Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Sebuah Syarat


__ADS_3

"Ze... Bagaimana kondisi Mama?" tanya Sean pada adiknya.


"Mama masih berada di dalam IGD, Kak," ucapnya.


Itu artinya Zelene juga belum tau kabar tentang mamanya.


"Kakak ipar tidak ikut?" tanya Zelene. Dia tau betul jika kakaknya seperti amplop dan perangko. Sama-sama tidak bisa dipisahkan.


"Kakakmu pasti sangat kelelahan, Ze...," jawab Sean. Dia tidak ingin wanita itu terlalu capek. Apalagi harus bertemu mamanya dengan kondisi seperti ini. Itu tidak akan baik untuknya.


"Bos, bagaimana kabar Juvenal? Hari ini, Diana memintaku untuk mengantarkannya ke sana. Aku sangat lelah, sehingga aku memintanya untuk mencari orang lain yang bisa mengantarkannya," ucap Vigor jujur.


"Iya, aku sudah mengantarkan ibu dan anak itu ke rumah keluarganya," jawab Sean. Dia mengambil posisi duduk di deretan kursi tepat di depan IGD.


Ketika sedang mengobrol serius, seorang perawat perempuan muncul dari dalam. Dia mencari keberadaan keluarga Nyonya Jelita.


"Dengan keluarga pasien Nyonya Jelita...," panggil perawat tersebut.


Sean, Zelene, dan Vigor mendekat.


"Bagaimana kondisi Mama saya?" tanya Sean.


"Mari silakan masuk, Tuan," ucap perawat tersebut.


Di dalam, Sean melihat Mamanya terbaring lemah di atas brankar. Dia melihat tidak ada penanganan khusus untuk Mamanya. Itu artinya bukan penyakit yang serius yang sedang dideritanya.


"Silakan duduk, Tuan," ucap perawat itu meminta Sean untuk duduk di hadapan dokter.


"Nyonya Jelita hanya mengalami tekanan darah tinggi. Sedikit lebih tinggi dari biasanya. Tapi Tuan tidak perlu khawatir, hari ini sudah bisa pulang. Tuan bisa mengambil obatnya di apotek. Ini resepnya," dokter itu memberikan secarik kertas.


"Terima kasih, dokter," Sean bergegas keluar lagi ke depan IGD. Dia tidak ingin Zelene ikut khawatir karena belum mengetahui kabar Mamanya.


"Bagaimana, Kak?" tanya Zelene ketika melihat kakaknya keluar lagi.


"Hanya hipertensi. Tidak jadi masalah. Vigor, bisa minta tolong ke apotek untuk mengambil obat-obatan Mama?" tanya Sean pada adik iparnya.


"Baik, Kak. Aku langsung mampir ke administrasi sekalian, yah?" tanya Vigor.


Setelah urusannya selesai, Vigor kembali dengan sebuah bungkusan obat di tangannya. Dia menyerahkan bungkusan itu pada istrinya. Sementara Sean sedang berada di dalam untuk membawa wanita paruh baya itu pulang ke rumahnya.


Pelayan dan sopir pribadi mamanya sudah di minta untuk pulang oleh Zelene ketika Sean belum datang. Sekarang, Sean yang akan mengantarkannya pulang. Dia mendorong wanita itu dengan kursi rodanya agar lebih cepat sampai.


Vigor menyiapkan mobil kakak iparnya supaya mama mertua bisa secepatnya pulang ke rumah.

__ADS_1


Setelah berada di depan mobilnya, Sean mengangkat mamanya perlahan untuk masuk ke dalam mobil. Zelene yang menemani wanita itu dan suaminya kembali untuk mengambil mobilnya.


"Ma, apa ini sangat pusing?" tanya Sean ketika sudah mengendarai mobilnya keluar dari area rumah sakit.


"Pusing sekali, Sean. Nanti istirahat sebentar juga akan baikan," ucap Mama Jelita.


"Mama jangan terlalu capek," tegur Zelene.


"Kau tau apa, Ze? Bahkan kau sudah tidak peduli dengan Mama," ucap Mama Jelita. Dia ingat betul bagaimana anak bungsunya ini menolak menikahi Felix, pria mapan yang menjadi pilihan Mamanya.


"Ma, ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat. Lebih baik mama istirahat," perintah Sean.


Jika tidak segera dihentikan, Mama dan anaknya itu terus saja akan ribut. Sean tidak tega melihat mamanya yang mengalami hipertensi akan semakin setres. Justru itu tidak akan baik untuk kesehatannya.


Zelene tidak lagi mendebat mamanya. Dia memilih bungkam daripada terus-terusan mendengar ucapan jelek yang selalu dilontarkan mamanya.


Percuma berbicara dengan Mama. Semua akan sia-sia. Batin Zelene.


Sampai di rumah keluarga Armstrong, Sean segera meminta tolong pelayan untuk membantu mamanya masuk ke dalam kamarnya.


