dia memberikannya pada Callista.
"Sampai di apartemen, lekas ambil sampel urinenya," ucap Sean.
"Untuk apa?" Callista tidak paham dengan ucapan suaminya.
"Dokter Olivia bilang, ada kemungkinan jika kamu hamil. Makanya kita beli tespek dulu. Jika nantinya kamu beneran hamil, kita akan periksa ke dokter kandungan," Sean menjelaskan.
"Baiklah," Callista tidak tau harus berbicara apalagi.
Callista hanya manggut-manggut saja, mengingat ini pertama kali untuk dirinya.
Apa aku hamil? Rasanya memang ada yang aneh dengan diriku.
"Kamu bisa menggunakannya?" tanya Sean ketika masih dijalan.
"Lihat petunjuk penggunaannya saja. Ini pertama kalinya untukku, sayang," jawab Callista manja.
"Kau benar. Sebenarnya tespek ini lebih bagus digunakan setelah bangun tidur di pagi hari. Tapi jangan khawatir. Aku membeli banyak tespek untukmu. Jika malam ini belum terlihat, besok pagi kita coba lagi," Sean menjelaskan. Dia memang lebih berpengalaman.
Sesampainya di apartemen yang terlihat sudah sangat sepi karena Zelene akan mengantarkan Kayana untuk menemui Felix. Sean langsung meminta Callista melakukan tugasnya. Dia mengambilkan cup urine supaya Callista segera mengambil sampelnya di kamar mandi.
"Ambil sampel urinenya!" perintah Sean.
__ADS_1
Sean menunggu di kamarnya. Callista keluar membawa sekitar tiga puluh cc sampel urine.
"Sayang, biar aku saja. Ini sangat jorok, aku takut membuatmu terkena urine-ku," Callista merasa malu menyerahkan cup yang berisi urinenya.
"Kemarikan, sayang. Jangankan urine, bahkan dirimu telah menerima semburan makhluk hidupku yang paling dahsyat," ledek Sean.
Callista terdiam karena merasa malu terhadap ucapan suaminya.
Bergegas Sean mengambil dua tespek dari kantong plastik yang dibawa Callista. Dia mencelupkan tespek sesuai petunjuk penggunaan.
Satu menit.
Tiga menit.
Lima menit.
Tujuh menit.
Sepuluh menit.
Sean tersenyum bahagia melihat hasilnya.
Ternyata garis dua. Sean langsung memeluk istrinya dengan sangat erat sekali. Dia terlihat sangat bahagia. Penantiannya selama bertahun-tahun akan terbayar karena istrinya sedang hamil.
"Terima kasih, sayang," ucap Sean.
"Untuk apa?" tanya Callista.
"Kamu telah memberikan kebahagiaan yang sangat luar biasa. Kamu hamil Sean junior. Selalu jaga kesehatan dan bayi kita," ucapnya sembari memeluk istrinya semakin erat.
Callista yang sangat diperhatikan seperti itu membuat dirinya semakin bahagia. Sejenak dia harus melupakan masalahnya. Sebenarnya dia ingin langsung menyampaikan hal itu kepada suaminya, tetapi diurungkan melihat kebahagiaan yang jelas tergambar di wajahnya. Callista tidak tega.
Sean melepaskan pelukannya kemudian mengecup kening istrinya. Tidak sampai disitu saja, Sean juga memberikan ci*man bibir yang sangat lembut untuk istrinya. Sean sangat bahagia.
Callista juga merasakan kebahagiaan yang sama. Setelah Sean melepaskan ci*mannya, Callista membersihkan sisa urine untuk dibuang ke tempat sampah.
😍😍😍😍to be continued😍😍😍😍
Terima kasih yang sudah memberikan kritik dan saran. Part ini sudah mengalami revisi...
Wah, bagaimana part malam ini? Emak author bikin seneng Babang Sean dulu ya... sementara happy-happy dulu lah...
Jangan lupa malam minggu, emak di kasih like, vote, dan komentarnya. Jangan lupa kirim hadiah bunga sekebon atau beberapa cangkir kopi untuk emak. Biar emak betah nulis di malam hari...
Nah, sambil nunggu update selanjutnya, kuy kepoin hasil karya teman emak...
Judul : Berbagi Cinta Istri-istri CEO Reyfan
Author : Delis Misroroh
Terima kasih,,, luv Yu All... 😍😍😍😍
__ADS_1