"Sean, tunggu! Mama ingin berbicara denganmu," ucapnya dengan lemah.


Setelah membaringkan mamanya di ranjang, Sean ingin keluar dan membiarkan mamanya untuk beristirahat.


"Mama sebaiknya istirahat terlebih dahulu. Aku akan menunggu mama di ruang tengah," tolak Sean secara halus.


"Baiklah, Sean akan mendengarkan apapun yang ingin Mama bicarakan," ucap Sean mengalah.


"Apa permintaan mama tempo hari akan segera kau wujudkan?"


Permintaan yang mana maksud mama? Aku tidak ingat dengan ucapannya tempo hari.


"Maaf, Ma. Permintaan Mama yang mana?" Sean bahkan sudah melupakannya.


"Mama ingin kau bercerai dengan wanita yang tidak jelas asal usulnya itu. Apa kau tidak kasihan sama Mama? Teman arisan mama menanyakan perihal dirimu, Nak. Banyak dari mereka yang ingin menjadi besan Mama," ucap sang Mama.


Sean menghela napas panjang. Mamanya masih belum berubah. Jika tidak mengusik pernikahannya, wanita itu pasti akan mengusik pernikahan adiknya. Mrs. Perfeksionis ini tidak akan berhenti sebelum keinginannya terwujud.


"Ma, aku sangat menyayangi Mama. Mama juga sayang pada anakmu ini, kan? Tolong, jangan usik pernikahanku dengan Callista. Wanita itu akan melahirkan keturunan untuk keluarga Armstrong, Ma," ucap Sean dengan lembut. Jika mamanya tidak sedang sakit, Sean bisa saja berlaku kasar pada wanita itu.


Ck, wanita itu sedang hamil rupanya. Kenapa sangat sulit membuat Sean berpisah dengan wanita itu?


"Baiklah... Mama akan berusaha menerima istrimu itu, tetapi dengan syarat...," ucap Mamanya.

__ADS_1


Sean memandang iba pada wanita paruh baya itu. Bahkan sesama wanita, Mamanya bisa bersikap seperti itu.


"Sebenarnya, Sean tidak perlu mendapatkan syarat apapun dari Mama. Berhubung aku berusaha membuat Mama bisa menerima istriku, aku akan mempertimbangkan syarat yang mama berikan. Jika itu masuk akal," ucap Sean.


"Mama bisa menerima istrimu, asal bayi yang dilahirkan berjenis kelamin laki-laki," ucap Mama Jelita dengan tegas.


Deg!


Permintaan Mama Jelita terlalu rumit. Dia bahkan tidak pernah meminta lebih pada Tuhan. Entah laki-laki atau perempuan, menurutnya sama saja.


"Sean tidak bisa menjanjikan apapun pada Mama. Kalaupun anak yang dilahirkan istriku adalah perempuan, aku tidak akan pernah meninggalkan wanita itu. Setidaknya dia adalah wanita yang baik dan tidak pernah berbuat serong dibelakangku. Aku minta maaf, Ma," ucap Sean kemudian melenggang pergi dari kamar mamanya.


Mama Jelita terlihat kesal pada putranya. Syarat yang dimintanya pun tidak ditanggapi dengan serius oleh pria itu.


Sean sendiri langsung menemui adiknya. Dia tidak akan menceritakan apapun tentang syarat yang diberikan mamanya.


"Kak, keadaan Mama bagaimana?" tanya Zelene melihat wajah kakaknya yang ditekuk seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Mama baik. Sebaiknya kamu temani mama sampai pulih. Kalau kamu perlu pulang ke apartemen, minta jemput Vigor," ucap Sean.


Vigor tidak ikut mengantarkan istrinya ke rumah sang Mama. Pria itu sedikit malas berurusan dengan Mama mertuanya yang sangat perfeksionis itu. Dia lebih memilih untuk pulang ke apartemennya.


"Baiklah, Kak. Kakak langsung pulang ke apartemen?" tanya Zelene.


"Iya, Ze. Kakak iparmu sendirian," ucap Sean dengan mode lelah.


Sean meninggalkan Zelene seorang diri di rumah keluarga Armstrong. Dia fokus untuk memikirkan istrinya dan syarat yang diberikan sang Mama.


Mama selalu saja begitu. Terlalu memaksakan kehendak. Apapun hasilnya, aku tetap akan mencintai istriku sampai kapanpun!


🍒🍒🍒🍒🍒TBC🍒🍒🍒🍒🍒🍒


Jangan lupa like, vote, dan komentarnya...


🥀🥀🥀🥀☕☕☕☕⭐⭐⭐⭐ jangan lupa diberikan... 😍😍😍


Yang kangen Dizon, persiapan... 😁😁😁😁


Kuy yang suka perdudaan, mampir di karya anak online emak. Ceritanya dijamin bikin bengek...


Cus kepoin Duda Salah Kamar


Author : Muh Iqram Ridwan

__ADS_1


Terima kasih, luv yu all.. 😍😍😍😍



__ADS_2